INICIAR SESIÓNPagi hari menyelimuti apartemen dengan cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai. Farhan membuka matanya perlahan. Malam sebelumnya, ia dan Nadya bekerja hingga larut untuk menyelesaikan berbagai urusan proyek yang semakin mendekati hari pelaksanaan.
Namun, bukannya merasa lega, pikirannya justru terasa semakin berat.Masalah sabotase belum benar-benar selesai. Bagas masih buron. Investor mulai menuntut kepastian keamanan proyek. Belum lagi sikap Naura yang terus terngiHari mulai beranjak malam.Audit akhirnya selesai untuk hari pertama.Farhan mengantar tim auditor hingga ke lobi perusahaan sebelum kembali ke ruang kerjanya.Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi.Kepalanya terasa berat.Sejak pagi hingga malam, ia terus menjawab berbagai pertanyaan mengenai laporan keuangan perusahaan, proyek, hingga kejadian yang menggemparkan acara peluncuran kemarin.Belum sempat beristirahat, ponselnya kembali berdering.Nama yang muncul di layar membuatnya langsung mengangkat panggilan itu."Diah.""Farhan." Suara ibunya terdengar lemah. "Kapan kamu pulang?""Nanti malam, Ma.""Mama sendirian di rumah. Papa masih berada di kantor bersama tim pengacara."Farhan mengembuskan napas pelan."Baik, sebentar lagi Farhan pulang."Setelah menutup telepon, ia segera mengambil jasnya dan berjalan menuju parkiran.---Sekitar satu ja
Gibran membuka map yang sejak tadi dibawanya. Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen dan meletakkannya di atas meja. "Bu Naura, sebelum kita melangkah lebih jauh, ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan." Naura mengangguk. "Silakan." "Untuk perkara perceraian, saya akan menyiapkan seluruh berkas yang diperlukan. Namun, saya membutuhkan beberapa dokumen pribadi, seperti buku nikah, salinan kartu identitas, dan dokumen lain yang berkaitan dengan pernikahan Ibu." "Baik." "Sedangkan mengenai perusahaan, kita tidak boleh terburu-buru menyimpulkan bahwa semua tuduhan yang beredar itu benar." Naura memahami maksud ucapan Gibran. Video yang beredar memang membuat banyak orang percaya begitu saja. Namun, sebagai langkah hukum, mereka memerlukan bukti yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan. "Kita harus memisahkan antara infor
Setelah Mahendra dan Gibran meninggalkannya seorang diri di teras, Naura tetap duduk mematung.Tatapannya kosong mengarah ke taman, tetapi pikirannya kembali pada kejadian sehari sebelumnya.Semua terasa begitu nyata, sekaligus seperti mimpi buruk yang tidak pernah ia bayangkan.Ia memejamkan mata.Dalam benaknya, suara tepuk tangan para tamu kembali terdengar.Farhan baru saja mengakhiri pidatonya dengan penuh percaya diri.Kemudian ia memberikan isyarat kepada Nadya untuk naik ke atas panggung dan melanjutkan sambutan.Saat Nadya baru mengucapkan beberapa kata pembuka.Tiba - tiba layar LED raksasa berkedip.Ruangan yang semula dipenuhi tepuk tangan mendadak hening.Kemudian muncul sebuah judul besar dengan latar hitam dan tulisan merah menyala."PERSELINGKUHAN SEORANG KOMISARIS, TOMI, DENGAN WANITA SIMPANANNYA HINGGA HAMIL."Setelah judul itu muncul, satu per satu foto dan
Sinar matahari yang masuk melalui jendela membuat Naura perlahan membuka matanya. Beberapa saat ia hanya menatap langit-langit kamar tamu, berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Lalu semua kejadian itu kembali berputar di kepalanya. Acara peluncuran proyek. Tayangan di layar LED. Tatapan para tamu. Dan rasa sakit yang selama ini berusaha ia pendam. Naura mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur. Di sisi ranjang telah tersedia satu set pakaian ganti, lengkap dengan perlengkapan mandi dan sandal. Di atasnya terdapat secarik kertas kecil. «Silakan dipakai. Semoga ukurannya pas. Kalau ada yang kurang, beri tahu ART. Mahendra» Naura tersenyum tipis. "Terima kasih." gumamnya pelan. Ia pun segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah merasa sedikit lebih segar, Naura keluar dari kamar dan menuruni tangga. Dari ruang keluarga, ia melihat Mahendra sedang duduk di depan laptop. Beberapa dokumen terbuka di layar, sementa
Malam semakin larut. Ballroom yang beberapa jam lalu dipenuhi para tamu kini hampir kosong. Hanya tersisa petugas kepolisian, tim keamanan, dan beberapa panitia yang masih membereskan kekacauan. Farhan duduk di salah satu kursi sambil memegang ponselnya. Sudah entah berapa kali ia mencoba menghubungi Naura. Namun hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban. "Farhan." Suara Tomi membuyarkan lamunannya. "Apa polisi sudah menemukan Bagas?" Farhan menggeleng pelan. "Belum, Pa." Tomi mengembuskan napas kasar. "Kurang ajar! Dia sengaja menghancurkan keluarga kita." Farhan tidak menanggapi. Baginya, saat ini ada hal yang lebih penting. "Pa Naura belum bisa dihubungi." Tomi menoleh. "Mungkin dia sudah pulang." "Aku sudah menelepon
Mobil melaju meninggalkan lokasi acara yang telah berubah menjadi kekacauan.Sejak keluar dari ballroom, Naura sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.Tatapannya kosong.Wajahnya pucat.Bahkan buket bunga yang tadi dibawanya kini hanya tergeletak di kursi belakang mobil.Mahendra beberapa kali melirik ke arah Naura."Naura."Tidak ada jawaban.Ia hanya menatap lurus ke depan, seolah pikirannya masih tertinggal di dalam ballroom.Mahendra menghela napas pelan.Ia tahu wanita itu sedang mengalami syok yang luar biasa.Akhirnya, Mahendra memutuskan untuk tidak mengantar Naura kembali ke rumah Farhan.Ia membelokkan mobil menuju rumah pribadinya.---Beberapa puluh menit kemudian.Mobil berhenti di halaman rumah Mahendra.Begitu turun dari mobil, beberapa ART segera menghampiri."Selamat siang, Tuan."Mahendra langsung
Mobil yang dikendarai Farhan akhirnya memasuki area lokasi acara.Sejak tiba di gerbang utama, suasana sudah terlihat sangat ramai. Para tamu undangan, rekan bisnis, investor, dan awak media mulai berdatangan.Farhan turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Naura.
Naura sudah duduk di sudut kafe dengan secangkir kopi yang sudah lama kehilangan uapnya. Tatapannya kosong, menembus kaca jendela tanpa benar - benar melihat apa pun. Pikirannya berputar pada satu pertanyaan yang sejak tadi tak berhenti menghantuinya. Apa kurangnya aku??? Ia menikah muda atas
Wanita itu sudah menghilang. "Sayang, kamu ke mana saja dari tadi? Aku mencarimu," tanya Farhan sambil mendekat, nadanya terdengar wajar. Naura menatapnya lekat - lekat. Wajah yang ia hafal setiap garisnya. Wajah yang baru saja ia lihat mencium wanita lain. "Aku dari tadi di sini," jawabnya t
Naura telah mempersiapkan malam itu jauh - jauh hari. Perayaan lima tahun pernikahannya dengan Farhan bukan hanya sekedar sebuah acara makan malam biasa ini adalah simbol perjalanan cinta mereka, bukti bahwa badai kecil yang pernah datang tak mampu meruntuhkan rumah tangga yang ia bangun sepenuh ha







