MasukEnam bulan berlalu sejak Naura dan Harsa memutuskan untuk menjalin hubungan.
Tidak banyak yang berubah dalam rutinitas Naura. Ia tetap bangun pagi untuk kuliah, menghabiskan sebagian besar waktunya di perusahaan, dan menyelesaikan tesis yang semakin mendekati tahap akhir.Bedanya, kini ada seseorang yang selalu mendukungnya.Harsa tidak pernah menuntut Naura menyediakan seluruh waktunya. Ia memahami kesibukan Naura, bahkan sering mengingatkannya untuk beristirahat kEnam bulan berlalu sejak Naura dan Harsa memutuskan untuk menjalin hubungan.Tidak banyak yang berubah dalam rutinitas Naura. Ia tetap bangun pagi untuk kuliah, menghabiskan sebagian besar waktunya di perusahaan, dan menyelesaikan tesis yang semakin mendekati tahap akhir.Bedanya, kini ada seseorang yang selalu mendukungnya.Harsa tidak pernah menuntut Naura menyediakan seluruh waktunya. Ia memahami kesibukan Naura, bahkan sering mengingatkannya untuk beristirahat ketika perempuan itu terlalu larut bekerja.Keenan pun tetap menjalin hubungan baik dengan mereka. Ia mulai memusatkan perhatian pada bisnisnya sendiri dan sesekali masih bertukar kabar dengan Naura.Tidak ada lagi persaingan di antara kedua pria itu.Masing-masing akhirnya memahami bahwa perasaan tidak selalu harus berakhir dengan memiliki seseorang.***Suatu sore, Naura baru saja selesai berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya ketika Harsa menelepo
Pagi itu, Naura datang ke perusahaan dengan perasaan yang lebih ringan.Setelah Keenan memutuskan untuk berhenti mengejarnya, ia menyadari bahwa kini tidak ada lagi alasan untuk terus menyembunyikan perasaannya sendiri.Ia memang belum siap menikah.Masih ada kuliah S2 yang harus diselesaikan dan perusahaan yang ingin dikembangkannya. Namun, bukan berarti ia harus menyangkal perasaannya kepada Harsa.Naura mengambil ponselnya dan membuka ruang percakapan mereka.Ia mengetik beberapa kata, menghapusnya, lalu mengetik kembali.Akhirnya, ia mengirimkan pesan singkat.> *Harsa, nanti malam kamu ada waktu? Aku ingin bicara sesuatu.*Balasan Harsa datang beberapa menit kemudian.> *Ada. Kamu mau bertemu di mana?*> *Di tempat pertama kali kita bertemu setelah reuni sekolah itu.*> *Baik. Aku akan menjemputmu.*Naura tersenyum membaca balasan tersebut.Untuk pertama kalinya,
Beberapa minggu setelah masalah perusahaan selesai, keadaan kembali tenang.Nama perusahaan Naura kembali dipercaya para investor. Proyek yang sempat diterpa masalah justru mendapatkan banyak perhatian positif karena berhasil melewati krisis tanpa menghentikan operasional.Naura juga kembali fokus pada kuliahnya.Pagi kuliah.Siang hingga sore mengurus perusahaan.Malam mengerjakan tesis.Rutinitas itu membuatnya semakin yakin bahwa hidupnya sudah jauh berbeda dari beberapa tahun lalu.Suatu sore, setelah kelas selesai, Naura duduk di taman kampus sambil membuka laptop.Ponselnya bergetar.Pesan dari Harsa.Aku ada di dekat kampusmu. Kalau kamu belum ada rencana, boleh aku temani makan?Naura tersenyum.Ia mengetik balasan.Boleh.Tidak lama kemudian Harsa datang."Kamu sudah selesai?""Sudah.""Capek?""Sedikit."
Keesokan paginya, Naura, Harsa, dan Keenan kembali berkumpul di ruang rapat.Di atas meja sudah terdapat beberapa dokumen dan hasil pemeriksaan sistem.Keenan membuka laptopnya."Aku sudah mendapatkan identitas orang yang menggunakan jaringan lama perusahaan."Naura menatap layar."Siapa?""Namanya Dimas. Mantan kepala bagian keuangan."Harsa mengerutkan kening."Dia sudah keluar sejak kapan?""Hampir enam bulan lalu."Naura terdiam."Kenapa dia diberhentikan?"Keenan membuka dokumen lain."Karena ada selisih laporan keuangan. Tapi waktu itu tidak cukup bukti untuk menyatakan dia melakukan penggelapan."Harsa langsung berdiri."Berarti dia punya alasan untuk membalas.""Tapi belum tentu dia pelakunya," kata Naura.Keenan mengangguk."Benar. Makanya aku tidak mau kita langsung menuduh."Beberapa jam kemudian, mereka
Launching proyek akhirnya selesai.Tepuk tangan dan ucapan selamat masih terdengar di seluruh ruangan ketika Naura turun dari panggung bersama Harsa dan Keenan.Proyek yang mereka kerjakan selama berbulan-bulan akhirnya resmi berjalan.Namun kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa jam.Malam harinya, ketika Naura baru saja sampai di rumah, ponselnya berdering berkali-kali.Naura mengernyit.Pesan dari salah satu direktur perusahaan masuk.«Bu Naura, segera buka berita. Ada masalah besar.»Naura langsung membuka salah satu tautan berita.Wajahnya berubah.Judul berita itu terpampang besar."PROYEK BESAR PERUSAHAAN NAURA DIDUGA MELAKUKAN MANIPULASI DANA DAN KEBocoran DATA INVESTOR.""Ini apa?"Naura segera membaca isi beritanya.Ada dokumen yang terlihat seperti laporan internal perusahaan.Di dalamnya terdapat angka investasi, pembagian keuntungan, ba
Hari-hari Naura kembali dipenuhi kesibukan.Pagi untuk kuliah, siang hingga sore untuk perusahaan, dan malam untuk menyelesaikan tugas-tugas S2 yang semakin menumpuk.Dulu, rutinitas seperti itu mungkin akan membuatnya mengeluh.Namun sekarang Naura justru menikmatinya.Ia merasa hidupnya kembali menjadi miliknya.Suatu sore, setelah menyelesaikan rapat, Naura keluar dari ruangannya sambil membawa beberapa berkas.Di lorong, ia melihat Harsa sedang berbicara dengan salah satu karyawan.Begitu melihat Naura, Harsa tersenyum."Sudah selesai?""Sudah.""Kamu mau langsung pulang?"Naura mengangguk."Aku masih harus mengerjakan tugas kuliah."Harsa tidak menahannya."Kalau begitu, pulanglah. Jangan terlalu malam."Naura tersenyum."Terima kasih."Baru beberapa langkah ia berjalan, suara Keenan terdengar dari belakang."Naura!"
Naura telah mempersiapkan malam itu jauh - jauh hari. Perayaan lima tahun pernikahannya dengan Farhan bukan hanya sekedar sebuah acara makan malam biasa ini adalah simbol perjalanan cinta mereka, bukti bahwa badai kecil yang pernah datang tak mampu meruntuhkan rumah tangga yang ia bangun sepenuh ha
Naura tanpa sadar terlalu banyak bercerita tentang pernikahannya dengan Farhan. Dari awal mereka menikah muda, lima tahun menjalani rumah tangga bersama, hingga akhirnya Farhan ketahuan berselingkuh dan ia tetap mencoba memberikan kesempatan kedua.“Aku tidak menyangka Farhan sudah menya
Tahun pertama pernikahan mereka terasa seperti mimpi. Farhan masih sering pulang tepat waktu. Mereka makan malam bersama, tertawa pada hal-hal sederhana, dan sesekali pergi berlibur singkat ke luar kota. Semua terasa cukup. Semua terasa utuh. Naura berusaha menjadi istri yang sempurna ban
Naura menatap kosong ke arah jendela. Pikirannya melayang jauh kembali ke masa ketika semuanya belum serumit ini. Ke awal. Ke Farhan. Ia pertama kali mengenal Farhan saat masih duduk di bangku SMP. Sore itu, rumahnya lebih ramai dari biasanya. Aroma teh hangat dan kue buatan ibunya meme







