LOGIN“Kita harus bertemu, Karin diculik!”Panggilan darurat segera tersambung. Arlan tidak lagi peduli dengan ego atau prosedur formal. Ia langsung menghubungi Dimas, membeberkan kenyataan pahit tentang hilangnya Karin.“Diculik?” tanya Dimas.“Ya, Moreno yang melakukannya. Dia gila! Aku juga sudah menghubungi koneksiku yang lain untuk membantu menemukan Karin. Moreno menyembunyikannya dengan sangat rapi.”Didorong oleh rasa frustasi yang memuncak, mereka tidak hanya menggerakkan Aldi yang menguasai jaringan informasi jalanan, tetapi juga mengetuk pintu koneksi yang jauh lebih masif.“Aku juga akan membantumu, Dokter Arlan. Tenanglah!”Dimas, sebagai dokter spesialis onkologi terkemuka, pernah menyelamatkan nyawa seorang istri jenderal bintang empat yang memegang jabatan tertinggi di instansi militer.Mantan pasien yang sangat berhutang budi padanya itu langsung mengerahkan unit intelijen khusus taktis begitu mendengar kabar bahwa adik ipar sang dokter diculik.Ketiga kekuatan besar, hukum
Jantung Arlan rasanya seperti berhenti berdetak sesaat. Pasokan udara di sekitarnya mendadak terasa mencekam.Hubungan telepon dengan Silvi terputus begitu saja setelah Arlan mengucapkan terima kasih dengan suara tercekat.Firasatnya langsung memburuk.Karin Sendirian!Di Puskesmas yang sudah sepi. Di tengah banyaknya gosip keluarga mereka dan Moreno yang sedang menggila di luar sana.Arlan langsung meraih kunci mobilnya dan berlari keluar ruangan, mengabaikan tatapan bingung dari sekretarisnya. Ia memacu mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi menuju Tangerang.Pikirannya berkecamuk, membayangkan skenario terburuk yang bisa menimpa istrinya.Begitu tiba di Puskesmas, suasana sudah benar-benar lengang. Arlan melangkah lebar masuk ke dalam koridor yang sunyi.Langkah kakinya menggema, menuntunnya langsung menuju ruang poli umum tempat Karin bekerja.Pintu ruangan itu sedikit terbuka.Begitu Arlan mendorongnya, pemandangan di dalam ruangan membuat dunianya seolah runtuh.Ruang
“Bawa masuk dia ke mobil!” perintah Moreno.Semuanya terjadi begitu cepat.Karin bahkan tidak memiliki waktu untuk mencerna ancaman Moreno. Dua pria berbadan tegap dengan setelan hitam legam mendadak muncul dari balik punggung Moreno, langsung mencengkram kedua lengan Karin dengan kukuh.“To….”Sebelum Karin sempat membuka mulut untuk berteriak meminta pertolongan, tubuhnya sudah diangkat setengah diseret, dibawa paksa keluar melalui selasar yang sepi menuju parkiran belakang.Sore itu, Puskesmas benar-benar tak berdaya melindunginya.Petugas keamanan yang biasa berjaga di depan sedang keluar untuk makan siang, menganggap situasi akan aman-aman saja seperti hari biasanya, sebelum ancaman bernama Moreno datang merusak segalanya.Sebuah mobil SUV hitam dengan kaca pekat sudah menunggu dengan pintu yang terbuka. Tubuh Karin didorong kasar ke dalam kursi penumpang, disusul oleh Moreno yang duduk tepat di sebelahnya.“Kamu mau apa, hahh?”Karin berteriak histeris, napasnya memburu karena p
"Aduh, banyak banget lagi pasiennya," ucap Karin begitu sibuk pagi ini. Di sudut lain kota, keriuhan yang berbeda sedang dihadapi oleh Karin.Hari ini adalah pekan pertama Karin memulai masa internshipnya.Sebagai istri dari seorang Direktur Rumah Sakit, Karin sebenarnya punya jalur instan. Ia bisa saja meminta penempatan di klinik mewah atau rumah sakit besar di bawah kendali suaminya.Namun, Karin menolak keras. Ia bersikeras mengikuti aturan resmi yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan melalui sistem seleksi komputerisasi nasional.Alhasil, nasib membawanya terdampar di sebuah Puskesmas padat pengunjung di kawasan Tangerang.“Rin, serius Dokter Dimas udah nikah sama Laura, kembaran kamu?” bisik Silvi yang duduk di sebelah Karin.Saat itu, ruang poli umum sedang sedikit senggang setelah gelombang pasien pagi mereda.Mereka berdua duduk bersebelahan di balik meja periksa, menghadap tumpukan rekam medis pasien.Karin hanya menyunggingkan senyum kecut. Jemarinya pura-pura sibuk me
“Sayang?” panggil Laura.Langkah kaki Laura terasa ringan saat menuruni anak tangga satu per satu.Sejak membuka mata pagi tadi, sisi kasur di sebelahnya sudah mendingin.Dimas tidak ada di sana.Namun, rasa sepi itu mendadak menguap begitu indra penciumannya menangkap aroma gurih bawang putih dan mentega yang ditumis, menuntun langkahnya langsung menuju dapur.“Sayang kamu ngapain?” tanya Laura dengan senyum lembutnya.Di depan kompor, seorang pria bertubuh tegap sedang sibuk membalikkan nasi di atas wajan.Pemandangan itu membuat Laura tak bisa menahan senyumnya. Dimas, sang dokter spesialis onkologi yang biasanya tampak berwibawa dengan jas putih dan stetoskop, kini terlihat begitu handal dengan apron sewarna sage yang melekat di tubuhnya.Laura mendekat. Ia langsung melingkarkan kedua lengannya di pinggang Dimas dari belakang, menyandarkan pipinya di punggung tegap sang suami.“Kamu ganteng banget kalau lagi begini, Sayang,” bisik Laura lembut, tepat di dekat telinga Dimas.Dimas
“Kita sudah sampai, Sayang.” Dimas berbisik di telinga Laura yang masih terlelap, ia tidur sepanjang jalan menuju rumah Dimas.“Ah, iya Sayang. Maaf aku ketiduran.” Laura tersenyum begitu lembut. Mobil berderit halus saat berhenti di depan sebuah rumah bernuansa hangat. Dimas mematikan mesin, lalu segera turun untuk membukakan pintu untuk Laura.Gerakannya tangkas, penuh kesiapsiagaan seorang suami baru sekaligus seorang dokter yang tahu benar bahwa fisik dan batin istrinya baru saja melewati badai besar setelah prosedur kuret itu.Di dalam rumah, aroma teh kamomil yang menenangkan langsung menyambut mereka.Dimas memastikan Laura duduk nyaman di sofa dengan bantal penyangga di punggungnya, sebelum ia meletakkan map tebal berisi berkas-berkas penting di meja kerja.Itu adalah dokumen yang separuh malam tadi ia susun, syarat-syarat untuk meresmikan pernikahan siri mereka secara hukum di pengadilan agama.Dimas ingin melindungi Laura sepenuhnya, menjadikannya istri yang sah di mata neg
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K







