ログインNaura hanya melirik sekilas ponselnya yang bergetar di atas meja. Nama Farhan terlihat jelas di layar, disusul beberapa pesan yang baru saja masuk.
Namun, ia tidak berniat membukanya sekarang.Dengan tenang, Naura membalikkan ponselnya dan kembali memusatkan perhatian pada dosen yang sedang menjelaskan materi di depan kelas.Pikirannya memang sempat terusik sesaat. Dulu, setiap kali Farhan menghubunginya, ia akan segera menjawab, bahkan ketika sedang sibuk sekalipunGibran membuka map yang sejak tadi dibawanya. Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen dan meletakkannya di atas meja. "Bu Naura, sebelum kita melangkah lebih jauh, ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan." Naura mengangguk. "Silakan." "Untuk perkara perceraian, saya akan menyiapkan seluruh berkas yang diperlukan. Namun, saya membutuhkan beberapa dokumen pribadi, seperti buku nikah, salinan kartu identitas, dan dokumen lain yang berkaitan dengan pernikahan Ibu." "Baik." "Sedangkan mengenai perusahaan, kita tidak boleh terburu-buru menyimpulkan bahwa semua tuduhan yang beredar itu benar." Naura memahami maksud ucapan Gibran. Video yang beredar memang membuat banyak orang percaya begitu saja. Namun, sebagai langkah hukum, mereka memerlukan bukti yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan. "Kita harus memisahkan antara infor
Setelah Mahendra dan Gibran meninggalkannya seorang diri di teras, Naura tetap duduk mematung.Tatapannya kosong mengarah ke taman, tetapi pikirannya kembali pada kejadian sehari sebelumnya.Semua terasa begitu nyata, sekaligus seperti mimpi buruk yang tidak pernah ia bayangkan.Ia memejamkan mata.Dalam benaknya, suara tepuk tangan para tamu kembali terdengar.Farhan baru saja mengakhiri pidatonya dengan penuh percaya diri.Kemudian ia memberikan isyarat kepada Nadya untuk naik ke atas panggung dan melanjutkan sambutan.Saat Nadya baru mengucapkan beberapa kata pembuka.Tiba - tiba layar LED raksasa berkedip.Ruangan yang semula dipenuhi tepuk tangan mendadak hening.Kemudian muncul sebuah judul besar dengan latar hitam dan tulisan merah menyala."PERSELINGKUHAN SEORANG KOMISARIS, TOMI, DENGAN WANITA SIMPANANNYA HINGGA HAMIL."Setelah judul itu muncul, satu per satu foto dan
Sinar matahari yang masuk melalui jendela membuat Naura perlahan membuka matanya. Beberapa saat ia hanya menatap langit-langit kamar tamu, berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Lalu semua kejadian itu kembali berputar di kepalanya. Acara peluncuran proyek. Tayangan di layar LED. Tatapan para tamu. Dan rasa sakit yang selama ini berusaha ia pendam. Naura mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur. Di sisi ranjang telah tersedia satu set pakaian ganti, lengkap dengan perlengkapan mandi dan sandal. Di atasnya terdapat secarik kertas kecil. «Silakan dipakai. Semoga ukurannya pas. Kalau ada yang kurang, beri tahu ART. Mahendra» Naura tersenyum tipis. "Terima kasih." gumamnya pelan. Ia pun segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah merasa sedikit lebih segar, Naura keluar dari kamar dan menuruni tangga. Dari ruang keluarga, ia melihat Mahendra sedang duduk di depan laptop. Beberapa dokumen terbuka di layar, sementa
Malam semakin larut. Ballroom yang beberapa jam lalu dipenuhi para tamu kini hampir kosong. Hanya tersisa petugas kepolisian, tim keamanan, dan beberapa panitia yang masih membereskan kekacauan. Farhan duduk di salah satu kursi sambil memegang ponselnya. Sudah entah berapa kali ia mencoba menghubungi Naura. Namun hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban. "Farhan." Suara Tomi membuyarkan lamunannya. "Apa polisi sudah menemukan Bagas?" Farhan menggeleng pelan. "Belum, Pa." Tomi mengembuskan napas kasar. "Kurang ajar! Dia sengaja menghancurkan keluarga kita." Farhan tidak menanggapi. Baginya, saat ini ada hal yang lebih penting. "Pa Naura belum bisa dihubungi." Tomi menoleh. "Mungkin dia sudah pulang." "Aku sudah menelepon
Mobil melaju meninggalkan lokasi acara yang telah berubah menjadi kekacauan.Sejak keluar dari ballroom, Naura sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.Tatapannya kosong.Wajahnya pucat.Bahkan buket bunga yang tadi dibawanya kini hanya tergeletak di kursi belakang mobil.Mahendra beberapa kali melirik ke arah Naura."Naura."Tidak ada jawaban.Ia hanya menatap lurus ke depan, seolah pikirannya masih tertinggal di dalam ballroom.Mahendra menghela napas pelan.Ia tahu wanita itu sedang mengalami syok yang luar biasa.Akhirnya, Mahendra memutuskan untuk tidak mengantar Naura kembali ke rumah Farhan.Ia membelokkan mobil menuju rumah pribadinya.---Beberapa puluh menit kemudian.Mobil berhenti di halaman rumah Mahendra.Begitu turun dari mobil, beberapa ART segera menghampiri."Selamat siang, Tuan."Mahendra langsung
Farhan berdiri tegak di belakang podium. Ia menarik napas pelan sebelum mulai memberikan sambutannya."Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian. Terima kasih atas kehadiran Anda semua pada acara hari ini."Tatapannya menyapu seluruh ballroom yang dipenuhi para tamu undangan."Hari ini merupakan hasil kerja keras banyak pihak. Saya mewakili PT Nusantara Megah Karya mengucapkan terima kasih kepada seluruh investor, rekan bisnis, panitia, dan semua pihak yang telah mendukung hingga proyek ini dapat memasuki tahap pelaksanaan."Tepuk tangan terdengar memenuhi ruangan.Farhan melanjutkan pidatonya dengan menjelaskan visi perusahaan, harapan terhadap proyek yang sedang dijalankan, serta pentingnya kerja sama antarpihak.Di meja tamu, Tomi mengangguk puas.Diah tersenyum bangga melihat putranya berbicara dengan penuh percaya diri.Sementara itu, Naura hanya mendengarkan dalam diam.Sesekali pandangannya beralih ke
“Sebenarnya apa yang ingin Mama bicarakan?” tanya Naura pelan. Diah menatapnya tajam. “Kamu sudah ada tanda - tanda hamil belum?” Pertanyaan itu datang tanpa jeda. Seperti pisau lama yang kembali diputar di luka yang sama. “Belum, Ma.” “Sudah lima tahun, Naura.” Nada suara Diah meninggi
Tahun pertama pernikahan mereka terasa seperti mimpi. Farhan masih sering pulang tepat waktu. Mereka makan malam bersama, tertawa pada hal-hal sederhana, dan sesekali pergi berlibur singkat ke luar kota. Semua terasa cukup. Semua terasa utuh. Naura berusaha menjadi istri yang sempurna ban
Naura menatap kosong ke arah jendela. Pikirannya melayang jauh kembali ke masa ketika semuanya belum serumit ini. Ke awal. Ke Farhan. Ia pertama kali mengenal Farhan saat masih duduk di bangku SMP. Sore itu, rumahnya lebih ramai dari biasanya. Aroma teh hangat dan kue buatan ibunya meme
“Aku kenal seseorang detektif swasta,” lanjut Iris pelan. “Dia profesional. Tidak sembarangan. Kalau memang ada sesuatu, dia pasti bisa menemukan jejaknya.” Kata detektif swasta membuat jantung Naura berdegup lebih cepat. Selama ini, perselingkuhan itu masih berupa potongan adegan di rooftop,







