Share

2. BUKAN KARENA CINTA

Author: A mum to be
last update Last Updated: 2024-11-06 05:58:15

Sarah merasakan tubuhnya melemas. Setiap kata di pesan itu terasa menghantam ulu hati. Ini lebih dari sekadar kecurigaan. Ia tahu Nadia adalah bagian dari masa lalu Raka, namun ia tak pernah menyangka Raka akan kembali bertemu dengannya setelah pernikahan mereka.

Ketika langkah kaki Raka terdengar mendekat, Sarah buru-buru meletakkan ponsel itu kembali. Namun, pikirannya sudah dipenuhi dengan rasa sakit dan ketidakpastian.

Sudah hampir seminggu Raka kembali pulang larut malam. Kali ini Sarah tidak lagi bertanya. Ada sesuatu yang sudah diputuskan dalam dirinya. Sebuah kerinduan, dan mungkin rasa sakit, yang kini ia simpan sendiri.

Raka tampak tidak peduli. Bahkan ketika melihat meja makan yang kembali tertata rapi dengan hidangan yang belum disentuh, ia hanya melirik sekilas, lalu beranjak ke kamar.

Sarah melangkah keluar rumah untuk mencari udara segar. Namun, begitu melihat ke luar halaman, ia melihat sebuah mobil berhenti tidak jauh dari rumah mereka. Ada seorang wanita duduk di dalam, dan Sarah langsung mengenali wajah itu.

Hujan deras mengguyur di luar, sementara di dalam rumah hanya ada suara detak jam yang monoton. Sarah memutuskan berdiam diri untuk melihat apa yang akan terjadi nanti. Hatinya seolah berkata bahwa sebentar lagi kenyataan pahit kembali hadir.

Benar memang. Ketika akhirnya suara mesin mobil terdengar, ia menarik napas dalam-dalam. Raka masuk dengan pakaian basah, namun wajahnya tetap tanpa ekspresi.

“Mas… kamu dari mana?” tanya Sarah hati-hati.

Raka hanya melepas sepatunya dan berjalan melewatinya. “Kenapa tanya kayak gitu?”

Sarah terdiam sejenak, mencoba mencari kata-kata yang tepat. “Aku cuma khawatir. Pakaianmu basah. Mas habis dari mana tadi?”

Raka mendengus pelan. “Aku banyak urusan, Sarah. Sudahlah. Jangan membuatku semakin pusing.”

“Tapi aku lihat kamu tadi sama Nadia,” suara Sarah terdengar pelan, namun penuh tekanan.

Langkah Raka langsung terhenti. “Sarah, jangan lebay. Nadia itu cuma teman lama. Kebetulan kami punya proyek yang harus ditangani bersama.”

Sarah menatapnya tajam, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Teman lama yang ngirim pesan mesra? Teman lama yang ngajak ketemu di ‘tempat biasa’?”

Raka mendesah keras, tampak mulai kesal. “Kamu ini kenapa sih? Nggak bisa sedikit percaya sama aku?”

Sarah mendekat, suaranya terdengar bergetar. “Mas, aku coba percaya. Tapi aku juga manusia, aku punya rasa sakit yang enggak bisa terus-terusan aku abaikan.”

Raka menatapnya dengan pandangan datar. “Ini semua gara-gara kecelakaan itu, kan? Aku tahu aku bersalah karena itu, tapi tolong jangan bebani aku lagi, Sarah.”

“Jadi menurut kamu, keberadaan aku di sini cuma beban?” Mata Sarah mulai memerah, menahan air mata yang sudah di ujung pelupuk.

Raka mendesah berat dan memalingkan wajahnya. “Aku menikahimu karena tanggung jawab, bukan cinta. Aku pikir kamu sudah mengerti itu.”

Kata-kata itu seperti petir yang menyambar Sarah, membuatnya tersentak mundur. “Aku tahu, Mas… tapi apa kamu enggak bisa sedikit menghargai aku?”

Raka menggelengkan kepalanya, ekspresinya dingin. “Aku sudah berusaha, Sarah. Kalau itu enggak cukup, aku enggak tahu lagi apa yang kamu mau.”

Esok harinya, rasa sakit yang terus menggerogoti hati Sarah membuatnya tak bisa lagi menahan diri. Dengan perasaan campur aduk, ia pergi ke sebuah kafe kecil di pusat kota di mana ia sendiri membuat janji bertemu dengan seseorang.

Sore itu, Nadia memang muncul. Sarah memberanikan diri menghampirinya, mencoba menghadapi rasa takut yang selama ini menguasai hati.

“Nadia?” Sarah membuka percakapan dengan suara pelan.

Nadia menoleh, tampak sedikit terkejut namun segera tersenyum tipis. “Sarah? Tumben sekali ngajak aku ketemuan. Ada apa?”

“Maaf kalau kesannya tiba-tiba. Aku cuma… aku cuma mau tanya satu hal,” ucap Sarah, berusaha tenang. “Apa hubungan kamu sama Mas Raka sekarang?”

Nadia mendengus kecil, lalu tersenyum sinis. “Jadi dia belum cerita apa-apa ke kamu?”

Sarah mengerutkan kening. “Cerita apa?”

Nadia mendekatkan wajahnya, menatap Sarah dengan sorot mata penuh kemenangan. “Aku dan Raka dulu punya hubungan yang sangat dalam. Kamu tahu kan, kadang perasaan lama itu enggak mudah hilang begitu saja.”

Sarah merasa jantungnya berdetak kencang, namun ia mencoba menguasai diri. “Tapi dia sudah menikah, Nadia. Mas Raka suamiku sekarang.”

Nadia tersenyum kecil. “Aku tahu, Sarah. Tapi Raka juga manusia. Dia butuh pelarian dari hubungan yang… bagaimana ya, terasa hambar? Aku pikir, kamu sendiri tahu soal itu.”

Sarah terdiam, mencoba menahan gemetar di tubuhnya. “Apa kamu bangga dengan apa yang kamu lakukan?”

Nadia tertawa kecil. “Aku hanya ingin melihat Raka bahagia. Kalau kamu enggak bisa membuatnya bahagia, mungkin memang dia butuh orang lain.”

Tanpa berkata lagi, Sarah berdiri dan meninggalkan Nadia dengan perasaan campur aduk. Setiap kalimat yang dilontarkan Nadia seperti mengiris hatinya. Bayangan kata-kata yang baru saja didengar tak berhenti berputar di kepalanya.

Begitu sampai di rumah, Sarah melihat Raka duduk di sofa, tampak lelah namun tetap dengan ekspresi dingin yang sudah sangat ia kenal.

“Dari mana saja?” tanya Raka dengan nada datar.

“Aku tadi ketemu Nadia,” Sarah mengakui dengan suara bergetar.

Raka langsung menatapnya tajam, tampak terkejut namun segera menutupi ekspresinya. “Kenapa kamu cari-cari masalah, Sarah?”

Sarah menatap Raka, berusaha menahan air mata yang mulai mengalir. “Aku cuma mau tahu satu hal, Mas. Kenapa kamu masih sering ketemu dia?”

Raka mendesah dan berdiri, melangkah menjauh. “Sarah, kamu enggak akan ngerti. Hubungan ini—aku merasa terjebak, kamu tahu?”

Sarah hanya bisa terdiam, menatap Raka dengan rasa sakit yang begitu mendalam. "Jadi… apa Mas masih cinta sama dia?"

Raka tak menjawab, hanya berdiri membelakanginya. Hening yang mengisi ruangan itu seolah memberi Sarah jawaban yang paling ia takuti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Istriku Memilih Pergi   175. TANDA PERPISAHAN (TAMAT)

    Hari itu, udara terasa begitu tenang. Raka dan Sarah tengah duduk berdua di ruang keluarga, ditemani oleh Nasha yang sedang bermain dengan mainan di lantai. Meskipun suasana terasa begitu damai, ada sesuatu yang terasa berat di hati Raka. Ada semacam pertanda yang tak terucapkan, seolah dunia sedang mengingatkan mereka untuk lebih menghargai waktu yang ada. Beberapa hari sebelumnya, mereka baru saja merayakan ulang tahun pertama Nasha dengan penuh kebahagiaan. Momen itu, yang dipenuhi dengan tawa anak-anak panti asuhan dan sentuhan kasih sayang keluarga besar, memberikan Raka dan Sarah sebuah pemahaman baru tentang arti kehidupan yang sesungguhnya. Pak Herman kini mendatangi Raka yang sedang bersantai di taman belakang. Suaranya yang berat dan penuh makna terasa sangat berbeda dari biasanya. “Raka, ada hal penting yang ingin Papa sampaikan padamu,” kata Pak Herman saat teleponnya berbunyi. Suaranya terdengar agak lemah, namun tetap penuh kehangatan. Raka segera duduk tegak, khawat

  • Setelah Istriku Memilih Pergi   174. ULANG TAHUN PERTAMA NASHA

    Hari itu, langit tampak cerah, seakan ikut merayakan hari istimewa dalam keluarga kecil Raka dan Sarah. Nasha genap berusia satu tahun. Bukan pesta besar yang mereka persiapkan, tetapi sebuah acara syukuran sederhana yang penuh makna. Raka dan Sarah sepakat untuk merayakan ulang tahun pertama putri mereka dengan berbagi kebahagiaan di sebuah panti asuhan.Panti asuhan itu bukan tempat yang asing bagi mereka. Sejak kejadian penculikan Nasha dan konspirasi Bu Rini yang membuat mereka hampir kehilangan segalanya, Raka dan Sarah lebih banyak merenungi arti keluarga dan kasih sayang. Mereka ingin mengajarkan kepada Nasha bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya tentang perayaan mewah, tetapi juga tentang berbagi dengan mereka yang kurang beruntung.Pagi itu, suasana panti asuhan sudah mulai ramai. Anak-anak di sana terlihat bersemangat menyambut kedatangan tamu istimewa mereka. Beberapa dari mereka bahkan sudah mengenal Sarah dan Raka karena kunjungan-kunjungan sebelumnya. Pak

  • Setelah Istriku Memilih Pergi   173. AKHIRNYA ..

    Setelah berhasil menyelamatkan Nasha dari tangan penculiknya, Raka, Sarah, dan Jeno kembali ke tempat persembunyian sementara mereka. Malam itu mereka beristirahat sejenak, meski pikiran mereka masih dipenuhi ketegangan. Namun, mereka tahu bahwa semua ini belum benar-benar berakhir.Keesokan paginya, Jeno menerima laporan dari timnya bahwa beberapa anak buah Bu Rini yang terlibat dalam penculikan telah tertangkap. Namun, dalang utama di balik kejadian ini masih menjadi misteri."Aku sudah melacak transaksi dan komunikasi mereka. Satu nama yang terus muncul adalah seorang pria bernama Anton," kata Jeno dengan serius. "Dia adalah tangan kanan Bu Rini yang selama ini bekerja di balik layar. Sepertinya dialah yang mengatur segalanya."Raka mengepalkan tangannya. "Jadi, dia yang selama ini mengancam keluargaku?"Jeno mengangguk. "Dia sangat licin dan punya banyak koneksi. Tapi aku sudah menghubungi seseorang yang bisa membantu kita menangkapnya."Tak la

  • Setelah Istriku Memilih Pergi   172. APAKAH ADA TITIK TERANG?

    Malam semakin larut, tetapi Raka, Sarah, dan Jeno masih terjaga. Pikiran mereka penuh dengan kekhawatiran dan strategi. Pesan singkat yang baru saja diterima Raka seolah menjadi alarm bahwa mereka tidak memiliki banyak waktu lagi."Kita harus menemukan keberadaan mereka sebelum mereka melakukan sesuatu yang lebih gila," kata Jeno dengan nada serius. "Aku sudah menghubungi seseorang yang pernah bekerja untuk Bu Rini. Dia setuju untuk bertemu, tapi dengan syarat kita harus berhati-hati."Raka mengangguk. "Di mana kita bisa menemuinya?""Sebuah gudang tua di pinggiran kota. Dia bilang tempat itu aman, jauh dari pantauan orang-orang yang mungkin bekerja untuk Bu Rini," jawab Jeno.Sarah menggenggam tangan Raka erat. "Aku takut, Mas. Bagaimana jika ini jebakan?"Raka menatap dalam ke mata istrinya. "Kita tidak punya pilihan lain, Sayang. Ini satu-satunya petunjuk yang kita punya. Aku janji, aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu atau Nasha."Jeno menghela napas. "Baiklah, kita be

  • Setelah Istriku Memilih Pergi   171. SIAPA DALANGNYA?

    Sarah menggigit bibirnya, mencoba menahan isak tangis yang hampir pecah lagi. Raka masih duduk di sebelahnya, ponsel di tangannya terasa dingin, seperti ancaman yang baru saja mereka terima. Jeno, yang berdiri di seberang mereka, mengetik sesuatu di ponselnya dengan cepat. Pria itu kemudian menatap Raka dengan sorot mata penuh kewaspadaan."Aku sudah menghubungi seseorang untuk melacak sumber video itu. Butuh waktu, tapi kita akan menemukan mereka," kata Jeno dengan suara dalam.Raka mengangguk, tangannya masih menggenggam jemari Sarah erat. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh Nasha lebih lama lagi. Tapi kita harus berhati-hati, mereka jelas tahu pergerakan kita."Sarah menelan ludah, mencoba mengusir rasa takut yang menggerogoti hatinya. "Siapa yang cukup kejam untuk melakukan ini, Mas? Aku yakin ini bukan Ratna. Dia ada di penjara. Lalu siapa?"Hening. Raka menatap Sarah, begitu pula Jeno. Tidak ada yang bisa menjawabnya saat itu.Namun, di balik keheningan itu, otak Raka be

  • Setelah Istriku Memilih Pergi   170. NASHA DICULIK

    "NASHA?"Suara Sarah memekik lantang. Tangannya gemetar saat ia melihat layar ponselnya. Tak lama kemudian, sebuah kiriman video berputar otomatis, menampilkan seorang bayi mungil berusia tiga bulan yang menangis keras. Mata Sarah membelalak, napasnya tercekat. Itu Nasha. Anak mereka telah diculik.Raka segera meraih ponsel dari tangan Sarah, matanya membelalak saat melihat rekaman itu. Nasha berada di dalam ruangan yang remang-remang, hanya diterangi cahaya redup dari lampu gantung. Tangisan bayi mereka menggema, membuat dada Sarah dan Raka terasa sesak. Tak ada suara lain dalam video itu, hanya isakan kecil yang semakin memilukan.Sebuah pesan muncul sesaat setelah video berakhir."Kalian ingin Nasha kembali? Jangan hubungi polisi. Kami akan memberitahu langkah selanjutnya."Sarah menatap Raka dengan wajah penuh ketakutan. "Mas... kita harus melakukan sesuatu. Nasha masih kecil, dia butuh kita."Raka mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status