Home / Romansa / Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku / Kamu Milikku, Nona Horny

Share

Kamu Milikku, Nona Horny

Author: Rainbow Rain
last update publish date: 2025-12-06 09:12:17

Pagi menunjukkan kekuasaannya. Pakaian terlihat berserakan di lantai dan aroma bercampur antara cologne Diego dan parfum Valerie masih menggantung di udara.

Di atas ranjang besar itu, Valerie terbaring memandang wajah lelaki yang tidur di sampingnya. Diego Stanford, lelaki asing yang ia temui di bar ternyata bos barunya di kantor. 

Takdir membawa mereka bertemu, meskipun Valerie ingin melupakan malam labilnya bersama Diego saat pertama bertemu. Mereka malah kembali terikat dengan malam penuh gairah. 

“Anda terlihat lebih tampan saat tertidur. Tenang, hangat dan menarik,” gumam Valerie. 

Helai rambut Diego jatuh menutupi dahinya. Valerie menyingkirkannya. Cahaya pagi menangkap garis rahangnya, menonjolkan ketampanan yang selalu membuat Valerie tersipu dalam diam. 

Ia mengangkat sedikit tubuh, berniat bangun. Namun sebuah lengan kuat melingkar dan mengencang di pinggangnya, menahan. Tubuh Valerie terkunci tidak bisa bergerak. 

“Berani sekali kamu mencoba pergi lagi setelah apa yang terjadi semalam?” suara Diego serak, malas, tetapi tajam.

Valerie menahan napas. “Anda sudah bangun?” Valerie mengusap pipi Diego. 

“Belum,” jawabnya santai, masih memejamkan mata. “Tapi saya akan sadar kalau kamu menghilang.” Diego menangkap telapak tangan Valerie, mengecupnya lembut. 

Diego membuka mata, menatapnya dari jarak yang terlalu dekat. Tatapan itu… gelap, lembut, dan berbahaya. Senyum malas terukir di bibirnya, senyum yang selalu meluruhkan benteng Valerie.

“Apa kamu selalu punya kebiasaan pergi setelah menyiksa seorang pria?” Diego menyipitkan mata. 

Valerie tertawa ringan, lelaki yang terkenal dingin menakutkan kini terlihat lebih kekanak-kanakan. 

“Saya harus pulang, saya tidak ingin mengganggu hari liburmu,” bisik Valerie.

“Bagaimana kalau saya ingin kamu tinggal? Saya ingin bersamamu lebih lama. Bukankah hari ini libur?” Suara Diego rendah, manja dengan caranya sendiri.

“Tuan Stanford—”

“Diego.”

“Anda adalah bos saya.”

“Dan kamu adalah wanitaku.”

Diego menarik Valerie hingga wajah mereka hampir bersentuhan. “Jangan rusak suasana hatiku di pagi hari. Tinggallah dan kamu harus tinggal. Aku memerintahkannya sebagai atasanmu.”

Valerie tertawa kecil, gugup. “Ini tidak masuk akal. Saya hanya tidak ingin banyak orang bergosip saat mereka melihat kita bersama.”

“Mmm, apa itu penting? Siapa yang peduli. Bagiku hal paling penting adalah semalam kamu membuatku hampir kehilangan akal.” Diego mengusap punggungnya pelan. “Itu tidak akan terjadi dengan sembarang wanita.”

“Karena Anda memang begitu pada semua wanita,” sahut Valerie, mencoba menahan diri. 

Diego tertawa, rendah dan menggetarkan. “Mungkin. Tapi kamu berbeda.”

Kata-kata itu menancap pada Valerie. Berbeda? Satu kata yang terdengar menggantung, tapi istimewa. 

“Kamu menginginkanku sejak pertama bertemu di bar, kan? Saya bisa melihatnya.”

Pipi Valerie memanas. “Sa—ya…” Ia merasa malu jika mengingat waktu itu. Pertemuan konyol yang ingin Valerie hapus dari salah satu ingatannya. 

“Tidak perlu menjelaskan.” Diego mengusap pipinya dengan ibu jari, lembut tapi menguasai. “Saya tahu, setiap wanita tidak akan bisa menolakku, termasuk kamu!”

“Tuan Stanford, Anda begitu menggelikan. Anda terlalu narsis, saya tidak menyukainya.” tawa Valerie terdengar manja. 

“Benarkah? Apakah kamu tidak suka dengan ini.” Diego menggoda Valerie. Mencium pipinya berulang kali dengan mengejek. Hingga tatapannya berhenti saat kedua bola mata itu beradu. 

Valerie hampir tidak sanggup bertahan di bawah tatapan itu. Seumur hidup ia tidak pernah bercinta dengan lelaki manapun, separuh hidupnya hanya untuk belajar dan bekerja.

“Valerie,” bisik Diego, “bisakah kita terus bersama? Aku membutuhkanmu.”

Kata butuh itu terdengar terlalu manis… terlalu berbahaya. Valerie menatapnya lama, mencari kejujuran di balik sorot mata pria itu. Ia melihat ketertarikan, gairah… tapi tidak yakin menemukan komitmen.

Dan tepat saat ia hendak menjawab, Diego mengucapkannya begitu santai:

“Besok adalah hari pernikahanku. Semua terasa membosankan, tetapi tidak saat denganmu. Semua menjadi lebih menarik dan tidak membosankan.”

Valerie membeku. Perkataan Diego barusan seperti petir menyambar saat tak hujan. “Me… menikah? Besok?”

Wanita berambut cokelat itu masih belum percaya. Ia selalu update tentang berita seputar perusahaan, tetapi ia tidak tahu ada kabar sang pewaris akan menikah besok. Kedua iris gelapnya mencoba mencari kebenaran sekali lagi. 

Diego mengangguk seolah mengkonfirmasi hal remeh. “Tapi, saya tidak berniat melepaskanmu. Kamu sudah menjadi milikku sekarang dan kita sudah sepakat.”

Valerie merasakan amarah naik. Merasa dibohongi. “Apa saya terlihat semurah itu? Anda tidur dengan saya, mempermainkan saya dan menikah dengan wanita lain besoknya.” Ujung kalimat terdengar ngilu, kecewa. 

“Kita sudah sama-sama dewasa, saya pikir ini hal biasa. Kamu tidak perlu meributkannya.”

Mendengarnya, Valerie hendak bangkit, tetapi Diego menangkap pergelangan tangannya. Gerakannya cepat, seperti sudah memperkirakan reaksi itu. Ia membekapnya erat dan mencoba menenangkan wanitanya yang merajuk.

“Valerie.” Diego menariknya kembali ke ranjang. “Tenanglah.”

“Lepaskan!”

“Aku tidak akan melepaskanmu. “

Diego menunduk, mencium bahu Valerie, lalu lehernya. Sentuhan itu membuat Valerie gemetar meski ia sedang marah. Ia terasa lemah saat Diego mulai menyentuhnya.

“Diego… hentikan…” bisiknya lemah.

Tapi Diego selalu tahu kapan tubuhnya menyerah lebih dulu daripada kata-katanya.

“Kamu pikir, kamu bisa pergi setelah yang terjadi?” suara Diego dalam, menekan. “Kamu datang kemarin malam. Kamu tetap tinggal. Jangan berpura-pura kamu tidak menginginkannya. Kita sudah sepakat sebelum melakukannya dan kamu setuju.”

“Karena Anda membuat saya terlihat bodoh! Anda menikah… tapi—”

“Pernikahan itu hanyalah urusan bisnis,” potong Diego. “Tidak berarti apa pun. Kamu yang ku mau, bukan dia.”

Valerie menatapnya tidak percaya. Betapa berbahayanya pria ini. Secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak tahu malu. Pernikahan terdengar seperti permainan baginya. 

“Tidak,” desis Valerie. “Saya tidak bisa melakukannya. Saya masih waras!”

Diego tersenyum miring. “Kamu tidak punya pilihan, Nona Horny.”

Kata-kata itu seperti jerat. Lembut, tetapi menekan begitu dalam. Valerie merasakan ketakutan yang lembut tapi nyata karena ia tahu Diego bukan hanya menginginkannya, tetapi menahannya.

“Kenapa Anda harus menahan saya? Bukankah saya hanya seorang wanita kuno dan tidak menarik?” Valerie berusaha mempertahankan logikanya. “Kita bisa lupakan semua ini. Anggap tidak terjadi apa-apa di antara kita sebelumnya.”

“Melupakan?” Diego mendekat, suaranya nyaris berbisik di bibirnya. “Tidak mungkin. Kamu yang memulainya, dan kamu akan mengakhirinya denganku.”

Valerie menelan ludah keras ketika Diego mengungkapkan kalimat yang benar-benar menegangkan:

“Besok, kamu harus datang ke pernikahanku.”

 Senyum Diego terangkat, santai. “Kalau tidak… aku bisa batalkan pernikahan, bilang bahwa sekretarisku menggodaku sebelum hari pernikahan.”

“Tuan Stanford! Anda gila!”

“Ya,” ia mengangguk santai. “Aku memang gila. Karena kamu yang membuatku gila!”

Valerie menatapnya, marah, bingung, terseret arusnya. Ia membenci caranya diperlakukan… tapi tubuhnya masih bergetar oleh ciumannya. Ia tidak munafik merasakannya.

“Anda memang bos yang gila,” gumam Valerie dengan napas tidak stabil, “dan saya… terlalu bodoh membiarkan Anda menyentuh saya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Hikaru san
Diego gila!!! benar-benar gila!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Lari Dari Pernikahan Untuk Menikah

    Valerie duduk gelisah di ruang tunggu pengantin perempuan. Gaun pengantin putih terasa berat di bahunya, tangannya saling menggenggam di pangkuan.Di depan cermin besar, wajah Valerie memantul cantik, tapi ada yang membuat hatinya tidak tenang. Sorot matanya menunjukkan kecemasan sejak masuk ruangan.“Tidak seharusnya seperti ini,” ucapnya pelan.Valerie menatap bayangannya, lalu menggeleng. Mencoba menolak apa yang muncul di dalam pikirannya. Sebentar lagi ia akan menikah dan seharusnya ia bahagia.“Thomas adalah calon suamimu bukan Diego,” ucap Valerie terus menerus.Ia terus meyakinkan hatinya sejak duduk. Batinnya berperang sejak beberapa hari yang lalu. Perkataan Diego yang akan datang teringiang-ngiang di telinganya.Pintu terbuka, ibunya Valerie masuk perlahan dengan wajah penuh haru melihat kecantikan putrinya. Wanita itu mendekati Valerie yang duduk menghadap cermin.“Kamu cantik,” kata ibunya Valerie lembut. “Sebentar lagi kamu akan menjadi Nyonya Thomas,” Wanita bergaun put

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Ciuman Pengingat Masa Lalu

    Valerie merasa hampa saat memandang dirinya berbalut gaun pengantin putih di depan cermin besar. Tatapannya kosong, bibirnya terlihat kaku. Padahal seharusnya ia senang melihat dirinya segera menikah. Ia bersama Thomas datang ke galeri untuk mencoba gaun pernikahannya sebelum acara pernikahan besok. Keluarga Valerie sengaja mempercepat pernikahan karena kedatangan Diego.“Valerie, kamu terlihat sangat cantik.” Thomas muncul dan memeluk pinggang kecil Valerie. Wajahnya tersenyum melihat Valerie dari cermin. Namun, Valerie merasa tidak nyaman dan melepaskan diri.“Kamu masih merasa tidak nyaman bersamaku?” tanya Thomas lembut.Valerie mundur beberapa langkah, Thomas mendekat dan menahan kedua tangan Valerie. Wajahnya menjual kesedihan saat Valerie menjauh. Memelas menunjukkan kesedihan saat Valerie menolak sentuhannya.“Sebentar lagi, kita akan menikah. Sampai kapan kamu seperti ini?” Thomas membawa tangan Valerie menempel dadanya.Valerie langsung menariknya dan gelisah. Bersama Thom

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Masuk Kamar Sembunyi-sembunyi

    “Pulang sekarang,” suara Tuan Sanchez dingin, tangannya langsung menarik tangan Valerie mengikutinya.Diego reflek berdiri, menahan Valerie “Tunggu, kami belum selesai.”“Dia akan segera menikah,” ucap ayahnya Valerie. “Tidak pantas jika dia berdua dengan lelaki lain.” Tatapannya cukup tajam jatuh pada Diego, jelas sekali menunjukkan rasa tidak suka. “Dia menolongku …,” bisik Valerie pada ayahnya.“Menolong? Dia pasti sengaja hanya ingin menjebakmu. Kamu masih ingat apa yang dikatakan Thomas waktu itu?” Ayahnya Valerie langsung melengos melihat Diego, lalu lanjut berkata,”Lelaki ini sering melecehkanmu di tempat kerja.”Valerie terdiam mendengar ucapan tajam ayahnya. Tubuhnya masih terpaku seperti tidak ingin pergi.Ayahnya Valerie kembali menarik tanpa aba-aba. Suasana kafe yang tadi hangat mendadak kacau. Diego mencoba mengejar sampai , tapi mobil hitam itu sudah meluncur pergi.Diego langsung masuk ke mobilnya mengikuti ke mana arah mobil ayahnya Valerie menghilang. Jalanan beruba

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Suapan Manis Diego

    “Di mana kamu, Valerie?” Diego meremas cup coffee kosong di tangan. Ia singgah di sebuah cafe saat perjalanan pulang. Seluruh penjuru Cleveland sudah ia telusuri. Namun, ia sama sekali tidak menemukan jejak Valerie. Rumah orang tuanya yang berada di oakridge street terlihat senyap. Semua tetangga menutup rapat mulutnya.Fokus Diego terpecah saat perjalanan pulang hingga membuatnya salah ambil jalur selatan melewati Indiana polis dan perjalanannya harus menempuh waktu lebih lama untuk sampai Chicago."Saya tidak akan melepaskanmu lagi jika menemukanmu. Saya akan kembali merebutmu dari si brengsek itu!"Pandangan Diego beralih melihat ponselnya dan langsung menelpon Evan. Ia tidak bisa menunggu lama jika semua itu tentang Valerie. Ia memerintahkan asistennya untuk mengawasi Thomas dan ia tidak sabar ingin mengetahuinya.“Bagaimana? Kamu sudah dapat informasi?” tanya Diego tajam. Wajahnya mengeras menunggu jawaban asistennya. ujung sepatunya mengetuk aspal menunjukkan kecemasan.“Thoma

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Kutukan Mertua

    Diego memekik kesal di dalam apartemennya. Ia diusir dari rumah sakit dan tidak bisa masuk lagi. Semua ini karena pengaruh Thomas. Fotonya terpampang jelas di depan pintu utama rumah sakit. Seolah dirinya adalah penjahat.Semua keluarga Valerie percaya pada omongan Thomas tentang Diego. Bahkan scandal tentang pelecehannya pada Valerie muncul dan membuat kedua orang tua Valerie tidak menyukainya. “Thomas, sialan! Saya harus buat perhitungan dengannya.” Diego memukul meja makan di dapur. Gelas kristal di atasnya bergetar, jatuh dan pecah, memecah keheningan pikiran Diego yang kusut. Sementara pecahan kacanya dibiarkan berserakan di lantai dapur.“Valerie… kenapa harus bajingan itu?”Diego meremas rambutnya, berjalan mondar-mandir seperti singa terkurung.“Dia memanfaatkan amnesia Valerie,” ujar Diego kesal. Kini kedua tangannya mengepal, matanya menyipit mengingat bagaimana ekspresi Thomas mengejeknya. “Tidak! Saya tidak akan membiarkannya menang!”Benda tipis milik Diego di meja berg

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Apa Perlu Mengulangi Ciuman Itu?

    Nama Valerie tertera di papan kecil di samping pintu, bibir Diego tersenyum tipis melihatnya. Reflek, tangannya mendorong pintu saat keadaan sudah aman. Valerie duduk setengah bersandar di ranjang. Rambutnya tergerai, wajahnya terlihat pucat. Ia sedang menatap jendela, tubuhnya menegang saat melihat Diego datang. “Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini,” ucap Valerie pelan. “Saya sudah katakan, jangan menggangguku.”Diego menutup pintu tanpa menjawab. Ia melangkah masuk, tatapannya menelusuri wajah Valerie, seolah mencari sesuatu yang seharusnya ada di sana— rasa rindu, kenangan, cinta dan semua ingatan tentangnya.“Kita perlu bicara,” kata Diego pelan. “Sekarang.”Valerie menggeleng cepat. Tangannya mencengkeram selimut. “Tidak. Tolong keluar. Saya tidak ingin bicara denganmu. Kamu tidak bisa memaksaku bajingan!”Diego terkejut mendengar umpatan Valeri. Ia berhenti dan duduk di sisi ranjang. Aroma antiseptik bercampur dengan wangi Vanila yang dulu begitu membuatnya mabuk dan terikat.

  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Ikut Bulan Madu

    Valerie tidak bisa melupakan bagaimana ekspresi Diego pagi itu. Bosnya bisa tertawa lepas dan terlihat tersenyum, tetapi dalam sekejap semua itu lenyap. Bukan karena marah, atau sikap dinginnya. Seperti ada kekosongan, senyum kaku, emosi datar. Diego memutuskan pulang setelah makan pagi saat menga

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Ingin Bersama

    Valerie terbangun perlahan. Ada rasa tidak nyaman yang menekan dadanya, seperti bangun di tempat yang salah. Ia tidak sendirian.Diego masih ada di sebelahnya. Lelaki itu terbaring di sisinya, wajahnya tenang, napasnya teratur. Rambutnya acak. Tidak ada raut bersalah. Tidak ada kegelisahan.Valeri

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Hanya Lima Menit

    Diego mundur satu detik, menarik napas dalam, dan melangkah membuka pintu dengan tenang seakan baru selesai merapikan dasi.Pintu terbuka.Di luar berdiri seorang pria paruh baya manajer acara gelisah dan berkeringat.“Tuan Diego, seluruh keluarga sudah berkumpul. Mempelai wanita mencari Anda.”Die

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Sepanjang Malam Di Pelukan Bosku   Hanya Ingin Bersama

    Mobil berhenti di depan bangunan besar berwarna krem dengan pilar tinggi dan taman rapi di sekelilingnya.Valerie menatap keluar jendela. Pohon pinus tampak dari kejauhan. Udara pinggiran kota Chicago terasa dingin, bersih, dan tenang. “Turun,” kata Diego singkat.Valerie belum sempat merengek saa

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status