Home / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 415 Main Tapi Tidak Masuk

Share

Bab 415 Main Tapi Tidak Masuk

last update publish date: 2026-09-11 13:10:47

Karin melempar pandang ke luar jendela mobil, menyunggingkan senyum tipis yang getir.

Baru saja ia begitu meledak-ledak saat Papinya menelepon. Sebersit rasa bersalah merayap di dadanya karena telah sekasar itu, namun di sisi lain, ada kelegaan yang membuncah.

Selama ini ia selalu membungkam suaranya sendiri, memendam setiap ketidakberesan dalam hidupnya demi menjadi anak yang penurut.

Karin tahu ia jauh dari kata sempurna. Penuh dengan cacat dan cela. Jika bukan karena parasnya yang menawan, m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 728 Terlalu Cemburu

    Laura akhirnya memilih untuk menginap di rumah Karin, menempati kamar lama saudara kembarnya yang sudah cukup lama kosong.Tak lama setelah taksi sampai, Dimas ternyata sudah tiba di sana. Pria itu menolak menyerah, ia dengan setia menunggu di ruang tamu, berharap besar Laura mau keluar untuk menemuinya.Dimas benar-benar tidak sanggup jika harus berada di rumah sendirian tanpa kehadiran sang istri tercinta.“Kalian kenapa?” tanya Mommy Angelina dengan dahi berkerut cemas saat melihat penampilan Dimas yang begitu kacau duduk termenung di sofa ruang tamu.“Hanya masalah kecil, Mom. Boleh Dimas masuk ke kamar menemui Laura?” tanya Dimas dengan suara serak, menatap memohon pada mertuanya.Mommy Angelina menghela napas panjang, melirik ke arah lorong kamar Karin, lalu perlahan menganggukkan kepalanya memberikan izin.Dimas langsung bangkit dan melangkah cepat menuju depan pintu kamar.Tok... Tok…Ia mengetuk pintu itu dengan perlahan namun penuh harap.“Sayang, buka pintunya!” seru Dimas

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 727 Kamu Sudah Berubah

    Kesempatan emas yang ditunggu-tunggu oleh Moreno akhirnya tiba.Memanfaatkan celah di mana pertahanan kepercayaan Laura terhadap suaminya sedang berada di titik terendah, ia langsung bergerak cepat.Tanpa membuang waktu, Moreno meminta orang suruhannya yang selama ini memata-matai Dimas untuk mengirimkan rentetan foto kedekatan Dimas dengan beberapa mahasiswi koas ke ponsel Laura.Mengingat Laura adalah tipe wanita yang sangat pencemburu, taktik ini terbukti menjadi senjata yang paling mematikan.“Pernikahanmu akan hancur, Dokter Dimas!”Suasana di dalam rumah mereka yang semula tegang seketika memanas hingga ke titik didih begitu layar ponsel Laura menampilkan foto-foto ambigu tersebut.“Ini apa, Sayang?” tanya Laura dengan suara bergetar pelan namun terdengar teramat menusuk, menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Dimas.Dimas yang melihat foto-foto itu seketika menundukan kepalanya, benar-benar murka dengan kelicikan Moreno.Rivalnya itu tahu betul bagaimana cara mengambi

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 726 Please, Jangan Pergi!

    “Laura, ikut aku!”Silvi segera menarik lengan Laura, mengajak wanita itu melangkah cepat menjauh dari ruangan VIP yang terasa begitu mencekik.Ia membawa Laura keluar dari restoran menuju area parkiran yang lebih terbuka.Sebagai sesama wanita, Silvi sebenarnya tidak tahu pasti apa yang benar-benar terjadi di balik pintu rumah sakit itu, namun ia mencoba menenangkan Laura yang tubuhnya masih gemetar hebat.“Laura, tenang dulu! Moreno sengaja memprovokasi agar kamu cemburu,” ucap Silvi, mencoba menyuntikkan logika di tengah emosi Laura.“Dokter Dimas tidak mungkin sendirian melakukan pemeriksaan, meskipun situasi bimbingan itu benar terjadi.”Silvi pernah melewati masa-masa menjadi mahasiswi koas, jadi ia paham betul bagaimana prosedur lingkungan medis bekerja.Tapi….Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Silvi sebenarnya juga didera keraguan yang sama.Sudah menjadi rahasia umum di dunia medis bahwa beberapa dokter konsulen memang kerap terlibat hubungan terlarang dengan koas mereka.

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 725 Percaya Padaku!

    Ponsel di dalam tas Laura berdering nyaring, menampilkan nama Dimas di layarnya.Sebelum beranjak ke restoran Jepang ini bersama Silvi, Laura memang sempat mengirimkan pesan singkat berisi lokasi makan siang mereka kepada sang suami.Tepat saat ketegangan di ruangan sepi itu memuncak, pintu mendadak didobrak dari luar.Dimas yang baru saja tiba di restoran langsung bergegas masuk dan matanya seketika menyalang merah saat melihat Moreno tengah mencengkram paksa pergelangan tangan istrinya.“Lepaskan istriku, Moreno!” bentak Dimas dengan suara baritonnya yang menggelegar, langsung memasang badan dan menyentak tangan Moreno menjauh dari Laura.Dimas pun sudah berada di batas puncak kesabarannya dalam menghadapi segala kegilaan dan teror obsesif yang dilancarkan Moreno selama berbulan-bulan ini.“Oh, Dokter Dimas,” sahut Moreno, perlahan mundur satu langkah sambil merapikan jasnya yang sedikit kusut.Sebuah seringai licik dan penuh kemenangan perlahan terukir di wajah tampannya.“Bagaiman

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 724 Peringatan Terakhir Untukmu

    “Boleh ikut bergabung?”Suara berat yang sangat familiar itu tiba-tiba memecah keheningan meja makan.Sedang asyik menikmati hidangan Jepang premium di depan mereka, Laura dan Silvi terkejut saat Moreno dengan santai langsung menarik kursi dan duduk tepat di sebelah Laura.Laura tidak menyangka Moreno sampai nekat menyusulnya ke restoran ini.Padahal, ia dan Silvi sudah sengaja mengendap-endap pergi lewat pintu belakang galeri demi menghindari pengintaian pria itu.Tetap saja pergerakan mereka ketahuan. Jaringan mata-mata Moreno rupanya bekerja terlalu rapi.“Gak!” jawab Laura ketus dan malas. Ia bahkan tidak sudi lagi menatap wajah Moreno.Matanya tetap fokus menatap potongan A5 Wagyu Beef di piringnya, mencoba mengabaikan kehadiran sang mantan.Moreno sama sekali tidak peduli dengan penolakan kasar itu. Ia tetap bergeming di posisinya, lalu dengan gerakan tenang meletakkan sebuah kotak beludru kecil di atas meja, tepat di samping lengan Laura.Kotak itu terbuka, menampilkan sebuah j

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 723 Dia Tidak Mau Melepaskanku!

    Napas Silvi tertahan sejenak. Ia melihat sosok Moreno sedang duduk santai di sudut luar kafe sembari memegang cangkir kopi, dengan sepasang mata yang mengunci fokusnya menatap tajam ke arah Laura dari sana.“Gilaaa!!!!” pekik Silvi dalam hati, merinding melihat tingkat kepedulian yang sudah melampaui batas kewarasan itu.“Itu mantan pacar kamu, kan?” tanya Silvi pelan, menunjuk tipis dengan dagunya ke arah seberang jalan.Laura mengangguk lemas, bahunya merosot turun.Wajah cantiknya langsung diliputi awan mendung. Laura sudah benar-benar kehabisan cara dan bingung bagaimana lagi cara mengusir pria keras kepala itu.Moreno bahkan sanggup membawa laptopnya dan bekerja seharian penuh di kafe seberang, hanya demi memantau setiap gerak-gerik Laura dari pagi hingga galeri tutup.Kehadiran konstan pria itulah yang selalu memicu salah paham dan membuat ia bersama Dokter Dimas bertengkar hebat akhir-akhir ini.“Kamu stres gak sih kalau dia mulai menggila gitu?” tanya Silvi lagi, ikut merasaka

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status