Mag-log inSetelah Mahendra dan Gibran meninggalkannya seorang diri di teras, Naura tetap duduk mematung.
Tatapannya kosong mengarah ke taman, tetapi pikirannya kembali pada kejadian sehari sebelumnya.Semua terasa begitu nyata, sekaligus seperti mimpi buruk yang tidak pernah ia bayangkan.Ia memejamkan mata.Dalam benaknya, suara tepuk tangan para tamu kembali terdengar.Farhan baru saja mengakhiri pidatonya dengan penuh percaya diri.Kemudian ia mePOV NauraMalam itu, setelah sampai di rumah, Naura langsung disambut oleh Jolina yang sedang duduk di ruang keluarga."Kamu baru pulang?""Iya, Bu."Naura meletakkan tasnya di sofa lalu duduk di samping ibunya."Bagaimana acara bisnis tadi?""Berjalan lancar.""Naura juga bertemu teman lama."Jolina tersenyum penasaran."Teman lama?""Iya.""Namanya Harsa.""Dulu teman sekelas waktu SMA."Jolina memperhatikan wajah putrinya."Harsa?""Iya.""Dia orang yang baik?"Naura berpikir sebentar."Menurutku iya.""Dia sopan, tenang, dan profesional.""Enak diajak berdiskusi."Jolina tersenyum kecil."Sudah lama Ibu tidak melihat kamu bercerita tentang seseorang tanpa terlihat sedih."Naura terdiam.Ia tahu maksud ibunya.Dulu hampir semua cerita dalam hidupnya selalu be
POV NauraHarsa menutup panggilan teleponnya, lalu kembali menghampiri Naura."Maaf membuatmu menunggu.""Tidak apa-apa."Naura tersenyum tipis."Urusan kantor?"Harsa mengangguk."Iya.""Cabang perusahaan di Singapura sedang mempersiapkan proyek baru.""Kadang perbedaan waktu membuat pekerjaan tidak bisa benar-benar ditinggalkan."Naura terkekeh pelan."Sepertinya kita senasib.""Bedanya, aku sering dimarahi Ayah kalau terlalu sibuk."Harsa ikut tertawa."Kalau aku dimarahi Mama."Mereka saling tersenyum.Suasana terasa ringan.Tidak canggung, tetapi juga tidak terlalu akrab.Tak lama kemudian, Noel berjalan menghampiri mereka."Maaf mengganggu.""Kalian sedang mengobrol?"Harsa langsung mengulurkan tangannya dengan sopan."Selamat sore, Pak Noel.""Saya Harsa Pratama."
POV NauraTiga hari kemudian.Ballroom sebuah hotel internasional di Jakarta tampak dipenuhi para pengusaha dari berbagai negara.Hari itu merupakan pembukaan Business Summit Asia, sebuah forum bisnis yang mempertemukan perusahaan-perusahaan besar untuk berbagi pengalaman, inovasi, dan peluang kerja sama.Naura tiba bersama Noel.Keduanya disambut oleh panitia."Selamat datang, Bu Naura. Selamat datang, Pak Noel.""Terima kasih."Setelah melakukan registrasi, mereka dipersilakan menuju ruang VIP sebelum acara dimulai.Di dalam ruangan, beberapa tokoh bisnis telah lebih dulu hadir.Noel menepuk pelan bahu putrinya."Gugup?"Naura tersenyum tipis."Sedikit.""Padahal dulu kamu berani menghadapi hakim di ruang sidang.""Sekarang malah gugup di depan para pengusaha."Naura tertawa kecil."Itu beda, Yah.""Kali ini aku membawa n
POV NauraSetelah sesi diskusi berakhir, para tamu undangan dipersilakan menikmati jamuan makan malam yang telah disiapkan oleh panitia.Suasana ballroom kembali dipenuhi obrolan hangat.Para pengusaha saling bertukar kartu nama dan membahas peluang kerja sama.Naura berdiri di dekat meja prasmanan sambil mengambil segelas jus jeruk.Baru saja ia hendak berbalik, seseorang berdiri di sampingnya."Boleh saya bergabung?"Naura menoleh.Ternyata Harsa."Tentu."Harsa mengambil segelas air mineral, lalu berdiri di samping Naura."Selamat sekali lagi atas pencapaian perusahaanmu.""Aku sempat membaca beberapa artikel tentang PT Adiguna Bangun Sejahtera.""Perkembangannya sangat pesat."Naura tersenyum sopan."Terima kasih.""Semuanya berkat kerja keras tim."Harsa terkekeh pelan."Irene benar."Naura mengernyit.
POV NauraAcara reuni pun akhirnya selesai.Satu per satu alumni mulai meninggalkan ballroom hotel.Naura berdiri di depan pintu masuk sambil menunggu mobilnya yang sedang dibawakan oleh petugas valet.Irene menghampirinya sambil membawa sebuah goodie bag berisi kenang-kenangan reuni."Nih, jangan sampai ketinggalan."Naura menerimanya sambil tersenyum."Terima kasih.""Kapan-kapan kita harus ketemu lagi, ya.""Pasti.""Tapi jangan nunggu reuni sepuluh tahun lagi."Naura terkekeh pelan."Iya, Bu Irene."Mereka kembali tertawa bersama.Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan mereka.Seorang petugas turun dan menyerahkan kunci mobil kepada Naura."Terima kasih."Naura membuka pintu mobil, tetapi sebelum masuk ia kembali menoleh kepada Irene."Ren.""Hm?""Kalau nanti ketemu Harsa lagi..
POV NauraSetelah berpamitan dengan Farhan dan Nadya, Naura berjalan menuju area rooftop hotel yang memang disiapkan sebagai tempat berkumpul para alumni.Dari kejauhan terdengar suara tawa dan obrolan hangat.Beberapa teman sedang mengenang masa-masa SMA.Ada yang saling bertukar kabar, ada pula yang asyik mengabadikan momen dengan ponsel mereka.Naura tersenyum.Sudah lama sekali ia tidak merasakan suasana seperti ini.Begitu melihat Irene, ia melambaikan tangan."Irene!""Di sini!"Naura mempercepat langkahnya.Namun karena terlalu fokus melihat sahabatnya, ia tidak menyadari seseorang sedang berjalan dari arah berlawanan.Brak!"Aduh!"Naura hampir kehilangan keseimbangan.Untungnya ia sempat memegang pagar pembatas rooftop."Astaga maaf."Belum sempat ia mengangkat kepala, terdengar suara seorang pria yang terdengar kesal.
Wanita itu sudah menghilang. "Sayang, kamu ke mana saja dari tadi? Aku mencarimu," tanya Farhan sambil mendekat, nadanya terdengar wajar. Naura menatapnya lekat - lekat. Wajah yang ia hafal setiap garisnya. Wajah yang baru saja ia lihat mencium wanita lain. "Aku dari tadi di sini," jawabnya t
Naura tanpa sadar terlalu banyak bercerita tentang pernikahannya dengan Farhan. Dari awal mereka menikah muda, lima tahun menjalani rumah tangga bersama, hingga akhirnya Farhan ketahuan berselingkuh dan ia tetap mencoba memberikan kesempatan kedua.“Aku tidak menyangka Farhan sudah menya
Tahun pertama pernikahan mereka terasa seperti mimpi. Farhan masih sering pulang tepat waktu. Mereka makan malam bersama, tertawa pada hal-hal sederhana, dan sesekali pergi berlibur singkat ke luar kota. Semua terasa cukup. Semua terasa utuh. Naura berusaha menjadi istri yang sempurna ban
Naura telah mempersiapkan malam itu jauh - jauh hari. Perayaan lima tahun pernikahannya dengan Farhan bukan hanya sekedar sebuah acara makan malam biasa ini adalah simbol perjalanan cinta mereka, bukti bahwa badai kecil yang pernah datang tak mampu meruntuhkan rumah tangga yang ia bangun sepenuh ha







