Compartilhar

KEJUTAN UNTUK TANIA

Autor: Anonara
last update Data de publicação: 2026-09-08 10:46:01

Tatapan tajam menelisik Gyana dari ujung kaki hingga rambut. Rahang Sean mengetat. Jelas sekali pria itu sedang di puncak kemarahan. 

“Apanya, Sean?” tanya Gyana pura-pura tidak mengerti. Matanya mengikuti arah pandang Sean. 

Raut datar dengan tampang tidak merasa bersalah itu sengaja Gyana suguhkan di hadapan sang suami. 

“Apa aku terlihat cantik malam ini?” 

Kaki Sean melangkah lebih dekat. Aura pria itu semakin tidak bersahabat. Tinggi Gyana yang hanya sebatas dagu Sean membuat pria itu harus menunduk menatap langsung kepada perempuan di hadapannya ini. 

“Aku sudah memintamu memakai perhiasan yang ku beri, Gya. Dan gaunmu, bukan ini yang Mike siapkan.” 

Gyana menyunggingkan senyum tipis. Kemudian mendongak dengan berani, menatap Sean tepat ke arah manik pekat suaminya. 

“Aku lebih menyukai gaun dan perhiasan ini. Lagipula aku harus tampil cantik untuk mendampingi suamiku.”

Sean merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan barusan didengarnya. Perempuan di depannya ini seperti bukan Gyana yang ia kenal. 

Gyana malam ini seperti menampakkan perempuan keluarga Danuarta yang sebenarnya. Penuh percaya diri dan tidak kenal rasa takut.

Gaun merah beserta set perhiasan dengan warna senada semakin menambah aura keberaniannya. Punggung indahnya juga sengaja ditampakkan dengan berani. 

Jauh di lubuk hati Sean, ia mengakui bahwa Gyana memang sangat cantik. Tidak hanya malam ini. Bahkan dibandingkan dengan Tania pun, Gyana jauh di atas gadis itu. Hanya saja, semenjak kejadian beberapa tahun silam, perhatian Sean hanya tertuju pada Tania seorang. 

“Maaf, Tuan, Nyonya, sebaiknya kalian segera masuk. Tuan Besar Danuarta sudah menunggu.” Mike menginterupsi kedua majikannya. 

Sean menghela napas berat. Berbeda dengan Gyana yang langsung menyusupkan tangannya di lengan Sean dengan tenang. Senyum cantik pun tidak pudar dari wajahnya. 

Sekali lagi, sikap berani Gyana membuat Sean terperangah. 

Kehadiran Sean dan Gyana mengundang perhatian pada tamu. Bak raja dan ratu, visual keduanya begitu tampak serasi. 

Haris Danuarta menyadari hal itu. Begitu pula Tania yang tadinya sedang bercengkrama dengan rekan Raymond. 

“Selamat malam, Sean.” Haris menyambut Sean dengan penuh kegembiraan. 

Sean lantas mengulas senyum tipis. Kemudian mengulurkan tangan pada Haris. “Malam, Ayah. Maaf kami datang terlambat.” 

Haris menyambut tangan Sean disertai tepukan hangat di bahu tegapnya. Kemudian tertawa singkat, “Yang paling penting kamu bersedia datang. Sayang sekali jika acara semewah ini, kamu tidak datang.” 

“Ayah benar, Kak Sean. Aku juga akan sedih jika Kak Sean tidak datang ke acara pentingku,” imbuh Tania dengan lembut. 

Sean ikut tersenyum menanggapi celotehan Tania. “Kamu sudah mengundangku. Aku tidak mungkin tidak datang.” 

“Terima kasih juga karena sudah mengundangku." Gyana bersuara tanpa permisi.

Tanpa peduli dengan tatapan tidak suka orang-orang itu, ia memberikan bingkisan kecil kepada Tania. 

Sikap manis Gyana membuat Tania semakin kesal. Kalau saja ia hanya berdua dengan Gyana, Tania pasti sudah meluapkan kekesalannya pada perempuan itu. 

“Ka… kalungmu?” Alih-alih mengambil bingkisan dari Gyana, Tania justru lebih fokus dengan kalung Gyana yang berkilau indah. 

Gyana tersenyum lebar. “Kalungku? Bagaimana? Bagus bukan? Perhiasan ini sengaja aku pakai untuk acara malam ini.” 

Tania kehilangan senyumnya. Gadis itu langsung menatap Sean. Sementara itu, Sean hanya diam bingung mau berkata apa. 

“Pakaianmu terlalu mencolok, Gya. Ini bukan acaramu. Berhenti bertingkah dan memalukan keluarga Danuarta!” Raymond bersuara pelan tetapi penuh penekanan. 

Gyana terkekeh. Tidak merasa takut sama sekali dengan ucapan kasar dan tatapan tidak bersahabat kakak pertamanya. 

“Aku juga putri Ayah. Aku juga berulang tahun malam ini. Apa salahnya jika aku ikut senang merayakan acara ini? Bukankah pakaian yang bagus menandakan bahwa ia menghargai tuan rumah?” 

“Tidak mungkin aku datang dengan gaun yang biasa saja, sementara aku datang juga untuk mendampingi suamiku,” lanjut Gyana tenang. 

“Gya….” Sean berbisik mengingatkan Gyana. 

Gyana hanya menoleh singkat. Kemudian menatap orang-orang di depannya bergantian. 

“Jangan berlebihan. Ini hanya gaun. Bukan salahku jika pesonaku ternyata lebih mengundang perhatian daripada yang punya acara!” 

Tania memaksakan senyumnya. “Gyana benar. Ini hanya gaun dan perhiasan. Tidak perlu dibesar-besarkan.” 

“Kamu memang terbaik, Tania.” Gyana dengan santai merapikan surai panjang Tania ke belakang. 

Tania tercekat dengan sikap lancang Gyana. 

Sebelum para pria di dekatnya protes, Gyana bersuara kembali. “Aku ke kamar mandi dulu, ya.” 

Sean mengangguk malas dan Gyana pergi. Gyana menghidupkan keran untuk memberikan rasa sejuk di tangannya. Rasa lega perlahan menyisihkan sesak yang sejak masuk hinggap di dadanya. 

Tiba-tiba pintu terbuka. Gyana enggan menoleh, cukup bisa melihat siapa yang datang hanya dari cermin. 

“Kamu sengaja kan mau mengacaukan acaraku?” Tania datang dengan emosi yang tidak bisa ditahan. 

Gyana memutar bola matanya. Gadis dengan gaun biru muda itu menanggalkan topengnya sejenak. Menampakkan rasa tidak sukanya terhadap Gyana tanpa sungkan, seolah lupa siapa yang lebih berhak di rumah itu sebenarnya. 

“Kamu kira dengan gaunmu ini perhatian orang-orang bisa tertuju padamu? Jangan bermimpi Gyana. Selamanya kamu hanya akan menjadi orang yang tidak dianggap di sini," ujar Tania sinis berharap Gyana akan sedih.

Gyana menatap Tania dari ujung kaki hingga kepala. Tentu saja dengan tatapan menyebalkan yang jarang ia tunjukkan. 

“Wajahmu tidak akan sepucat itu jika kamu yakin aku tidak akan menggeser posisimu. Tapi lihat! Sekarang kamu bahkan repot-repot menemuiku hanya demi mengatakan itu?” Gyana tiba-tiba tertawa. 

Wajah Tania memerah. Kepalan tangannya menguat karena geram. 

“Kamu jelas kalah dariku malam ini, Tania.” Gyana melangkah pelan tetapi dengan santai. Senyum miring terukir di bibirnya. 

“Darah kental tidak akan pernah berbohong, Tania. Sejak awal darah yang mengalir di tubuhmu adalah darah orang miskin. Jangan berlagak menjadi orang atas. Kalau jatuh, nanti sakit.”

Dada Tania memompa lebih cepat. Gyana sudah berani menghinanya. 

Tepat saat Gyana hendak menarik gagang pintu untuk keluar, Tania mengeluarkan gunting dari balik gaunnya. Kemudian menjerit, “Ayah! Kak Sean! Tolong!” 

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   GAGAL

    "Gimana? Tuan Muda Sean bersedia datang tidak?” Tania mencoba menghubungi Sean lagi. Namun, hasilnya tetap sama. Panggilan telepon yang ia lakukan sama sekali tidak mendapat respon dari Sean. Pesan-pesan yang Tania kirimkan juga tidak kunjung mendapat balasan. Padahal status pesan yang dia kirim sudah bercentang dua. Tidak biasanya Sean mengabaikannya begini. “Waah, sepertinya Sean sudah tidak memprioritaskan kamu lagi, Tania!” cibir salah satu wanita yang duduk di meja yang sama dengan Tania. “Diam kamu!” sungut Tania kesal. “Kalau memang Kak Sean tidak bisa datang itu karena Kak Sean lagi sibuk. Bukan berarti sengaja tidak memperdulikan aku.” “Karena kamu kalah taruhan itu artinya kamu harus mentraktir kami tas mahal limited edition itu. Dan Tuan Muda Sean yang tidak bisa datang itu artinya kamu yang harus bayar semua termasuk belanjaan kami yang lain.”Ucapan wanita berambut pirang membuat dua wanita lainnya tertawa renyah bercampur seringaian licik semakin membuat wajah Tania

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   MENIKMATI WAKTU BERDUA

    “Aku yang melakukan itu, Sean. Bukan para pelayan tidak bersalah itu.” Tangan Gyana dengan cepat dicekal Sean dengan kuat. Tarikan Sean yang kuat dan mendadak membuat Gyana yang tidak bersiap langsung terdorong ke depan dan menubruk dada Sean yang telanjang sebagian. Alhasil, bibir Gyana yang hanya pernah sekali bersentuhan dengan fisik Sean pun mendarat di dada Sean tanpa bisa dicegah. Mata Gyana membulat dan spontan hendak mendorong Sean. Namun, pergerakannya justru ditahan pria itu. Tenaga Sean yang jauh lebih besar dibanding Gyana membuat wanita yang masih memakai pakaian olahraga itu tidak berkutik. Beruntung sekarang mereka sudah berada di kamar Gyana. Sementara para pelayan yang tadi dihukum di depan sudah dibubarkan Sean. “Jelaskan semuanya!” pinta Sean memusatkan pandangannya pada wajah Gyana yang tampak memerah karena selesai berolahraga. Suara dingin dan penuh penekanan membuat Gyana menelan ludah dengan susah payah. Meski sering melontarkan kalimat ketus dan raut din

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   PAGI MENCEKAM

    “Nyonya Gyana!” Fiska berlari kecil menghampiri Gyana yang baru saja sampai di teras rumah. Bulir keringat masih membasahi kening dan sekitar sisi wajahnya. Gyana juga belum sempat meneguk minuman untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Napas Gyana bahkan masih tersengal-sengal karena baru selesai berlari pagi. “Gawat, Nyonya!” seru Fiska dengan wajah tegang. “Anu… Tuan….”Gyana mengangkat satu alisnya. Mencoba memahami maksud perkataan Fiska yang sepotong-sepotong. Perlahan Gyana mengusap dengan pelan lengan Fiska, berharap wanita itu bisa lebih tenang.“Ada apa dengan Tuan?” tanya Gyana lembut. Ia juga mengiringi Fiska untuk masuk ke rumah. “Coba Bibi jelaskan pelan-pelan.” “Tuan—”“Kalau tidak ada yang berani mengaku saya tidak akan segan-segan memecat kalian semua!” Belum sempat Fiska mengurai penjelasan, suara Sean lebih dulu terdengar dari lantai dua. Alih-alih berbicara dengan nada tenang dan rendah seperti biasa, kali ini suara Sean sangat kentara sedang emosi

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   TERTAHAN

    “Kamu tidak boleh mencintai Nael. Rasanya di sini….” Sean menunjuk dadanya. Matanya masih sayu dan suaranya serak serta lirih.. “Tidak rela kamu berdekatan dengan dia.”Guana tidak kunjung menjawab. Malas sekali menanggapi celotehan Sean yang semakin ngawur. Kalau bukan karena pria ini dicari Mike, Gyana mana mau menginjakkan kakinya di tempat sialan ini. Ruang kerja Sean masih sama seperti enam bulan lalu. Bahkan foto Tania masih menempel di dinding dengan begitu menawan. Senyumnya pun masih sama menyebalkan dengan Tania yang asli. “Udah tau nggak bisa minum banyak malah dipaksa,” sungut Gyana seraya melepaskan sepatu Sean. Sebenarnya Gyana sama sekali tidak menduga bahwa Sean masih memakai kemeja, celana dan sepatu kerjanya. Apalagi ini sudah tiga jam dari semenjak pria itu pulang dari kantor. Banyaknya gelas kosong bekas minuman beralkohol itu pun membuat Gyana berasumsi tampaknya kondisi Sean memang tidak baik. Saat pulang tadi pun, Gyana sempat heran melihat penampilan suamin

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   KACAU

    "Bunga untuk siapa itu, Bi?” tanya Sean. Pria itu baru saja pulang dari kantor. Berbeda dengan biasanya, malam ini Sean terlihat kacau. Rambut yang biasanya rapi jadi berantakan, tiga kancing kemeja atas sudah terbuka dengan dasi yang sudah tidak terdapat mengikat leher dan jas yang biasanya masih terpakai kini hanya disampirkan di lengan. Aura Sean terasa lebih suram dari biasa. Suaranya juga lebih dingin dan ketus serta matanya yang menatap sinis pada buket bunga besar yang berada di atas meja ruang tengah. Sebuah buket lily putih yang langsung mengundang curiga Sean saat melihat benda tersebut. “Dari kartu ucapannya ditujukan ke Nyonya Gyana, Tuan.” “Dari siapa?” Fiska menggeleng. “Tidak ada nama pengirimnya, Tuan.” Sean berjalan menuju meja. Rasa penasaran membuatnya ingin melihat dari dekat bunga yang ditujukan kepada istrinya tersebut. Namun, tepat saat tangannya hendak menyentuh buket bunga tersebut, suara Gyana lebih dulu menghentikan gerakan Sean. “Jangan sentuh itu,

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   PAGI YANG BURUK

    “Kamu sengaja menghindari aku lagi?” Langkah Gyana terhenti saat mendengar suara dari arah belakang. Pintu kamar baru saja tertutup, Gyana kira kamar utama yang berada tidak jauh dari kamarnya pun sudah tidak berpenghuni. Biasanya Sean sudah berangkat kerja beberapa menit yang lalu. Sama dengan pagi biasanya, Gyana keluar kamar sengaja menunggu Sean pergi kerja. Hidup dengan pria yang menjadi penyebab luka di hatinya tentu saja sangat menyiksa batin. Apalagi jika itu adalah Sean. Pria itu bahkan tidak pernah menyadari bahwa Gyana menghindarinya karena ulahnya sendiri. “Aku tidak bermaksud meninggalkanmu di tepi jalan semalam. Tania—”“Hentikan omong kosongmu. Aku tidak sudi mendengar pembelaan dari mulutmu. Semua itu tidak akan mengubah persepsiku tentang hubungan kalian,” sela Gyana ketus. Gyana sudah siap berangkat kerja. Waktunya tinggal satu jam lagi sebelum nanti bertemu dengan mitra kerjanya. Namun, Sean dengan tanpa bersalah justru menahan dirinya. Dan, seperti yang telah

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status