INICIAR SESIÓN“Gimana Rin? Kayaknya dr. Dimas dendam sama kamu, tugas untuk kamu kayaknya susah banget,” ucap Silvi sambil melihat judul makalah yang diberikan untuk Karin. Karin menarik napas dalam, entah apa salahnya pada dr. Dimas. Kadang pria itu senyum, kadang juga kesal dengannya. Karin harus mengikuti mood dr. Dimas. “Kamu buat dia marah?” tanya Silvi lagi. “Gak, aku ngobrol dengan dia aja jarang, dia itu kayaknya ada masalah dengan dr. Arlan tapi aku yang kena.” Aneh! Silvi tidak mengerti. Apa hubungan Karin dengan dr. Arlan sampai dr. Dimas membuatnya susah seperti ini? “Kepalaku tambah pusing,” jawab Karin. Menghadapi masalah di rumah, sekarang masalah di rumah sakit yang tidak berkesudahan. Bahkan Karin saja bingung. Apa penyakitnya sudah benar-benar sembuh untuk menyelesaikan tugasnya. “Aku gak bisa bantuin Rin, tugas aku juga banyak.” Karin mengerti, mereka sama-sama punya tugas. Satu-satunya andalan Karin adalah dr. Arlan tapi malam ini Karin sudah mulai mencari sewa aparteme
“Aku gak bisa Pa, kemarin Arlan sudah bilang kalau tidak mau dijodohkan.” Pagi ini Arlan mendapatkan telepon dari Ayahnya yang tidak lain Kakek Karin. Arlan berusaha mengangkat telepon sejauh mungkin dari kamarnya karena takut Karin mendengar obrolan mereka. “Ketemu saja dulu Arlan, kamu lihat dulu gimana wanitanya, kalau cocok baru kalian menikah.” Ayahnya masih saja terus memaksa Arlan. Arlan tahu anak dr. Anwar cantik-cantik tapi Arlan tidak memiliki minat dengan mereka. “Gak bisa Pa, Arlan sibuk. Ada operasi dan pertemuan dengan ikatan dokter hari ini,” jawab Arlan dengan tegas. “Sekali saja Arlan, ketemu berdua. Kamu itu mau pemilihan Direktur rumah sakit yang baru. Kamu mau dr. Anwar jadi tidak memihak padamu?” Sialan! Kata-kata seperti ini membuat Arlan tersadar kalau memang saat ini ia membutuhkan kepercayaan itu. “Ya sudah, oke.” Arlan mengalah, hanya ketemu. Belum tentu mereka berjodoh. Untungnya saat Arlan melihat ke belakang, kamarnya masih tertutup dan Karin masi
“Eumph.” Setiap kecupan yang dilakukan Arlan dinikmati oleh Karin dengan penuh gairah.Napas Karin memburu, mengikis jarak di antara mereka dengan tatapan mata yang sarat akan hasrat.Perlahan tapi pasti, jemarinya yang gemetar bergerak menuju dada Arlan, sesekali tangan Karin memutar lembut menyentuh dada bidang Arlan yang kekar.Tubuh ini sudah pernah mengeksplorasi setiap inci tubuhnya dengan hasrat yang membara.Satu per satu kancing kemeja Arlan dibuka dengan gerakan tergesa-gesa oleh Karin begitu pula dengan Arlan, tak sabar menyingkirkan kain yang menjadi penghalang tubuh Karin.Lidah Arlan sibuk menjelajah rongga mulut Karin sementara jemari Arlan juga gak kalah sibuk di bawah sana.Ahhhh!Desahan lembut lolos dari mulut Karin.“Sabar aja dok, Karin takut lecet.”Arlan melepaskan kecupannya di bibir Karin, mulutnya kini menyentuh rahang ke leher dan berakhir ke gunung kembar Karin. Ahhh! Karin menutup matanya dan meringis setiap kali Arlan menghisapnya dengan rakus.“Suka?”
“Sialan!”Air mata itu menetes begitu deras. Karin tidak bisa menahannya, ia berlari menuju parkiran mobil Arlan.Dengan tangan yang sedikit bergetar, Karin menarik pintu hingga tertutup dengan bunyi dentam yang terburu-buru.Pintu Mercedes-Benz itu ditutup dengan bunyi 'thunk' yang berat dan solid, mengisolasi kemewahan kabin dari hiruk-pikuk jalanan.Suara logam yang bergesekan dan bunyi debam pintu yang berat memantul di dinding lorong parkir yang sepi.Masih hening, Arlan pun hanya melihat Karin merapat ke sudut kursi penumpang tepat di sebelahnya, melipat diri sekecil mungkin. Air mata mengalir deras membasahi pipi Karin, kadang disertai tarikan napas pendek dan berat akibat dada yang terasa sesak.“Kau mau aku membawamu kemana?” tanya Arlan. Arlan melajukan mobilnya dan tidak berharap Karin membalas pertanyaannya dan benar, Karin memilih diam seribu bahasa. Menangis dalam hening dengan wajahnya yang begitu sedih. Arlan pun tidak tega melihatnya.“Kau tidak mau cerita padaku?”
“Wow.”Karin terperangah dengan kejutan yang diberikan Arlan untuknya. Baru masuk saja Karin disajikan lobi yang berkilau marmer Italia, lampu gantung kristal yang megah, aroma diffuser beraroma kayu cendana dan teh putih, sistem keamanan berlapis (private lift).Dari aromanya saja sudah menegaskan betapa elite apartemen yang dihadiahkan Arlan untuk Karin. Hadiah? Karin masih terkejut dengan semua ini apalagi saat Arlan membawanya masuk ke lantai empat puluh. Dari balik jendela floor-to-ceiling berlapis kaca kedap suara di lantai 40, gemerlap lampu ibu kota terlihat seperti hamparan permata yang membeku.Di jantung kawasan segitiga emas Sudirman-Thamrin ini, udara terasa dingin oleh penyejuk ruangan sentral, menyaring sempurna deru knalpot dan debu jalanan Jakarta. Ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sebuah benteng eksklusivitas bagi mereka yang memegang kendali.Seberapa banyak yang dimiliki Arlan? Oh, ya Karin lupa kalau Arlan adalah Pamannya dan pewaris keluarga Wijaya.
“Kita sudah pernah kena sidang, dok. Kau mau kita melakukan itu lagi? Bagaimana kalau mereka memintaku untuk test ulang?” tanya Karin. Karin kesulitan menghadapi gairah Arlan. Pria ini tidak bisa menghentikan hasratnya bahkan tidak tahu tempat. “Aku tidak akan melepaskanmu kecuali kalau kau tidak akan pernah lagi makan siang dengan Dimas,” jawab Arlan dengan tegas.Karin menggeleng pelan dan wajahnya sinis. Mudah sekali Arlan bicara seperti itu sedangkan Karin harus mengikuti aturan supaya ia bisa lulus dengan cepat. “Bukan aku yang mau, dia pembimbingku saat ini. Bagaimana caranya aku menolak? Apa kau dan Dimas punya masalah sebelumnya?” Karin penasaran. Arlan sepertinya pun tidak menyukai Dimas tapi mereka seperti berteman baik kalau sedang kerja. “Aku tidak peduli, kalau kau melanggar aturanku. Aku akan meminta jatahku dimanapun kita berada.” “Oke lakukan saja, kalau kau tidak punya malu,” jawab Karin dengan cepat. Karin tahu kelemahan Arlan, mana mungkin Arlan merelakan ka
Baru saja Karin ingin keluar dari mobil, Karin melihat mobil dr. Dimas mendekati mobil dr. Arlan. Karin pun yang tadinya sudah keluar, masuk kembali. “Dok, ada mobil dr. Dimas,” ucap Karin cemas. Dimas pasti berpikir ada sesuatu yang spesial kalau tahu Karin ada di mobil Arlan apalagi dengan bibir
Semalaman Karin kesal bukan main, ia seperti dipermainkan oleh Residennya. Mood Karin pagi ini benar-benar hancur tetapi ia tetap harus kunjungan ke pasiennya, karena ia harus membuat laporan visit.“Semuanya sudah baik, Bu. Nanti ketika Dokternya datang, Ibu bisa mengajukan untuk pulang,” Haptoph
“Stop, dok! Ini sudah berlebihan… Ah!”Karin tidak percaya kalau Arlan dengan santainya membuka satu persatu kancing kemejanya, menyentuh tubuhnya dengan pelan, tanpa membuat kepanikan akan penyakitnya yang kambuh. Karin melipat bibirnya kuat saat sentuhan itu bukan lagi tentang profesional tetapi
Karin menolak permintaan gila Arlan dan mengabaikan pesannya. “Ngapain juga dia mau video call sekarang, memang aku pacarnya,” gerutu Karin sambil melepaskan semua pakaiannya menuju ke toilet. Tadinya Karin ingin menumpang mandi di apartemen Arlan tetapi situasi tidak memungkinkan untuk berlama







