LOGINFardan mendengarnya, nama lawan bicara Mirna di seberang sana adalah Erlangga.
Fardan merasa sudah bersalah karena masuk ke dalam kamar Mirna tanpa mengetuk pintu. Dan sekarang sudah terlanjur ketahuan oleh Mirna. Mirna menyibakkan rambut panjangnya yang terurai ke belakang lalu berjalan menuju ke pintu balkon. Ekspresi wajah Mirna tidak terlihat baik-baik saja. Fardan memegangi kue dengan kedua tangannya. “Tante, selamat ulang tahun.” Ujarnya pada Mirna. “Kamu bawa saja kuenya ke lantai bawah, Tante masih sibuk mengurus pekerjaan perusahaan.” Tolak Mirna. Fardan langsung menaruh kue tersebut di meja, lalu memegangi pergelangan tangan Mirna. “Tante marah sama Fardan? Tante kecewa sama Fardan? Katakan salah Fardan di mana?” tanyanya pada Mirna. Mirna menatap Fardan, wajah Fardan terlihat sangat frustasi sekarang. “Tante hanya pengen kamu lulus ujian lalu masuk ke perguruan tinggi! Sudah cukup! Tante nggak punya keinginan lain sama kamu. Maafkan Tante, Tante hanya ingin fokus mengurus perusahaan.” Jelas Mirna pada Fardan. Belakangan ini JNM terlibat masalah dan butuh investor untuk penambahan saham demi mencegah kebangkrutan perusahaan. Mirna sudah berjuang sekuat tenaga tapi Erlangga sengaja memanfaatkan segala kesulitan Mirna dan meminta syarat tidak masuk akal pada Mirna untuk menjadi tunangannya baru bersedia membantunya. Mirna tahu Erlangga adalah pemain yang handal, sudah banyak wanita yang dia campakkan begitu saja. Mirna mendahului Fardan turun ke lantai utama. Fardan mengambil kue ulang tahun dari meja lalu membuangnya ke tempat sampah. Fardan juga turun ke lantai utama lalu mengurung diri di dalam kamarnya. “Aku sudah janji akan berusaha keras demi Tante! Aku akan buktikan pada Tante kalau aku bukan Fardan bocah SMA yang nggak tahu apa-apa!” ujar Fardan pada dirinya sendiri. *** Pada keesokan paginya. Mirna dan Fardan sedang sarapan bersama. Mirna tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. “Fardan? Tante ingin membahas masalah serius sama kamu.” “Ngomong saja Tan, kenapa malah muter-muter?” sahut Fardan dengan cuek. “Tante sebentar lagi akan tunangan sama Erlangga.” Tanpa menanyakan alasan Mirna, Fardan langsung meletakkan sendoknya dan tidak melanjutkan sarapannya. Fardan sangat kesal dan marah. Tanpa berpamitan pada Mirna Fardan langsung berangkat ke sekolah. Padahal tinggal beberapa hari lagi Fardan harus ujian akhir kelulusan, tidak disangkanya malah muncul masalah serius dalam hidupnya! “Fardan!” Panggilan Mirna tidak dihiraukannya, Fardan sudah pergi bersama motornya menuju ke sekolahan. Pada malam hari Mirna menunggu Fardan kembali ke rumah, Fardan tidak kunjung datang, Mirna juga sudah mencoba meneleponnya tapi panggilannya tidak pernah diangkat. “Fardan sepertinya marah sama aku,” gumam Mirna sambil duduk di sofa ruangan utama. Mirna terus menunggu Fardan pulang tapi sudah tengah malah Fardan tidak kunjung pulang hingga akhirnya Mirna tertidur di sofa ruangan utama. Sekitar sepuluh menit kemudian, Fardan baru tiba di rumah. Fardan sengaja tidak pulang ke rumah lebih awal karena hatinya sangat sakit sekali. Fardan merasa Mirna hanya menganggap dirinya sebagai bocah yang tidak pantas untuk tinggal di sisi Mirna. Fardan belajar dengan sangat keras di warnet untuk menghadapi ujian kelulusan dan untuk membuktikan pada Mirna bahwa dirinya cukup layak dan kompeten melebihi pria yang akan bertunangan dengan Mirna! Fardan melihat Mirna terlelap di sofa langsung menggendongnya dan membawanya menuju ke lantai atas. Direbahkannya Mirna di atas kasur, Fardan menyadari tubuh Mirna menjadi lebih kurus semenjak dia sentuh terakhir kali dua bulan yang lalu. “Pasti banyak masalah di perusahaan, Tante menjadi lebih kurus karena terlalu sibuk dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Tunggu aku Tante, suatu hari nanti aku akan memegang peran penting di perusahaanku sendiri, aku akan menunjukkan pada Tante bahwa aku mampu menjadi pemimpin dan sukses. Tante tidak perlu bekerja keras lagi, Tante hanya perlu tinggal di sisiku!” bisik Fardan pada Mirna lalu dikecupnya bibir Mirna dengan lembut. Mirna tiba-tiba terjaga dan ketika membuka mata Mirna mendapati bibir Fardan masih menempel pada bibirnya. “Fardan? Kamu pulang?” Mirna langsung menangis sambil memeluknya dengan sangat erat. “Maafkan Tante, belakangan ini Tante nggak begitu perhatian lagi sama kamu! Maafkan Tante sudah membuatmu kecewa ....” ujar Mirna dengan penuh sesal. Dalam hati Mirna merasa lega karena Fardan tetap pulang ke rumahnya karena Mirna pikir Fardan sudah salah pergaulan dan berbuat yang tidak-tidak di luaran sana. Fardan sendiri juga sangat terkejut lantaran Mirna tiba-tiba membuka matanya. Fardan cemas kalau Mirna akan memarahinya karena tadi sempat mencium bibirnya. “Ya, Fardan sudah pulang, Tan. Tante tidurlah, Fardan turun ke lantai bawah dulu,” pamitnya pada Mirna. “Tu-tunggu!” Mirna menahan lengannya lalu bangun dari ranjang. “Tante akan hangatkan makan malam untuk kamu!” ujarnya seraya merapikan rambut panjangnya yang berantakan. Mirna hanya memakai setelan hot pants serta atasan kaos longgar. Mirna menggandeng lengan Fardan menuruni anak tangga menuju ke lantai utama karena Mirna sangat mengantuk. “Tante, sebenarnya nggak perlu, Fardan bisa sendiri, Fardan sudah dewasa, Tante jangan terus mengurus ini itu,” tutur Fardan pada Mirna. Fardan merasa kasihan melihat wajah Mirna pucat serta wajahnya juga tidak terlihat segar seperti awal-awal Fardan tinggal bersama Mirna beberapa bulan yang lalu. Mirna menggelengkan kepalanya, Mirna tetap menghangatkan makanan untuk Fardan lalu menemaninya makan malam. Saat sedang makan bersama tiba-tiba Fardan menanyakan tentang pertunangan yang pernah Mirna katakan padanya. “Tante jadi bertunangan dengan Om Erlangga?” “Ya, demi perusahaan.” Jawab Mirna dengan ekspresi getir. Fardan tahu Mirna terpaksa bertunangan, tapi Mirna juga tidak memiliki pilihan lain demi mempertahankan perusahaan. Fardan sendiri juga merasa lemah, dan dia merasa tidak bisa diandalkan karena masih duduk di akhir bangku SMA. “Maaf Tante, Fardan nggak bisa bantu Tante apa-apa.” Ujarnya dengan wajah menunduk. “Ini pilihan Tante, bukan salah kamu Far.” Jawab Mirna pada Fardan. Sejak hari itu Fardan juga lebih menjaga jarak dengan Mirna, mencoba melupakan setiap lembaran penuh cinta dan kehangatan yang pernah dia lalui dengan Mirna. Fardan menguburnya dalam-dalam dan memutuskan untuk menguburnya seolah-olah tidak pernah terjadi sama sekali. Tiga hari setelah Mirna bertunangan dengan Erlangga demi perusahaan, Fardan patah hati dan memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah dan menempuh studinya di luar negeri.‘Cinta bertepuk sebelah tangan’Pertunangan Mirna dengan Erlangga berjalan dengan lancar. Erlangga adalah putra dari keluarga kaya raya, dia memiliki banyak perusahaan di dalam maupun luar negeri. Awalnya Erlangga sengaja mengacaukan saham di perusahaan Mirna dengan begitu Mirna tidak akan memiliki pilihan lain kecuali menuruti keinginan Erlangga.Semenjak menjadi tunangan Erlangga, perusahaan Mirna juga berjalan dengan lancar seperti biasa. Selang lima tahun kemudian, Erlangga yang awalnya Mirna kira hanya bermain-main saja dengannya malah memutuskan untuk menikah dengan Mirna. Sebelumnya Erlangga juga sudah bilang kalau pertunangan mereka bisa dibatalkan kapan saja mengingat Erlangga sudah memiliki wanita lain yang diinginkan. Mirna juga sudah setuju mereka sebelumnya sudah sepakat tidak akan terlibat dalam kehidupan pribadi masing-masing kecuali menyangkut urusan pekerjaan.Keputusan Erlangga untuk berlanjut ke jenjang pernikahan tentu saja membuat Mirna terkejut kare
Fardan mendengarnya, nama lawan bicara Mirna di seberang sana adalah Erlangga. Fardan merasa sudah bersalah karena masuk ke dalam kamar Mirna tanpa mengetuk pintu. Dan sekarang sudah terlanjur ketahuan oleh Mirna. Mirna menyibakkan rambut panjangnya yang terurai ke belakang lalu berjalan menuju ke pintu balkon. Ekspresi wajah Mirna tidak terlihat baik-baik saja. Fardan memegangi kue dengan kedua tangannya. “Tante, selamat ulang tahun.” Ujarnya pada Mirna. “Kamu bawa saja kuenya ke lantai bawah, Tante masih sibuk mengurus pekerjaan perusahaan.” Tolak Mirna. Fardan langsung menaruh kue tersebut di meja, lalu memegangi pergelangan tangan Mirna. “Tante marah sama Fardan? Tante kecewa sama Fardan? Katakan salah Fardan di mana?” tanyanya pada Mirna. Mirna menatap Fardan, wajah Fardan terlihat sangat frustasi sekarang. “Tante hanya pengen kamu lulus ujian lalu masuk ke perguruan tinggi! Sudah cukup! Tante nggak punya keinginan lain sama kamu. Maafkan Tante, Tante hanya ingin fokus m
“Ya, ngomong saja, ada apa?” tanyanya santai. Edo merasa malu karena seharusnya dia tidak berada di samping Fardan ketika Cika ingin bicara empat mata dengan Fardan. “Nanti setelah pulang sekolah, agak sorean aku ke rumah kamu ya?” tanyanya pada Fardan. “Ke rumahku? Kamu tahu aku nggak tinggal di rumah lama, aku sekarang tinggal sama Tanteku,” keluh Fardan. Fardan selalu tidak nyaman ketika harus membawa teman pulang ke rumah Mirna, Fardan hanya cemas kalau ketenangan Mirna sampai terganggu. “Ya, aku tahu, aku cuma pengen kamu bantuin aku selesaikan tugas, aku nggak ngerti caRanya. Aku juga sudah minta izin sama Papa dan Mamaku, mereka kasih izin kok!” tuturnya dengan serius. Fardan menghela napas panjang. Fardan tahu kenapa kedua orangtuanya Cika memberikan izin, pertama mereka tahu kalau Fardan merupakan murid dengan nilai tertinggi di sekolahnya. Fardan cerdas, lugas, tegas, dan sopan. Fardan juga ketua osis. Tidak hanya Cika yang tertarik untuk mendekati dan menyatakan p
Melihat Mirna terkulai lemas Fardan tersenyum senang. “Fa, kamu tidak boleh melakukan ini,” Mirna berbisik sambil menelan ludahnya. “Fardan sayang sama Tante, kapan pun Tante mau, Fardan akan melakukannya untuk Tante, jangan sampai Tante dilecehkan pria lain, Tante,” bisik Fardan pada Mirna. Mirna tidak tahu lagi, dia terpaksa melakukan itu karena gairahnya terlalu besar dan sulit dikendalikan. Fardan juga menahan Mirna sedemikian rupa sampai Mirna bersedia pasrah menikmati sentuhan jemari Fardan. Puas menyentuh Mirna, Fardan menarik tangannya dan melepaskan tubuh Mirna dari tahanannya. “Maaf Fardan tadi sudah lancang,” bisiknya pada Mirna. “Aku yang salah, aku lupa kalau kamu bukan anak kecil lagi, aku lupa dan memakai baju begini!” Mirna menundukkan wajahnya karena malu, Fardan segera membawa Mirna ke dalam kamar yang ada di lantai atas. Sampai di dalam kamar, Fardan menurunkan tubuh Mirna di atas kasur. Mirna tidak setuju dan terus menggelengkan kepalanya. “J
“Tante tidak usah khawatir, aku sudah besar, kalau lapar pasti aku akan makan.” Jawab Fardan sekenanya. Awalnya Fardan tadi ingin melakukan lebih jauh tapi dia merasa Mirna begitu mudah dia kalahkan jadi Fardan menahan diri dan membiarkan Mirna lepas dari tahanannya. “Ya, tapi kalau kamu nggak makan, atau telat makan nanti kamu bisa sakit! Tante nggak mau kamu sampai nggak masuk sekolah, apalagi sebentar lagi ujian!” lanjut Mirna. “Tante kalau terlalu perhatian sama Fardan, Fardan bisa salah paham.” Pancing Fardan. “Ngomong apa sih kamu? Sudah jelas Mama dan Papa kamu yang menitipkanmu sama Tante, jadi Tante harus menjagamu dengan baik.” Elak Mirna. “Kamu cepatlah makan!” perintah Mirna lagi. Fardan tersenyum lalu menatap penampilan dirinya sendiri. “Dengan tubuh telanjang begini?” tanya Fardan pada Mirna. “Pakai baju dulu.” Jawab Mirna dengan wajah memerah. Sikap Mirna yang lembut dan mendominasi sebagai wanita yang membuat Fardan tertarik sekaligus menjadi sosok penggan
*** Pada siang hari, Mirna pergi meeting dengan klien. Semua urusannya berjalan dengan lancar, Mirna merasa lega. Setelah itu setelah pekerjaannya selesai sore hari Mirna kembali ke rumah. Ketika tiba di rumah, Mirna membawa mobilnya masuk dilihatnya motor Fardan berada di garasi. Biasanya Fardan pergi ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas sekolah bersama, apalagi sudah mendekati ujian kelulusan Fardan juga sibuk belajar. Mirna berjalan masuk ke dalam rumah, dilihatnya Fardan duduk tertidur di sofa ruang tengah, Fardan masih menggenggam buku di tangannya. Mirna berjalan mendekatinya lalu mengambil buku dari genggaman tangan Fardan. Mirna juga mengambil selimut untuk menyelimutinya, ketika membungkuk menyelimuti Fardan tiba-tiba Fardan menggenggam pergelangan tangan Mirna dan menariknya rebah tidur di sofa bersamanya. Mirna awalnya terkejut dan menggeliat dari pelukan Fardan tapi begitu mendengar Fardan memanggil-manggil Mamanya, Mirna tidak menggeliat dan membiarkan Fard







