LOGIN“Kamu yakin mau langsung masuk rumah sakit, Sayang?”Arlan menghentikan kalimatnya sejenak. Ibu jarinya bergerak lembut, mengusap pipi Karin yang masih terasa dingin.Wajah wanita itu begitu pucat, sisa trauma dari penculikan semalam masih tergambar jelas di matanya yang sayu.“Konsulen bedahmu pasti paham kalau kamu absen hari ini, Sayang. Jangan dipaksakan. Aku benar-benar tidak tega melihatmu seperti ini.”“Bisa kok, Sayang,” lirih Karin. Ia menggenggam kedua tangan Arlan, menatap kekasihnya dengan sorot mata memohon yang amat dalam.“Kalau aku sering bolos, ujian praktekku gak akan pernah selesai. Aku ingin cepat lulus. Makanya ... tolong izinkan aku masuk hari ini.”Arlan menghela napas berat. Pernikahan mereka nanti bahkan dilewati tanpa sempat mengecap manisnya bulan madu karena jadwal koas Karin yang menggila dan kesibukannya sendiri.Kini, melihat Karin memelas dalam kondisi sekacau ini membuat sudut hatinya perih.“Ya sudah, kalau kamu memaksa,” putus Arlan akhirnya.“Tapi d
Satu dari bodyguard Rion menghajar Arlan dari belakang. Arlan terhuyung, rasa anyir darah mulai terasa di bibirnya. Pakaian rapinya robek akibat tarikan kasar. Di tengah kekacauan itu, seorang petugas keamanan apartemen berlari mendekat.“Pak, tolong saya! Mereka membius dan menculik calon istri saya!” teriak Arlan sambil memasang badannya sebagai tameng, menghalangi mereka membawa Karin lebih jauh.“Jangan ikut campur! Ini urusan keluarga!” bentak Rion kasar, bahkan nekat menarik kerah baju petugas keamanan tersebut.“Pria ini mencuci otak putriku agar mau tinggal bersamanya!”“Maaf, Pak, tapi jangan membuat keributan di sini. Jika ada masalah medis atau keluarga, mari kita selesaikan di kantor polisi sekarang!” tegas sang security.Memanfaatkan celah saat Rion berdebat dengan petugas keamanan, Arlan mengerahkan sisa seluruh tenaganya.Dengan beringas, ia menerjang bodyguard yang menggendong Karin. Hantaman sikut dan kemarahan seorang pria yang takut kehilangan wanita tercintanya mem
Langkah Arlan tertahan di area parkir yang remang.Sorot matanya terpaku pada sebuah mobil yang sangat ia kenali, mobil Rion, Papi Karin.Jantungnya seketika bertalu tidak keruan.Mengapa mobil itu ada di sini, padahal orang yang baru saja naik ke unit Karin adalah Silvi?Gelisah mulai merayap seperti racun. Arlan mencengkeram kemudinya erat, enggan menyalakan mesin.Logikanya mencoba menenangkan diri, mengingatkan bahwa Silvi adalah sahabat terbaik Karin, tak mungkin ada pengkhianatan.Namun, instingnya berteriak sebaliknya.Dengan tangan gemetar, ia mencoba menghubungi ponsel Karin.Nada sambung tidak aktif.“Kemana kamu, Sayang?” bisik Arlan pada keheningan basement. Rasa tidak nyaman yang pekat kini berubah menjadi ketakutan yang nyata. Karin dalam bahaya dan ia tidak boleh pergi.Sementara itu, di dalam unit apartemen, atmosfer terasa begitu mencekik.Silvi duduk di sudut sofa dengan jemari yang saling meremas gemetar, wajahnya sepucat mayat.Di dapur, Karin sibuk menyiapkan minu
“Puas?” tanya Karin, suaranya agak serak saat ia menarik tangannya kembali.Arlan menyeringai.Sebuah kekeh diredam lolos dari bibirnya yang tampak begitu puas. Hasrat purba yang berminggu-minggu ia tahan akhirnya tumpah malam ini, meski hanya lewat jemari Karin, itu sudah lebih dari cukup untuk menenangkan badai di kepalanya.“Makasih, Sayang,” bisik Arlan, lalu mencondongkan tubuh untuk mengecap bibir Karin dengan lumatan lembut.Di dalam dada, Karin menggerutu pahit.Bukannya ia dingin atau enggan menyerahkan segalanya, tetapi ia punya janji keramat pada dirinya sendiri, tidak akan ada penyatuan utuh sebelum janji suci pernikahan terucap.Setelah debar napas Arlan kembali teratur, mereka kembali menghadapi hamparan kertas di atas kasur, mencatat nama-nama yang akan diundang ke pesta pernikahan mereka.Pesta itu akan digelar di sebuah ballroom mewah yang megah, namun dengan barisan kursi yang lengang.Tamunya sedikit, tetapi Arlan memastikan setiap detailnya intim, dengan hidangan b
“Kita udah mau nikah, tapi kamu lebih percaya sama orang lain,” ucap Karin lirih, melemparkan pandangannya kosong ke luar jendela.Dada Karin sesak. Jika tuduhan Arlan benar, bahwa ia bermain api dengan Dimas, Karin tidak akan sudi membuang energi untuk berbohong.Ia pasti akan jujur, menghadapi kemarahan Arlan, lalu pergi.Namun kenyataannya? Hanya ada Arlan di hatinya sekarang. Dan dituduh atas hal yang tidak ia lakukan rasanya sungguh menyakitkan.“Sorry ... please, Sayang,” Arlan memohon. Suaranya serak karena penyesalan. Ia berlutut, meraih kedua telapak tangan Karin, lalu mengecupnya dengan lembut, seolah sedang meminta ampun pada dunianya.Karin menarik napas panjang, menatap Arlan dengan tatapan malas yang menyembunyikan luka.“Setelah ini, pasti bakal banyak orang iseng yang kirim fitnah kayak gitu ke kamu. Terus kamu mau langsung percaya gitu aja?”"Gak, aku gak akan percaya lagi. Aku bersumpah!”Karin membuang muka. Rasa kesalnya belum menguap begitu saja. Bayangan bagaiman
“Capek banget, Sayang. Aku butuh pelukan kamu,” gumam Arlan, suaranya parau menahan lelah begitu melangkah melewati pintu apartemen.Seharian ini fisiknya terkuras habis. Menjelang pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari di minggu ini, Arlan harus berlarian kesana kemari mengurus segala detail seorang diri.Karin, calon istrinya, hanya tahu beres. Bukan karena tidak peduli, tetapi Karin benar-benar buta soal urusan domestik seperti ini.Ditambah lagi, sifat Karin yang introvert dan pemalu membuatnya enggan berinteraksi dengan orang asing, apalagi bernegosiasi soal vendor pernikahan.Karin menyerahkan seluruh kendali kepada Arlan dengan keyakinan penuh bahwa hari besar mereka akan tetap megah dan sempurna.Bahkan soal tamu undangan pun Karin bersikap acuh tak acuh.Dari sedikitnya daftar hadir, Karin hanya mengundang satu nama, Silvi!Baginya, tidak butuh dunia tahu kebahagiaannya, cukup Silvi seorang yang menyaksikan ia melepas masa lajang.“Sini, kamu tidur di pangkuanku,” uca
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert







