ANMELDENKeesokan harinya...Mata Sean terbuka lebar. Sinar matahari langsung menerpa wajahnya. Sean mengerang kesakitan. Kepalanya berdenyut-denyut.Butuh beberapa saat untuk menyadari bahwa ia berada di kamarnya, di rumah Barra. Itu adalah sesuatu yang mereka berdua lakukan. Barra punya kamar di rumahnya, dan ia punya kamar di rumah Barra.Sambil mengerang, Sean berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Ia menyalakan pancuran dan berdiri di bawahnya. Dengan tangan sebagai penopang, Sean bersandar di dinding dan mencoba menyusun pikiran-pikirannya yang kacau. Sean tidak ingat banyak hal tentang tadi malam kecuali minum-minum.Sean berpikir keras. Bagaimana ia bisa sampai di sini? Bagaimana mungkin ia jatuh cinta pada Riana dan tidak menyadarinya lebih awal?Saat kesadaran itu menghantamnya, Sean langsung pergi ke klub. Ia jarang mabuk. Ia berjanji pada diri sendiri untuk tidak pernah mabuk berat setelah Bima lahir. Biasanya, ia hanya menum satu atau dua kelas, dan itu sudah cukup. Namun kemari
Sean menatap pintu rumah Riana, bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa yang sedang ia lakukan di sini. Ia seharusnya memberi Riana ruang, tapi ia tidak tahan. Seolah-olah tidak bisa menjauh dari Riana. Ia tertarik pada Riana dengan cara yang tidak bisa di jelaskan.Sean mengetuk pintu, menunggu dengan tidak sabar sampai pintu dibuka. Semenit kemudian, pintu terbuka dan Bima muncul.“Papaaa!!” Seru Bima, melompat ke arah Sean dan Sean menangkapnya, “Aku kira harus menunggu sampai hari libur untuk bertemu dengan Papa.”Sean memeluk Bima dengan erat. Merasa tubuhnya rileks dan luluh, “Papa merindukanmu... Jadi Papa datang lebih awal.”Sean mengutuk dirinya. Bagaimana mungkin ia pernah membenci Riana? Riana memberinya hadiah terbaik, yaitu melahirkan Bima. Ia seharusnya menghargai Riana saat itu, bukannya menghukumnya. Malam yang ia pikir adalah malam terburuk dalam hidupnya, justru membawa hadiah terbaik yang bisa ia dapatkan.Sean tidak melihat Riana saat itu karena pikirannya terlalu
Sementara di tempat lain, Riana masih terguncang oleh keberanian Sean yang berhari-hari setelah janji temunya dengan dokter kandungan. Beraninya Sean berpura-pura tidak tahu apa yang telah ia alami saat mengandung Bima.Sean, keluarga Alexandria dan keluarga Cakrawangsa yang brengsek itu semuanya bertanggung jawab. Riana hampir kehilangan Bima karena mereka, dan sekarang mereka masih bertanya-tanya kenapa ia tidak bisa memaafkan mereka?Memikirkannya saja membuat Riana sangat marah. Riana tenggelam dalam kesedihan, namun mereka tidak pernah mau peduli. Mereka tidak peduli sama sekali. Semua karena mereka menyalahkan Riana atas kejadian malam itu. Padahal Riana tidak pernah menyeret Sean ke tempat tidur dan memaksanya. Sean sendiri yang rela, namun mereka hanya sibuk menyalahkan Riana. Dan juga menghukum Riana selama bertahun-tahun.Terkadang Riana melihat ke belakang dan berpikir bahwa itu hanyalah alasan. Mereka menggunakan malam itu dan hasilnya hanya untuk mengasingkan Riana. Merek
~Klinik Medika~Sean duduk di bangku dengan gugup sambil menunggu kedatangan Riana. Sean tahu Riana akan marah jika melihat kedatangannya, tapi ia juga tidak bisa menahan keinginan kuat untuk tidak berada di dekat Riana. Keinginan kuat untuk selalu ada untuk Riana.Riana menolak memberitahunya tanggal janji temu berikutnya, jadi Sean langsung saja mencarinya sendiri. Sean tahu itu membuat dirinya terlihat seperti bajingan karena terus memaksa, tapi Sean sudah terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan saat ini, yang ia inginkan adalah berada di sisi Riana.Jika Sean mau menuruti keinginannya sendiri, ia pasti sudah menjemput Riana dirumahnya. Tapi Sean memutuskan untuk datang ke klinik saja karena sudah melanggar keinginannya.Sudah lama sekali Sean tidak merasa gugup seperti ini. Terakhir kali ia merasa gugup seperti ini adalah saat pertama kali berhubungan dengan Riana. Saat itu Sean baru berusia tiga belas tahun dan tidak tahu persis apa yang ia lakukan.Menyingkirkan pikiran-p
Riana sangat bosan hari libur ini. Bosan sekali. Tidak terlalu buruk selama akhir pekan karena Bima ada bersamanya, tapi selama hari kerja rasanya tak tertahankan.Ingin memanggil Hazel dan Maria untuk bercerita, tapi Hazel dan Maria jelas-jelas bekerja sepanjang hari. Begitu juga Jasmine dan Kevin. Dan Riana telah mempekerjakan Nanda untuk mengurus operasional harian Mutiara Cipta Nusantara. Bahkan jika Riana pergi ke yayasan, hanya sedikit yang bisa ia lakukan kecuali mungkin menandatangani dokumen yang membutuhkan persetujuannya.Sementara dengan Oliver, Riana berteman baik dengan Oliver selama seminggu terakhir. Riana mengetahui bahwa Oliver memiliki perusahaan bangunan dan konstruksi sendiri. Oliver memulainya sekitar dua tahun yang lalu dan sejauh ini katanya berjalan dengan baik. Jadi Oliver juga tidak tersedia di siang hari.Riana sangat bosan sehingga mulai berpikir untuk kembali bekerja. Usia kehamilannya sudah enam bulan jadi masih punya waktu sebelum waktu persalinannya t
Dua hari kemudian...Dua hari telah berlalu setelah Claudia dan Riana diculik. Polisi telah mencari pemimpin geng Shadow, tetapi pemimpinnya menghilang lagi. Para polisi tidak dapat menemukannya dan anak buah geng Shadow yang tertangkap tidak mau bicara.Riana hidup dalam ketakutan terus-menerus sejak saat itu. Riana tidak ingin hal yang sama seperti itu terjadi lagi. Terutama Riana tidak ingin menjadi sasaran sesuatu yang bahkan tidak ia lakukan.“Ma, boleh aku main game?” Tanya Bima, membuat Riana kembali fokus pada pekerjaannya.Riana sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah dengan harapan pikirannya tidak terlalu banyak berpikir. Saat ini Riana sedang melipat pakaian. Setelah ini, Riana tidak punya pekerjaan lain.“Tentu. Jam berapa Liam bilang dia akan datang?” Tanya Riana balik.Bima dan Liam sekarang selalu bersama. Kedua anak itu melakukan semuanya bersama-sama bahkan saat masih sekolah.Ikatan mereka sangat istimewa dan itu mengingatkan Riana pada ikatan yang dimiliki Sean,
Dan itu juga akan menyelamatkan Riana dari pertemuannya dengan Sean, tetapi kemudian ia tidak akan pernah memiliki Bima.Setiap kali Riana memikirkan bagaimana segalanya akan berbeda jika ia tidak bertemu Sean, Riana langsung menepis pikiran itu. Ia akan melakukan semuanya lagi jika itu berarti mem
Raffi mengangkat bahu, “Yah, aku pikir akan menyenangkan untuk mempermainkanmu dan membalasmu karena kau orang yang buruk! Kau begitu mudah percaya dan mudah tertipu, dan itu memudahkanku. Selain itu, mengenalmu adalah rencana B-ku. Jika orang-orang yang kusewa gagal, maka akan lebih mudah untuk me
“Saat Jasmine bangun, dia menerima kabar yang sangat menyakitkan. Bayinya tidak selamat. Kalian bisa bayangkan betapa menyakitkannya bagi mereka semua, terutama bagi Jasmine dan Kevin. Itu adalah rasa sakit terburuk, kehilangan bayi mereka, bayi yang sangat mereka nantikan untuk digendong.”Riana m
“Tas mereka dan ponsel Hazel masih di sini,” komentar Edward sambil memeriksa tas Hazel.“Apa kau melihat mereka sejak mereka masuk?” Tanya Sean pada bartender itu.“Tidak, mereka masuk dan memesan minuman. Mereka mengobrol sebentar. Salah satu wanita itu berdiri dan pergi ke kamar mandi sebelum ke







