Beranda / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 415 Main Tapi Tidak Masuk

Share

Bab 415 Main Tapi Tidak Masuk

Penulis: Madamme Yellow
last update Tanggal publikasi: 2026-09-11 13:10:47

Karin melempar pandang ke luar jendela mobil, menyunggingkan senyum tipis yang getir.

Baru saja ia begitu meledak-ledak saat Papinya menelepon. Sebersit rasa bersalah merayap di dadanya karena telah sekasar itu, namun di sisi lain, ada kelegaan yang membuncah.

Selama ini ia selalu membungkam suaranya sendiri, memendam setiap ketidakberesan dalam hidupnya demi menjadi anak yang penurut.

Karin tahu ia jauh dari kata sempurna. Penuh dengan cacat dan cela. Jika bukan karena parasnya yang menawan, m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 471 Dibuat Tidak Berharga

    “Pak Moreno, ada?”Siang itu, Laura berdiri di hadapan gedung pencakar langit yang seolah menantang langit Jakarta.Gedung itu adalah poros kekuasaan Moreno, seorang konglomerat muda yang namanya bertengger di daftar teratas orang terkaya di Indonesia.Moreno bukan sekadar pengusaha, ia adalah pemilik gurita bisnis raksasa, mulai dari konsesi pertambangan batu bara dan nikel yang tak habis direngkuh mata, armada penyewaan alat-alat berat berskala internasional, hingga lini properti mewah yang mencengkeram kawasan elite ibu kota.Tak hanya itu, pengaruh finansialnya menancap kuat dalam bentuk kepemilikan saham mayoritas di berbagai perusahaan multinasional, membentang melintasi selat hingga ke Malaysia dan Singapura.Kesibukan tingkat tinggi itulah yang membuat sang mumpuni kerap bolak-balik ke negara tetangga demi mengontrol aset-asetnya.“Maaf Pak, ada Nona Laura,” ucap sekretaris pribadi Moreno, wanita yang penampilannya selalu tampak terlalu sempurna, sembari melangkah masuk tanpa

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 470 Kekacauan Yang Dibuat Laura

    “Akhhhh! Kebakarannn!”Pekikan histeris Laura memecah keheningan pagi, bersaing sengit dengan bunyi nyaring alarm pendeteksi asap di dapur.Di atas wajan, sebongkah benda hitam legam yang dulunya adalah telur mata sapi kini lebih mirip arang prasejarah.Padahal, tepat sepuluh menit yang lalu, pembantu sudah mewanti-wantinya untuk duduk manis saja di meja makan.Alih-alih membuat Karin, saudari kembarnya, kagum dengan 'bakat memasak terpendam' yang selama ini tidak ada, Laura justru sukses menciptakan kepanikan massal.Karin yang sedang terlelap langsung melompat dari tempat tidur. Tanpa sempat berpikir, ia berlari tunggang-langgang menuju sumber suara.Ia hanya mengenakan lingerie sutra merah marun yang sangat seksi.Di koridor, ia nyaris bertabrakan dengan Arlan yang berlari tak kalah panik.Suaminya itu hanya memakai celana pendek dan kimono piyama sewarna dengan lingerie Karin, yang ikat pinggangnya terikat asal-asalan hingga mengekspos dadanya.Begitu sampai di ambang pintu dapur,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 469 Diambil Orang Lain

    "Suara apa, sih, tengah malam begini?"Laura celingukan keluar dari kamarnya. Alih-alih suasana horor, ia malah mendengar suara samar-samar jeritan seorang wanita yang terdengar seperti sedang... disiksa?“Ahhhh Sayang, pelan-pelan ahhhh….”Laura mengerutkan kening.Pikirannya langsung traveling.“Wah, heboh banget di dalam. Lagi tanding smackdown apa gimana?”Atau lagi kerja bakti memeras keringat massal? Batin Laura mulai traveling ke mana-mana.Meski otaknya menyuruh pergi, kakinya seolah kena lem Castol di depan pintu kamar Karin dan Arlan.Usut punya usut, Arlan yang pulang larut malam ternyata langsung tancap gas menggempur istrinya dengan serangan-serangan 'mematikan' di ranjang.Sadar dirinya sedang menjadi penonton gelap yang tidak diundang, Laura akhirnya kembali ke kamarnya sebelum ketahuan.Sementara itu di dalam kamar, dua sejoli yang statusnya masih hangat-hangat kuku alias pengantin baru ini akhirnya tumbang juga.Maklum, sebagai pasangan sibuk yang jarang di rumah, mer

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 468 Bucin Stadium Akhir

    Tok! Tok!Karin mengetuk pintu kamar tamu tempat Laura mengungsi malam ini. Sesuai janji sucinya, yang agak terpaksa, ia harus merelakan waktu istirahatnya demi mendengarkan dongeng sebelum tidur versi Laura yang menurut Karin sangat tidak penting.Wow! Cekrek.Pintu terbuka dan Karin hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Laura berdiri di sana dengan setelan lingerie super mini yang mengekspos segalanya.Masalahnya adalah Laura itu kembarannya.Jadi, melihat Laura seksi begitu, rasanya seperti melihat diri sendiri versi kurang bahan.Karin langsung celingukan ke kanan dan ke kiri bak buronan kakap. Takut setengah mati kalau tiba-tiba Arlan, suaminya, pulang dan salah peluk.Dengan gerakan secepat kilat, Karin menyelinap masuk, membanting pintu, lalu menyambar bantal terdekat untuk menutupi dada Laura.“Kenapa sih, Rin? Datang-datang kayak abis dikejar PakPol,” protes Laura bingung, menatap bantal yang menempel di badannya.Rasa-rasanya tidak ada yang salah dengan pakaiannya.Toh, di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 467 Boleh Curhat?

    Dimas sukses mengantar Laura sampai ke gerbang rumah mewahnya yang mirip istana di sinetron.Detik itu juga, Dimas baru sadar kalau Laura bukan warga lokal biasa, melainkan anak sultan.Tapi tenang, Dimas tidak minder. Profesi dokternya itu cuma kedok, semacam hobi sampingan biar kelihatan punya kerjaan saja.Aslinya, dia adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis keluarganya yang uangnya tidak berseri.“Dokter gak mau mampir dulu?” tanya Laura dengan suara yang begitu lembut, tipe suara yang bisa bikin es batu langsung mencair.Sumpah demi apapun, Dimas merasa sedang melihat glitch di dunia nyata.Wajah Laura ini kembar siam dengan Karin, bedanya cuma di pembawaan.Laura selembut sutra, sedangkan Karin sekeras kerikil jalanan. Dimas jadi nostalgia.Dulu, Karin juga pernah berada di fase ramah, ceria dan bucin akut kepadanya, sebelum semuanya berubah menjadi sedingin kulkas dua pintu.“Gak perlu, Laura. Sore ini aku ada jadwal operasi. Kamu jangan sedih lagi, ya,” ujar Dimas sok puitis sa

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 466 Dipaksa Menyerah

    Aroma es kopi susu dan wangi tanah basah menguar di antara rimbunnya daun monstera.Di sudut meja rotan yang temaram, ketegangan Dokter Dimas mencair menjadi senyum malu-malu. Ia menggaruk tengkuknya, salah tingkah.“Oh ternyata dr. Dimas bisa merona juga kalau nama Karin disebut,” goda Laura, matanya berbinar jenaka di balik cangkir kopinya.“Ehem….”Dimas berdehem, mencoba menyelamatkan wibawanya yang runtuh.“Laura, tolonglah. Suara kamu bisa kedengaran sampai meja seberang.”“Biar saja! Lagipula, kapan lagi aku melihat seorang spesialis onkologi salah tingkah seperti ini?”Laura tertawa renyah, menikmati momen langka tersebut.Namun, keheningan hangat itu mendadak pecah. Ponsel Laura di atas meja kayu rustic itu bergetar hebat, berdengung panjang menembus musik latar kafe yang tenang.Layar ponsel menyala, menampilkan satu nama. Moreno!Seketika, tawa Laura lenyap. Senyumnya membeku dan binar jenaka di matanya meredup digantikan oleh rasa terkejut yang bercampur dengan kecemasan y

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status