Home / Romansa / Sisi Liar Mematikan! / Bab 5 Salah paham

Share

Bab 5 Salah paham

Author: Jackie Boyz
last update Last Updated: 2025-06-05 16:59:36

“Ya, ngomong saja, ada apa?” tanyanya santai.

Edo merasa malu karena seharusnya dia tidak berada di samping Fardan ketika Cika ingin bicara empat mata dengan Fardan.

“Nanti setelah pulang sekolah, agak sorean aku ke rumah kamu ya?” tanyanya pada Fardan.

“Ke rumahku? Kamu tahu aku nggak tinggal di rumah lama, aku sekarang tinggal sama Tanteku,” keluh Fardan. Fardan selalu tidak nyaman ketika harus membawa teman pulang ke rumah Mirna, Fardan hanya cemas kalau ketenangan Mirna sampai terganggu.

“Ya, aku tahu, aku cuma pengen kamu bantuin aku selesaikan tugas, aku nggak ngerti caRanya. Aku juga sudah minta izin sama Papa dan Mamaku, mereka kasih izin kok!” tuturnya dengan serius.

Fardan menghela napas panjang. Fardan tahu kenapa kedua orangtuanya Cika memberikan izin, pertama mereka tahu kalau Fardan merupakan murid dengan nilai tertinggi di sekolahnya. Fardan cerdas, lugas, tegas, dan sopan. Fardan juga ketua osis. Tidak hanya Cika yang tertarik untuk mendekati dan menyatakan perasaan dengan alasan pelajaran, tapi juga beberapa teman di kelas lain sering mengirimkan surat dan memasukkannya ke dalam tas Fardan tanpa sepengetahuan Fardan.

“Nggak bisa hari ini, aku punya jadwal pribadi lain!” tolak Fardan.

“Kalau besok, bagaimana?” kejar Cika yang pantang menyerah.

“Besok, juga nggak tahu, aku sibuk belajar untuk ujian, jadi mendingan kamu minta guru les saja buat ngajarin tugas-tugas!” penolakan Fardan cukup jelas. Fardan tidak memandang rendah teman-temannya, Fardan merasa harus tegas dalam masalah perasaan. Apalagi sebentar lagi ujian kelulusan, Fardan tidak ingin terlibat dalam masalah.

Seperti hari ini, Fardan pulang ke rumah tanpa tahu ada yang menaruh surat cinta di dalam tasnya. Fardan langsung melemparkan tubuhnya di kasur begitu tiba di rumah Mirna.

***

Hari ini Mirna pulang sedikit larut karena dia mampir membelikan baju dan perlengkapan untuk Fardan.

Mirna masuk ke dalam kamar Fardan lalu meletakkan tiga tas besar di atas meja belajar. Ketika berniat pergi, tiba-tiba Fardan bangun dan langsung menariknya ke ranjang lalu menindih Mirna sambil melepaskan kancing kemeja Mirna.

“Fa, jangan, hari ini aku lelah,” tolaknya.

Fardan langsung berhenti lalu memasang wajah masam dan menarik diri dari atas tubuh Mirna. Tanpa bicara apa pun Fardan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Mirna baru saja hendak bangun dari ranjang Fardan, tanpa sengaja dia menyenggol tas sekolah Fardan hingga membuat seluruh isi tas Fardan tumpah. Saat merapikannya kembali Mirna melihat surat cinta di dalam tas Fardan. Ketika ingin memasukkan surat tersebut kembali ke dalam tas Fardan ternyata ada foto terjatuh dari dalam amplop merah muda dalam genggaman Mirna.

Foto gadis yang hanya memakai bikini, wajah polos, tubuhnya juga lumayan berisi, di balim foto ada undangan dari pemilik foto.

Fa, kapan-kapan ke rumahku kita renang bareng kayak dulu!

Mirna kaget sekali, tangan Mirna gemetaran. Mirna pikir Fardan sudah terbiasa melakukan hubungan badan dengan banyak gadis lain. Sosoknya yang tegas dan cerdas pikir Mirna hanya sampul luarnya belaka!

Sejak menemukan foto di dalam surat yang ada di dalam tas Fardan, Mirna tidak lagi tertarik untuk bermain atau lebih dekat seperti biasanya dengan Fardan. Mirna juga tidak membahasnya dengan Fardan karena menurutnya Fardan memiliki kebebasan untuk memilih. Mirna hanya merasa sudah dipermainkan dan merasa sakit hati karena pikirnya sudah dibodohi oleh Fardan selama ini.

Beberapa hari ke depan Mirna lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan kerjanya.

Tujuh hari berlalu, Mirna tidak lagi melakukan hal-hal yang membuat Fardan ingin mengunjungi kamarnya di tengah malam. Fardan tiba-tiba merasa Mirna sudah berubah dan sengaja menjaga jarak dengannya.

Malam ini, Fardan berencana pergi ke kamar Mirna untuk memberikan kejutan juga memeluknya seperti biasa. Fardan langsung masuk ke dalam kamar Mirna.

“Tante? Tante Mirna?” panggilnya.

Tidak ada jawaban, saat berjalan mendekati pintu balkon Fardan mendengar Mirna sedang menerima panggilan dari seseorang.

“Tunangan? Apa maksudmu?” Mirna sepertinya sedang marah dan kesal dengan seseorang yang sedang berbicara di seberang sana.

“Nggak! Kalau masalah saham, kamu bisa mencari investor lain saja! Jangan ngaco kamu!” ujar Mirna lagi.

“Erlangga! Hei! Halooo! Erlangga! Malah dimatikan!” Mirna berteriak memanggil-manggil nama seseorang di seberang sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 7 Cinta Sepihak Erlangga Adiyasa

    ‘Cinta bertepuk sebelah tangan’Pertunangan Mirna dengan Erlangga berjalan dengan lancar. Erlangga adalah putra dari keluarga kaya raya, dia memiliki banyak perusahaan di dalam maupun luar negeri. Awalnya Erlangga sengaja mengacaukan saham di perusahaan Mirna dengan begitu Mirna tidak akan memiliki pilihan lain kecuali menuruti keinginan Erlangga.Semenjak menjadi tunangan Erlangga, perusahaan Mirna juga berjalan dengan lancar seperti biasa. Selang lima tahun kemudian, Erlangga yang awalnya Mirna kira hanya bermain-main saja dengannya malah memutuskan untuk menikah dengan Mirna. Sebelumnya Erlangga juga sudah bilang kalau pertunangan mereka bisa dibatalkan kapan saja mengingat Erlangga sudah memiliki wanita lain yang diinginkan. Mirna juga sudah setuju mereka sebelumnya sudah sepakat tidak akan terlibat dalam kehidupan pribadi masing-masing kecuali menyangkut urusan pekerjaan.Keputusan Erlangga untuk berlanjut ke jenjang pernikahan tentu saja membuat Mirna terkejut kare

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 6 Celah begitu besar

    Fardan mendengarnya, nama lawan bicara Mirna di seberang sana adalah Erlangga. Fardan merasa sudah bersalah karena masuk ke dalam kamar Mirna tanpa mengetuk pintu. Dan sekarang sudah terlanjur ketahuan oleh Mirna. Mirna menyibakkan rambut panjangnya yang terurai ke belakang lalu berjalan menuju ke pintu balkon. Ekspresi wajah Mirna tidak terlihat baik-baik saja. Fardan memegangi kue dengan kedua tangannya. “Tante, selamat ulang tahun.” Ujarnya pada Mirna. “Kamu bawa saja kuenya ke lantai bawah, Tante masih sibuk mengurus pekerjaan perusahaan.” Tolak Mirna. Fardan langsung menaruh kue tersebut di meja, lalu memegangi pergelangan tangan Mirna. “Tante marah sama Fardan? Tante kecewa sama Fardan? Katakan salah Fardan di mana?” tanyanya pada Mirna. Mirna menatap Fardan, wajah Fardan terlihat sangat frustasi sekarang. “Tante hanya pengen kamu lulus ujian lalu masuk ke perguruan tinggi! Sudah cukup! Tante nggak punya keinginan lain sama kamu. Maafkan Tante, Tante hanya ingin fokus m

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 5 Salah paham

    “Ya, ngomong saja, ada apa?” tanyanya santai. Edo merasa malu karena seharusnya dia tidak berada di samping Fardan ketika Cika ingin bicara empat mata dengan Fardan. “Nanti setelah pulang sekolah, agak sorean aku ke rumah kamu ya?” tanyanya pada Fardan. “Ke rumahku? Kamu tahu aku nggak tinggal di rumah lama, aku sekarang tinggal sama Tanteku,” keluh Fardan. Fardan selalu tidak nyaman ketika harus membawa teman pulang ke rumah Mirna, Fardan hanya cemas kalau ketenangan Mirna sampai terganggu. “Ya, aku tahu, aku cuma pengen kamu bantuin aku selesaikan tugas, aku nggak ngerti caRanya. Aku juga sudah minta izin sama Papa dan Mamaku, mereka kasih izin kok!” tuturnya dengan serius. Fardan menghela napas panjang. Fardan tahu kenapa kedua orangtuanya Cika memberikan izin, pertama mereka tahu kalau Fardan merupakan murid dengan nilai tertinggi di sekolahnya. Fardan cerdas, lugas, tegas, dan sopan. Fardan juga ketua osis. Tidak hanya Cika yang tertarik untuk mendekati dan menyatakan p

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 4 Aku ingin tubuh Tante

    Melihat Mirna terkulai lemas Fardan tersenyum senang. “Fa, kamu tidak boleh melakukan ini,” Mirna berbisik sambil menelan ludahnya. “Fardan sayang sama Tante, kapan pun Tante mau, Fardan akan melakukannya untuk Tante, jangan sampai Tante dilecehkan pria lain, Tante,” bisik Fardan pada Mirna. Mirna tidak tahu lagi, dia terpaksa melakukan itu karena gairahnya terlalu besar dan sulit dikendalikan. Fardan juga menahan Mirna sedemikian rupa sampai Mirna bersedia pasrah menikmati sentuhan jemari Fardan. Puas menyentuh Mirna, Fardan menarik tangannya dan melepaskan tubuh Mirna dari tahanannya. “Maaf Fardan tadi sudah lancang,” bisiknya pada Mirna. “Aku yang salah, aku lupa kalau kamu bukan anak kecil lagi, aku lupa dan memakai baju begini!” Mirna menundukkan wajahnya karena malu, Fardan segera membawa Mirna ke dalam kamar yang ada di lantai atas. Sampai di dalam kamar, Fardan menurunkan tubuh Mirna di atas kasur. Mirna tidak setuju dan terus menggelengkan kepalanya. “J

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 3 Saling Memenuhi Gairah satu sama lain

    “Tante tidak usah khawatir, aku sudah besar, kalau lapar pasti aku akan makan.” Jawab Fardan sekenanya. Awalnya Fardan tadi ingin melakukan lebih jauh tapi dia merasa Mirna begitu mudah dia kalahkan jadi Fardan menahan diri dan membiarkan Mirna lepas dari tahanannya. “Ya, tapi kalau kamu nggak makan, atau telat makan nanti kamu bisa sakit! Tante nggak mau kamu sampai nggak masuk sekolah, apalagi sebentar lagi ujian!” lanjut Mirna. “Tante kalau terlalu perhatian sama Fardan, Fardan bisa salah paham.” Pancing Fardan. “Ngomong apa sih kamu? Sudah jelas Mama dan Papa kamu yang menitipkanmu sama Tante, jadi Tante harus menjagamu dengan baik.” Elak Mirna. “Kamu cepatlah makan!” perintah Mirna lagi. Fardan tersenyum lalu menatap penampilan dirinya sendiri. “Dengan tubuh telanjang begini?” tanya Fardan pada Mirna. “Pakai baju dulu.” Jawab Mirna dengan wajah memerah. Sikap Mirna yang lembut dan mendominasi sebagai wanita yang membuat Fardan tertarik sekaligus menjadi sosok penggan

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 2 Menggoda Tante Mirna

    *** Pada siang hari, Mirna pergi meeting dengan klien. Semua urusannya berjalan dengan lancar, Mirna merasa lega. Setelah itu setelah pekerjaannya selesai sore hari Mirna kembali ke rumah. Ketika tiba di rumah, Mirna membawa mobilnya masuk dilihatnya motor Fardan berada di garasi. Biasanya Fardan pergi ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas sekolah bersama, apalagi sudah mendekati ujian kelulusan Fardan juga sibuk belajar. Mirna berjalan masuk ke dalam rumah, dilihatnya Fardan duduk tertidur di sofa ruang tengah, Fardan masih menggenggam buku di tangannya. Mirna berjalan mendekatinya lalu mengambil buku dari genggaman tangan Fardan. Mirna juga mengambil selimut untuk menyelimutinya, ketika membungkuk menyelimuti Fardan tiba-tiba Fardan menggenggam pergelangan tangan Mirna dan menariknya rebah tidur di sofa bersamanya. Mirna awalnya terkejut dan menggeliat dari pelukan Fardan tapi begitu mendengar Fardan memanggil-manggil Mamanya, Mirna tidak menggeliat dan membiarkan Fard

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status