Beranda / Fantasi / Snowborn Sword God / Bab 8: Eksekusi Anak Pungut

Share

Bab 8: Eksekusi Anak Pungut

Penulis: GSilva
last update Tanggal publikasi: 2026-04-02 22:17:43

[Lokasi: Alun-alun Desa Frosheim - Tengah Malam]

Teng... Teng... Teng...

Lonceng desa berbunyi. Suaranya berat

, membangunkan seluruh penduduk Frosheim dari tidur lelap mereka.

Di tengah badai salju yang mengamuk, obor-obor dinyalakan. Warga desa—tukang roti, pandai besi, petani—keluar dari rumah mereka dengan wajah ketakutan. Mereka tahu arti lonceng tengah malam: Eksekusi.

Di tengah alun-alun, sebuah panggung kayu.

Rowan diseret paksa oleh dua penjaga. Tubuhnya dilempar ke atas panggung yang lantainya tertutup es licin. Kedua tangannya diikat rantai besi ke sebuah balok kayu yang berlumuran darah beku lama.

"Lepaskan!" teriak Rowan, suaranya serak. Dia meronta, tapi tubuh kecilnya kalah kuat melawan rantai itu.

"Lihatlah!"

Suara menggelegar Kepala Desa (Baron Frosheim) memecah keheningan. Dia berdiri di atas panggung, mengenakan jubah bulu putih yang mewah—kontras dengan baju Rowan yang compang-camping.

"Warga Frosheim! Malam ini kita menangkap seekor tikus!" Kepala Desa menunjuk Rowan dengan tongkatnya. "Anak pungut dari si penebang kayu miskin, Hans. Dia berani menyusup ke rumahku! Dia mencuri obat-obatan dan makanan!"

"Tolong!" teriak Rowan, matanya nyalang menatap kerumunan. "Aku cuma butuh obat untuk orang tuaku! Ayahku sakit! Ibuku..."

BUK!

Denten, yang berdiri di samping ayahnya, menendang mulut Rowan dengan sepatunya. Gigi Rowan patah. Darah segar menyembur keluar, membungkam pembelaannya.

"Diam, Maling," desis Denten sambil tersenyum puas. "Tidak ada yang peduli pada orang tua miskinmu."

Rowan menatap kerumunan warga. Dia mencari wajah-wajah yang dikenalnya. Dia melihat Pak Tua Penjual Roti yang sering menyapa Hans. Dia melihat istri Pandai Besi yang pernah memuji Maria. Tapi mereka semua menunduk. Tidak ada yang berani menatap mata Rowan. Tidak ada yang berani membela. Mereka takut pada Kepala Desa.

Ah... begitu rupanya, batin Rowan. Hatinya yang panas perlahan membeku. Kebenaran tidak ada harganya di sini. Yang punya kuasa adalah hukum.

"Sesuai Hukum Frosheim," lanjut Kepala Desa, mencabut sebuah pedang dari pinggangnya. Bilahnya berkilau ditimpa cahaya api obor.

"Jari tangan dan kaki yang mencuri di rumah bangsawan harus dipotong.

Warga desa menahan napas. Beberapa ibu menutup mata anak-anak mereka.

Kepala Desa memberi isyarat. Dua penjaga maju, menarik paksa tangan kanan Rowan dan merentangkannya di atas balok kayu.

"Jangan..." bisik Rowan, matanya membelalak horor. Dia bukan takut sakit. Dia takut tidak bisa memegang pedang lagi. "Tolong... ambil telingaku saja... jangan jari..."

Dia mengangkat pedang tinggi-tinggi. Rowan melihat pantulan wajahnya sendiri di bilah logam itu—wajah bocah ketakutan yang tak berdaya.

"Hukum ditegakkan!"

CRACK!

Suara tulang muda yang hancur terdengar lebih nyaring daripada badai. Darah muncrat ke salju putih, menciptakan lukisan abstrak yang mengerikan.

Tiga jari tangan kanan Rowan—Kelingking, Manis, dan Tengah—terputus rapi. Jatuh ke salju seperti ranting patah.

"AAAAARGHHHH!!!"

Teriakan Rowan memecahkan malam. Rasa sakit yang membakar langsung menjalar ke otak, membuatnya hampir pingsan. Dia gemetar hebat, air mata dan ingus bercampur darah.

Tapi siksaan belum selesai.

"Dan sekarang, kakinya," perintah Kepala Desa.

Penjaga menyeret kaki kanan Rowan. Mereka meletakkannya di posisi yang sama.

"Tunggu... kumohon..." Rowan menggeleng lemah. Pandangannya kabur. "Aku janji... aku akan jadi budak... jangan kakiku..."

Kepala Desa tidak ragu sedetik pun. Dia mengayunkan pedang itu dengan kekuatan penuh seorang prajurit pensiunan.

TEBAS!

KRAAAK!

Sekali tebas. Tulang kering kaki kanan Rowan putus total. Kaki itu terpisah dari tubuhnya sebatas mata kaki.

Kali ini, Rowan tidak berteriak. Dia ternganga tanpa suara. Rasa sakitnya begitu hebat sampai sistem sarafnya shut down (mati rasa) sesaat. Matanya memutih, hanya menyisakan pupil kecil yang bergetar.

Tubuhnya ambruk di atas genangan darahnya sendiri.

"Sudah selesai," kata Kepala Desa sambil mengelap darah di pedangnya menggunakan kain putih bersih. "Pelajaran bagi kalian semua. Jangan pernah menyentuh milikku."

"Buang dia ke tempat buangan sampah di perbatasan hutan," perintahnya pada penjaga. "Biarkan dia mati kedinginan bersama sampah lainnya dan jangan lupa bawa jari dan kakinya."

Dua penjaga mengangkat tubuh kecil Rowan yang sudah tidak sadarkan diri seperti karung beras bocor. Darah menetes sepanjang jalan dari alun-alun menuju gerbang desa.

Jari-jari dan potongan kakinya dipungut oleh penjaga.

Malam itu, warga Frosheim kembali ke rumah mereka dengan perasaan mual. Mereka tahu mereka baru saja menyaksikan pembunuhan karakter seorang anak kecil.

Tapi tidak ada yang tahu... bahwa malam itu, mereka tidak membunuh Rowan. Mereka justru sedang membangunkan Iblis.

(Transisi ke Hutan - Usaha Regenerasi)

Rowan menyeret tubuhnya di atas tumpukan sampah busuk. Napasnya memburu, uap putih keluar dari mulutnya yang berdarah.

Di samping kepalanya, tergeletak potongan kaki kanannya yang masih mengenakan Sepatu lusuh. Dan beberapa jengkal dari situ, tiga jari tangannya yang putus terbenam setengah di salju.

"Belum... aku belum mati..."

Rowan memungut tiga jari itu. Dia membersihkan tanah yang menempel dengan mulutnya, lalu menempelkannya kembali ke pangkal jari tangan kanannya yang buntung.

"Sambung... ayo sambung..."

Rowan mengaktifkan kartu as-nya.

"[Skill Aktif: Cellular Regeneration (Rank A)]"

Sistem langsung merespons. Layar merah berkedip di depan matanya.

[PERINGATAN SISTEM] [Mana Tidak Cukup untuk Regenerasi Sempurna!]

Biaya Dibutuhkan: 50 Mana Mana Tersedia: 15 Mana

Rowan tertawa miris. Darah menetes dari sudut bibirnya. "Butuh 50... dan aku cuma punya 15? Hahaha... Bodoh."

"Ambil apa saja! Ambil darahku! Ambil rasa sakitku! Sambungkan sekarang!" teriak Rowan histeris.

Sistem menerima perintah paksa itu. [Mengonversi Vitalitas (HP) menjadi Mana Pengganti...]

SZZZZT!

Cahaya merah pekat keluar dari potongan lukanya. Kali ini, tidak ada cahaya penyembuhan yang lembut. Cahaya itu berubah menjadi puluhan jarum energi kecil yang tajam.

"ARGHHHH!"

Rowan menjerit tertahan. Rasanya seperti ada penjahit gila yang sedang menjahit dagingnya hidup-hidup menggunakan kawat panas.

Serat-serat otot di jari dan tangannya ditarik paksa. Kulit yang terpisah disatukan dengan kasar, meninggalkan celah-celah kecil yang langsung menutup dan mengeras.

Tiga jari itu menyatu kembali. Tapi tidak mulus seperti kulit bayi.

Di sekeliling pangkal jarinya, kini melingkar bekas luka berwarna cokelat tua

Rowan tidak punya waktu untuk mengagumi jari barunya. Dia menyeret tubuhnya ke potongan kakinya. Dia menempelkan pergelangan kaki yang putus itu ke tungkai kakinya. Tulang ketemu tulang.

"Lagi...!"

KRAK! SZZZZT!

Tulang keringnya beradu, bergesekan kasar sebelum dipaksa menyatu oleh benang-benang energi merah itu.

Prosesnya menyakitkan, tapi efektif. Kaki kanannya tersambung kembali. Rowan melihat hasilnya.

Di pergelangan kakinya, kini terdapat lingkaran bekas luka yang sama. Warnanya cokelat gelap, kontras dengan kulit pucatnya. Polanya meliuk-liuk kasar seperti akar pohon yang mencengkeram tanah.

Luka itu terlihat mengerikan, tapi juga memancarkan aura ketangguhan.

Rowan menggerakkan jari kakinya. Kaku, tapi bergerak. Sakit, tapi kuat.

Dia mengusap bekas jahitan kasar di kakinya itu. Teksturnya kasar di ujung jari.

"Ini bukan cacat," bisik Rowan, matanya menyala dalam gelap. "Ini adalah pengingat."

"Denten... Kepala Desa..." Rowan berdiri tertatih. Kakinya yang baru disambung terasa sakit membuatnya berjalan sedikit pincang. Tapi langkahnya mantap.

"Lihat saja nanti. Aku akan membalas setiap goresan luka ini di tubuh kalian... sepuluh kali lipat."

Dia membalikkan badan, meninggalkan tempat sampah itu. Di punggungnya, badai salju menderu, seolah takut pada aura bocah pincang yang baru saja bangkit dari kematian itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Snowborn Sword God   Bab 20: Misi Pengawalan

    Rowan melangkah masuk ke dalam guild, diikuti oleh Sylphi. Suasana di dalam langsung terasa ramai. Beberapa petualang berdiri di depan meja resepsionis, beberapa berbicara santai dengan rekan mereka, sementara yang lain terlihat sibuk merapikan perlengkapan. Namun, yang menarik perhatian banyak orang bukanlah Rowan melainkan Sylphi. Sebagai seorang elf yang cantik dan kulit putih,Tatapan mereka tajam, penuh rasa penasaran. Rowan tahu betul apa yang ada dalam pikiran mereka. Elf di dekat manusia pasti adalah seorang budak. Namun, dia tidak peduli.Sylphi, di sisi lain, merasakan tatapan itu dengan jelas. Meskipun dia sudah terbiasa, masih ada sedikit rasa canggung di matanya. Matanya menunduk, mencoba mengabaikan pandangan yang terus mengarah kepadanya. Namun, Rowan bisa melihat dari sudut matanya bahwa itu masih terasa berat baginya.Rowan meliriknya sekilas. “Jangan pedulikan mereka,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Sylphi. Dengan langkah tegas, dia bergerak m

  • Snowborn Sword God   Bab 19: Persiapan Perjalanan

    Pagi di Kota Lotus terasa cerah dan hangat. Cahaya matahari jatuh lembut di jalanan batu, membuat kota terlihat hidup sejak pagi hari. Pasar sudah ramai, suara pedagang bercampur dengan langkah kaki orang-orang yang berlalu-lalang, sementara aroma makanan dan rempah memenuhi udara.Di tengah keramaian itu, Rowan dan Sylphi berjalan berdampingan.Hari ini mereka tidak sekadar berjalan-jalan. Mereka sedang mempersiapkan perjalanan ke kota berikutnya.Rowan sudah memutuskan untuk tidak menggunakan kereta kuda. Kali ini mereka akan berjalan kaki, bukan hanya untuk menghemat, tetapi juga karena Rowan ingin melatih Sylphi selama perjalanan.Perjalanan itu tidak singkat. Untuk mencapai kota berikutnya, mereka membutuhkan waktu sekitar dua minggu jika berjalan kaki.Itu berarti mereka harus mempersiapkan banyak hal.Makanan, perlengkapan, dan senjata.Rowan berhenti di depan sebuah toko pandai besi. Papan kayu di atas pintu bergoyang pelan tertiup angin, menandakan tempat itu sudah lama berdir

  • Snowborn Sword God   Bab 18: Suara yang Hilang

    [Restoran Kota Lotus]Restoran itu sederhana, tapi ramai. Aroma makanan memenuhi udara—daging panggang, sup hangat, dan bumbu tajam bercampur menjadi satu. Suara tawa, percakapan, dan dentingan gelas saling bertabrakan, membuat ruangan terasa hidup.Namun di tengah keramaian itu, ada satu meja yang terasa berbeda.Beberapa orang melirik. Tatapan sinis. Tidak suka.Sumbernya jelas.Rowan dan Sylphi.Tubuh elf itu masih kurus, kotor, dan lemah. Meskipun tertutup jubah, penampilannya tetap mencolok. Tidak seperti pelanggan lain.Rowan duduk tenang. Tidak peduli.“…makan.”Sylphi langsung bergerak.Tidak bertanya. Tidak menolak.Dia mulai makan.Awalnya pelan. Ragu.Lalu—lebih cepat.Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh makanan hangat itu. Sup yang layak. Daging yang benar-benar daging. Roti yang tidak keras seperti batu.Sudah lama.Terlalu lama.Air mata jatuh.Diam. Tanpa suara.Rowan memperhatikannya sebentar.“…hanya karena ini.”Makanan murah.Namun bagi Sylphi—itu cukup

  • Snowborn Sword God   Bab 17: Yang Terlupakan

    [Ruang Budak – Dalam Gedung]Udara di dalam gedung pasar budak terasa berat dan pengap. Bau keringat, darah, dan kelembapan bercampur menjadi satu, membuat siapa pun yang masuk akan langsung merasa tidak nyaman. Cahaya dari batu sihir di dinding hanya cukup untuk menerangi sebagian lorong, sementara bagian lain tenggelam dalam bayangan gelap.Rowan berjalan perlahan di dalam ruangan itu.Di kiri dan kanan, deretan sel berdiri rapat. Di dalamnya, berbagai ras dikurung tanpa perbedaan—manusia, beastkin, bahkan elf. Tidak ada yang terlihat layak. Beberapa duduk diam dengan tatapan kosong, beberapa terbaring lemah, dan ada juga yang bahkan tidak bergerak sama sekali.Penjaga di sampingnya mendengus pelan. “Jadi, Tuan…” “Mau yang seperti apa?”Rowan tidak menoleh. “…aku mau lihat dulu.”Penjaga mendecak. “…cih.”Dia bergumam pelan. “Banyak juga yang cuma lihat-lihat.” “Ujungnya tidak beli.”Rowan tidak peduli.Dia terus berjalan.Semakin dalam—Semakin gelap.Cahaya batu sihir mulai b

  • Snowborn Sword God   Bab 16: Kota Lotus

    [Gerbang Kota Lotus]Kereta mereka berhenti, pintu kereta terbuka, penumpang turun satu persatu, rowan merasakan udara yang berbeda tidak lagi dingin tapi hangat, rowan turun bagian akhir, matanya langsung melihat kedepan gerbang kota yang besar, orang orang yang ramai mengantri untuk masuk dan keluar.Beberapa anggota guild membantu kusir yang terluka.“Cepat, bawa dia ke pusat pemulihan.”“Lukanya dalam.”Mereka bergerak cepat.Salah satu anggota guild menoleh ke Rowan.“Hei, anak muda.”Rowan berhenti.“Kalau kau cari penginapan…”Dia menunjuk ke arah utara.“…ke sana.”“Kau pasti langsung tahu tempatnya.”Rowan mengangguk.“…terima kasih.”Tanpa banyak kata rowang langsung pergi.[Jalan Kota – Pagi Hari]Kota Lotus yang terasa hiudp lebih ramai dari eldrham, banyak pedagang yang saling berteriak agar pelanggan membeli dagangannya, banyak dagangan berjejer, makanan, senjata, kain. Rowab berjalan pelan matanya bergerak pada sesuatu yang tidak biasa bagi dirinya, sebuah kereta dengan

  • Snowborn Sword God   Bab 15: Perjalanan

    [Hutan Frosheim]Salju masih turun.Tipis.Beberapa sosok berdiri di tengah hutan.Ketua guild.Dan beberapa anggota lainnya.Tanah di depan mereka—berantakan.Tubuh-tubuh tergeletak di atas salju.Darah membeku.Bekas tebasan terlihat jelas.Cepat.Bersih.“…tidak lama.”Salah satu anggota berlutut.Memeriksa luka.“Sekali tebas.”“…tanpa ragu.”Asisten guild menelan ludah.“Guild Master… apakah Anda tahu siapa pelakunya?”Hening.Ketua guild menatap tubuh-tubuh itu.Matanya tenang.Lalu—senyum tipis muncul.“…aku punya gambaran.”Dia menghela napas pelan.“Aku sudah bilang…”Tatapannya sedikit berubah.“…jangan buat masalah di desa.”Hening.“Tapi…”Dia menoleh ke arah hutan yang lebih dalam.“…ini terjadi di luar desa.”Senyumnya melebar sedikit.“…jadi…”“…sulit menyalahkannya.”Beberapa anggota guild saling melirik.“…Anda tidak akan menyelidikinya?”Ketua guild terkekeh pelan.“Yang mati…”“…mencari masalah duluan.”Hening.“…anggap saja ini pelajaran.”Dia berbalik.“Kita sele

  • Snowborn Sword God   Bab 7: Tikus di Gudang Singa

    [Lokasi: Gudang Penyimpanan Kepala Desa]Rumah Kepala Desa adalah satu-satunya bangunan batu dua lantai di Frosheim. Dindingnya licin, dan pagar besi setinggi tiga meter.Bagi orang biasa, ini benteng. Bagi Rowan, ini cuma taman bermain.Wush!Rowan melompati pagar besi tanpa suara. Kakinya mendara

  • Snowborn Sword God   Bab 6: Musim Dingin Neraka

    [Usia Rowan: 12 Tahun] [Lokasi: Gubuk Hans - Desa Frosheim] Musim dingin tahun ini datang membawa dendam . Biasanya, badai salju di Frosheim hanya berlangsung seminggu, memberi jeda bagi matahari untuk muncul sehari, lalu badai lagi. Tapi tahun ini berbeda. Langit tertutup awan hitam pekat selam

  • Snowborn Sword God   Bab 5: Harga Sebuah Daging

    [Lokasi: Gerbang Desa Frosheim] "Wah, lihat," kata Denten, menendang perut babi hutan hasil buruan Rowan. "Si Anak Pungut bawa makan siang buat kita." Denten adalah anak Kepala Desa. Usianya 10 tahun, tubuhnya bongsor karena gizi yang cukup, dan dia punya hobi menyiksa anak-anak yang lebih lemah.

  • Snowborn Sword God   Bab 4: Perburuan Pertama

    [Usia Rowan: 7 Tahun] [Lokasi: Pinggiran Hutan Frosheim - Zona Aman]Tiga tahun kemudian.Hutan Frosheim di pagi hari tertutup kabut tebal. Embun membeku di ujung dedaunan. Suasana sunyi, hanya ada suara derit salju yang dipijak.Rowan, kini berusia tujuh tahun, berdiri diam di balik batang pohon b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status