Share

174

Penulis: semangkukramen
last update Tanggal publikasi: 2026-07-19 23:54:05

Suasana meja makan pagi itu terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Bi Ningrum tampak bolak-balik dari dapur dengan wajah berseri-seri, menyajikan sepiring besar frittata hangat, roti panggang, dan potongan buah segar. Aroma kopi espresso yang kuat beradu dengan wangi mentega, menciptakan atmosfer pagi yang begitu nyaman di ruang makan berlantai marmer tersebut.

Namun, kenyamanan itu agak terganggu bagi Marvin. Sejak mereka duduk di kursi masing-masing, Bu Dyas tidak henti-hentinya melayangkan l
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
no name
ya udh hbs aja, update 3 or 4 bab dong kaaak.... ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Simpanan Dosen Tampan   175

    Pagi itu, suasana meja makan kembali diwarnai denting halus cangkir porselen dan aroma kopi yang menyeruak. Namun, berbeda dari dugaan Felly yang mengira ibu mertuanya akan terburu-buru mengejar penerbangan pagi, Bu Dyas justru duduk dengan santai sembari membolak-balik layar ponselnya."Perasaan kemarin Mama bilang penerbangannya jam sepuluh pagi?" celetuk Felly hati-hati, memecah keheningan di antara mereka.Bu Dyas mengalihkan pandangan dari ponselnya, lalu menyunggingkan senyum anggun. "Mama sengaja memilih penerbangan sore yang berangkat dari Bandara Fiumicino. Kita bisa naik mobil dari sini, hitung-hitung road trip singkat."Mendengar itu, Felly langsung meneguk ludahnya sendiri. Otaknya bekerja cepat menyambungkan benang merahnya. Kalau jadwal terbang Bu Dyas sore nanti di Roma, artinya... mertuanya benar-benar serius dengan ucapannya semalam!"Jadi... Mama tetap mau ikut ke kampusku pagi ini?" tanya Felly lagi, memastikan dengan nada bergetar."Tentu saja," jawab Bu Dyas cepat

  • Simpanan Dosen Tampan   174

    Suasana meja makan pagi itu terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Bi Ningrum tampak bolak-balik dari dapur dengan wajah berseri-seri, menyajikan sepiring besar frittata hangat, roti panggang, dan potongan buah segar. Aroma kopi espresso yang kuat beradu dengan wangi mentega, menciptakan atmosfer pagi yang begitu nyaman di ruang makan berlantai marmer tersebut.Namun, kenyamanan itu agak terganggu bagi Marvin. Sejak mereka duduk di kursi masing-masing, Bu Dyas tidak henti-hentinya melayangkan ledekan tajam yang dibungkus dengan senyuman elegan khas sosialita kelas atas."Marvin, coba itu jenggot tipismu dicukur dulu. Mama lihat-lihat, Bi Ningrum saja sangat jauh lebih rapi dari kamu pagi ini," cibir Bu Dyas sambil mengoles selai ke rotinya dengan anggun. "Datang-datang ke Italia bukannya terlihat segar, malah mirip pria paruh baya yang tertekan karena cicilan rumah."Felly yang sedang mengunyah buah langsung menunduk dalam, menahan tawa mati-matian sampai bahunya bergetar.Marvin sama

  • Simpanan Dosen Tampan   173

    Felly terbangun saat semburat cahaya pagiFlorence mulai menyelinap di sela-sela gorden kamar. Hal pertama yang ia rasakan adalah embusan napas teratur yang hangat di puncak kepalanya, disusul sepasang lengan kekar yang masih mengunci pinggangnya dengan posesif.Ia mendongak pelan, mendapati Marvin masih tertidur sangat pulas. Sisa-sisa guratan lelah di wajah suaminya perlahan memudar, digantikan raut damai yang jarang sekali terlihat. Felly tersenyum tipis, merasa lega karena sang suami akhirnya bisa mengistirahatkan tubuhnya setelah nekat terbang belasan jam.Dengan gerakan sehalus mungkin, Felly menyisip keluar dari dekapan Marvin agar tidak mengusik tidurnya. Tenggorokannya terasa kering, membuatnya memutuskan untuk turun ke lantai bawah demi mengambil segelas air hangat.Langkah kaki telanjang Felly menapaki anak tangga marmer yang sepi. Namun, begitu kakinya menyentuh lantai dapur, langkahnya

  • Simpanan Dosen Tampan   172

    Marvin benar-benar ambruk dalam hitungan detik. Lengan kekarnya yang semula mendekap Felly erat, kini melemas dan jatuh pasrah di atas kasur, seiring dengan helaan napasnya yang berubah menjadi deru teratur yang lambat. Pria itu telah mencapai batas kemampuan fisiknya setelah puluhan jam terjaga tanpa jeda.Felly masih bergeming di posisinya, setengah berbaring di sisi Marvin. Air mata sisa kepanikannya masih mengalir pelan, membasahi pipi dan mantel wolnya. Namun, saat ia mendongak dan menatap wajah suaminya yang tertidur lelap dalam jarak sedekat ini, rasa bersalah yang mencekik dadanya mendadak berubah menjadi rasa iba yang teramat dalam.Ia baru benar-benar memperhatikan penampilan Marvin pagi ini. Wajah tampan yang biasanya selalu tampak tegas dan rapi itu kini terlihat begitu lesu. Kedua matanya tampak cekung dengan bayangan gelap yang kentara di bawah kelopak mata yang terpejam. Di sekitar rahang tegasnya, samar-samar mulai tumbuh jenggot tipis yang tidak terurus, dan bibirnya

  • Simpanan Dosen Tampan   171

    Detik-detik yang merambat setelah kalimat menuntut itu terucap terasa begitu mencekik. Kamar yang semula terasa hangat oleh aroma sabun dan sisa uap air mandi, mendadak berubah sedingin es. Felly merasakan pasokan oksigen di sekitarnya menipis. Cengkeraman tangan Marvin di pipinya tidak menyakitkan, justru sangat lembut, namun telapak tangan yang kokoh itu terasa seperti sangkar yang mengunci seluruh gerakannya.Jantung Felly berdegup begitu kencang hingga ia takut suaminya bisa mendengar detak panik itu. Di dalam otaknya, perang batin berkecamuk hebat. Pilihan untuk berpura-pura bodoh dan bertanya, "Jujur soal apa, Mas?" sempat melintas. Namun, melihat sepasang mata merah Marvin yang menatapnya lurus tanpa berkedip—tatapan tajam seorang pria matang yang tahu persis sedang berhadapan dengan apa—Felly sadar alibi apa pun akan terdengar seperti lelucon di hadapan suaminya.Marvin tidak mendesak. Pria itu sengaja menciptakan labirin keheningan, membiarkan Felly tersiksa oleh ketakutannya

  • Simpanan Dosen Tampan   170

    Keheningan yang mendadak jatuh setelah suara shower itu mati terasa jauh lebih mencekam daripada gemercik air sebelumnya. Felly masih terpaku di atas ranjang, mencengkeram selimutnya dengan jemari yang memutih. Detik demi detik berlalu dalam kesunyian yang tebal, membuat detak jantungnya sendiri terdengar begitu nyaring dan memburu di rongga dadanya.Di negeri asing seperti Italia ini, akal sehatnya langsung merumuskan kemungkinan-kemungkinan terburuk. Apakah ada pencuri yang berhasil menyelinap masuk lewat pintu belakang? Atau orang asing yang salah mengenali rumah Bu Dyas?Rasa takut yang dingin mulai merayap dari telapak kakinya. Felly tahu ia tidak bisa hanya diam menunggu di atas kasur seperti mangsa. Dengan gerakan yang sangat pelan, nyaris tanpa suara, ia menurunkan kedua kakinya ke lantai marmer yang dingin. Matanya menyapu sekeliling ruangan dengan panik, mencari apa saja yang bisa dijadikan perlindungan diri refleks.Jemarinya terjulur ke atas nakas, meraih sebuah vas bunga

  • Simpanan Dosen Tampan   56

    “Mas, mama … mama juga cerita tentang Vania.”Marvin membeku.“Mas?” Felly melambaikan tangan di depan wajah Marvin yang tak memberi respons apa pun.Marvin tersadar saat Felly menyenggol lengannya pelan. “Ah? Y-ya?” ucapnya terbata. “Maaf… Mas melamun.”Felly menghela napas, lalu menyandarkan tubu

  • Simpanan Dosen Tampan   6

    Perkuliahan selesai lebih cepat dari biasanya, Felly dengan cepat merapikan mejanya dan bergegas pergi setelah berpamitan pada Gista. Sahabatnya itu tidak curiga apapun, mengira dirinya akan bekerja di minimarket seperti biasanya.Padahal di sinilah Felly berada. Di depan sebuah gedung apartemen me

  • Simpanan Dosen Tampan   5

    Seakan seluruh udara di dadanya tersedot habis.Felly merangsek maju, suara gemetar keluar dari mulutnya. “Pak, ini maksudnya apa? Kenapa rumah saya ditempeli ini?”Salah satu pria menoleh. Formal, rapi, ekspresinya datar, bahkan terlalu datar untuk berita yang bisa meruntuhkan hidup seseorang.“Se

  • Simpanan Dosen Tampan   4

    “Tutup pintunya,” titah Marvin begitu keduanya sampai di ruangan yang cukup luas itu. Felly baru tahu pagi ini setelah mencari tau di internet tentang siapa itu Marvin Lee dan apa hubungannya dengan kampusnya.Marvin Lee adalah pimpinan yayasan dari kampusnya, sebab itulah ia memiliki ruangan khus

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status