LOGINKereta Eurocity melaju semakin cepat meninggalkan Laguna Venesia, membelah daratan Italia Utara menuju Milan.Di dalam gerbong kelas satu yang tenang, Arlan masih belum bisa menurunkan kewaspadaannya. Matanya yang tajam melirik ke arah cermin kecil di dinding pembatas gerbong.Di ujung sana, dekat pintu penghubung antar-gerbong, duduk seorang pria misterius bermantel gelap.Pria itu berpura-pura membaca koran, namun matanya terus-menerus melirik ke arah kursi Arlan dan Karin.Yang membuat dada Arlan berdesir waspada adalah ponsel yang terus menempel di telinga pria itu. Ia tampak berbisik dengan nada intens, sesekali mengangguk, seolah sedang melaporkan setiap pergerakan target kepada seseorang di seberang telepon, yang tak lain adalah Matteo Costra.“Arlan, apa mereka masih mengawasi kita?” bisik Karin dengan suara bergetar. Ketakutan kembali merayap di wajahnya saat ia menyadari pria di ujung gerbong itu tidak melepaskan pandangan dari mereka.Arlan mengangguk!Karin tahu mereka tid
Pria psikopat yang terbiasa mendapatkan apa saja, yang langsung terobsesi dan gelap mata hanya karena sekilas melihat kecantikan serta senyuman manis wanita Asia di sebuah kafe Venesia.Tidak bisa dipungkiri Karin memang memiliki pesona kecantikan yang luar biasa.Mendengar pengakuan jujur yang sarat penyesalan itu, hati Arlan melunak. Amarahnya pada Matteo tidak boleh berimbas pada istrinya. Ia meraih kedua tangan Karin, mengecup jemarinya dengan lembut untuk memberikan ketenangan.“Hei, tatap aku, Sayang!” pinta Arlan dengan nada yang sangat lembut namun penuh keyakinan.Karin mendongak, menatap mata tajam suaminya yang kini memancarkan kehangatan murni.“Itu bukan salahmu, Sayang. Sama sekali bukan. Kamu hanya menjadi dirimu sendiri, wanita yang baik hati dan ramah. Yang salah adalah pria itu. Dia monster yang gak waras,” ucap Arlan, menghapus air mata di pipi Karin dengan ibu jarinya.“Jangan pernah menyalahkan dirimu atas kegilaan orang lain. Tugasmu sekarang hanya satu, percaya
Alih-alih menuju tangga utama Palazzo Papadopoli yang megah dan terbuka, Arlan menuntun Karin menuju lift servis di ujung lorong, sebuah jalur yang tadi sempat dibisikkan oleh Vito sebelum Arlan berlari ke atas.Lift berdenting pelan, lalu membawa mereka turun melintasi lantai-lantai hotel hingga berhenti di area basement yang menjadi pusat operasional staff.Begitu pintu lift terbuka, bau harum panggangan roti dan aroma kopi dari dapur hotel langsung menyengat hidung, kontras dengan situasi mencekam yang sedang mereka hadapi.“Tuan Arlan! Lewat sini, cepat!”Sebuah bisikan tertahan memanggil mereka.Itu Vito!Pria paruh baya itu sudah berganti pakaian dengan jaket tebal biasa, melepaskan jas rapi resepsionisnya demi membaur.Wajahnya terlihat tegang saat ia melambaikan tangan, mengisyaratkan mereka untuk mengikutinya melewati lorong sempit di balik dapur utama.“Orang-orang Matteo sudah mulai bergerak ke area dermaga depan,” bisik Vito sambil terus berjalan cepat memandu mereka.“Ber
“Semoga Karin masih di kamarnya, Ya Tuhan.”Arlan memacu langkahnya menaiki tangga marmer Palazzo Papadopoli, mengabaikan detak jantungnya yang berpacu liar karena adrenalin dan kemarahan.Lorong-lorong megah hotel butik itu terasa begitu panjang dan menyiksa.Pikirannya dipenuhi bayangan buruk tentang Matteo Costra dan anak buahnya yang mungkin saja sudah bergerak mendekati suite mereka.Begitu sampai di depan pintu kayu kokoh Alcova Tiepolo Suite, Arlan tidak lagi memikirkan kesopanan. Ia mendorong pintu itu dengan hentakan kuat hingga terbuka lebar.Brak!!!Suara pintu yang membentur dinding membuat Karin terlonjak kaget. Ia tengah berlutut di samping koper besar mereka di sudut ruang tidur racoco, bersiap mengunci resletingnya.Di samping koper itu, beberapa tas belanjaan berisi souvenir khas Venesia dan sebuah topeng pesta berhias ukiran emas, yang mereka beli kemarin di dekat Jembatan Rialto, sudah tertata rapi.“Sayang? Astaga, kenapa sih? Seneng banget deh ngejutin orang!”Kar
“Ehem!”Karin berdehem pelan, mencoba mengalihkan pembicaraan agar detak jantungnya tidak semakin menggila.“Sudahlah, jangan bahas pria itu lagi, Sayang,” ucap Karin sambil merapikan tas kecilnya.Pria tadi memang tampan, tapi Karin tidak tertarik. Ia sudah punya suami dan jujur saja tato di tangannya menyeramkan, seperti mafia-mafia. Karin lupa sedang berada dimana mereka. “Oh iya, setelah dari sini, kita harus mencari oleh-oleh, Sayang. Aku ingin membeli topeng Venesia yang cantik dan mungkin beberapa perhiasan dari kaca Murano. Kamu mau menemaniku, kan?”Arlan tersenyum, ketegangan di wajahnya langsung luntur mendengar semangat istrinya.“Tentu saja. Apapun yang kamu mau Sayang, akan ku temani seharian ini.”Namun, kehangatan yang kembali tercipta di meja mereka sama sekali tidak mengubah fakta bahwa sebuah obsesi gelap telah tersulut.Pria lokal yang baru saja ditolak mentah-mentah oleh Arlan adalah Matteo Costra, putra bungsu dari salah satu dinasti keluarga paling berpengaruh
“Dingin banget ya, Sayang. Kita mau kemana?” tanya Karin sambil meniup kedua telapak tangannya dan Arlan yang merangkul Karin lembut.“Nanti kamu juga tau, Sayang.” Arlan menjawab dengan penuh cinta.Pagi musim dingin di Venesia terasa begitu magis. Kabut tipis menggantung di atas kanal-kanal yang tenang, sementara semburat matahari terbit mulai mencairkan sisa embun beku di ujung-ujung bangunan kuno.Mereka menuju Caffe Florian, sebuah kafe legendaris di Piazza San Marco, kehangatan begitu kontras dengan udara dingin di luar.Di salah satu meja sudut, Arlan dan Karin sedang menikmati sarapan ikonik mereka. Di atas meja marmer kecil itu, tersaji dua cangkir Frisson, cokelat panas khas Venesia yang kental dengan whipped cream dan sepiring Fritole, donat musim dingin khas Venesia yang bertabur kismis dan gula halus serta sepotong Torta Nicoletta, kue puding roti tradisional yang manis dan lembut.Karin menyuap sepotong kecil kue, lalu menatap Arlan dengan mata berbinar-binar, tak sabar
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a







