Share

73 Tempat Tinggal Baru

Penulis: SayaNi
last update Tanggal publikasi: 2026-06-30 08:51:52
Ruenna akhirnya tertidur lelap di dalam pelukan Jerry.

Tubuh mereka saling menempel erat, berhimpitan di atas sofa ruang yang sebenarnya terlalu sempit untuk ditiduri oleh dua orang dewasa.

Namun, benar kata orang-orang. Saat sedang bersama orang yang tepat, tempat yang sempit pun sama sekali tidak terasa sempit. Malah terasa jauh lebih nyaman, hangat, dan membuat enggan untuk bergeser.

Perlahan dan hati-hati, Jerry bergerak. Ia mengangkat kepala Ruenna dari atas lengannya dengan sangat l
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   107 Suami tidak berakhlak

    "Sepertinya ada yang lagi yang kau sembunyikan dariku," ucap Jerry. Pria itu menghela napas. Memasang raut wajah kecewa. "Jerry, bagaimana kalau kita berdua... pergi?" usul Ruenna tiba-tiba. Mengira istrinya itu sedang mengajak liburan romantis, Jerry tersenyum semringah. "Ah, maaf, aku lupa tentang bulan madu kita. Kau ingin honeymoon kemana?"​"Bukan, bukan itu maksudku," balas Ruenna pelan. Ia melepaskan tangan Jerry yang masih mengapit dagunya. Digenggamnya tangan itu, sembari menatap mata Jerry lekat-lekat. "Maksudku, kita benar-benar pergi jauh. Kalau perlu pindah ke luar negeri... mungkin ke Kutub Utara."​"Kutub Utara?"​"Iya, biar lebih aman," balas Ruenna serius. "Dengan begitu, pamanmu tak akan bisa mencoba membunuhmu lagi."Tangan Jerry yang lain beralih mengelus lembut pipi Ruenna. Bibirnya mengulas senyum tipis, ia selalu luluh tiap kali wanita itu menunjukkan perhatiannya. "Soal itu, aku akan baik-baik saja."​​Ruenna melepas tangan Jerry, dan langsung mengambil pons

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   106 Yes, Master

    Peringatan (21+)mengandung adegan dewasa. Bagi yang kurang nyaman, disarankan melompati bab ini.Jemari Ruenna perlahan membebaskan milik Jerry yang menuntut untuk segera disentuh.Ruenna mengelus kulit sensitif yang hangat itu seolah mencoba menenangkannya. Ibu jarinya membelainya pelan sembari memberi kecupan."Ssshh..." Jerry meremas pelan sandaran sofa, merasakan kehangatan jemari Ruenna yang bermain lembut di sana.Ruenna mendongak sebentar, menatap mata Jerry yang menahan gairah, lalu menunduk kembali. Ia mengecap dengan ujung lidahnya, sebelum akhirnya perlahan membiarkan rongga mulutnya yang hangat membungkus milik Jerry.Tulang rusuk Jerry yang belum sembuh total memaksanya untuk tetap diam bersandar. Ia hanya bisa pasrah membiarkan Ruenna memanjakannya dengan lumatan yang semakin intens."Ugh... Argh... Ruenna," erang Jerry. Kepalanya makin terperosok ke sandaran sofa. Rasa nikmat itu terasa begitu menyiksa.Jerry memejamkan matanya. Jemarinya menyusup ke sela-sela rambut Ru

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   105 I have a boyfriend

    "Saya?" Ruenna tersenyum canggung, karena tiba-tiba dikasih panggung untuk bicara. Haruskah ia ikutan pamer? "Kesibukan saya cuma sibuk menghabiskan uang jajan yang diberikan Michelle," ucap Ruenna sembari tersenyum manis. Ia menatap Michelle yang duduk di sebelahnya. Lalu lanjut dengan semangat, "Tahu sendiri, kan? Rumit sekali rasanya. Van Cleef, Harry Winston, atau Cartier itu rajin sekali mengeluarkan koleksi perhiasan baru setiap musimnya. Padahal set perhiasan berlian yang dibelikan Michelle musim lalu saja belum semuanya sempat saya pakai."Tiga tahun Ruenna hidup sebagai Fiorella, ia sudah terbiasa dengan barang-barang mewah karena sering berbalanja bersama Livia. Satu meja langsung terdiam. Mereka sebenarnya ingin menganggap Ruenna hanya membual demi mengangkat gengsi Michelle di depan mereka. Namun, saat mata mereka secara naluriah meneliti penampilan Ruenna dari atas ke bawah, niat menyangkal itu sirna. Potongan gaun, pendar kemilau perhiasan berlian yang dikenakan Ruenn

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   104 Suami patuh istri

    Setelah keluar dari rumah sakit, Jerry memilih menghabiskan masa pemulihannya di rumah yang ia tempati bersama Ruenna. Siang itu, Genio datang setelah pembebasannya diselesaikan oleh pengacara Homar. Pria itu menyandarkan punggung di sofa, menatap Jerry yang duduk santai di hadapannya."Jadi, apa rencanamu sekarang?" Jerry menjawab santai, "Istriku bilang, balas dendam tidak akan pernah ada ujungnya. Aku patuh pada istriku."Genio tertegun, antara ingin tertawa atau heran. "Lalu aku harus patuh pada siapa? Kau bosnya."Raut wajah Jerry berubah serius. "Pengacara Eric sengaja memperlama persidangan. Dia pikir bisa membuat putranya menjadi tak bersalah," Jerry tertawa sebelum lanjut berkata, "aku jadi ingin memastikannya mendapat hukuman terberat."Genio menaikkan sebelah alisnya, menyindir halus. "Bukannya kau suami yang patuh pada istri?"Jerry terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Benar. Terima kasih sudah mengingatkan.""Sama-sama," balas Genio datar.Tak lama kemudian, terde

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   103 Hot Gila

    Tiga hari kemudian...Jerry sudah dipindahkan dari ICU ke kamar rawat, dan bisa duduk bersandar di tempat tidurnya. Meski beberapa lapis perban masih membalut dada dan bahunya. Di sudut ruangan, Narin sibuk melihat lihat tumpukan hadiah dari para penggemar Jerry yang sudah di periksa oleh keamanan. "Jerry, boneka karakter yang lucu ini sangat mirip denganmu! Yang ini buat aku, ya?" seru Narin memeluk boneka itu. Jerry melirik adiknya datar. "Ambil saja semuanya sebelum dibuang.""Cih, herman kok bisa orang sepertimu punya penggemar, tampan tidak, attitude tidak ada," cibir Narin, tetapi jemarinya tetap sibuk memilah barang-barang unik lainnya. "Kak, cepatlah bosan dengan Jerry, lalu buang saja dia."Ruenna tersenyum tipis mendengar ucapan Narin padanya. Ia pikir gadis yang tengah sibuk dengan tugas akhir kuliah itu akan membencinya karena akrab dengan Aylin. Tetapi Narin malah bersikap biasa saja padanya. Ruenna kembali fokus pada mangkuk sup di tangannya. Ia menyuapkan satu send

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   102

    Eric melepaskan cengkeramannya. Tubuh Ruenna terhempas ke lantai, terbatuk-batuk sambil meremas lehernya yang terasa kering dan ngilu. ​Perawat ICU yang berseru tadi pun bergegas berlutut di samping Ruenna, lalu mendongak menatap Eric. "Pak, Anda tidak bisa melakukan kekerasan di ruang ICU. Tolong keluar sekarang, atau saya panggil sekuriti!" ​Eric menatap perawat itu dengan pandangan meremehkan. "Jangan ikut campur kalau masih ingin bekerja di rumah sakit ini." ​"Saya tahu Anda kerabat Dokter Homar. Tapi tugas saya memastikan ruangan ini tetap steril," balas perawat tanpa gentar. ​Eric berdecak sinis. Ia menatap Ruenna yang masih bersusah menghirup oksigen. ​"Aku belum selesai denganmu," ucap pria paruh baya itu pada Ruenna sebelum melangkah pergi. ​Napas lega berembus dari mulut perawat tersebut. Ia kembali pada Ruenna. "Anda tidak apa-apa? Perlu saya panggilkan dokter?" ​Ruenna menggeleng pelan. Suaranya keluar serak, "Saya... tidak apa-apa. Terima kasih." Perawat itu meng

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   Bab 7

    "Sebentar, aku butuh waktu untuk berpikir," sahut Ruenna pelan. "Hanya latihan, kan? Maksudku... ini murni latihan akting?" Jerry mengangguk singkat. "Ya." Ruenna menarik napas dalam. Baginya, berakting bukan hal baru. Setiap hari ia berakting menjadi Fiorella yang anggun di depan keluarga Ol

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   Bab 6

    Ruenna menelan ludah. Bayangan tentang kesuksesan lewat konten memasak tiba-tiba terasa seperti gelembung yang siap pecah. "Jadi, terima saja tawaran kami," tekan Genio lagi. "Apa untungnya bagi Anda menghapus akun Chef Rue? Membagikan resep adalah cita-cita saya." "Untuk mematikan akses Anda

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 5

    Di menara Aureon, sebuah raksasa teknologi, Altan duduk di depan layar monitor. Alih-alih ruang kerja mewah dengan pemandangan kota, ia kini terjepit di sebuah kabikel yang sempit, dikelilingi oleh bising suara rekan kerja yang sibuk bergosip tentang drama kantor. Kakek Mario benar-benar membuat A

  • Shh, Tuan! Jangan Bilang Siapa-siapa   BAB 4

    Keesokan paginya, Ruenna berpapasan dengan Altan yang juga baru keluar dari kamarnya. "Lihat siapa yang sudah bangun," cemooh Altan, memasukkan satu tangannya ke saku celana. "Kau semakin pandai berdandan memakai barang-barang mahal." Ruenna mengabaikan ejekan itu. Ia hanya ingin berjalan melewa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status