로그인“Investasi untuk proyek di kelapa gading akan segera cair begitu dokumen kesepakatan awal ditandatangani,” suara Papi Moreno terdengar mantap, menyela keheningan semu di antara dua anak manusia itu.Daddy Laura mengangguk antusias, tampak sangat terikat dengan angka-angka fantastis yang baru saja disebutkan.Moreno memanfaatkan momen itu. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Laura yang masih bersikap dingin.Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang penuh kendali.“Pak Vincent,” panggil Moreno memotong pembicaraan para orang tua, membuat atensi seisi meja kini tertuju padanya.“Mengenai investasi dan perluasan bisnis yang kita bahas tadi ... saya rasa akan jauh lebih kuat jika kita mengikatnya dengan kepastian hukum yang lebih personal.”Daddy Laura menaikkan alisnya, tertarik.“Maksudmu, Moreno?”Moreno mengalihkan pandangannya langsung ke manik mata Laura, mengunci tatapan wanita itu.“Saya sudah menyiapkan draft perjanjian khusus. Keluarga Moreno akan menyunti
“Sayang ….”Karin menerobos masuk ke ruangan Arlan dan langsung memeluknya begitu erat, hampir membuat tulang rusuk Arlan berbunyi krek.Arlan sempat terharu, mengira istrinya sedang butuh kehangatan dan sandaran jiwa setelah seharian menghadapi kejamnya dunia.Siang itu, ruang direktur terasa seperti zona meditasi darurat.Cahaya matahari menyusup melalui kaca besar, menyinari piring makan siang yang masih mengepulkan aroma hangat.Karin langsung duduk setelah memeluk Arlan dan memandangi makanannya seolah-olah nasi goreng di hadapannya bisa mendadak bicara dan menjelaskan rumus kalkulus.Sendok di tangannya bergerak acak, mengaduk makanan tanpa niat menyuap.“Ada apa?”Arlan memperhatikannya sejak tadi dengan alis berkerut, menimbang-nimbang apakah istrinya sedang kesurupan atau hanya sedang mode mogok makan.Ia tahu diam Karin bukan sekadar diam. Ada beban berat yang sedang dipikul istrinya.“Silvi minta maaf lagi,” ucap Karin akhirnya. Suaranya pelan sekali, nyaris kalah saing den
“Karin!” Tangan Laura melambai, ia melihat Karin di koridor dan kebetulan Laura ada di rumah sakit ini.Kening Karin berkerut, kembarannya ini sekarang sering sekali datang ke rumah sakit. Entah sengaja bertemu dengannya atau memang berobat di rumah sakit ini.“Aku boleh cerita?” tanya Laura sambil menggandeng tangan Karin. Karin mengangguk dan mengajak Laura ke ruang koas. Hanya tempat itu yang aman untuk mereka dan tidak ada yang akan mengganggu. Pintu ruang koas kembali terbuka. Laura melangkah masuk dengan sisa rasa tidak nyaman di tubuhnya.Laura baru saja melewati prosedur medis yang cukup menguras energi, Dimas baru saja selesai merapikan kateter word yang terpasang di area intimnya akibat kista bartholin yang dideritanya.Laura berjalan perlahan, lalu duduk dengan lambat ke sofa di sudut ruangan dengan helaan napas panjang.Wajahnya tampak lelah, namun ada kilat emosi lain yang menuntut untuk dikeluarkan. Ia datang siang itu murni hanya ingin bercerita dan menumpahkan keluh k
“Aku tau percuma minta maaf tapi aku akan coba lagi,” ucap Silvi. Sudah berulang kali Silvi minta maaf tapi tidak pernah Karin mau memaafkannya, bahkan pagi ini ia masih baik membantu Karin yang terlambat presentasi, Karin pun tetap dingin. Siang itu, udara di dalam ruang istirahat koas terasa begitu mencekam. Silvi berdiri di depan meja sahabat lamanya itu dengan tubuh gemetar dan mata yang mulai sembab. Di hadapannya, Karin duduk dengan posisi tegak, wajahnya sedingin es, sama sekali tidak menampilkan riak emosi. “Rin, aku minta maaf ... aku mohon, maafkan aku,” suara Silvi pecah, air matanya kini luruh tanpa bisa ditahan lagi. “Aku gak pernah punya niat sedikitpun untuk menghancurkan keluargamu. Tolong pahami posisiku, Rin. Lagipula ... Papi Rion sudah duda sejak Mami Kaina meninggal. Aku gak merebutnya dari siapapun sekarang.” Silvi menarik napas pendek, mencoba mengatur suaranya yang serak. “Dan soal hubunganku dengan Diego ... itu murni atas kehendakku sendiri. Aku tidak
Langkah kaki Diego terdengar tegas di sepanjang koridor, namun pikirannya berkecamuk.Begitu pintu lift tertutup dan ia sendirian, ia langsung merogoh ponsel dari saku jas putihnya dan menekan sebuah nama.“Silvi, ke tangga darurat lantai tiga sekarang. Kita perlu bicara,” ucap Diego tanpa basa-basi begitu telepon tersambung.Hanya butuh waktu tiga menit sampai pintu besi tangga darurat itu terbuka, menampilkan sosok Silvi dengan napas sedikit terengah.Wajah cantik mahasiswi koas itu tampak cemas.Diego langsung melangkah mendekat, menatap Silvi lekat-lekat.“Karin sudah mengadukan hubungan kita dengan Arlan.”Mata Silvi membelalak sempurna. Wajahnya mendadak pucat, kehilangan rona darah.“Apa? Karin?”Silvi menyandarkan punggungnya ke dinding pembatas tangga, mendadak merasa lemas.“Demi Tuhan, Dok ... aku sudah takut dari kemarin. Ternyata benar firasatku. Akhir-akhir ini perawat di bagian obgyn sudah mulai menyindirku. Mereka membicarakan betapa seringnya aku keluar masuk ruanganm
“Duduk!”Aroma kopi hitam dan sterilisasi khas rumah sakit menguar di antara mereka.Di ruang kerja Arlan yang tertutup rapat, atmosfer terasa berat, namun anehnya, ada ketenangan yang dingin di sana.Diego duduk bersandar di kursi hadapan Arlan. Punggungnya tegap, wajahnya tanpa ekspresi, seolah-olah ia hanya dipanggil untuk membahas jadwal operasi pasien bedah sesar, bukan soal skandal moral.Sebagai sesama dokter spesialis obgyn, mereka tahu persis cara menjaga ketegangan emosi di bawah jas putih yang mereka kenakan.Diego sudah bisa menebak arah pembicaraan ini sejak kakinya melangkah melewati pintu.Ini pasti soal Karin. Dan tentu saja, soal Silvi, koas yang kemarin menghabiskan waktu bersamanya dibalik pintu terkunci.Arlan meletakkan cangkir kopinya, bunyi detak keramik beradu dengan meja kaca terdengar begitu nyaring di ruangan yang sepi.“Ada apa, Dokter Arlan?” tanya Diego sudah mulai penasaran. Tumben sekali sahabatnya ini memanggilnya di jam krusial. Matanya menatap Diego
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert







