Share

Bab 694 Suami Hebat!

last update publish date: 2026-10-31 12:44:47

“Setelah itu, ada proses ovum pick-up atau pengambilan sel telur langsung dari indung telur menggunakan jarum khusus lewat panduan USG transvaginal. Baru kemudian sel telur itu dipertemukan dengan sperma Bapak di laboratorium untuk menjadi embrio, sebelum akhirnya disuntikkan kembali ke dalam rahim.”

Arlan kemudian menjabarkan resikonya dengan jujur.

“Resikonya tentu ada, Pak. Calon ibu bisa mengalami Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS) atau pembengkakan indung telur kalau respons hormonny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 697 Hapus, Aku Mohon!

    “Kamu masak sendiri, Sayang?” Laura mengangguk pelan. Dimas tersenyum lebar saat membuka kotak bekal berwarna pastel yang dibawakan oleh istrinya. Aroma nasi hangat dan lauk buatan Laura langsung memenuhi ruangan.“Wah, ini wangi banget, Sayang. Masakan kamu selalu yang terbaik,” puji Dimas tulus, mencoba mencairkan kecanggungan di antara mereka.Namun, Laura hanya duduk bergeming di kursi seberang meja kerja Dimas.Pandangannya kosong, menatap lurus ke arah wadah makanan tanpa benar-benar melihatnya.Pikirannya melayang jauh.Melihat istrinya yang terus melamun, Dimas meletakkan sendoknya. Ia meraih jemari Laura, menggenggamnya erat untuk memberikan keyakinan.Padahal, sejak koas muda itu keluar, Dimas sudah berulang kali menjelaskan dari sudut pandang medis bahwa ia tidak melakukan tindakan yang menyimpang sedikit pun. Ia adalah seorang dokter profesional.Mana mungkin ia berani melakukan hal senonoh di jam kerja, apalagi ada perawat senior yang mendampingi di dalam ruangan.“Sayan

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 696 Gangguan Gairah

    “Lepasin, Moreno! Please, aku sudah punya kehidupan baru!” bentak Laura. Ia berusaha sekuat tenaga merenggut pergelangan tangannya yang dicengkram erat.Namun, alih-alih melepaskannya, tatapan Moreno justru semakin menggelap karena penolakan.Obsesi gila yang membakar otaknya membuat pria itu kehilangan kendali diri. Tanpa memperdulikan penolakan Laura, Moreno merangsek maju, mencengkram dagu wanita itu dengan kasar, lalu membungkam bibir Laura dengan sebuah ciuman yang rakus dan penuh pemaksaan. Ujung lidahnya memaksa masuk dan memburu di dalam sana. Plak!!!Suara tamparan yang teramat keras bergema di dalam kabin mobil yang sempit.Laura mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki untuk mendaratkan telapak tangannya di pipi kanan Moreno.Napasnya memburu, matanya berkaca-kaca karena kombinasi rasa takut dan amarah yang luar biasa.“Aku ini istri orang! Dan aku gak pernah ada niat sedikitpun untuk selingkuh dari suamiku! Jadi, tolong! Jangan pernah dekati aku lagi!” jerit Laura dengan

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 695 Aneh!

    “Sempurna!”Pagi yang cerah di rumah sakit tidak membuat suasana hati semua orang ikut terang.Di salah satu sudut koridor eksekutif, Moreno berdiri di ambang pintu sebuah ruangan baru.Di daun pintu itu, papan nama berkilap sudah terpasang rapi, menandakan posisinya sebagai salah satu pemilik saham utama.Moreno tersenyum puas, melipat kedua tangan di dada. Berada di dalam gedung ini memberikan keuntungan besar baginya.Dari sini, ia bisa mengawasi gerak-gerik Dokter Dimas dengan leluasa. Dan yang paling penting, ia memiliki peluang besar untuk sering bertemu dengan Laura.Berdasarkan informasi yang ia kumpulkan, Laura memiliki kebiasaan rutin datang setiap siang hari hanya untuk mengantarkan bekal makan siang untuk suaminya.Namun, kesenangan Moreno terusik oleh satu hal. Ia segera meraba saku jasnya, mengambil ponsel, dan menghubungi sebuah nomor dengan panggilan suara yang tersambung cepat.“Luna, apa koas yang kau kirim itu amatiran?” tanya Moreno.Suaranya ditekan rendah namun p

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 694 Suami Hebat!

    “Setelah itu, ada proses ovum pick-up atau pengambilan sel telur langsung dari indung telur menggunakan jarum khusus lewat panduan USG transvaginal. Baru kemudian sel telur itu dipertemukan dengan sperma Bapak di laboratorium untuk menjadi embrio, sebelum akhirnya disuntikkan kembali ke dalam rahim.”Arlan kemudian menjabarkan resikonya dengan jujur.“Resikonya tentu ada, Pak. Calon ibu bisa mengalami Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS) atau pembengkakan indung telur kalau respons hormonnya berlebihan. Rasanya bisa sangat nyeri di perut, mual, bahkan sesak napas. Belum lagi tekanan psikologis dan fisik selama proses suntik berkali-kali itu.”Mendengar penjelasan detail dari Arlan, Aldi di seberang sana tampak semakin mantap dan yakin untuk tetap membawa program ini ke klinik terbaik di Singapura demi kenyamanan dan fasilitas yang lebih privat.Arlan sengaja memancing dengan nada santai, berpura-pura tidak tahu apa-apa.“Memangnya, siapa yang mau menjalani program bayi tabung ini,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 693 Siapa Yang Mau Bayi Tabung?

    “Kenapa sama Silvi, Sayang?” tanya Arlan lembut. Ia yang sedang berbaring nyaman di ranjang sambil memeluk Karin langsung menyadari perubahan raut wajah istrinya setelah menerima telepon.Karin menoleh, menatap suaminya dengan tatapan serius.“Pak Aldi mau program bayi tabung, Sayang. Dia ada nanya-nanya sama kamu gak hari ini?”Sebagai seorang Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Kandungan) Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi (Sp.OG, KFER), Arlan adalah pakar utama di rumah sakit dalam menangani masalah kesuburan, hormon reproduksi, dan program bayi tabung (In Vitro Fertilization/IVF).Mendengar pertanyaan Karin, Arlan langsung mengangguk paham.“Memang ada pagi ini dia nanya ke aku di rumah sakit,” jawab Arlan jujur.“Dan aku bahkan sempat tawarkan, kalau dia mau ambil program bayi tabung denganku, aku gak akan minta bayaran sepeserpun alias gratis. Aku pikir ... program itu buat istrinya, si Briella.”Karin menghela napas panjang lalu menggelengkan kepalanya. Arlan m

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 692 Kamu Harus Mau!

    Di dalam toilet yang terkunci rapat, Silvi duduk meringkuk dengan dada yang sesak.Sambil menyalakan keran air agar suaranya tersamar, ia menyalakan ponsel rahasianya dengan tangan bergetar dan langsung menghubungi Karin lewat panggilan suara.Saat ini, Aldi masih berada di ruang kerja rumah mewah itu. Silvi tidak tahu dan tidak peduli apa yang sedang pria itu lakukan di sana.Di mata Silvi, jika Aldi punya istri dan anak yang sah, seharusnya pria itu pergi saja dan hidup tenang bersama keluarga bahagianya, bukan malah terus-menerus mengurungnya di sini.“Rin, Aldi makin gila,” bisik Silvi begitu panggilan tersambung. Suaranya serak menahan tangis.“Dia minta aku program bayi tabung buat anak cowok. Cuma karena Briella mau anak cowok!”Dari seberang telepon, Karin yang sedang bersantai di rumahnya langsung terperanjat.“Apa sih maksudnya, Sil? Kalau Briella emang gak suka sama kamu, minta aja sekalian sama Pak Aldi buat putusin kamu sekarang juga. Beres, kan?”“Makanya, Rin! Aku kesel

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status