Masuk‘Cinta bertepuk sebelah tangan’
Pertunangan Mirna dengan Erlangga berjalan dengan lancar. Erlangga adalah putra dari keluarga kaya raya, dia memiliki banyak perusahaan di dalam maupun luar negeri. Awalnya Erlangga sengaja mengacaukan saham di perusahaan Mirna dengan begitu Mirna tidak akan memiliki pilihan lain kecuali menuruti keinginan Erlangga.Semenjak menjadi tunangan Erlangga, perusahaan Mirna juga berjalan dengan lancar seperti biasa. Selang lima tahun kemudian, Erlangga yang a‘Cinta bertepuk sebelah tangan’Pertunangan Mirna dengan Erlangga berjalan dengan lancar. Erlangga adalah putra dari keluarga kaya raya, dia memiliki banyak perusahaan di dalam maupun luar negeri. Awalnya Erlangga sengaja mengacaukan saham di perusahaan Mirna dengan begitu Mirna tidak akan memiliki pilihan lain kecuali menuruti keinginan Erlangga.Semenjak menjadi tunangan Erlangga, perusahaan Mirna juga berjalan dengan lancar seperti biasa. Selang lima tahun kemudian, Erlangga yang awalnya Mirna kira hanya bermain-main saja dengannya malah memutuskan untuk menikah dengan Mirna. Sebelumnya Erlangga juga sudah bilang kalau pertunangan mereka bisa dibatalkan kapan saja mengingat Erlangga sudah memiliki wanita lain yang diinginkan. Mirna juga sudah setuju mereka sebelumnya sudah sepakat tidak akan terlibat dalam kehidupan pribadi masing-masing kecuali menyangkut urusan pekerjaan.Keputusan Erlangga untuk berlanjut ke jenjang pernikahan tentu saja membuat Mirna terkejut kare
Fardan mendengarnya, nama lawan bicara Mirna di seberang sana adalah Erlangga. Fardan merasa sudah bersalah karena masuk ke dalam kamar Mirna tanpa mengetuk pintu. Dan sekarang sudah terlanjur ketahuan oleh Mirna. Mirna menyibakkan rambut panjangnya yang terurai ke belakang lalu berjalan menuju ke pintu balkon. Ekspresi wajah Mirna tidak terlihat baik-baik saja. Fardan memegangi kue dengan kedua tangannya. “Tante, selamat ulang tahun.” Ujarnya pada Mirna. “Kamu bawa saja kuenya ke lantai bawah, Tante masih sibuk mengurus pekerjaan perusahaan.” Tolak Mirna. Fardan langsung menaruh kue tersebut di meja, lalu memegangi pergelangan tangan Mirna. “Tante marah sama Fardan? Tante kecewa sama Fardan? Katakan salah Fardan di mana?” tanyanya pada Mirna. Mirna menatap Fardan, wajah Fardan terlihat sangat frustasi sekarang. “Tante hanya pengen kamu lulus ujian lalu masuk ke perguruan tinggi! Sudah cukup! Tante nggak punya keinginan lain sama kamu. Maafkan Tante, Tante hanya ingin fokus m
“Ya, ngomong saja, ada apa?” tanyanya santai. Edo merasa malu karena seharusnya dia tidak berada di samping Fardan ketika Cika ingin bicara empat mata dengan Fardan. “Nanti setelah pulang sekolah, agak sorean aku ke rumah kamu ya?” tanyanya pada Fardan. “Ke rumahku? Kamu tahu aku nggak tinggal di rumah lama, aku sekarang tinggal sama Tanteku,” keluh Fardan. Fardan selalu tidak nyaman ketika harus membawa teman pulang ke rumah Mirna, Fardan hanya cemas kalau ketenangan Mirna sampai terganggu. “Ya, aku tahu, aku cuma pengen kamu bantuin aku selesaikan tugas, aku nggak ngerti caRanya. Aku juga sudah minta izin sama Papa dan Mamaku, mereka kasih izin kok!” tuturnya dengan serius. Fardan menghela napas panjang. Fardan tahu kenapa kedua orangtuanya Cika memberikan izin, pertama mereka tahu kalau Fardan merupakan murid dengan nilai tertinggi di sekolahnya. Fardan cerdas, lugas, tegas, dan sopan. Fardan juga ketua osis. Tidak hanya Cika yang tertarik untuk mendekati dan menyatakan p
Melihat Mirna terkulai lemas Fardan tersenyum senang. “Fa, kamu tidak boleh melakukan ini,” Mirna berbisik sambil menelan ludahnya. “Fardan sayang sama Tante, kapan pun Tante mau, Fardan akan melakukannya untuk Tante, jangan sampai Tante dilecehkan pria lain, Tante,” bisik Fardan pada Mirna. Mirna tidak tahu lagi, dia terpaksa melakukan itu karena gairahnya terlalu besar dan sulit dikendalikan. Fardan juga menahan Mirna sedemikian rupa sampai Mirna bersedia pasrah menikmati sentuhan jemari Fardan. Puas menyentuh Mirna, Fardan menarik tangannya dan melepaskan tubuh Mirna dari tahanannya. “Maaf Fardan tadi sudah lancang,” bisiknya pada Mirna. “Aku yang salah, aku lupa kalau kamu bukan anak kecil lagi, aku lupa dan memakai baju begini!” Mirna menundukkan wajahnya karena malu, Fardan segera membawa Mirna ke dalam kamar yang ada di lantai atas. Sampai di dalam kamar, Fardan menurunkan tubuh Mirna di atas kasur. Mirna tidak setuju dan terus menggelengkan kepalanya. “J
“Tante tidak usah khawatir, aku sudah besar, kalau lapar pasti aku akan makan.” Jawab Fardan sekenanya. Awalnya Fardan tadi ingin melakukan lebih jauh tapi dia merasa Mirna begitu mudah dia kalahkan jadi Fardan menahan diri dan membiarkan Mirna lepas dari tahanannya. “Ya, tapi kalau kamu nggak makan, atau telat makan nanti kamu bisa sakit! Tante nggak mau kamu sampai nggak masuk sekolah, apalagi sebentar lagi ujian!” lanjut Mirna. “Tante kalau terlalu perhatian sama Fardan, Fardan bisa salah paham.” Pancing Fardan. “Ngomong apa sih kamu? Sudah jelas Mama dan Papa kamu yang menitipkanmu sama Tante, jadi Tante harus menjagamu dengan baik.” Elak Mirna. “Kamu cepatlah makan!” perintah Mirna lagi. Fardan tersenyum lalu menatap penampilan dirinya sendiri. “Dengan tubuh telanjang begini?” tanya Fardan pada Mirna. “Pakai baju dulu.” Jawab Mirna dengan wajah memerah. Sikap Mirna yang lembut dan mendominasi sebagai wanita yang membuat Fardan tertarik sekaligus menjadi sosok penggan
*** Pada siang hari, Mirna pergi meeting dengan klien. Semua urusannya berjalan dengan lancar, Mirna merasa lega. Setelah itu setelah pekerjaannya selesai sore hari Mirna kembali ke rumah. Ketika tiba di rumah, Mirna membawa mobilnya masuk dilihatnya motor Fardan berada di garasi. Biasanya Fardan pergi ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas sekolah bersama, apalagi sudah mendekati ujian kelulusan Fardan juga sibuk belajar. Mirna berjalan masuk ke dalam rumah, dilihatnya Fardan duduk tertidur di sofa ruang tengah, Fardan masih menggenggam buku di tangannya. Mirna berjalan mendekatinya lalu mengambil buku dari genggaman tangan Fardan. Mirna juga mengambil selimut untuk menyelimutinya, ketika membungkuk menyelimuti Fardan tiba-tiba Fardan menggenggam pergelangan tangan Mirna dan menariknya rebah tidur di sofa bersamanya. Mirna awalnya terkejut dan menggeliat dari pelukan Fardan tapi begitu mendengar Fardan memanggil-manggil Mamanya, Mirna tidak menggeliat dan membiarkan Fard







