Se connecter“Temani aku tidur malam ini Ruby.”Ruby mengerjapkan matanya, tangannya menahan dada Demian: memberi sedikit jarak diantara keduanya.“Ma–maksud Bapak?” balas Ruby tergagap.Demian tersenyum tipis. Ia membelai wajah Ruby, lalu tubuhnya ambruk menimpa pundak wanita cantik dengan kucir kudanya itu.“Pak…Bapak…,” panggil Ruby menggoyangkan tubuh Demian.Ruby menghela napas panjang, dengan tenaganya yang tersisa ia memapah tubuh Demian kembali ke kamarnya. Dengan telaten ia melepas sepatu serta kaos kaki yang dipakai oleh Demian. Diambilnya handuk kecil dan dibasuhnya wajah Demian yang sedikit berkeringat. Ia membuka dasi dan dua kancing kemeja bagian atas Demian agar pria itu bisa tidur dengan nyenyak. Usai melakukan tugasnya, ia berjalan ke arah sofa, membaringkan tubuhnya dan bersiap menyusul Demian ke alam mimpi.“Ugghh….” Demian melenguh pelan, matanya mengerjap beberapa kali. Matanya sedikit menyipit, melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu masih menunjukkan puku
Demian duduk di barisan paling depan bersama dengan kepala desa menyaksikan tari-tarian dan pertunjukkan lainnya yang diadakan oleh desa yang tengah dikunjunginya. Acara ini dilakukan setiap tahunnya menjelang panen raya. Di belakang Demian berdiri Ruby dengan wajah lelahnya. Seharian ini ia sama sekali tidak bisa beristirahat dengan benar. Sekamar dengan Demian membuatnya terus was-was, meski orang nomor satu itu tidak melakukan apapun.Acara berlangsung begitu meriah, Demian beberapa kali bertepuk tangan terkesima oleh pertunjukan yang dilihatnya. Beberapa kali Demian terlibat percakapan dengan kepala desa, menanyakan bagaimana desa ini bisa begitu maju meski terisolasi dari dunia luar. Untuk sampai ke desa ini perlu effort yang begitu besar. Selain wilayah permukiman yang sulit dijangkau dan minimnya sarana transportasi, desa ini juga terletak di wilayah geografis yang tidak strategis.“Silahkan dinikmati, ini adalah arak beras buatan desa kami. Saya jamin Anda pasti menyukainya,”
Ruby berdehem beberapa kali, kegugupan menyelimuti hatinya ketika kakinya melangkah masuk ke kamar bersama Demian. Lamat-lamat ia melihat Demian yang saat ini melepas jasnya. Pria itu juga terlihat melonggarkan dasinya, lalu duduk di sofa. Tangannya menutupi wajahnya. Pria itu terlihat lelah.“Mandilah dulu!” kata Demian dengan tangan yang masih menutupi wajahnya. Ia terlalu lelah dan mengantuk. Semalam ia hanya tidur kurang dari dua jam. “Ba–baik,” sahut Ruby tergagap.Tanpa menunggu diperintah dua kali, Ruby segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengunci pintu dan menyandarkan tubuhnya ke pintu untuk beberapa saat sebelum menanggalkan satu persatu pakaiannya. Kakinya yang jenjang melangkah pelan, tangannya bergerak menyalakan shower. Untuk beberapa saat ia memejamkan mata, menikmati tetesan-tetesan air yang keluar dari shower membasahi tubuhnya.Ruby mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Tidur satu kamar dengan Demian sungguh mengganggu hatinya. Ia takut jika kejadian beberapa
Ruby terus menatap kursi dimana Demian duduk. Seingatnya kemarin pria itu mengatakan bahwa tak ada kursi kosong lagi untuk Vivian, namun nyatanya masih ada dua kursi kosong yang tidak ditempati oleh siapapun. Pagi ini dia sudah di dalam pesawat dan bersiap terbang ke salah satu desa terbelakang untuk melakukan blusukan. Demian memang kerap kali melakukan blusukan untuk mengetahui bagaimana kehidupan serta memantau harga pangan di pasar-pasar tradisional.Tak ada hal penting yang dilakukannya saat di pesawat, Ruby hanya menatap kosong ke luar jendela, melihat langit dan memikirkan tentang nasibnya. “Lima belas menit lagi kita akan mendarat, Pak,” kata salah satu paspampres yang duduk di samping Demian.“Hem,” sahut Demian singkat. Ia sempat menoleh ke belakang untuk beberapa detik, melihat Ruby yang seakan tengah menjaga jarak dengannya.Lima belas menit berlalu, Demian berdiri, bersiap untuk turun. Di depannya sudah ada kepala desa dan beberapa orang penting di desa yang dikunjunginy
Ruby menghela napas berat beberapa kali. Matanya menatap layar komputer namun pikirannya melayang kemana-mana. Surat pengunduran diri sudah dibuatnya, alasannya tentu sudah jelas. Semua karena ia merasa malu. Tadi pagi-pagi sekali ia sudah menyerahkan surat pengunduran diri itu, meski tidak langsung diberikannya pada Demian.Rasa sesal dan malu terus memenuhi relung hatinya, karena terlalu mabuk ia lalai menjaga dirinya dan berakhir tidur dengan Demian—orang nomor satu di negaranya. Harusnya ia tidak melakukan itu, harusnya ia menjaga dan melindungi Demian. Bruak! Ruby terperanjat, matanya menatap lurus Demian yang baru saja masuk ke ruang kerjanya. Wajah atasannya itu terlihat kaku dan dipenuhi amarah.“Apa maksudnya ini?!” Demian melemparkan kertas putih ke meja Ruby.“Haruskah aku menerimanya dari orang lain? Tidak bisakah kamu memberikannya padaku secara langsung, atau setidaknya kamu merundingkan ini denganku terlebih dahulu. Kita masih memiliki kontrak kerja sama yang belum se
“Kamu. Wanita yang semalam tidur denganku adalah kamu Ruby." Ruby melongo, otaknya masih berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Demian. "Sa–saya?” ucap Ruby terbata.“Kamu benar-benar tidak ingat?" Sahut Demian. "Semalam kita melakukannya dan saya terpaksa pulang jam tiga dini hari karena masih harus mengerjakan beberapa tugas. Tapi saya sudah meninggalkan catatan untuk kamu,” imbuh Demian panjang lebar.Tubuh Ruby membeku, hatinya masih meragukan tentang apa yang dikatakan oleh Demian, dan dia berharap jika apa yang dikatakan Demian hanya mimpi. Bagaimana bisa dia tidur dengan orang nomor satu di negerinya dan berakhir dengan melupakan itu semua."Catatan? Catatan apa, Pak? Saya sama sekali tidak melihat ada catatan?” tanya Ruby. Bangun tidur tadi dia sama sekali tidak melihat catatan yang dikatakan oleh Demian.Demian memijit pelipisnya. Kepalanya mendadak pusing saat melihat reaksi Ruby. "Saya meninggalkan catatan di atas nakas samping tempat tidur. Saya menuliskan p







