LOGINPadahal tinggal sedikit lagi, ia dan Karin akan menikah. Semua persyaratan sudah lengkap, hari ini Arlan juga siapkan tempat hantaran yang mewah untuk lokasi hotel tempat ia dan Karin akan melaksanakan pernikahan meskipun tidak dihadiri keluarga mereka nantinya. “Kamu dimana Sayang?” tanya Arlan frustasi. Sampai malam, tidak ada pergerakan, ponsel Karin sudah tidak lagi menyala. Arlan mengutuk kelakuan Papanya karena telah berani membawa Karin kabur. Entah apa yang Papanya akan katakan pada Karin. Arlan takut apa yang dikatakan Papanya mempengaruhi pikiran Karin untuk mencintainya. Arlan diam dan merenung, ia harus mencari tahu kemana Karin dibawa pergi oleh Papanya. “Halo, Pak Billy pergi kemana hari ini?” tanya Arlan pada Asisten pribadi Papanya. Ia pasti tahu karena ia yang mengurus semuanya. “Maaf Pak, saya tidak bisa mengatakannya.” Telpon itu terputus tapi Arlan tidak berhenti sampai disana. Arlan menghubungi pihak keuangan yang sekarang adalah temannya, dulu Arlan yang me
Besok paginya, Karin siap untuk menemani Kakek Billy ke Bogor. Tapi, Kakek Billy meminta Karin juga membawa pasportnya. Meskipun itu janggal, tetap saja Karin turuti.Pagi sekali Kakek Billy sudah menunggunya di depan rumah, Karin pamit dengan Mami dan Dion sementara Papi tidak pulang, sepertinya tidur dengan para sekretaris pribadinya yang seksi-seksi itu atau korban baru Papinya.“Sudah siap Sayang?” Karin mengangguk. “Oke Kek, udah. Cuma bawa sekoper kecil aja, memangnya kita lama di Bogor?” tanya Karin saat masuk ke dalam mobil. “Tidak, sebentar.” Jadi, untuk apa pakaian yang dibawanya? Banyak pertanyaan di kepala Karin tapi ia memilih untuk diam daripada banyak bertanya. “Kamu sudah sarapan pagi, Sayang?” tanya Kakek Billy. “Hemm belum Kek, buru-buru banget soalnya, aku takut Kakek marah karena nunggu aku.” “Makan saja dulu, Kakek sudah siapkan. Itu jusnya!” Karin makan tanpa berpikir apapun, ia tidak pernah menyangka kalau makanan yang disiapkan Kakek Billy ada obat tidu
Karin tidak mau lagi membalas pesan Arlan, tapi ia tidak bisa tidur. Makanya Karin sibuk bolak balik melihat media sosial dr. Renata. Renata sangat aktif sekali, dalam semalam ia sudah update berapa foto mesra dengan Arlan. “I love you, sayangku. Makasih makan malamnya, aku sayang kamu.” Katanya perpisahan tapi sepertinya ini perayaan. Karin tidak percaya sekali dengan mulut pria. “Padahal aku hanya bersama dengan dia, tapi dia gak bisa putus dengan dr. Renata.”Karin mengumpat setiap kali melihat foto-foto mesra Arlan dan Renata malam ini. Entah Arlan tahu tidak kalau Renata menyebarkannya dan membuat para perawat dan dokter yang kerja di rumah sakit heboh. Pria dingin itu ternyata pawangnya dr. Renata yang cantik dan seksi. Padahal pawangnya Karin, Karin menggerutu dan tidak bisa tidur, Arlan juga tidak menghubunginya lagi. “Kirim foto kamu sekarang!” Di tempat lain, Arlan melihat pesan penuh emosi dari kekasihnya. Kalau dekat begitu gengsi tapi kalau jauh seperti takut sekal
“Besok Karin bisa temani Kakek ke Bogor?” Tumben sekali Kakeknya mengajak ia pergi padahal Mami sedang dirawat di rumah. “Kek, memangnya ada apa di Bogor?” tanya Karin dengan sangat lembut. “Ada acara besar, tidak ada yang bisa datang, sedangkan teman Kakek selama menyempatkan diri kalau Keluarga kita ada acara,” jelas Kakek Billy tanpa membuat Karin curiga, lebih baik dalam sebulan ini, Karin tidak ada di Jakarta. Arlan tetap harus menikah dengan Renata. Keluarga mereka akan menjadi banyak omongan orang kalau menuruti keinginan Arlan. Arlan yang keras kepala tidak akan mundur. Kakek Billy tahu kalau diam-diam Arlan melengkapi berkas untuk menikahi Karin, ia membodohi Karin dengan mengatakan kalau semua berkas itu untuk ujian padahal pendaftaran pernikahan, Billy tidak akan membiarkan rencana Arlan berhasil. “Besok, ya?” Kebetulan Minggu, memang libur. Karin juga Minggu depannya sudah pindah stase karena kemarin baru melaksanakan ujian dan Arlan memberikan ia nilai yang bagus. “
Plak!!!Kakek Billy sedang bicara dengan dr. Arlan dari jauh, mereka ada di kolam renang. Karin hanya melihatnya saja dari ruang keluarganya. Karin terkejut dengan tamparan dari Kakeknya, pasti Kakek sudah tahu kalau Arlan tidak ingin menikah dengan Renata. “Renata menghubungi Papa, katanya kau tidak ingin menikah dengannya?” tanya Billy dengan emosi. Ia tidak pernah begitu marah dengan Arlan, hanya saat ini. Arlan tidak bisa diberitahu, pagi ini saja sudah di rumah Karin, mereka berduaan saja pasti melakukan hubungan intim. “Ya, Pa. Sudah aku beritahu kalau aku tidak mencintainya, kemarin Arlan yang buru-buru. Papa tau betul siapa yang Arlan cintai,” jawab Arlan dengan tegas. “Kau ingin membuat aku mati emosi Arlan?” teriak Billy sambil menyentuh dadanya dengan satu tangan. Jantung Billy sakit sekali, untung ia sudah pasang ring di jantungnya. “Untuk apa Papa memaksa aku menikah, Pa. Papa mau setelah aku menikah, aku langsung cerai dengannya? Itu yang Papa mau? Tangan Billy meng
Karin tidak siap menikah dengannya, Arlan hanya tersenyum saja, ia tidak akan berdebat masalah ini karena semua yang menentukan kapan mereka menikah adalah Arlan. “Oke.” Arlan memeluk Karin dan menenangkannya, mereka tidak akan menikah. Itu yang Karin dapatkan. Untuk saat ini, hari ini. Perdebatan itu selesai. Karin pun tenang, ia mencintai Arlan tapi begitu banyak masalah mereka. Waktu sekarang memang tidak tepat, Arlan pasti mengerti. “Kamu gak marah, dok?” “Gak, kenapa aku harus marah.” Arlan tersenyum dan mengecup puncak kepala Karin. “Makasih udah ngerti aku, dok.” Arlan mengangguk dengan senyum yang penuh arti. Ia sedang berpikir keras menaklukkan hati Karin. Wanita ini benar-benar keras kepala dan tidak mengerti. Kalau mereka tidak cepat, Kakek Billy akan menikahkan Arlan dengan Renata bahkan bisa saja menikahkan Karin dengan Xavier. Karin masuk ke dalam kamar dan langsung tidur setelah ia belajar memasak bubur. Besok orang tuanya akan kembali, kebetulan ia juga tidak ke
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se







