Home / Romansa / Sisi Liar Mematikan! / Bab 1 Desahan Tante Mirna

Share

Sisi Liar Mematikan!
Sisi Liar Mematikan!
Author: Jackie Boyz

Bab 1 Desahan Tante Mirna

Author: Jackie Boyz
last update Last Updated: 2025-06-05 16:28:32

"Namaku Fardan, semenjak kedua orangtuaku meninggal dalam kebakaran, aku yang masih berusia sembilan belas tahun tinggal bersama adik tiri Mamaku, namanya Mirna. Tante Mirna dan aku berselisih usia sepuluh tahun. Selama ini aku selalu mencurigainya, semenjak Papa dan Mama meninggal ternyata aset yang ditinggalkan oleh mendiang Papa dan Mama malah tertulis nama Tante Mirna. Aku sangat dendam dan marah, aku pikir Tante Mirna lah yang sudah mencelakai Papa dan Mama demi mengambil harta yang dimiliki oleh keluargaku. Pertama kali menginjakkan kaki di rumah Tante Mirna, pelayan di rumah Tante Mirna menyambutku dengan hangat.”

“Mereka sudah menyiapkan kamar untukku di ruangan utama dengan ukuran cukup besar, perlengkapan juga sudah disiapkan, meja belajar dan semua yang aku butuhkan. Tante Mirna memperlakukan diriku dengan sangat baik bahkan sangat peduli dan menyayangiku."

Tiga bulan kemudian. Pada suatu pagi ....

Fardan masih terlelap di dalam kamar. Mirna turun dari lantai atas, wanita itu melihat hidangan di meja makan sudah disiapkan. Mata Mirna melirik ke arah jam di dinding ruang makan. Waktu masih belum menunjukkan pukul setengah enam pagi.

Mirna kembali naik ke lantai atas menuju kamarnya, suara langkah kakinya yang sedikit tergesa-gesa membuat Fardan mendengar telapak kaki telanjangnya memukul anak tangga menuju ke lantai atas.

Fardan membuka selimutnya kemudian keluar dari kamar ruangan utama menuju ke lantai atas. Langkah Fardan begitu pelan, dalam hati Fardan muncul banyak pertanyaan. Pikirnya terjadi sesuatu sampai Mirna berlari dengan tergesa-gesa.

Apa yang membuat Tante Mirna begitu tergesa-gesa? Padahal masih sepagi ini? Fardan terus berjalan hingga sampai di pintu kamar Mirna.

Saat menyentuh gagang pintu kamar, Fardan mendengar suara yang tidak biasa.

Fardan sudah menginjak usia orang dewasa, meski tidak melihat apa yang terjadi di balik pintu dari suara desahan nikmat dari bibir Mirna yang dia dengar membuat Fardan tahu bahwa Mirna di balik pintu mungkin sedang melakukan hubungan suami istri dengan seorang pria.

"Kenapa Tante Mirna melakukan hubungan badan tanpa menikah terlebih dahulu? Padahal Tante Mirna wanita yang berprestasi dan bisa mendapatkan pria yang diinginkan?" Fardan bertanya pada dirinya sendiri.

Saat mendengar suara pekikan dan suara aneh seperti benda basah yang dimainkan entah didorong dengan begitu keras, Fardan hanya mendengar desahan Mirna, Fardan mulai mengernyitkan keningnya. Dia tahu Mirna hanya seorang diri di dalam kamarnya.

Tidak ada suara pria hanya ada suara Tante Mirna!

Tubuh Fardan gemetar, namun rasa ingin tahu di dalam kepalanya tidak bisa dia tahan. Fardan terpaksa mengintipnya.

Saat melihat ke dalam kamar Mirna, Fardan mendapati Mirna dengan sehelai gaun tidur berbahan sangat tipis sudah berantakan. Fardan bisa melihatnya dengan jelas, tubuh Mirna menggeliat sambil mengerjap nikmat, bibir ranumnya terus mendesah-desah dan bergumam tidak jelas.

Penampilannya membuat suhu tubuh Fardan menjadi panas dingin, tidak lama setelah itu tubuh Mirna menggelepar di atas ranjang.

Fardan menelan ludahnya sendiri lalu menatap sesuatu di tubuhnya sendiri yang ikut menegang di balik piyamanya.

Bagaimana mungkin? Aku ikut bergairah saat melihat Tante Mirna melakukan itu? Sialan!

Fardan mengumpat di dalam hati, dia sendiri tidak mampu menahannya.

Fardan terus membayangkannya sampai tubuhnya tidak terkendali, dia lupa di mana dia berada, semuanya berakhir lalu dia pergi dari depan pintu kamar Mirna dan kembali ke lantai bawah untuk mandi.

***

Satu jam kemudian, Mirna sudah mandi dan mengenakan pakaian rapi.

Saat keluar dari pintu kamarnya, Mirna melihat cairan lengket di lantai luar pintu kamarnya.

Mirna menutup bibirnya sendiri dengan telapak tangan kanannya. Di kediamannya itu hanya ada satu pria, sisanya hanya pelayan wanita yang bekerja mengurus dapur juga membersihkan rumah. Tukang kebun juga tidak datang setiap hari kecuali hari Minggu.

"Fardan? Apa jangan-jangan dia melihatku ketika aku melakukannya?!" Wajah Mirna langsung memucat. Mirna yang selama ini selalu terlihat sempurna dan baik perilakunya ternyata diam-diam memiliki gairah yang berada di atas rata-rata!

Mirna berniat menjelaskannya pada Fardan, tapi dia tidak akan mengatakannya sekarang.

Ketika sarapan di ruang makan, Mirna dan Fardan duduk bersebelahan seperti biasa.

Fardan juga sudah siap dengan seragam sekolah.

Mirna beberapa kali melihat ekspresi wajah Fardan, dia cemas jika Fardan tiba-tiba bertanya tentang peristiwa memalukan yang Mirna lakukan di dalam kamar pagi ini. Untungnya Fardan tidak mengatakan apa-apa dan hanya duduk tenang menikmati sarapannya.

"Makanlah yang banyak Fa, kamu pulang siang hari ini." Ujarnya pada Fardan.

"Tante juga, Tante akan pulang sore dari kantor?" Tanyanya.

Mirna menganggukkan kepalanya.

"Ya, ada meeting nanti siang." Jawabnya singkat.

Setelah sarapan, Fardan ikut pergi bersama Mirna untuk berangkat ke sekolah sementara Mirna pergi ke kantornya.

Mirna menurunkan Fardan di dekat gerbang sekolah.

"Tante, aku masuk dulu," pamitnya pada Mirna.

Mirna tiba-tiba menggenggam tangan Fardan untuk menghentikannya.

"Ada apa Tante?" Tanyanya, Fardan cemas kalau pelayan rumah tahu tentang dirinya yang sudah mengintip Mirna pagi tadi lalu melaporkannya pada Mirna, Fardan lebih takut kalau Mirna mengusirnya keluar dari rumahnya.

"Sebenarnya hak waris yang ditulis oleh Papa dan Mama mu, adalah namamu, ada berkas lain yang belum aku tunjukkan padamu, sepertinya kamu begitu marah padaku belakangan ini. Aku menunggu setelah kamu lulus kuliah dan kamu bisa sedikit demi sedikit belajar untuk mengurus perusahaan. Setelah itu aku akan mengembalikan urusan perusahaan padamu, termasuk posisi Presdir." Tutur Mirna dengan sungguh-sungguh.

"Jadi, selama itu Tante harap kamu tidak membenci Tante," lanjut Mirna dengan wajah menunduk dalam-dalam.

Papa dan Mama Fardan memang menitipkan Fardan pada Mirna, juga semua urusan perusahaan pada Mirna tapi sebenarnya pemilik sah perusahaan memang Mirna karena Nanda - Ibu Mirna lah yang memiliki saham terbesar sekaligus pendiri perusahaan JNM.

Gagan - ayah dari Aura sekaligus kakek Fardan, menikahi Nanda sebagai istri ke dua..

Dari pernikahan ke dua Gagan dan Nanda dikaruniai seorang putri yaitu Mirna. Nanda mendirikan JNM.

Pada saat Nanda meninggal dunia, Gagagn juga sudah terlalu tua, waktu itu usia Mirna masih belum dewasa dan tidak tahu cara mengurus masalah perusahaan jadi sementara perusahaan dikelola oleh kedua orang tua Fardan, Aura dan Hermansah.

Fardan sama sekali tidak tahu apa-apa, dan berpikir Mirna yang mencelakai kedua orangtuanya untuk merebut posisi tertinggi di JNM.

Pengacara sudah menyiapkan berkas asli jika suatu hari Fardan berkeras bahwa perusahaan JNM adalah miliknya, akan tetapi Mirna tidak ingin melukai hati Fardan. Mirna pikir Fardan sudah sangat terluka akibat kehilangan kedua orangtuanya dan Mirna tidak ingin Fardan merasa Mirna yang sudah mengambil milik kedua orangtuanya.

"Tante sudah berpikir berlebihan, kapan aku membenci Tante?" Tanya Fardan seraya menyentuh punggung telapak tangan Mirna yang sedari tadi menggenggam dan menahan Fardan untuk tidak keluar dari dalam mobilnya.

"Fardan, Tante serius! Kamu sangat membenciku dan selalu bilang aku sudah mencelakai Kakak ku," Mirna mengerutkan keningnya, sebelumnya Fardan memang selalu menuding Mirna bahwa Mirna sudah membuat kedua orang tua Fardan celaka.

Fardan mengukir senyumnya lalu mengulurkan tangannya dan menyibakkan rambut Mirna dari pelipis ke belakang telinga.

Tubuh Mirna bergetar, dadanya tiba-tiba berdegup kencang. Mirna mulai gugup hanya karena sentuhan kecil tersebut.

"Tante kurang sehat? Sepertinya Tante kelelahan karena mengurus perusahaan, wajah Tante memerah."

Mirna sangat terkejut ketika mengangkat wajahnya, bibir tipis Fardan berbisik di sisi telinga Mirna dan bibir lembut itu menyentuh pipinya. Memang tidak seperti seseorang yang berniat melecehkannya. Mirna tidak bisa mengartikan perlakuan dari putra kakak tirinya tersebut.

"Aku-aku baik-baik saja! Kamu belajarlah dengan rajin! Tante akan berangkat ke kantor!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 7 Cinta Sepihak Erlangga Adiyasa

    ‘Cinta bertepuk sebelah tangan’Pertunangan Mirna dengan Erlangga berjalan dengan lancar. Erlangga adalah putra dari keluarga kaya raya, dia memiliki banyak perusahaan di dalam maupun luar negeri. Awalnya Erlangga sengaja mengacaukan saham di perusahaan Mirna dengan begitu Mirna tidak akan memiliki pilihan lain kecuali menuruti keinginan Erlangga.Semenjak menjadi tunangan Erlangga, perusahaan Mirna juga berjalan dengan lancar seperti biasa. Selang lima tahun kemudian, Erlangga yang awalnya Mirna kira hanya bermain-main saja dengannya malah memutuskan untuk menikah dengan Mirna. Sebelumnya Erlangga juga sudah bilang kalau pertunangan mereka bisa dibatalkan kapan saja mengingat Erlangga sudah memiliki wanita lain yang diinginkan. Mirna juga sudah setuju mereka sebelumnya sudah sepakat tidak akan terlibat dalam kehidupan pribadi masing-masing kecuali menyangkut urusan pekerjaan.Keputusan Erlangga untuk berlanjut ke jenjang pernikahan tentu saja membuat Mirna terkejut kare

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 6 Celah begitu besar

    Fardan mendengarnya, nama lawan bicara Mirna di seberang sana adalah Erlangga. Fardan merasa sudah bersalah karena masuk ke dalam kamar Mirna tanpa mengetuk pintu. Dan sekarang sudah terlanjur ketahuan oleh Mirna. Mirna menyibakkan rambut panjangnya yang terurai ke belakang lalu berjalan menuju ke pintu balkon. Ekspresi wajah Mirna tidak terlihat baik-baik saja. Fardan memegangi kue dengan kedua tangannya. “Tante, selamat ulang tahun.” Ujarnya pada Mirna. “Kamu bawa saja kuenya ke lantai bawah, Tante masih sibuk mengurus pekerjaan perusahaan.” Tolak Mirna. Fardan langsung menaruh kue tersebut di meja, lalu memegangi pergelangan tangan Mirna. “Tante marah sama Fardan? Tante kecewa sama Fardan? Katakan salah Fardan di mana?” tanyanya pada Mirna. Mirna menatap Fardan, wajah Fardan terlihat sangat frustasi sekarang. “Tante hanya pengen kamu lulus ujian lalu masuk ke perguruan tinggi! Sudah cukup! Tante nggak punya keinginan lain sama kamu. Maafkan Tante, Tante hanya ingin fokus m

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 5 Salah paham

    “Ya, ngomong saja, ada apa?” tanyanya santai. Edo merasa malu karena seharusnya dia tidak berada di samping Fardan ketika Cika ingin bicara empat mata dengan Fardan. “Nanti setelah pulang sekolah, agak sorean aku ke rumah kamu ya?” tanyanya pada Fardan. “Ke rumahku? Kamu tahu aku nggak tinggal di rumah lama, aku sekarang tinggal sama Tanteku,” keluh Fardan. Fardan selalu tidak nyaman ketika harus membawa teman pulang ke rumah Mirna, Fardan hanya cemas kalau ketenangan Mirna sampai terganggu. “Ya, aku tahu, aku cuma pengen kamu bantuin aku selesaikan tugas, aku nggak ngerti caRanya. Aku juga sudah minta izin sama Papa dan Mamaku, mereka kasih izin kok!” tuturnya dengan serius. Fardan menghela napas panjang. Fardan tahu kenapa kedua orangtuanya Cika memberikan izin, pertama mereka tahu kalau Fardan merupakan murid dengan nilai tertinggi di sekolahnya. Fardan cerdas, lugas, tegas, dan sopan. Fardan juga ketua osis. Tidak hanya Cika yang tertarik untuk mendekati dan menyatakan p

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 4 Aku ingin tubuh Tante

    Melihat Mirna terkulai lemas Fardan tersenyum senang. “Fa, kamu tidak boleh melakukan ini,” Mirna berbisik sambil menelan ludahnya. “Fardan sayang sama Tante, kapan pun Tante mau, Fardan akan melakukannya untuk Tante, jangan sampai Tante dilecehkan pria lain, Tante,” bisik Fardan pada Mirna. Mirna tidak tahu lagi, dia terpaksa melakukan itu karena gairahnya terlalu besar dan sulit dikendalikan. Fardan juga menahan Mirna sedemikian rupa sampai Mirna bersedia pasrah menikmati sentuhan jemari Fardan. Puas menyentuh Mirna, Fardan menarik tangannya dan melepaskan tubuh Mirna dari tahanannya. “Maaf Fardan tadi sudah lancang,” bisiknya pada Mirna. “Aku yang salah, aku lupa kalau kamu bukan anak kecil lagi, aku lupa dan memakai baju begini!” Mirna menundukkan wajahnya karena malu, Fardan segera membawa Mirna ke dalam kamar yang ada di lantai atas. Sampai di dalam kamar, Fardan menurunkan tubuh Mirna di atas kasur. Mirna tidak setuju dan terus menggelengkan kepalanya. “J

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 3 Saling Memenuhi Gairah satu sama lain

    “Tante tidak usah khawatir, aku sudah besar, kalau lapar pasti aku akan makan.” Jawab Fardan sekenanya. Awalnya Fardan tadi ingin melakukan lebih jauh tapi dia merasa Mirna begitu mudah dia kalahkan jadi Fardan menahan diri dan membiarkan Mirna lepas dari tahanannya. “Ya, tapi kalau kamu nggak makan, atau telat makan nanti kamu bisa sakit! Tante nggak mau kamu sampai nggak masuk sekolah, apalagi sebentar lagi ujian!” lanjut Mirna. “Tante kalau terlalu perhatian sama Fardan, Fardan bisa salah paham.” Pancing Fardan. “Ngomong apa sih kamu? Sudah jelas Mama dan Papa kamu yang menitipkanmu sama Tante, jadi Tante harus menjagamu dengan baik.” Elak Mirna. “Kamu cepatlah makan!” perintah Mirna lagi. Fardan tersenyum lalu menatap penampilan dirinya sendiri. “Dengan tubuh telanjang begini?” tanya Fardan pada Mirna. “Pakai baju dulu.” Jawab Mirna dengan wajah memerah. Sikap Mirna yang lembut dan mendominasi sebagai wanita yang membuat Fardan tertarik sekaligus menjadi sosok penggan

  • Sisi Liar Mematikan!   Bab 2 Menggoda Tante Mirna

    *** Pada siang hari, Mirna pergi meeting dengan klien. Semua urusannya berjalan dengan lancar, Mirna merasa lega. Setelah itu setelah pekerjaannya selesai sore hari Mirna kembali ke rumah. Ketika tiba di rumah, Mirna membawa mobilnya masuk dilihatnya motor Fardan berada di garasi. Biasanya Fardan pergi ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas sekolah bersama, apalagi sudah mendekati ujian kelulusan Fardan juga sibuk belajar. Mirna berjalan masuk ke dalam rumah, dilihatnya Fardan duduk tertidur di sofa ruang tengah, Fardan masih menggenggam buku di tangannya. Mirna berjalan mendekatinya lalu mengambil buku dari genggaman tangan Fardan. Mirna juga mengambil selimut untuk menyelimutinya, ketika membungkuk menyelimuti Fardan tiba-tiba Fardan menggenggam pergelangan tangan Mirna dan menariknya rebah tidur di sofa bersamanya. Mirna awalnya terkejut dan menggeliat dari pelukan Fardan tapi begitu mendengar Fardan memanggil-manggil Mamanya, Mirna tidak menggeliat dan membiarkan Fard

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status