Mag-log in“Tante tidak usah khawatir, aku sudah besar, kalau lapar pasti aku akan makan.” Jawab Fardan sekenanya. Awalnya Fardan tadi ingin melakukan lebih jauh tapi dia merasa Mirna begitu mudah dia kalahkan jadi Fardan menahan diri dan membiarkan Mirna lepas dari tahanannya.
“Ya, tapi kalau kamu nggak makan, atau telat makan nanti kamu bisa sakit! Tante nggak mau kamu sampai nggak masuk sekolah, apalagi sebentar lagi ujian!” lanjut Mirna. “Tante kalau terlalu perhatian sama Fardan, Fardan bisa salah paham.” Pancing Fardan. “Ngomong apa sih kamu? Sudah jelas Mama dan Papa kamu yang menitipkanmu sama Tante, jadi Tante harus menjagamu dengan baik.” Elak Mirna. “Kamu cepatlah makan!” perintah Mirna lagi. Fardan tersenyum lalu menatap penampilan dirinya sendiri. “Dengan tubuh telanjang begini?” tanya Fardan pada Mirna. “Pakai baju dulu.” Jawab Mirna dengan wajah memerah. Sikap Mirna yang lembut dan mendominasi sebagai wanita yang membuat Fardan tertarik sekaligus menjadi sosok pengganti Mamanya yang sudah meninggal. Tipe wanita seperti Mirna yang Fardan inginkan, karena sudah ada Mirna di sisinya selama ini, hal itu membuat Fardan enggan melihat ke arah gadis lain. Meski sebelumnya Fardan sempat menyimpan kebencian di dalam hatinya, Fardan akhirnya luluh juga karena Mirna tidak pernah bersikap kasar atau memperlakukan Fardan dengan buruk. Fardan melepaskan haduknya, dia juga tidak menutup pintu dan membiarkan Mirna terus berdiri di luar pintu kamar Fardan yang terbuka. Ketika Fardan sakit, yang merawatnya juga Mirna, mengganti baju menyuapi makan, bahkan tanpa memakai baju pun Mirna juga sudah pernah melihatnya. Fardan mengambil kaos santai juga celana pendek, Mirna melihat pakaian Fardan yang dipakai saat di rumah hanya itu-itu saja, padahal masih ada baju yang lain. Pikir Mirna mungkin baju lama Fardan sudah kekecilan jadi besok Mirna berencana untuk membelikannya beberapa baju ganti dan perlengkapan lainnya. Pengaturan kamar, warna gorden, bahkan perlengkapan pria yang dipakai mandi dan parfum semuanya Mirna yang memilihnya untuk Fardan. “Ayo,” Fardan mengukir senyum di bibirnya, meski Mirna ingin marah padanya Fardan selalu yakin Mirna tidak sungguh-sungguh marah. Mirna hanya marah sebentar setelah itu akan menegurnya lagi untuk melakukan beberapa hal seperti sekarang. Mirna sendiri merasa lega karena Fardan tidak membencinya seperti beberapa bulan awal-awal tinggil di rumah Mirna. “Tante sudah nggak marah sama Fardan?” Tanyanya setelah mereka duduk di kursi ruang maakan. “Marah? Kenapa?” tanya Mirna berpura-pura melupakan kejadian di dalam kamar Fardan satu jam yang lalu. “Tadi Fardan sudah kelewatan, sudah bersikap kurang ajar sama Tante.” “Makanlah, jangan bahas masalah itu lagi.” Tukas Mirna cepat. “Jika yang melakukannya bukan Fardan apakah Tante akan membiarkannya begitu saja? Melupakannya seperti sekarang?” kejar Fardan. Dalam hati Fardan merasa cemburu dan tidak rela jika suatu hari nanti Mirna mengenal pria lain lalu melakukan tindakan seperti yang mereka lakukan sebelumnya. Mirna meletakkan sendoknya. Tidak ada yang Mirna katakan pada Fardan, Mirna kembali teringat dengan masa lalunya. *** Sebelumnya Mirna memang pernah hampir diperkosa dan Mirna memukul kepala orang itu sampai pingsan. Banyak darah di lantai, Mirna sangat takut sekali tapi Mirna juga tidak mengungkapkan semuanya apalagi melaporkan tindakan pria itu. Karena pria yang hampir memerkosa Mirna adalah Hermansah! Ayah kandung Fardan. Setelah Mirna berhasil lepas dari kejadian malam itu, Mirna mendapatkan telepon dari Aura – Mama Fardan bahwa Mirna harus menjaga Fardan dengan baik. Mirna baru tahu kalau itu adalah pesan terakhir Aura untuknya karena kediaman Aura dan Hermansah terbakar, mereka berdua tidak selamat dari kejadian malam itu. Aura juga sempat melihat Hermansah begitu bernafsu saat menatap Mirna adik tiri Aura. Bahkan Hermansah bilang kalau dia ingin mengambil Mirna sebagai istri ke duanya. Aura sangat marah sekali dan dia tidak percaya ketika melihat Hermansah ingin memerkosa Mirna ketika Aura berada di luar untuk mengurus perusahaan. Ketika pulang ke rumah Aura mendengar teriakan Mirna dan melihat Mirna hampir berhasil disetubuhi, baju Mirna sudah berantakan dan terbuka di bagian sana-sini. Mirna yang tidak mau diperlakukan demikian langsung memukul kepala Hermansah dengan benda yang bisa diraihnya. Melihat Aura menyaksikannya, Mirna sangat ketakutan karena darah dari kepala Hermansah keluar sangat banyak akibat pukulan Mirna. Aura meminta Mirna meninggalakan kediamannnya saat itu. Tubuh Mirna gemetaran saat kembali memikirkannya, sebenarnya kejadian itu karena Hermansah juga sempat memergoki yang Mirna lakukan untuk mendapatkan kepuasan sendiri tanpa melakukan hubungan intim dengan pria mana pun. Hermansah tidak bisa menahan diri lantaran menyaksikan wanita yang dia inginkan terus mendesah-desah sambil menyentuh tubuhnya sendiri dengan penampilan setengah telanjang. *** “Tante? Tante sakit?” tanya Fardan. Pertanyaan Fardan menyadarkan Mirna dari dalam lamunan panjangnya. “Jangan bertanya lagi tentang itu, Tante nggak mau membahasnya!” ujar Mirna. Mirna mulai mengginggil lalu berniat berdiri dari kursi meja makan tapi Fardan langsung menggenggam erat lengan Mirna. “Fardan hanya nggak mau kalau Tante begitu mudah menyerah! Fardan nggak rela kalau Tante disentuh pria kurang ajar!” tegas Fardan. “Tapi tadi Tante nggak sungguh-sungguh memukulku, Tante juga nggak sungguh-sungguh berniat melepaskan diri,” tuturnya pada Mirna. “Kamu nggak usah cemas, Tante bisa jaga diri, kamu pikirkan saja ujian sekolahmu. Tante nggak mau kamu sakit atau tertinggal.” Fardan menganggukkan kepalanya. “Tante makan dulu, masih belum habis nasinya.” Ujarnya pada Mirna. Mirna segera duduk kembali dan menikmati makan malamnya. Fardan tahu di dalam kemeja putih Mirna, Mirna tidak pernah mengenakan penutup dada karena putingnya terlihat dari sisi luar kain, bagian intim lainnya juga hanya ditutupi dengan g-string yang sangat kecil dengan bahan brokat berlubang-lubang besar. Fardan meliriknya sebentar, Mirna yang tidak begitu peduli dengan posisi duduknya membuat bagian bawah kemejanya terangkat ke atas. Pangkal paha mulus Mirna sudah terlihat. Mirna sejak tadi menikmati makan malamnya tidak memperhatikan ke mana arah mata Fardan memandang. Ketika menoleh pada Fardan, Mirna baru menyadarinya. “Fardan, Tante sudah kenyang, Tante pergi ke kamar dulu,” pamitnya. “Tante! Kalau misalnya aku melakukan tindakan seperti tadi, apa Tante masih nggak marah?” tanyanya seraya terus menyentuh sisi dalam paha Mirna yang mulus. “Aku bisa saja marah! Jadi, jadi jangan pernah melakukannya lagi.” Jawab Mirna pada Fardan.‘Cinta bertepuk sebelah tangan’Pertunangan Mirna dengan Erlangga berjalan dengan lancar. Erlangga adalah putra dari keluarga kaya raya, dia memiliki banyak perusahaan di dalam maupun luar negeri. Awalnya Erlangga sengaja mengacaukan saham di perusahaan Mirna dengan begitu Mirna tidak akan memiliki pilihan lain kecuali menuruti keinginan Erlangga.Semenjak menjadi tunangan Erlangga, perusahaan Mirna juga berjalan dengan lancar seperti biasa. Selang lima tahun kemudian, Erlangga yang awalnya Mirna kira hanya bermain-main saja dengannya malah memutuskan untuk menikah dengan Mirna. Sebelumnya Erlangga juga sudah bilang kalau pertunangan mereka bisa dibatalkan kapan saja mengingat Erlangga sudah memiliki wanita lain yang diinginkan. Mirna juga sudah setuju mereka sebelumnya sudah sepakat tidak akan terlibat dalam kehidupan pribadi masing-masing kecuali menyangkut urusan pekerjaan.Keputusan Erlangga untuk berlanjut ke jenjang pernikahan tentu saja membuat Mirna terkejut kare
Fardan mendengarnya, nama lawan bicara Mirna di seberang sana adalah Erlangga. Fardan merasa sudah bersalah karena masuk ke dalam kamar Mirna tanpa mengetuk pintu. Dan sekarang sudah terlanjur ketahuan oleh Mirna. Mirna menyibakkan rambut panjangnya yang terurai ke belakang lalu berjalan menuju ke pintu balkon. Ekspresi wajah Mirna tidak terlihat baik-baik saja. Fardan memegangi kue dengan kedua tangannya. “Tante, selamat ulang tahun.” Ujarnya pada Mirna. “Kamu bawa saja kuenya ke lantai bawah, Tante masih sibuk mengurus pekerjaan perusahaan.” Tolak Mirna. Fardan langsung menaruh kue tersebut di meja, lalu memegangi pergelangan tangan Mirna. “Tante marah sama Fardan? Tante kecewa sama Fardan? Katakan salah Fardan di mana?” tanyanya pada Mirna. Mirna menatap Fardan, wajah Fardan terlihat sangat frustasi sekarang. “Tante hanya pengen kamu lulus ujian lalu masuk ke perguruan tinggi! Sudah cukup! Tante nggak punya keinginan lain sama kamu. Maafkan Tante, Tante hanya ingin fokus m
“Ya, ngomong saja, ada apa?” tanyanya santai. Edo merasa malu karena seharusnya dia tidak berada di samping Fardan ketika Cika ingin bicara empat mata dengan Fardan. “Nanti setelah pulang sekolah, agak sorean aku ke rumah kamu ya?” tanyanya pada Fardan. “Ke rumahku? Kamu tahu aku nggak tinggal di rumah lama, aku sekarang tinggal sama Tanteku,” keluh Fardan. Fardan selalu tidak nyaman ketika harus membawa teman pulang ke rumah Mirna, Fardan hanya cemas kalau ketenangan Mirna sampai terganggu. “Ya, aku tahu, aku cuma pengen kamu bantuin aku selesaikan tugas, aku nggak ngerti caRanya. Aku juga sudah minta izin sama Papa dan Mamaku, mereka kasih izin kok!” tuturnya dengan serius. Fardan menghela napas panjang. Fardan tahu kenapa kedua orangtuanya Cika memberikan izin, pertama mereka tahu kalau Fardan merupakan murid dengan nilai tertinggi di sekolahnya. Fardan cerdas, lugas, tegas, dan sopan. Fardan juga ketua osis. Tidak hanya Cika yang tertarik untuk mendekati dan menyatakan p
Melihat Mirna terkulai lemas Fardan tersenyum senang. “Fa, kamu tidak boleh melakukan ini,” Mirna berbisik sambil menelan ludahnya. “Fardan sayang sama Tante, kapan pun Tante mau, Fardan akan melakukannya untuk Tante, jangan sampai Tante dilecehkan pria lain, Tante,” bisik Fardan pada Mirna. Mirna tidak tahu lagi, dia terpaksa melakukan itu karena gairahnya terlalu besar dan sulit dikendalikan. Fardan juga menahan Mirna sedemikian rupa sampai Mirna bersedia pasrah menikmati sentuhan jemari Fardan. Puas menyentuh Mirna, Fardan menarik tangannya dan melepaskan tubuh Mirna dari tahanannya. “Maaf Fardan tadi sudah lancang,” bisiknya pada Mirna. “Aku yang salah, aku lupa kalau kamu bukan anak kecil lagi, aku lupa dan memakai baju begini!” Mirna menundukkan wajahnya karena malu, Fardan segera membawa Mirna ke dalam kamar yang ada di lantai atas. Sampai di dalam kamar, Fardan menurunkan tubuh Mirna di atas kasur. Mirna tidak setuju dan terus menggelengkan kepalanya. “J
“Tante tidak usah khawatir, aku sudah besar, kalau lapar pasti aku akan makan.” Jawab Fardan sekenanya. Awalnya Fardan tadi ingin melakukan lebih jauh tapi dia merasa Mirna begitu mudah dia kalahkan jadi Fardan menahan diri dan membiarkan Mirna lepas dari tahanannya. “Ya, tapi kalau kamu nggak makan, atau telat makan nanti kamu bisa sakit! Tante nggak mau kamu sampai nggak masuk sekolah, apalagi sebentar lagi ujian!” lanjut Mirna. “Tante kalau terlalu perhatian sama Fardan, Fardan bisa salah paham.” Pancing Fardan. “Ngomong apa sih kamu? Sudah jelas Mama dan Papa kamu yang menitipkanmu sama Tante, jadi Tante harus menjagamu dengan baik.” Elak Mirna. “Kamu cepatlah makan!” perintah Mirna lagi. Fardan tersenyum lalu menatap penampilan dirinya sendiri. “Dengan tubuh telanjang begini?” tanya Fardan pada Mirna. “Pakai baju dulu.” Jawab Mirna dengan wajah memerah. Sikap Mirna yang lembut dan mendominasi sebagai wanita yang membuat Fardan tertarik sekaligus menjadi sosok penggan
*** Pada siang hari, Mirna pergi meeting dengan klien. Semua urusannya berjalan dengan lancar, Mirna merasa lega. Setelah itu setelah pekerjaannya selesai sore hari Mirna kembali ke rumah. Ketika tiba di rumah, Mirna membawa mobilnya masuk dilihatnya motor Fardan berada di garasi. Biasanya Fardan pergi ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas sekolah bersama, apalagi sudah mendekati ujian kelulusan Fardan juga sibuk belajar. Mirna berjalan masuk ke dalam rumah, dilihatnya Fardan duduk tertidur di sofa ruang tengah, Fardan masih menggenggam buku di tangannya. Mirna berjalan mendekatinya lalu mengambil buku dari genggaman tangan Fardan. Mirna juga mengambil selimut untuk menyelimutinya, ketika membungkuk menyelimuti Fardan tiba-tiba Fardan menggenggam pergelangan tangan Mirna dan menariknya rebah tidur di sofa bersamanya. Mirna awalnya terkejut dan menggeliat dari pelukan Fardan tapi begitu mendengar Fardan memanggil-manggil Mamanya, Mirna tidak menggeliat dan membiarkan Fard







