LOGINJerry melangkah santai memasuki ruang kerja bernuansa kayu gelap milik Kakek Mario. Di balik meja besar, sang patriarki duduk dengan ekspresi siap menelan orang bulat-bulat."Kau sudah meninggalkan wanita itu?" sapa Kakek Mario tanpa basa-basi, ia ingin menunjukkan ketegasannya pada cucunya yang membangkang. "Pintu keluarga ini tertutup rapat kalau kau masih bersamanya."Ekspresi Jerry tidak goyah sedikit pun. Dengan santai ia mendekati meja, lalu menjatuhkan amplop cokelat tebal di atas meja sang kakek. "Kedatanganku ke sini bukan untuk minta maaf atau memohon," ucap Jerry dengan santai. Kakek Mario mendengus remeh. "Lalu kau mau apa?""Ini terakhir kalinya aku memberi peringatan," balas Jerry tenang. "Aku bukan lagi bagian dari Oleander. Jadi, mari kita sepakat untuk tidak saling mengusik."Sudut mata Kakek Mario menyipit tajam. "Tanpaku, kau bisa apa? Bahkan rumah sakit keluarga Deluca tidak lepas dari sokongan dana dariku."Bukannya terintimidasi, Jerry langsung kelepasan senyum
"Sepertinya ada yang lagi yang kau sembunyikan dariku," ucap Jerry. Pria itu menghela napas. Memasang raut wajah kecewa. "Jerry, bagaimana kalau kita berdua... pergi?" usul Ruenna tiba-tiba. Mengira istrinya itu sedang mengajak liburan romantis, Jerry tersenyum semringah. "Ah, maaf, aku lupa tentang bulan madu kita. Kau ingin honeymoon kemana?""Bukan, bukan itu maksudku," balas Ruenna pelan. Ia melepaskan tangan Jerry yang masih mengapit dagunya. Digenggamnya tangan itu, sembari menatap mata Jerry lekat-lekat. "Maksudku, kita benar-benar pergi jauh. Kalau perlu pindah ke luar negeri... mungkin ke Kutub Utara.""Kutub Utara?""Iya, biar lebih aman," balas Ruenna serius. "Dengan begitu, pamanmu tak akan bisa mencoba membunuhmu lagi."Tangan Jerry yang lain beralih mengelus lembut pipi Ruenna. Bibirnya mengulas senyum tipis, ia selalu luluh tiap kali wanita itu menunjukkan perhatiannya. "Soal itu, aku akan baik-baik saja."Ruenna melepas tangan Jerry, dan langsung mengambil pons
Peringatan (21+)mengandung adegan dewasa. Bagi yang kurang nyaman, disarankan melompati bab ini.Jemari Ruenna perlahan membebaskan milik Jerry yang menuntut untuk segera disentuh.Ruenna mengelus kulit sensitif yang hangat itu seolah mencoba menenangkannya. Ibu jarinya membelainya pelan sembari memberi kecupan."Ssshh..." Jerry meremas pelan sandaran sofa, merasakan kehangatan jemari Ruenna yang bermain lembut di sana.Ruenna mendongak sebentar, menatap mata Jerry yang menahan gairah, lalu menunduk kembali. Ia mengecap dengan ujung lidahnya, sebelum akhirnya perlahan membiarkan rongga mulutnya yang hangat membungkus milik Jerry.Tulang rusuk Jerry yang belum sembuh total memaksanya untuk tetap diam bersandar. Ia hanya bisa pasrah membiarkan Ruenna memanjakannya dengan lumatan yang semakin intens."Ugh... Argh... Ruenna," erang Jerry. Kepalanya makin terperosok ke sandaran sofa. Rasa nikmat itu terasa begitu menyiksa.Jerry memejamkan matanya. Jemarinya menyusup ke sela-sela rambut Ru
"Saya?" Ruenna tersenyum canggung, karena tiba-tiba dikasih panggung untuk bicara. Haruskah ia ikutan pamer? "Kesibukan saya cuma sibuk menghabiskan uang jajan yang diberikan Michelle," ucap Ruenna sembari tersenyum manis. Ia menatap Michelle yang duduk di sebelahnya. Lalu lanjut dengan semangat, "Tahu sendiri, kan? Rumit sekali rasanya. Van Cleef, Harry Winston, atau Cartier itu rajin sekali mengeluarkan koleksi perhiasan baru setiap musimnya. Padahal set perhiasan berlian yang dibelikan Michelle musim lalu saja belum semuanya sempat saya pakai."Tiga tahun Ruenna hidup sebagai Fiorella, ia sudah terbiasa dengan barang-barang mewah karena sering berbalanja bersama Livia. Satu meja langsung terdiam. Mereka sebenarnya ingin menganggap Ruenna hanya membual demi mengangkat gengsi Michelle di depan mereka. Namun, saat mata mereka secara naluriah meneliti penampilan Ruenna dari atas ke bawah, niat menyangkal itu sirna. Potongan gaun, pendar kemilau perhiasan berlian yang dikenakan Ruenn
Setelah keluar dari rumah sakit, Jerry memilih menghabiskan masa pemulihannya di rumah yang ia tempati bersama Ruenna. Siang itu, Genio datang setelah pembebasannya diselesaikan oleh pengacara Homar. Pria itu menyandarkan punggung di sofa, menatap Jerry yang duduk santai di hadapannya."Jadi, apa rencanamu sekarang?" Jerry menjawab santai, "Istriku bilang, balas dendam tidak akan pernah ada ujungnya. Aku patuh pada istriku."Genio tertegun, antara ingin tertawa atau heran. "Lalu aku harus patuh pada siapa? Kau bosnya."Raut wajah Jerry berubah serius. "Pengacara Eric sengaja memperlama persidangan. Dia pikir bisa membuat putranya menjadi tak bersalah," Jerry tertawa sebelum lanjut berkata, "aku jadi ingin memastikannya mendapat hukuman terberat."Genio menaikkan sebelah alisnya, menyindir halus. "Bukannya kau suami yang patuh pada istri?"Jerry terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Benar. Terima kasih sudah mengingatkan.""Sama-sama," balas Genio datar.Tak lama kemudian, terde
Tiga hari kemudian...Jerry sudah dipindahkan dari ICU ke kamar rawat, dan bisa duduk bersandar di tempat tidurnya. Meski beberapa lapis perban masih membalut dada dan bahunya. Di sudut ruangan, Narin sibuk melihat lihat tumpukan hadiah dari para penggemar Jerry yang sudah di periksa oleh keamanan. "Jerry, boneka karakter yang lucu ini sangat mirip denganmu! Yang ini buat aku, ya?" seru Narin memeluk boneka itu. Jerry melirik adiknya datar. "Ambil saja semuanya sebelum dibuang.""Cih, herman kok bisa orang sepertimu punya penggemar, tampan tidak, attitude tidak ada," cibir Narin, tetapi jemarinya tetap sibuk memilah barang-barang unik lainnya. "Kak, cepatlah bosan dengan Jerry, lalu buang saja dia."Ruenna tersenyum tipis mendengar ucapan Narin padanya. Ia pikir gadis yang tengah sibuk dengan tugas akhir kuliah itu akan membencinya karena akrab dengan Aylin. Tetapi Narin malah bersikap biasa saja padanya. Ruenna kembali fokus pada mangkuk sup di tangannya. Ia menyuapkan satu send
Ruenna menelan ludah. Bayangan tentang kesuksesan lewat konten memasak tiba-tiba terasa seperti gelembung yang siap pecah. "Jadi, terima saja tawaran kami," tekan Genio lagi. "Apa untungnya bagi Anda menghapus akun Chef Rue? Membagikan resep adalah cita-cita saya." "Untuk mematikan akses Anda
Di menara Aureon, sebuah raksasa teknologi, Altan duduk di depan layar monitor. Alih-alih ruang kerja mewah dengan pemandangan kota, ia kini terjepit di sebuah kabikel yang sempit, dikelilingi oleh bising suara rekan kerja yang sibuk bergosip tentang drama kantor. Kakek Mario benar-benar membuat A
Keesokan paginya, Ruenna berpapasan dengan Altan yang juga baru keluar dari kamarnya. "Lihat siapa yang sudah bangun," cemooh Altan, memasukkan satu tangannya ke saku celana. "Kau semakin pandai berdandan memakai barang-barang mahal." Ruenna mengabaikan ejekan itu. Ia hanya ingin berjalan melewa
Ruenna bergegas pergi dari Griya perawatan Demensia Brighton Memory Care itu dengan perasaan tidak menentu. Ia tidak menuju gedung tempat Aras bekerja. Ruenna harus menemui ayahnya itu. Sang sponsor perawatan neneknya. "Biaya perawatan Nenek dihentikan!" seru Ruenna begitu dipersilahkan masuk o







