Home / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 251 Rasa Penasaran Karin

Share

Bab 251 Rasa Penasaran Karin

last update publish date: 2026-08-15 13:16:23

“Aku ngerasa kalau aku masih di rumah sakit ini Sil, aku sama dr. Arlan gak akan pernah berpisah,” ucap Karin saat mereka pulang dari rumah sakit.

“Kenapa? Tadi ketemuan lagi di ruangannya?” Karin tidak menutupi itu dari Silvi, ia mengangguk pasrah dan Silvi paham kalau sudah di ruangan Arlan, sudah pasti mereka berdua bercinta.

“Jadi, kamu mau gimana?” tanya Silvi.

“Aku mau cepat lulus stase ini, aku gak sanggup Sil, gak mungkin aku bersama dia, aku benci sama dia sejak dia pilih Renata jadi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 525 Drama Kecemburuan

    Karin dengan cepat menempelkan ponselnya ke telinga, mengabaikan tatapan beberapa perawat yang berjaga di nurse station.Jemarinya bergetar hebat saat mendengar nada mesin operator yang monoton di seberang sana."Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan....""Shit!" Karin mengumpat tertahan, menurunkan ponselnya dengan kasar.Ia mengepalkan tangannya, dirayapi rasa bersalah dan kekesalan yang luar biasa membakar dada.Nomor Laura mati total.Kemungkinan besar wanita itu sedang berada di dalam pesawat medis menuju Singapura, terisolasi dari dunia luar.“Harusnya aku sudah menduga, aku malah santai mendengar curhatan Laura. Sialan!”Karin merutuki dirinya sendiri.Seharusnya ia tahu! Seharusnya ia bisa membaca kelicikan Moreno lebih cepat!Pria biadab itu tidak akan pernah membiarkan korbannya memiliki celah untuk lolos dan memindahkan Laura ke luar negeri adalah cara paling instan untuk memutus radar semua orang.Tanpa membuang waktu lagi, Karin langsung me

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 524 Dipaksa Untuk Patuh

    “Sebenarnya, kista Laura itu mengalami robekan pada dindingnya karena ada tekanan fisik yang dipaksakan. Itu yang membuat kateter word-nya tertarik lepas dan memicu pendarahan hebat semalam.”Suara Arlan terdengar berat di antara denting sendok dan hiruk-pikuk makan siang di kafe seberang rumah sakit. Ia menatap Karin, yang langsung meletakkan garpu dengan tangan bergetar.Karin menghela napas panjang, bersandar lelah pada kursi kafe.“Aku sudah tau, Sayang. Tadi pagi saat aku visit, Laura akhirnya menceritakan semuanya sendiri padaku. Aku benar-benar tidak menyangka kalau Moreno bisa senekat dan sebiadab itu, mengurung Laura di rumah sampai dia terluka parah. Dan yang paling membuatku frustasi, Laura seperti gak punya pilihan untuk lepas dari jeratan pria gila itu.”Arlan mengangguk paham, lalu meminum kopinya sedikit sebelum melanjutkan dengan nada berbisik.“Ini bukan lagi sekadar masalah itu saja, Sayang. Ini masalah bisnis gurita orang tuanya. Aku sudah mencoba menyelidiki latar

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 523 Pudar!

    “Apa hubunganmu sebenarnya dengan Dokter Diego, Silvi?”Laura mengulang pertanyaan yang sama. Membuat Silvi mati kutu. Ruangan yang tadinya bising oleh derap langkah mondar-mandir Silvi mendadak senyap, menyisakan deru pendingin ruangan yang terasa semakin menusuk kulit.Silvi langsung menghentikan langkahnya. Tubuhnya menegang kaku di tempat ia berdiri.Matanya membelalak, menatap Laura yang kini sedang membalas pandangannya dengan sorot mata yang begitu tenang, terlalu tenang untuk ukuran seorang pasien yang baru saja diamuk badai intimidasi. Mulut Silvi sedikit terbuka, namun tidak ada satupun suku kata yang berhasil keluar dari tenggorokannya.Lidahnya mendadak kelu.Dalam hati, Silvi mengutuk dirinya sendiri dengan begitu hebat.Bodoh!“Kenapa aku bisa seceroboh ini menceritakan hal sevulgar itu pada Laura?”Penyesalan yang teramat sangat seketika merayap di dadanya, namun semua sudah terlambat.Kata-kata menjijikkan tentang dirinya yang tidur dan berkeringat bersama Diego sudah

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 522 Hubungan Tanya Status

    "Laura! Kamu beneran dirawat?"Suara berisik itu memotong keheningan ruangan bahkan sebelum pintu kamar rawat tertutup sempurna.Laura kedatangan tamu lagi!Silvi, mantan sahabat Karin, melangkah masuk dengan tergesa-gesa tanpa basa-basi. Ia bahkan tidak berniat menanyakan kabar atau kondisi Laura yang masih pucat di atas bangsal.Wajahnya tampak tegang, dipenuhi kecemasan dan ego yang meletup-letup.Laura yang baru saja melempar kertas memo dari Moreno ke lantai, hanya bisa menatap kedatangan wanita itu dengan kening berkerut.Di atas lantai, tulisan tangan Moreno yang rapi dan puitis dalam bahasa Inggris masih terpampang jelas di atas lembaran tiket first class menuju Paris setelah acara pertunangan.“To my beautiful future wife, I know I’ve made mistakes, but my love for you is real. With this ring and this journey, I promise to leave everything behind. I love you with all that I am. Trust me, I will make you happy forever.”Cih!Laura sempat berdecih dalam hati mengingat pesan men

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 521 Sangat Suka Tubuhmu

    “Kemarahanmu tidak akan mengubah apa pun, Laura. Kamu tetap akan menjadi istriku.”Suara bariton yang berat dan penuh percaya diri itu seketika memecah kesunyian ruang perawatan.Pintu kamar baru saja tertutup rapat setelah dihentak kasar dari luar.Moreno berdiri tegak di sisi bangsal, memegang sebuah buket bunga mawar merah yang sangat besar hingga hampir menutupi separuh tubuh bagian atasnya.Kelopak mawar yang merekah pekat itu tampak begitu kontras dengan atmosfer rumah sakit yang pucat dan dingin.Laura memalingkan wajah ke arah jendela. Kehadiran pria itu seketika memicu detak jantungnya bertalu hebat, memanggil kembali trauma yang belum sempat mengendap sejak kemarin.Moreno meletakkan buket megah itu di atas meja nakas, dengan kasar menggeser keranjang buah milik Karin hingga hampir terjatuh.Ia mendekat, menatap Laura dengan pandangan posesif yang tidak berkurang sedikitpun. Pria itu sama sekali tidak peduli pada kilat amarah yang memancar dari tubuh ringkih sang kekasih.“A

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 520 Jangan Pura-Pura Bodoh!

    “Sialan!”Langkah kaki Karin menghentak keras di atas lantai koridor rumah sakit, meninggalkan ruang rawat Laura dengan dada yang bergemuruh hebat.Jemarinya dengan cepat menggeser layar ponsel, mencari satu nama yang sebenarnya sudah sangat ingin ia hapus dari hidupnya.dr. Dimas!Pria gila itu. Mantan kekasihnya yang manipulatif, yang sempat Karin bersumpah tidak akan pernah sudi lagi ia ajak bicara.Namun demi Laura, kembarannya yang tidak tahu apa-apa, Karin terpaksa membuang ego dan harga dirinya.Begitu panggilan tersambung, Karin bahkan tidak memberikan kesempatan bagi pria di seberang telepon untuk menyapa.“Jauhi Laura, Dimas!” desis Karin tajam, suaranya tertahan agar tidak menarik perhatian perawat yang lalu-lalang.“Aku tau persis isi otak busukmu. Kamu mendekati Laura hanya karena dia punya wajah yang sama denganku, kan? Jangan pernah berani mempermainkan dia, dok!”Di seberang sana, terdengar kekehan kecil yang membuat bulu kuduk Karin meremang.Suara khas Dimas yang ten

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status