LOGIN“Sayang, kita beneran pulang hari ini ke Jakarta?” tanya Karin masih tidak percaya.“Ya, Sayang.” Arlan menjawab dengan tenang dan genggaman tangan yang tidak pernah ia lepaskan. Seolah takut Karin akan dibawa pergi oleh orang-orang Matteo. Sebelum matahari terbit, rencana evakuasi cepat yang telah dibayar penuh oleh Arlan berjalan tanpa hambatan.“Kamu naik lebih dulu, Sayang!” Arlan membantu Karin naik ke dalam mobil sebelum ke Bandara. Dengan pengawalan mobil berplat diplomatik dan koordinasi ketat bersama kepolisian Jerman, mereka melewati jalur khusus VIP di bandara tanpa perlu mengantri di terminal umum.Saat pesawat maskapai internasional yang mereka tumpangi mulai bergerak di landasan pacu dan akhirnya take-off melesat menembus awan, Arlan dan Karin saling bertatapan.“Makasih sudah sampai di titik ini, Sayang.” Arlan mengecup kening Karin dengan sangat lama.Lewat jendela pesawat, lanskap Eropa yang dingin per
“Baik Pak Arlan, kita akan atur secepatnya!”Mendengar komitmen dan urgensi dari Arlan, pihak kedutaan langsung menyetujui pengaturan tersebut.Jalur Evakuasi VIP. Pihak kedutaan menggunakan dana mandiri Arlan untuk memesan tiket penerbangan langsung paling aman menuju Jakarta.“Saya hanya minta, saya dan istri saya sampai di Jakarta dengan selamat tanpa ada yang mengintai kami dari belakang.”Arlan juga meminta pengawalan ketat. Otoritas kedutaan mengatur skema pengawalan menggunakan kendaraan taktis berpelat diplomatik untuk mengantar mereka langsung ke apron bandara, melewati jalur belakang, VIP Tarmac Access, guna menghindari terminal umum yang mungkin diintai orang-orang Matteo.Kemudian Kerjasama dengan kepolisian federal Jerman (Bundespolizei) diaktifkan untuk memastikan pengawasan ketat selama proses boarding.Arlan rela membayar mahal semua itu demi nyawa istrinya, lebih baik ia kehilangan hartanya daripada kehilangan Ka
“Ah, shit!”Berapa kali Arlan mengumpat dalam perjalanan ini karena ia kebingungan.Perjalanan tanpa panduan GPS digital terasa begitu panjang dan menegangkan. Tanpa ponsel di tangan, Arlan sepenuhnya mengandalkan papan penunjuk jalan berwarna kuning khas jalanan luar kota Jerman dan bahasa Jerman-nya yang seadanya.Beberapa kali ia harus menepi di pom bensin kecil, menggunakan bahasa Inggris dipadu isyarat tangan yang terbata-bata untuk menanyakan arah kepada warga lokal demi memastikan mereka tidak masuk kembali ke jalur jebakan Matteo.Sialan!Karin yang duduk di sampingnya berusaha keras untuk tetap tenang. Ia memegang peta kertas yang dibeli Arlan di pom bensin terakhir, bertindak sebagai navigator manual dengan mata yang terus waspada menyisir spion, memastikan tidak ada lagi SUV hitam yang membuntuti mereka.Setelah beberapa jam berkendara dalam ketegangan yang menguras mental, siluet tiang bendera dengan kain Merah Putih
“Sayang, aku takut banget.”Karin menangis!Bagi Karin, ini semua seperti mimpi buruk yang menjadi nyata. Dia hanyalah wanita biasa yang mendambakan liburan romantis di Eropa, bukan aksi kejar-kejaran maut di atas aspal Autobahn Jerman yang membeku.Ketakutan yang sempat berhasil ia tekan di stasiun Zurich kini meledak menjadi kepanikan total yang melumpuhkan akalnya.“Sayang, tatap mata aku! Menunduk dan pegang tanganku dengan erat!” teriak Arlan tegas, mencoba menenangkan kepanikan istrinya.Sopir taksi berteriak panik saat bumper SUV hitam di sebelah kanan menghantam badan taksi dengan keras.Bunyi gesekan besi yang memekakkan telinga beradu dengan jeritan histeris Karin. Karin menangis sejadi-jadinya, menutup telinganya rapat-rapat dan meringkuk di lantai kursi belakang dengan tubuh bergetar hebat.Arlan mengepalkan tinjunya dengan frustasi. Ia sama sekali tidak punya senjata. Paspor palsu dan pemeriksaan ketat di pe
“Sayang, apa kita pulang aja ke Jakarta?”Sepertinya sekarang Karin sudah tidak ingin lagi jalan-jalan kalau jadi target buruan Mafia. Karin bahkan tidak pernah berpikir hidupnya akan semenarik ini. Tapi bukan berarti Karin bahagia disukai pria seperti Matteo. Ini gila!“Aku akan pikirkan Sayang.” Arlan juga sebenarnya sudah berpikir seperti itu tapi takut mengecewakan Karin, kejutan yang Arlan siapkan untuk istrinya masih sangat banyak dan perjalanan mereka harus berhenti sesingkat ini. Keputusan Arlan sangat tepat dan cepat. Berkeras menghadapi jaringan Matteo Costra di stasiun utama yang asing sama saja dengan bunuh diri.Dua stasiun sebelum stasiun akhir, Munchen Hauptbahnhof, kereta cepat ICE dari arah barat biasanya akan berhenti terlebih dahulu di Stasiun Augsburg Hauptbahnhof, setelah itu melewati stasiun pinggiran kota Munchen-Pasing, baru kemudian berakhir di pusat kota Munich.Dengan turun dua sta
“Kita gak jadi liburan ke Swiss, Sayang," ujar Arlan pelan namun pasti saat mereka bersiap di stasiun interkoneksi Swiss.“Liburan kita masih tiga minggu lagi. Pihak Matteo pasti mengira kita akan kabur sejauh mungkin ke timur. Jadi, kita akan mengambil rute memutar ke negara tetangga terdekat dari Swiss untuk menghilangkan jejak sama sekali, baru setelah itu kita selesaikan misi kita keliling Eropa.”Karin mengangguk setuju, matanya memancarkan semangat. Ketakutannya kini telah berganti menjadi keberanian untuk mendampingi Arlan.Dengan paspor di tangan dan penyamaran yang lebih matang, mereka bersiap menembus perbatasan menuju destinasi baru tersebut.Arlan bertindak taktis demi menjamin keselamatan mereka. Kereta cepat Intercity-Express Deutsche Bahn menjadi pilihan transportasi darat paling cepat dan aman untuk melintasi perbatasan Jerman secara instan.Hanya dalam waktu kurang dari 3,5 jam, kereta peluru ini akan membawa mereka meles
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di







