LOGIN“Dasar bodoh!”Di balik tirai jendela villa yang tebal, pendaran hijau keunguan dari Aurora Borealis mulai menari-nari di langit malam yang membeku.Namun, Moreno sama sekali tidak sedang menikmati keindahan fenomena alam itu.Tatapannya tertuju pada salah satu layar monitor di ruang kendali privatnya.Sepasang matanya yang tajam menangkap siluet dua pria yang sedang mondar-mandir di bawah tebing, Arlan dan Dimas.Moreno menyunggingkan senyum seringai yang dingin.Kedatangan tamu tak diundang itu sama sekali tidak mengejutkannya. Ia sudah bersiap untuk segala skenario.Pria manipulatif itu tahu betul, Arlan dan Dimas tidak akan pernah bisa menembus benteng pertahanannya.“Ini Monaco, bukan Indonesia,” batin Moreno dengan sombong.Di negara hukum seketat ini, kepolisian setempat tidak akan sudi menggeledah properti privat milik konglomerat asing tanpa adanya surat izin resmi dan bukti fisik yang kuat.Dan saat ini, Arlan sama sekali tidak punya bukti hukum kalau Karin ada di dalam vill
“Sayang, sabar! Sebentar lagi kita akan bertemu.”Langkah Arlan terasa berat saat memasuki kantor Surete Publique, otoritas kepolisian Kepangeranan Monako.Napasnya memburu, wajahnya kusut dan matanya merah karena kurang tidur. Di tangannya, ia mencengkram erat sebuah map berisi dokumen penunjang, foto-foto Karin, salinan paspor, bukti manifes penerbangan pribadi milik perusahaan Moreno, hingga rekaman ancaman telepon terakhir yang sempat ia terima.“Istriku hilang, dia diculik dan dibawa kabur ke Monako. Ini semua buktinya!” ucap Arlan dengan suara bergetar dalam bahasa Inggris yang fasih, menyerahkan map tersebut kepada petugas interogasi di hadapannya.Petugas polisi Monako itu menatap Arlan dengan ekspresi datar yang profesional.Untuk orang asing dari Indonesia seperti Arlan, mencari seseorang yang hilang di negara terkaya dan terpadat di dunia ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.Monako memang wilayah yang sempit, namun dipenuhi labirin gedung pencakar langit, kasino me
“Sayang, aku kangen banget sama kamu.”Karin menatap keluar jendela villa, memandang hamparan salju yang seolah tak berujung.Jauh di lubuk hatinya, sebuah rasa sesak kembali menyeruak. Ia pernah bermimpi, suatu saat nanti ia akan berdiri di bawah langit malam yang menakjubkan, menggenggam erat tangan Arlan sambil menyaksikan keindahan Aurora Borealis.Namun ironi takdir justru mencampakkannya ke tempat ini, terperangkap bersama pria asing yang penuh dendam.Karin tahu ia tidak bisa melakukan apa pun.Tempat ini benar-benar terisolasi dari peradaban. Berteriak meminta tolong pun hanya akan membuang energi karena suaranya akan ditelan sunyi.Moreno telah mengatur semua rencana ini dengan begitu sempurna, tanpa cela. Dengan sistem penjagaan ketat yang mengelilingi villa, celah untuk melarikan diri terasa mustahil baginya.“Kamu melamunkan apa, Dokter Karin?"Suara berat Moreno tiba-tiba terdengar, diiringi hembusan napas hangat tepat di belakang tubuh Karin yang seketika membuatnya terk
Tut!Sambungan telepon itu akhirnya terputus, meninggalkan keheningan yang kembali merayap berat di dalam kabin jet pribadi.Moreno perlahan menurunkan ponselnya. Pria itu mendadak diam seribu bahasa.Kedua matanya yang memerah menatap kosong ke depan. Detik lalu ia bisa mengejek Laura dengan tawa kepuasan yang kejam, namun kini topeng itu runtuh.Di balik ketenangannya yang dingin, badai emosi sedang bergemuruh hebat di dalam dadanya.Laura kejam!Jauh di lubuk hatinya, Moreno menjerit frustasi. Wanita itu sekarang terasa begitu jauh, begitu sulit dijangkau. Moreno bukan pria bodoh, ia sangat tahu bahwa jarak di antara mereka sudah tidak sama lagi.Kenyataan bahwa Laura telah menjadi milik pria lain adalah duri yang tertancap dalam dan sangat menyakitkan.Moreno menghembuskan napas berat, mencoba mengusir sesak. Ia lalu menoleh ke samping, menatap Karin yang duduk dengan anggun.“Kau takut?” tanya Moreno, memecah keheningan.Wanita di sampingnya ini begitu cantik.Garis wajahnya pers
Di tengah deru mesin pesawat yang membelah awan, ponsel di saku jas Moreno mendadak bergetar dan berdering nyaring.Layarnya menyala, menampilkan sebuah nama yang seketika membuat suasana kabin berubah.Laura!Moreno sama sekali tidak terkejut.Seulas senyum dingin terbit di wajahnya, ia sudah tahu kalau momen ini cepat atau lambat pasti akan terjadi.“Ehem!”Sebelum menyentuh layar untuk menerima panggilan, Moreno berdehem pelan.Dengan gestur yang sangat tenang, ia merapikan jasnya yang sebenarnya sama sekali tidak kusut, menjaga wibawanya tetap sempurna.Di kursi sampingnya, Karin duduk dengan posisi tegak dan kaku.Di depannya tersaji hidangan mewah kelas satu, yang ia nikmati dengan gerakan lambat demi mengalihkan ketakutan.Secara fisik, Moreno memang tidak pernah menyiksanya.Pria itu memperlakukannya dengan fasilitas terbaik. Namun bagi Karin, setiap detik berada di dekat pria ini adalah siksaan mental yang luar biasa.Sungguh aneh, terkurung dalam kemewahan yang terasa sepert
“Kau mengajakku kemana lagi, Moreno! Stop! Aku mau pulang, pulangkan aku!” teriak Karin begitu kesal. Tapi, Moreno tidak peduli. Gemuruh mesin pesawat jet pribadi itu seolah menjadi latar belakang dari keheningan yang mencekam di dalam kabin. Di kursi premium seberangnya, Moreno terpaku. Tatapannya lurus ke depan, namun jemarinya bergerak monoton, mengusap layar ponsel yang menampilkan senyum Laura. Laura? Wanita yang seharusnya duduk di sampingnya untuk menikmati rute bulan madu impian ini. Moreno telah merancang semuanya dengan sempurna. Rute romantis untuk melihat Aurora Borealis. Namun takdir menamparnya keras. Laura kini telah menjadi istri Dokter Dimas. Kenyataan itu menghancurkan hatinya, menyisakan luka menganga yang enggan ia tunjukkan pada dunia. Rencana Dokter Arlan untuk menjemput Karin di Monaco dengan pesawat jet perusahaan telah gagal total. Moreno bergerak lebih cepat. Ia membawa Karin pergi, menjadikannya pion dalam bidak catur balas dendamnya. Mereka pantas
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”







