LOGIN***
Pada siang hari, Mirna pergi meeting dengan klien. Semua urusannya berjalan dengan lancar, Mirna merasa lega. Setelah itu setelah pekerjaannya selesai sore hari Mirna kembali ke rumah. Ketika tiba di rumah, Mirna membawa mobilnya masuk dilihatnya motor Fardan berada di garasi. Biasanya Fardan pergi ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas sekolah bersama, apalagi sudah mendekati ujian kelulusan Fardan juga sibuk belajar. Mirna berjalan masuk ke dalam rumah, dilihatnya Fardan duduk tertidur di sofa ruang tengah, Fardan masih menggenggam buku di tangannya. Mirna berjalan mendekatinya lalu mengambil buku dari genggaman tangan Fardan. Mirna juga mengambil selimut untuk menyelimutinya, ketika membungkuk menyelimuti Fardan tiba-tiba Fardan menggenggam pergelangan tangan Mirna dan menariknya rebah tidur di sofa bersamanya. Mirna awalnya terkejut dan menggeliat dari pelukan Fardan tapi begitu mendengar Fardan memanggil-manggil Mamanya, Mirna tidak menggeliat dan membiarkan Fardan memeluknya erat. “Mama, Mama, jangan pergi! Mama, jangan tinggalkan Fardan sendirian, Mama Fardan mau sama Mama,” ujar Fardan dalam tidurnya. Mirna memeluk punggung Fardan lalu menatap wajah Fardan yang begitu dekat dengan wajah Mirna. Disentuhnya pipi Fardan, lalu Mirna memberikan kecupan kecil pada keningnya. Mirna sangat menyayangi Fardan karena hanya Fardan satu-satunya keluarga yang masih tersisa. “Tante akan temani kamu, jangan cemas, Fardan tidurlah,” bisik Mirna sambil menepuk-nepuk punggung Fardan. Mirna sendiri sangat kelelahan, Mirna tidak tahu sejak kapan dia ikut tertidur. Ketika membuka matanya lagi, Mirna merasa berada di dalam kamar dan rasanya sangat nyaman. Mirna masih berada di dalam pelukan Fardan. Dan setelah melihat ke sekitar, Mirna tahu dia sekarang tidur di dalam pelukan Fardan di dalam kamar Fardan. “Fardan.” Mirna menggeliat sambil berusaha melepaskan lengan Fardan dari belakang pinggangnya. Fardan membuka matanya sebentar lalu tersenyum melihat Mirna masih mengantuk. “Tante tadi kelelahan jadi aku bawa ke dalam kamar, saat menggendong tubuh Tante, Tante nggak mau melepaskan Fardan jadi Fardan memeluk Tante sampai Tante bangun.” Jelasnya. Mirna menganggukkan kepalanya, dia juga tidak menaruh perasaan curiga sama sekali. Bagi Mirna Fardan sudah dianggap seperti anaknya sendiri. “Sudah malam, kamu cepatlah mandi lalu makan malam, Tante mau ke lantai atas,” ujar Mirna sambil menggeliat untuk melepaskan diri dari pelukan Fardan. Lengan Fardan ternyata sangat kokoh dan kuat. Mirna merasa tinggal di dalam pelukan pria dewasa bukan keponakan tirinya. Fardan merasa bergairah ketika buah dada montok Mirna tergencet dan menggeliat dalam dekapannya. Sesuatu di tubuhnya sejak tadi menolak untuk tidur, Fardan sempat membayangkan di luar kepala, tapi Fardan tetap sadar dan tidak melakukan tindakan di luar batasan. Fardan hanya bisa membayangkannya saja. “Fa, lepaskan Tante! Kamu memelukku tertalu erat,” bisik Mirna sambil menggeliat dalam pelukan Fardan. “Tante?” Fardan mendekatkan wajahnya sampai ujung hidung mereka berdua menempel satu sama lain. Kali ini wajah Mirna benar-benar memerah, cara Fardan menatap dan menempel padanya sama sekali bukan seperti seorang anak yang membutuhkan perlindungan ibunya tapi seperti seorang pria yang sedang menindas dan ingin menguasai wanita yang diinginkan! “Fa, lepas ....” “Tubuh Tante kenapa panas sekali?” bisiknya sambil mengendus batang hidung Mirna dan menyentuh bibir Mirna dengan bibirnya lalu turun ke leher Mirna. Mirna meremas punggung Fardan sambil menahan napas. Mirna tahu dan sadar dia tidak boleh membiarkan Fardan melakukan tindakan lebih jauh. “Fa, biarkan Tante pergi,” Mirna mulai memohon dan kedua kaki Mirna beberapa kali dipukul-pukulkan ke atas kasur. “Tante, aku melihat semuanya pagi tadi.” Mirna bagai disambar petir ketika Fardan memutuskan untuk membahas masalah tersebut. “Tante sangat puas dan terlihat sangat cantik saat sedang menggeliat, sama seperti sekarang,” lanjut Fardan. Mirna merasa lemas dan tidak berdaya, tapi Mirna merasa dia juga tidak boleh membiarkan Fardan memiliki keinginan lain di dalam hatinya. “Fa, aku-aku-aku tidak bisa menjelaskan masalah itu, lepaskan tubuhku Fa,” pinta Mirna. “Kenapa tidak memukulku? Tante bisa saja memukulku atau melukaiku agar aku melepaskan Tante. Kenapa malah diam dan memohon padaku?” Tanya Fardan dengan tatapan mata tidak mengerti. Fardan pikir Mirna bisa saja ditindas oleh pria lain dan diminta melayani oleh mereka tanpa bisa melakukan apa-apa. “Mana mungkin aku memukulmu?” jawab Mirna sambil menatap ke dalam kedua bola mata Fardan. “Sekalipun aku menyentuh dan memeluk sekujur tubuh Tante seperti sekarang ini?” pancing Fardan seraya menyelipkan tangannya ke dalam rok Mirna lalu meremas bongkahan bokong Mirna hingga Mirna menahan napas sambil memukul dada Fardan. “Akh!” Mirna menggigit bibir bawahnya, Mirna selama ini sangat sulit mengendalikan gairahnya yang cukup besar. “Fa, kamu sudah kelewatan!” Mirna kesal dan memukul dada Fardan, pukulannya tidak keras tapi sejak Fardan menjamah sisi intimnya barusan Mirna merasa tindakan Fardan sudah kurang ajar. Mirna terus meronta hingga akhirnya bisa melepaskan diri dari Fardan. Begitu Mirna keluar dari dalam kamarnya, Fardan segera pergi kamar mandi. Gairahnya sudah tidak bisa dia tahan lagi. Pada sore hari rumah Mirna sudah sepi dan hanya ada mereka berdua di kediaman besar dan megah tersebut. Mirna baru saja selesai mandi, wanita itu mengenakan kemeja putih longgar lengan panjang lalu duduk di atas ranjangnya sambil memeluk kedua lututnya. Mirna merasa sudah bersalah karena tidak memarahi Fardan sejak awal. Mirna merasa sudah gagal menjadi pengganti orang tua Fardan untuk menjaga Fardan. “Ini aneh, kenapa aku tidak memarahinya dan membiarkan Fardan melakukan tindakan sampai sejauh itu? Kenapa aku merasa tidak keberatan? Apa jangan-jangan selama ini aku memiliki perasaan lain pada Fardan? Tidak-tidak! Ini tidak boleh terjadi! Aku tidak akan membiarkan Fardan terlibat perasaan khusus denganku!” ucap Mirna pada dirinya sendiri. Setelah menenangkan dirinya Mirna segera turun ke lantai utama, Mirna melihat hidangan di meja makan masih utuh dan belum disentuh. “Fardan belum makan? Dia harus makan! Kalau Fardan tidak makan bagaimana kalau dia sakit?” Mirna menggigit jari telunjuknya sendiri. Mirna bimbang, biasanya Fardan selalu makan bersama dengannya di ruang makan. Tapi kejadian satu jam yang lalu membuat Mirna merasa canggung dan ragu untuk memanggilnya. Mirna menghela napas panjang beberapa kali lalu berjalan mendekati pintu kamar Fardan. Mirna mengetuknya sambil memanggilnya. “Fardan? Fa?” panggil Mirna dari luar kamar. Fardan sedang mengeringkan rambutnya, dia baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan celana dalam di balik pintu. Mirna bingung dan dia segera memutuskan untuk membuka pintu, begitu pintu terbuka Mirna melihat Fardan sedang menatap ke arahnya. Mirna menatap penampilan Fardan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Fardan bukan anak kecil kemarin sore, bahkan Fardan memiliki tubuh tinggi, kekar, dan memiliki paras tampan bak pria idola. “Tante manggil aku?” tanyanya santai sambil melilitkan handuk di pinggangnya karena hanya mengenakan celana dalam lau dia berjalan menuju ke pintu mendekati Mirna. Mirna dengan gugup menganggukkan kepalanya. “Ya, kamu belum makan, Tante pikir kamu marah sama Tante jadi nggak mau makan.” Ujar Mirna seperti orang bodoh.‘Cinta bertepuk sebelah tangan’Pertunangan Mirna dengan Erlangga berjalan dengan lancar. Erlangga adalah putra dari keluarga kaya raya, dia memiliki banyak perusahaan di dalam maupun luar negeri. Awalnya Erlangga sengaja mengacaukan saham di perusahaan Mirna dengan begitu Mirna tidak akan memiliki pilihan lain kecuali menuruti keinginan Erlangga.Semenjak menjadi tunangan Erlangga, perusahaan Mirna juga berjalan dengan lancar seperti biasa. Selang lima tahun kemudian, Erlangga yang awalnya Mirna kira hanya bermain-main saja dengannya malah memutuskan untuk menikah dengan Mirna. Sebelumnya Erlangga juga sudah bilang kalau pertunangan mereka bisa dibatalkan kapan saja mengingat Erlangga sudah memiliki wanita lain yang diinginkan. Mirna juga sudah setuju mereka sebelumnya sudah sepakat tidak akan terlibat dalam kehidupan pribadi masing-masing kecuali menyangkut urusan pekerjaan.Keputusan Erlangga untuk berlanjut ke jenjang pernikahan tentu saja membuat Mirna terkejut kare
Fardan mendengarnya, nama lawan bicara Mirna di seberang sana adalah Erlangga. Fardan merasa sudah bersalah karena masuk ke dalam kamar Mirna tanpa mengetuk pintu. Dan sekarang sudah terlanjur ketahuan oleh Mirna. Mirna menyibakkan rambut panjangnya yang terurai ke belakang lalu berjalan menuju ke pintu balkon. Ekspresi wajah Mirna tidak terlihat baik-baik saja. Fardan memegangi kue dengan kedua tangannya. “Tante, selamat ulang tahun.” Ujarnya pada Mirna. “Kamu bawa saja kuenya ke lantai bawah, Tante masih sibuk mengurus pekerjaan perusahaan.” Tolak Mirna. Fardan langsung menaruh kue tersebut di meja, lalu memegangi pergelangan tangan Mirna. “Tante marah sama Fardan? Tante kecewa sama Fardan? Katakan salah Fardan di mana?” tanyanya pada Mirna. Mirna menatap Fardan, wajah Fardan terlihat sangat frustasi sekarang. “Tante hanya pengen kamu lulus ujian lalu masuk ke perguruan tinggi! Sudah cukup! Tante nggak punya keinginan lain sama kamu. Maafkan Tante, Tante hanya ingin fokus m
“Ya, ngomong saja, ada apa?” tanyanya santai. Edo merasa malu karena seharusnya dia tidak berada di samping Fardan ketika Cika ingin bicara empat mata dengan Fardan. “Nanti setelah pulang sekolah, agak sorean aku ke rumah kamu ya?” tanyanya pada Fardan. “Ke rumahku? Kamu tahu aku nggak tinggal di rumah lama, aku sekarang tinggal sama Tanteku,” keluh Fardan. Fardan selalu tidak nyaman ketika harus membawa teman pulang ke rumah Mirna, Fardan hanya cemas kalau ketenangan Mirna sampai terganggu. “Ya, aku tahu, aku cuma pengen kamu bantuin aku selesaikan tugas, aku nggak ngerti caRanya. Aku juga sudah minta izin sama Papa dan Mamaku, mereka kasih izin kok!” tuturnya dengan serius. Fardan menghela napas panjang. Fardan tahu kenapa kedua orangtuanya Cika memberikan izin, pertama mereka tahu kalau Fardan merupakan murid dengan nilai tertinggi di sekolahnya. Fardan cerdas, lugas, tegas, dan sopan. Fardan juga ketua osis. Tidak hanya Cika yang tertarik untuk mendekati dan menyatakan p
Melihat Mirna terkulai lemas Fardan tersenyum senang. “Fa, kamu tidak boleh melakukan ini,” Mirna berbisik sambil menelan ludahnya. “Fardan sayang sama Tante, kapan pun Tante mau, Fardan akan melakukannya untuk Tante, jangan sampai Tante dilecehkan pria lain, Tante,” bisik Fardan pada Mirna. Mirna tidak tahu lagi, dia terpaksa melakukan itu karena gairahnya terlalu besar dan sulit dikendalikan. Fardan juga menahan Mirna sedemikian rupa sampai Mirna bersedia pasrah menikmati sentuhan jemari Fardan. Puas menyentuh Mirna, Fardan menarik tangannya dan melepaskan tubuh Mirna dari tahanannya. “Maaf Fardan tadi sudah lancang,” bisiknya pada Mirna. “Aku yang salah, aku lupa kalau kamu bukan anak kecil lagi, aku lupa dan memakai baju begini!” Mirna menundukkan wajahnya karena malu, Fardan segera membawa Mirna ke dalam kamar yang ada di lantai atas. Sampai di dalam kamar, Fardan menurunkan tubuh Mirna di atas kasur. Mirna tidak setuju dan terus menggelengkan kepalanya. “J
“Tante tidak usah khawatir, aku sudah besar, kalau lapar pasti aku akan makan.” Jawab Fardan sekenanya. Awalnya Fardan tadi ingin melakukan lebih jauh tapi dia merasa Mirna begitu mudah dia kalahkan jadi Fardan menahan diri dan membiarkan Mirna lepas dari tahanannya. “Ya, tapi kalau kamu nggak makan, atau telat makan nanti kamu bisa sakit! Tante nggak mau kamu sampai nggak masuk sekolah, apalagi sebentar lagi ujian!” lanjut Mirna. “Tante kalau terlalu perhatian sama Fardan, Fardan bisa salah paham.” Pancing Fardan. “Ngomong apa sih kamu? Sudah jelas Mama dan Papa kamu yang menitipkanmu sama Tante, jadi Tante harus menjagamu dengan baik.” Elak Mirna. “Kamu cepatlah makan!” perintah Mirna lagi. Fardan tersenyum lalu menatap penampilan dirinya sendiri. “Dengan tubuh telanjang begini?” tanya Fardan pada Mirna. “Pakai baju dulu.” Jawab Mirna dengan wajah memerah. Sikap Mirna yang lembut dan mendominasi sebagai wanita yang membuat Fardan tertarik sekaligus menjadi sosok penggan
*** Pada siang hari, Mirna pergi meeting dengan klien. Semua urusannya berjalan dengan lancar, Mirna merasa lega. Setelah itu setelah pekerjaannya selesai sore hari Mirna kembali ke rumah. Ketika tiba di rumah, Mirna membawa mobilnya masuk dilihatnya motor Fardan berada di garasi. Biasanya Fardan pergi ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas sekolah bersama, apalagi sudah mendekati ujian kelulusan Fardan juga sibuk belajar. Mirna berjalan masuk ke dalam rumah, dilihatnya Fardan duduk tertidur di sofa ruang tengah, Fardan masih menggenggam buku di tangannya. Mirna berjalan mendekatinya lalu mengambil buku dari genggaman tangan Fardan. Mirna juga mengambil selimut untuk menyelimutinya, ketika membungkuk menyelimuti Fardan tiba-tiba Fardan menggenggam pergelangan tangan Mirna dan menariknya rebah tidur di sofa bersamanya. Mirna awalnya terkejut dan menggeliat dari pelukan Fardan tapi begitu mendengar Fardan memanggil-manggil Mamanya, Mirna tidak menggeliat dan membiarkan Fard







