LOGINValerie masih merasakan panas di kulitnya ketika pintu ruangan bosnya menutup di belakangnya. Napasnya tersengal, langkahnya linglung.
Beberapa menit lalu, Diego Stanford hampir menjeratnya dalam ketegangan. Satu gerakan kecil memutar pegangan pintu akhirnya menyelamatkannya.
Aroma cologne Diego yang hangat, maskulin dan mahal masih menempel di kemejanya. Valerie mengusap dadanya, seakan ingin menghapus sensasi yang terlalu nyata. “Gila,” gumamnya pelan. “Kenapa harus Diego Stanford?”
Hari berjalan lambat, Diego tidak muncul lagi di depannya; jadwal rapat yang padat membuat sang CEO sibuk dari satu ruangan ke ruangan lain.
Ketika jam pulang tiba, Valerie membereskan mejanya dengan kecepatan ingin segera kabur dari medan perang. Ia mengintip ruangan Diego. Gelap, kosong. Tidak ada bayangan lelaki itu di balik kaca.
“Syukurlah…” bisiknya
Hari itu tidak boleh diakhiri dengan insiden lain. Ia butuh mandi air panas, butuh ranjangnya, butuh melupakan semua ketegangan yang Diego ciptakan.
Di depan pintu kaca gedung, Diego berdiri bersandar pada mobil hitamnya yang berkilat. Kemeja putihnya digulung hingga siku, rahangnya tegas, dan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Lelaki itu menurunkan kacamatanya sedikit. Tatapan mereka bertemu.
“Valerie.”
Diego memanggil dengan suara dalam yang terlalu mencolok perhatian sekitar.
Valerie menelan ludah, kemudian berbalik ke arah lain. Tanpa menunggu, ia berjalan cepat melintasi lobi, keluar melalui pintu sisi kiri gedung. Ia tidak ingin mengakhiri sorenya dengan insiden yang tidak ia inginkan.
Di belakang, Diego tampak tidak mengejar, tetapi tatapan itu masih melihat Valerie hingga hilang dari pandangannya
***
Valerie menjatuhkan tas dan mencopot sepatu hitamnya sembarangan saat sampai di apartemen miliknya.
Ia membuka kaleng bir murah dari kulkas dan meneguknya cepat. Uap alkohol ringan itu tidak membantu sama sekali. Bayangan Diego masih menari di benaknya.
Ponselnya bergetar, kemudian kembali bergetar kedua, dan tiga hingga akhirnya berhenti. Kelopak matanya melebar menatap layar. Sebuah pesan dari bosnya muncul memenuhi layar.
DIEGO Oliver Stanford
"Datang ke te apartemenku malam ini. Michigan Avenue — Emerald 07"
Valerie mengerjap membaca pesan kedua.
"Saya hanya ingin membahas laporan yang masih belum saya pahami. Datanglah, sekarang."
Pesan ketiga semakin membuat Valerie terkejut.
"Jika kamu tidak datang malam ini, jangan harap kamu bisa bekerja di Stanford Corporation atau perusahaan lainnya."
Valerie memejamkan mata, kepalanya menunduk. Denyut kepalanya kembali mengencang. “Kenapa dia selalu seperti ini? Memaksa.”
Valerie butuh pekerjaan. Satu bulan tanpa gaji, apartemen kecil ini akan hilang, begitu juga hidupnya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil tas kecil dan mantel tipisnya.
Udara malam musim semi dingin menusuk hingga tulang. Valerie berdiri di depan pintu penthouse Diego, Emerald– 07. Valerie memegang tombol bel dengan jantung yang berdebar keras. Masuk atau kembali
Pintu terbuka.
Diego berdiri di sana dengan kemeja kusut, beberapa kancing terbuka memamerkan garis dadanya yang bidang dan kulit yang hangat. Rambutnya berantakan. Bibirnya terlihat merah, seperti baru saja meneguk sesuatu yang pahit.
Aroma whiskey langsung menampar udara.
Valerie terpaku.
“Tuan Stanford, saya ….”
Diego menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu, menatapnya dengan mata yang sedikit mabuk, tetapi masih cukup tajam untuk dilewatkan. Senyuman miring muncul di bibirnya.
“Kamu datang.”
Hanya dua kata. Namun, suara itu rendah, serak, dan hangat dengan cara yang membuat Valerie tidak siap menerimanya.
“Masuk,” lanjutnya.
Valerie ragu. Ia melangkah masuk. Hal pertama yang ia lihat adalah botol whiskey setengah kosong di meja. Jas hitam dan sepatu berserakan.
Diego menutup pintu. Lelaki itu berjalan di belakang Valerie. Mengamati setiap langkah ragu yang tampak jelas.
“Jadi,” Valerie memulai, “…laporan mana yang ingin Anda bahas?”
Diego tertawa lirih—parau, nyaris tanpa humor. Ia berjalan mendekat, satu langkah, dua. “Kenapa kamu terburu-buru. Kamu pikir saya memanggilmu hanya untuk membahas pekerjaan?”
Valerie mundur setengah langkah. “Anda bilang—”
“Saya hanya ingin melihatmu, malam ini.”
Diego menatapnya seperti memandang sesuatu yang sudah lama ingin ia sentuh.
Lelaki itu memegang tepi kemejanya lalu menariknya lepas. Kemeja itu jatuh ke lantai, menyisakan tubuh yang membuat Valerie kagum saat melihatnya. Menyentuhnya dengan senyum kecil dan menantang.
Diego mendekatinya, meraih tangannya, menuntun jari-jari Valerie ke dada bidangnya. Sentuhan itu mengalir seperti listrik. Mengisi setiap arus dalam tubuhnya.
“Waktu itu,” katanya pelan, “kamu memberiku sesuatu sebelum kabur pagi itu.”
Valerie menggeleng cepat. “Saya tidak—”
“Kamu menyukaiku.” Diego berbisik. “Saya melihatnya di matamu.”
Valerie terdiam. Detak jantungnya seperti memukul dinding dadanya sendiri. Ia harus pergi, Ia harus mendorong Diego, Ia harus menolak. Tapi, saat ia mundur, Diego meraih pinggangnya dan memeluknya dari belakang.
Diego menyandarkan dagunya di bahu Valerie, menutup mata sejenak seakan menemukan ketenangan hanya dari aroma wanita itu. Aroma Vanila yang begitu manis.
“Jangan pergi,” bisiknya. Suara itu membuat Valerie goyah.
Valerie meraih tangan Diego di pinggangnya, berniat melepas. Tapi justru sebaliknya, pelukan itu menguat. Diego memutar tubuhnya, membuat Valerie menghadapnya.
“Kamu selalu membuatku ingin melakukannya.” Diego menyentuh pipinya, telapak tangannya hangat.
Valerie terpaku. Ia seharusnya menolak, tetapi ketika lelaki itu menunduk pelan, bibirnya mendekat, Valerie tidak bergerak. Ciuman pertama ringan, lalu semakin dalam.
“Kamu membuatku gila hari ini.”
Suara Diego rendah, hampir serak.
Diego menunduk, mencium bibir bawah Valerie, perlahan seperti mencicipi rasa yang sudah ia tahan terlalu lama. Valerie menarik napas tersengal saat Diego menurunkan ciuman ke garis rahang, lalu ke lehernya—meninggalkan jejak panas yang membuat lututnya lemas.
Valerie meraih leher Diego, menyeretnya lebih dekat. “Diego…”
Hanya itu yang mampu ia katakan sebelum ia terdorong perlahan ke atas ranjang. Diego merangkak menyusulnya, tubuhnya menaungi Valerie. Lelaki itu hanya menatapnya dari jarak beberapa jari, napas mereka saling menyentuh.
“Kamu yakin kali ini,” katanya pelan, “kamu tidak akan bisa lari lagi dariku setelah ini.”
Valerie menggigit bibir, bukan karena takut, melainkan karena ia tahu itu benar. Ia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Diego.
“Aku tidak akan lari.”
Di mata Diego, sesuatu pecah. Ia menurunkan tubuhnya, mencium Valerie lagi—lebih dalam, lebih panas, membuatnya tenggelam dalam sensasi yang hampir membuatnya lupa siapa dirinya.
Suara ponsel Diego berdering keras.
Diego berhenti, membeku. Melihat Valerie yang hampir mencapai puncaknya. Dering ponsel kembali mengganggu.
Ia turun dan mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas dekat tempat tidur. Nama yang muncul di layar membuat rahangnya terkatup kencang. Wajahnya berubah.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Valerie menelan ludah.
Diego menatap layar itu sekali lagi, lantas mematikannya.
“Tidak ada masalah, kamu tidak perlu khawatir.” katanya pelan. “Malam ini kamu sepenuhnya milikku dan tidak ada pilihan untuk pergi,” bisiknya lembut tepat di belakang telinga Valerie.
“Pulang sekarang,” suara Tuan Sanchez dingin, tangannya langsung menarik tangan Valerie mengikutinya.Diego reflek berdiri, menahan Valerie “Tunggu, kami belum selesai.”“Dia akan segera menikah,” ucap ayahnya Valerie. “Tidak pantas jika dia berdua dengan lelaki lain.” Tatapannya cukup tajam jatuh pada Diego, jelas sekali menunjukkan rasa tidak suka. “Dia menolongku …,” bisik Valerie pada ayahnya.“Menolong? Dia pasti sengaja hanya ingin menjebakmu. Kamu masih ingat apa yang dikatakan Thomas waktu itu?” Ayahnya Valerie langsung melengos melihat Diego, lalu lanjut berkata,”Lelaki ini sering melecehkanmu di tempat kerja.”Valerie terdiam mendengar ucapan tajam ayahnya. Tubuhnya masih terpaku seperti tidak ingin pergi.Ayahnya Valerie kembali menarik tanpa aba-aba. Suasana kafe yang tadi hangat mendadak kacau. Diego mencoba mengejar sampai , tapi mobil hitam itu sudah meluncur pergi.Diego langsung masuk ke mobilnya mengikuti ke mana arah mobil ayahnya Valerie menghilang. Jalanan beruba
“Di mana kamu, Valerie?” Diego meremas cup coffee kosong di tangan. Ia singgah di sebuah cafe saat perjalanan pulang. Seluruh penjuru Cleveland sudah ia telusuri. Namun, ia sama sekali tidak menemukan jejak Valerie. Rumah orang tuanya yang berada di oakridge street terlihat senyap. Semua tetangga menutup rapat mulutnya.Fokus Diego terpecah saat perjalanan pulang hingga membuatnya salah ambil jalur selatan melewati Indiana polis dan perjalanannya harus menempuh waktu lebih lama untuk sampai Chicago."Saya tidak akan melepaskanmu lagi jika menemukanmu. Saya akan kembali merebutmu dari si brengsek itu!"Pandangan Diego beralih melihat ponselnya dan langsung menelpon Evan. Ia tidak bisa menunggu lama jika semua itu tentang Valerie. Ia memerintahkan asistennya untuk mengawasi Thomas dan ia tidak sabar ingin mengetahuinya.“Bagaimana? Kamu sudah dapat informasi?” tanya Diego tajam. Wajahnya mengeras menunggu jawaban asistennya. ujung sepatunya mengetuk aspal menunjukkan kecemasan.“Thoma
Diego memekik kesal di dalam apartemennya. Ia diusir dari rumah sakit dan tidak bisa masuk lagi. Semua ini karena pengaruh Thomas. Fotonya terpampang jelas di depan pintu utama rumah sakit. Seolah dirinya adalah penjahat.Semua keluarga Valerie percaya pada omongan Thomas tentang Diego. Bahkan scandal tentang pelecehannya pada Valerie muncul dan membuat kedua orang tua Valerie tidak menyukainya. “Thomas, sialan! Saya harus buat perhitungan dengannya.” Diego memukul meja makan di dapur. Gelas kristal di atasnya bergetar, jatuh dan pecah, memecah keheningan pikiran Diego yang kusut. Sementara pecahan kacanya dibiarkan berserakan di lantai dapur.“Valerie… kenapa harus bajingan itu?”Diego meremas rambutnya, berjalan mondar-mandir seperti singa terkurung.“Dia memanfaatkan amnesia Valerie,” ujar Diego kesal. Kini kedua tangannya mengepal, matanya menyipit mengingat bagaimana ekspresi Thomas mengejeknya. “Tidak! Saya tidak akan membiarkannya menang!”Benda tipis milik Diego di meja berg
Nama Valerie tertera di papan kecil di samping pintu, bibir Diego tersenyum tipis melihatnya. Reflek, tangannya mendorong pintu saat keadaan sudah aman. Valerie duduk setengah bersandar di ranjang. Rambutnya tergerai, wajahnya terlihat pucat. Ia sedang menatap jendela, tubuhnya menegang saat melihat Diego datang. “Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini,” ucap Valerie pelan. “Saya sudah katakan, jangan menggangguku.”Diego menutup pintu tanpa menjawab. Ia melangkah masuk, tatapannya menelusuri wajah Valerie, seolah mencari sesuatu yang seharusnya ada di sana— rasa rindu, kenangan, cinta dan semua ingatan tentangnya.“Kita perlu bicara,” kata Diego pelan. “Sekarang.”Valerie menggeleng cepat. Tangannya mencengkeram selimut. “Tidak. Tolong keluar. Saya tidak ingin bicara denganmu. Kamu tidak bisa memaksaku bajingan!”Diego terkejut mendengar umpatan Valeri. Ia berhenti dan duduk di sisi ranjang. Aroma antiseptik bercampur dengan wangi Vanila yang dulu begitu membuatnya mabuk dan terikat.
Diego mengemudi dengan kecepatan tinggi. Ring road utara Chicago terbentang dingin, mobil putihnya melaju tanpa hambatan. Rahangnya mengeras, pandangannya tidak lepas sedetikpun dari jalan. Ia mengambil ponsel dengan tangan kiri, menekan nama Zayn untuk mencari informasi. “Zayn, kamu sudah dapat infonya?” tanya Diego tanpa basa-basi. “Saya sedang menuju Ohio?”Di ujung sana, Zayn menghela napas pendek. “Saya sudah mencobanya, pihak rumah sakit tidak mau memberikan informasi apapun. Bahkan saya sudah mengakses semua kontak dokter dan rumah sakit di Cleveland. Mereka tidak bisa memberikan info apapun.”Diego mencengkeram setir lebih kuat. “Kenapa mereka menyembunyikan Valerie?”“Pihak keluarganya menutup rapat semua tentang Valerie. Mereka minta menjaga privasi dan pihak rumah sakit tidak bisa memberikannya, bahkan pada dokter sekalipun.”“Shit! Apa maunya?!” Diego berteriak. Emosinya memuncak hingga darahnya mendidih. Ia menekan pedal gas, menambah kecepatan laju mobil. “Diego! Ten
“Diego, kamu sudah minum terlalu banyak.”Zayn menarik gelas whiskey di tangan Diego. Namun, lelaki yang terlihat frustasi itu merebutnya kembali dari tangan Zayn. Ia meneguknya lagi dan kembali menuang whiskey ke dalam gelasnya. Minuman berwarna cokelat pekat itu menjadi tempat pelarian Diego sekarang.“Kamu bisa mati konyol kalau terus minum seperti ini!” Zayn kembali mengambil gelas di tangan Diego.Diego tak bereaksi. Ia beralih mengambil botol whiskey di depannya. Ia meneguknya cepat dan Zayn kembali mengambilnya.“Diego! Apa yang terjadi?” Zayn melihat temannya sangat frustasi.“Bawa ke sini botolnya!” Diego mencoba merebut botol di tangan Zayn.Zayn duduk tenang, tangannya bersedekap, matanya mengikuti tiap gerakan Diego dengan botol whiskey kosong di tangannya. “Dia … mengundurkan diri,” ucap Diego, suaranya terdengar serak. “Dia bilang— menikah.”Zayn menghela napas pelan. “Saya mengerti.”Diego tertawa pendek, “Dia bahkan tidak ingat namaku. Menatapku seperti orang asing, m







