LOGINQinglan melangkah cepat membelah lorong batu Paviliun Willow, menyapu air mata yang nyaris menetes di pelipisnya. Dadanya masih berombak hebat usai pertemuannya dengan Lu Mingyu.Begitu melangkahi ambang pintu kediamannya, Xiaotao yang sedang menyapu pelataran langsung menjatuhkan sapunya dengan wajah membelalak panik."Huahua!" seru Xiaotao seraya berlari menghampiri. "Astaga, dari mana saja kau semalaman?! Aku menunggumu semalaman. Lihat pakaianmu, ala yang terjadi?!""Aku tidak apa-apa, Xiaotao," sahut Qinglan pelan seraya menerobos masuk ke kamar, mendudukkan dirinya di tepi pembaringan kayu."Bagaimana bisa tidak apa-apa?!" cecar Xiaotao tegang, menutup pintu rapat-rapat. "Tadi kau mendengar para pelayan Istana sibuk berbisik bahwa kau menginap di kediaman Putra Mahkota? Apakah itu benar?"Qinglan mengepalkan jemarinya di atas gaun. "Hanya kesalahpahaman. Tidak perlu dibicarakan lagi, Xiaotao.""Tapi Huahua—"Sebelum Xiaotao menyelesaikan kalimatnya, pintu Paviliun Willow
Zhao Chengyan seketika tersedak oleh ludahnya sendiri. Wajah tegap Putra Mahkota itu memerah padam."Zhao Wen! Tutup mulutmu dan keluar dari kamarku sekarang juga!" bentak Zhao Chengyan keras seraya melempar bantal sutra di dekatnya ke arah sang adik.Zhao Wen tertawa renyah, melangkah mundur dengan lincah menghindari lemparan bantal itu. "Baiklah, baiklah! Aku keluar! Tapi ingat, Kakak Yan, kau harus bertanggung jawab jika rumor ini menyebar ke seluruh Istana "Qinglan tak sanggup lagi menahan rasa malu dan gejolak pening yang menghantam kepalanya. Tanpa membuang waktu untuk berpamitan, ia menyibak gaunnya dan melangkah lebar menerobos pintu kamar peraduan."Wu Yuehua! Berhenti! Kita belum selesai bicara!" seru Zhao Chengyan dari atas ranjang seraya berusaha melepaskan lilitan selimut sisa di kakinya.Qinglan tidak memedulikan panggilan itu. Ia berlari kencang menelusuri selasar Paviliun Chengyan, mengabaikan tatapan heran para kasim yang berbaris di sepanjang lorong. Hatinya be
Keesokan paginya, pendar hangat matahari yang menerobos celah tirai sutra emas membakar lembut kelopak mata Qinglan. Kepalanya berdenyut hebat, menyisakan rasa pening yang menusuk tajam di balik pelipis.Saat berniat memutar tubuhnya, Qinglan mendadak membeku kaku. Sebuah lengan tegap melingkar amat erat di pinggangnya.Qinglan menoleh secara perlahan dengan napas tertahan. Matanya seketika membelalak kaku. Ia terbaring di atas ranjang megah, tepat di dalam pelukan hangat Putra Mahkota Zhao Chengyan yang masih tertidur dengan deru napas teratur."Astaga ..., " bisik Qinglan parau.Qinglan terdiam sejenak, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup liar. Dengan jemari gemetar, ia mencoba menggeser lengan berat yang melingkar di pinggangnya. Namun bukannya melonggar, cengkeraman itu justru makin mengetat."Laki-laki ini ... bahkan dalam tidurnya pun sangat menyebalkan!" bisik Qinglan bersusah payah.Dengan cepat ia memeriksa keadaannya. Pakaian yang dikenakannya masih utuh dan
Malam kian melarut tatkala Qinglan melangkah perlahan menerobos temaram selasar. Seperti yang dikatakan Zhao Wen, langkah kakinya membawanya menuju taman di depan paviliun kediaman Putra Mahkota.Di sana, di bawah naungan pohon meihua yang bermekaran gundah, sosok Zhao Chengyan duduk menyendiri di atas bangku batu. Pendar redup dari lentera yang tergantung di dahan menerangi raut wajahnya yang kaku. Sebuah guci dan cangkir porselen berisi arak berada dalam genggamannya. Pria itu terus menenggak cairan keras tersebut dalam kesenyapan.Qinglan sempat ragu sejenak, menahan napas di balik pilar pualam. Namun keteguhan jiwa mendorong kakinya untuk tetap melangkah mendekati sang Putra Mahkota.Menyadari kehadiran seseorang, Zhao Chengyan menoleh samar. Manik matanya yang meredup oleh pengaruh alkohol menatap Qinglan. Pria itu tidak mengusirnya, tetapi juga enggan menyambutnya."Kau lagi ... perempuan iblis," maki Zhao Chengyan dengan suara parau, menumpahkan cercaannya seraya kembali m
Keheningan di Paviliun Taman terasa amat pekat setelah kepergian Putra Mahkota. Suara riak air dari kolam teratai dan embusan angin pagi menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar. Para kasim dan pelayan berdiri gemetar di sudut-sudut selasar, tak berani mengangkat kepala.Zhao Wen merosot di bangku pualam, menyapu air mata yang menggenangi pipinya seraya menatap gulungan lukisan kuda hitam di atas meja batu."Yuehua ..., " bisik Zhao Wen dengan suara bergetar pelan. "Kau ... kau benar-benar nekad. Belum pernah ada seorang pun di kekaisaran ini yang berani memegang tangan Kakak Yan, apalagi menentang amarahnya setajam itu."Qinglan memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang untuk meredakan denyut nyeri yang menjalar di lengan kirinya akibat gerakan mendadak tadi. Ketika ia membuka matanya kembali, binar di manik matanya tetap dingin dan tak tergoyahkan."Hamba tidak berniat merendahkan keagungan Yang Mulia Putra Mahkota," tutur Qinglan halus seraya merapikan ujung jubah lukisn
Pagi harinya, cahaya hangat matahari menyinari Paviliun Taman yang berdiri anggun di tengah kolam teratai. Qinglan melangkah dengan penuh keanggunan menyusuri selasar kayu yang mengular di tepi air. Di tangannya, ia membawa sebuah gulungan kanvas yang terbungkus rapi oleh kain sutra hitam. Di dalam paviliun, Zhao Wen sudah menunggu di samping meja pualam putih. Melihat kedatangan gurunya, wajah sang Putri seketika berbinar ceria, mengikis ketegangan yang sempat melintas di dahinya. "Selamat pagi, Yuehua! Apa yang kau bawa di dalam gulungan kain itu?" tanya Zhao Wen dengan nada suara penasaran yang tak bisa disembunyikan. Qinglan meletakkan gulungan itu di atas meja batu dengan sangat hati-hati, memastikan setiap sudutnya mendarat sempurna tanpa cela, lalu membukanya secara perlahan. "Hamba membawa sesuatu dari gudang tua semalam, Yang Mulia." Gumpalan kain pelindung tersingkap anggun, membentangkan sebuah lukisan kuda hitam jantan yang tampak begitu gagah menerobos hempasan







