LOGINTok... Tok…Karin mengetuk pintu UKS dari luar dengan ketukan yang cukup keras.“Sialan!” umpat Silvi di dalam hati.Jantungnya hampir saja melompat keluar dari dada.Baru juga mau mulai menikmati puncaknya, ketukan itu merusak segalanya.Karin benar-benar tidak mengerti situasi kalau dirinya sedang melancarkan modus tingkat dewa dengan Pak Guru tampan ini.“Dokter Silvi, kita nungguin kamu aja nih. Sudah waktunya pulang!” teriak Karin dari balik pintu lorong sekolah.Silvi mendesah kecewa dalam hati.“Hiks! Padahal tinggal sedikit lagi terapi kesehatan palsu ini berhasil.” lirih Silvi dalam hati.“Okey, Dok! Tunggu sebentar!” sahut Silvi dengan nada suara yang dibuat senormal mungkin.Dengan gerakan kilat dan panik, Silvi bergegas merapikan dirinya sendiri. Ia kemudian membantu Revan memakaikan kembali celana pendek dan celana panjang olahraganya.Tangannya bergerak super cepat, takut jika ada orang lain yang mendadak mendobrak masuk lalu melihat tingkah mereka dan akhirnya berujung
“Ayo masuk, Pak Guru!”Ternyata, Pak Guru olahraga yang baru Silvi ketahui namanya adalah Revan ini benar-benar mengira ia akan mendapatkan suntikan medis sungguhan di dalam UKS.Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan bernuansa putih itu, Silvi langsung berbalik.Dengan gerakan cepat dan senyap, ia menutup pintu rapat-rapat lalu memutar kunci dari dalam.Sebagai wanita yang sudah sangat berpengalaman dalam urusan seperti ini, Silvi sengaja menguncinya agar tidak ada guru atau murid lain yang tiba-tiba datang mengacaukan suasananya.Revan yang berdiri di dekat ranjang periksa tentu tidak menyadari siasat licik di balik senyuman manis sang dokter.“Kenapa pintunya dikunci, Bu Dokter?”tanya Revan dengan raut wajah yang mulai panik. Rasa gugup terlihat jelas dari caranya meremas jemarinya sendiri.Silvi berbalik, melangkah mendekat dengan senyuman yang teramat lembut dan menenangkan.“Supaya gak ada orang lain yang masuk, Pak Guru. Nah, sekarang Pak Guru buka celananya dulu ya, saya mau
“Hari ini pasti capek banget,” ucap Karin melihat betapa banyak pekerjaan yang harus ia lakukan.Pagi itu di Puskesmas, suasana tampak sibuk. Karin dan Silvi sedang merapikan peralatan medis ke dalam tas jinjing.Hari ini mereka menjadwalkan pemeriksaan kesehatan rutin untuk anak-anak di salah satu Sekolah Dasar setempat.Sejak tadi bersiap, Karin memperhatikan ada yang berbeda dari sahabatnya. Silvi terus saja menyenandungkan lagu dengan binar mata yang cerah.“Kamu kok senyum-senyum aja dari tadi? Kayak mau ketemu gebetan aja,” tebak Karin sambil memasukkan botol alkohol ke dalam kotak.Silvi terkekeh renyah.Sahabatnya itu memang selalu tahu apa yang sedang bergejolak di isi hatinya.Hubungan Silvi dengan Aldy kini sudah berubah. Sejak istri sah Aldy tahu perselingkuhan mereka, Aldy hanya bisa datang menemuinya seminggu sekali.Kondisi ini justru memberi Silvi napas baru. Ia merasa bebas untuk berkenalan dengan pria manapun sekarang, asalkan Aldy tidak mengetahuinya.Ditambah lagi,
“Apa yang membuatmu datang ke kantorku?” tanya Arlan langsung. Suaranya terdengar dingin dan penuh selidik.Arlan tahu pasti, Moreno punya tujuan tersendiri di balik manuver gilanya ini. Pria itu tidak akan membuang-buang uang jutaan dolar hanya untuk investasi biasa.Moreno hanya tersenyum tipis, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai.“Apa aku tidak boleh datang ke sini? Bukankah kau lihat sendiri aku punya lima belas persen saham? Sudah tentu aku punya hak atas satu ruangan di rumah sakit ini, bukan?”Arlan mengepalkan tangan di bawah meja. Apa yang Moreno katakan itu memang benar.Secara hukum korporasi, dengan kepemilikan saham sebesar itu, ia berhak mendapatkan fasilitas ruangan khusus.Tapi, untuk apa semua itu jika Moreno sendiri tidak bekerja sebagai praktisi medis atau staf manajemen di sini?“Aku hanya ingin tahu bagaimana rumah sakit ini berjalan,” tambah Moreno, melirik berkas di depannya dengan tatapan meremehkan.Arlan menatap Moreno dengan pandangan sinis
Setelah menyemprotkan parfum baru ke seluruh tubuhnya, Arlan merasa sangat percaya diri. Ia yakin wewangian premium yang ramah ibu hamil ini tidak akan membuat Karin mual lagi.“Pasti setelah ini kamu peluk dan cium aku.”Malam itu, dengan langkah tegap dan dada membusung, Arlan mulai beraksi. Ia sengaja berjalan petantang-petenteng mondar-mandir di lorong depan kamar Karin.Kebetulan, pintu kamar istrinya sedang terbuka lebar. Arlan sengaja memperlambat langkahnya, berharap Karin melihat ketampanannya dan langsung berlari memeluknya karena rindu.Namun, yang terjadi justru di luar ekspektasi.Begitu aroma parfum itu tertiup angin dan masuk ke kamarnya, wajah Karin langsung memucat karena takut.Rasa mual yang teramat sangat mendadak menyengat ulu hatinya. Karin tidak sanggup menahan gejolak di perutnya.Tanpa sempat menyapa suaminya, ia langsung berbalik dan lari terbirit-birit menuju wastafel di dalam kamar.Huekk!Mendengar suara itu, Arlan tertegun di ambang pintu. Karena Karin ta
Malam ini, sekat yang memisahkan mereka bukan lagi sekadar jarak satu meter di atas kasur, melainkan dinding beton yang tebal.Setelah pulang dari rumah sakit, Arlan terpaksa mengalah dan pindah ke kamar tamu yang berada tepat di seberang kamar utama mereka.Dari balik pintu yang sengaja dibuka sedikit, Arlan hanya bisa menatap bayangan Karin yang sedang bersiap untuk tidur.“Sayang, aku kangen kamu,” bisik Arlan lirih dari ambang pintunya sendiri. Suaranya terdengar menyedihkan, menggantung di lorong sepi yang memisahkan kamar mereka.“Apa kita harus beda kamar seperti ini?”Karin berjalan mendekati pintunya, memandang Arlan dari kejauhan dengan tatapan bersalah.Hatinya perih melihat suaminya seperti anak ayam yang kehilangan induk. Ia juga tersiksa.Namun, setiap kali Arlan melangkah mendekat ke kamarnya, indra penciuman Karin langsung bereaksi.Rasa mual itu langsung naik ke dada, siap memaksanya muntah hebat hingga lemas.“Sabar ya, Sayang. Aku juga kangen banget sama kamu,” sahu
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert







