LOGINUdara di dalam restoran yang tadinya hangat, seketika berubah sedingin es. Kalimat Mahesa menggantung di antara kami, tajam, dingin, dan tepat sasaran. Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya.
Aku hanya mampu menunduk, pura-pura sibuk dengan sisa carpaccio di piringku, meski rasanya kini seperti menelan kerikil tajam. Makan malam itu berakhir dengan keheningan yang penuh selidik. Mahesa tidak mendesakku lebih jauh, sebuah kemurahan hati yang justru membuatku merasa semakin telanjang di hadapannya. "Saya antar kamu pulang," ucap Mahesa singkat saat kami melangkah keluar dari La Vetra. Aku ingin menolak dan mengatakan bahwa sopir Papa akan menjemputku, tapi sedan hitam metalik miliknya sudah berhenti tepat di depan lobi. Mahesa membukakan pintu untukku. Aroma kabin mobilnya, perpaduan antara kulit berkualitas dan parfum maskulin yang samar terasa jauh lebih menenangkan daripada aroma rumahku sendiri. Perjalanan berlangsung tenang. Musik jazz instrumental mengalun pelan dari radio. Jakarta malam mengalir di balik kaca; lampu merah, papan reklame, dan bayangan gedung-gedung tinggi yang seolah siap menelan langit. "Kita sudah sampai," ucapnya lembut saat mobil berhenti di depan gerbang tinggi kediaman Djayadi. Aku melepaskan sabuk pengaman, lalu menoleh padanya. "Terima kasih untuk makan malamnya, Mahesa." Ia mengangguk, sudut bibirnya terangkat tipis. "Sama-sama, Sekar. Istirahatlah." "Selamat malam, Mahesa." Aku turun dan menutup pintu. Ia menungguku sampai aku benar-benar melangkah masuk ke teras rumah, lalu mobilnya pergi perlahan. Meninggalkan perasaan kosong yang aneh. Bukan kecewa, bukan lega, hanya menggantung. *** Begitu kakiku melangkah masuk ke ruang tamu, sisa kehangatan dari Mahesa menguap seketika. Papa sudah duduk di sofa tunggalnya dengan lengan kemeja yang digulung kasar. Di sampingnya, Rena menyesap teh dengan senyum tipis yang mencurigakan. "Bagaimana?" Papa langsung berdiri. Suaranya menggelegar di ruangan yang sunyi. "Apa yang dia katakan? Dia menyukaimu, kan?" Aku berhenti di tengah ruangan, merasa kerdil di bawah sorot lampu kristal yang menyilaukan. "Makan malamnya lancar, Pa." "Bukan itu yang Papa tanya!" Papa melangkah mendekat, matanya menelisik wajahku seolah sedang memeriksa barang dagangan. "Apa dia mengajakmu bertemu lagi? Apa ada tanda hubungan ini berlanjut? Apa dia menyinggung soal kelanjutan bisnis keluarga kita?" Aku meremas tas tanganku. Kebohongan sudah di ujung lidah, tapi tatapan tajam Mahesa di restoran tadi membuatku sadar bahwa berbohong hanya akan memperpanjang penderitaanku. "Dia tidak menjanjikan pertemuan kedua, Pa," jawabku jujur. "Dia hanya mengajak makan malam dan mengobrol biasa. Tidak ada komitmen apa-apa." Wajah Papa seketika berubah merah padam. Ia mendengus kasar. "Hanya makan? Sekar, Papa sudah mengatur semuanya! Kamu seharusnya bisa membuatnya bertekuk lutut. Kamu pakai gaun itu, kamu dandan secantik itu, masa tidak ada hasil sama sekali?" Jadi, Papa mengakui kalau aku cantik? Terbersit rasa getir yang bercampur senang di hatiku. Ironis, pujian itu keluar hanya saat aku dianggap gagal sebagai alat tukar. Rena meletakkan cangkir tehnya dengan denting pelan yang disengaja. Ia menghampiri Papa, mengusap bahunya seolah menenangkan, namun matanya menatapku dengan binar kemenangan yang nyata. "Mungkin memang bukan tipenya, Mas," ucap Rena dengan suara lembut yang berbisa. "Mahesa Dinata itu seleranya tinggi. Tidak semua perempuan bisa mengimbangi kharismanya. Lagipula, kita tidak bisa memaksakan selera seseorang, kan?" Rena menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu mencibir pelan pada gaun satin biru tua yang kupakai. Gaun ini kamu yang pilihkan, kamu juga turut andil dalam kegagalan malam ini, Rena! "Harusnya kamu berikan pakaian yang lebih bagus!" bentak Papa pada Rena. "Kesempatan menjadi besan keluarga Dinata tidak datang dua kali!" "Mas," wajah Rena memerah, ini pertama kalinya aku mendengar Papa meninggikan suara pada ibu tiriku itu. "Kita kan sudah berbesan dengan keluarga Adhitama. Bahkan Nadira tidak perlu bantuan kita untuk mendapatkan suami dari kalangan atas." Tentu saja. Nadira diberi panggung untuk bergaul dengan mereka, sementara aku dikurung di rumah ini. Aku menelan kata-kata itu bulat-bulat. Aku tidak punya energi untuk membela diri. Tubuhku pegal, dan batinku jauh lebih lelah. Tanpa menunggu pertengkaran mereka usai, aku membungkuk sedikit gestur sopan yang sudah mendarah daging, lalu melangkah pergi. "Sekar! Kita belum selesai!" teriakan Papa sarat akan kekecewaan. Aku berhenti sejenak di ambang lorong, membelakangi mereka. "Maaf, Pa," ucapku datar. "Aku lelah." *** Di kamar, aku mengunci pintu perlahan. Lampu kupadamkan, menyisakan cahaya temaram dari lampu meja. Gaun biru tua itu kulepas, membiarkannya meluncur jatuh ke lantai seperti kenangan yang ingin kubuang. Baru saja aku berbaring dengan piyama sederhana, ponselku bergetar hebat di atas meja rias kecil, setidaknya begitulah aku menyebut meja kayu kasar buatan bapak pengurus taman yang kasihan padaku. Jantungku berdegup kencang saat melihat nama di layar. Shaka. Pria yang seharusnya sedang menikmati masa bulan madu dengan adik tiriku, Nadira, justru mencariku di tengah malam yang menyesakkan ini. Rasa hampa yang tadi ditinggalkan Mahesa dan luka yang digoreskan Papa mendadak berganti dengan sensasi adrenalin yang gelap. Dengan tangan gemetar, aku mengangkat telepon itu. "Halo?" "Berani-beraninya kamu melarikan diri, Sekar." Suara bariton Shaka terdengar rendah, serak, dan penuh ancaman. Aku bangkit setengah duduk, bersandar pada kepala ranjang. Senyum kecil yang tadi ditekan oleh Papa kini tumbuh perlahan di bibirku. "Aku nggak melarikan diri," jawabku lembut. "Aku hanya pulang ke rumahku sendiri." Tawa Shaka terdengar pendek. Dingin. "Jangan berpura-pura bodoh. Kamu tahu maksudku." Aku terdiam, membiarkan degup jantungku menjadi musik di keheningan ini. Di kegelapan kamar, aku tidak perlu lagi bersembunyi. Shaka, menantu kesayangan Papa, justru sedang meradang mencariku. Rasa puas itu merayap pelan, semanis madu namun sedingin es. "Aku benar-benar nggak mengerti, Mas Shaka," ucapku, berpura-pura bingung. "Bukankah seharusnya Mas sedang bersama Nadira? Ini sudah larut." "Jangan sebut namanya," potong Shaka cepat, suaranya memberat. "Kamu selalu tahu cara membuatku muak." Aku memejamkan mata. Kalimat itu adalah kunci yang pas. Ternyata benar, aku tetap lebih penting daripada istrinya. "Aku nggak bermaksud begitu," bisikku manis. "Aku hanya nggak ingin membuat masalah." "Kamu adalah masalah itu sendiri, Sekar. Berhenti menghindar." "Aku nggak menghindar," bantahku, lalu melunak dengan nada rapuh yang terukur. "Aku hanya bingung. Kamu tahu posisiku. Aku ini siapa dibandingkan istrimu?" Aku melemparkan umpan. Ia tertawa mengejek. "Kamu selalu pandai merendahkan diri sambil berdiri di atas kepala orang lain." Kalimat itu seharusnya menyakitkan, tapi bagiku, itu adalah pengakuan akan kekuatanku atas dirinya. "Aku nggak pernah berniat seperti itu, Mas." jawabku pelan. "Kalau Nadira terluka karena aku, aku akan merasa bersalah seumur hidup.""Kamu baru saja menyalakan api yang nggak bisa kamu padamkan sendiri, Sekar," bisik Shaka rendah. Suaranya serak, dalam, dan mengirimkan getaran aneh yang menjalar ke seluruh saraf pusatku.Tanpa menunggu jawabanku, Shaka menyusupkan lengannya di bawah lututku dan mengangkat tubuhku dalam satu gerakan mantap. Aku memekik pelan, refleks mengalungkan lengan ke lehernya. Kain sutra merah marun yang kukenakan tersingkap, memperlihatkan kakiku yang bersentuhan langsung dengan kemeja mahalnya yang kaku.Ia membawaku menaiki tangga marmer menuju lantai atas, melewati lorong sunyi yang hanya diisi oleh suara detak jantung kami yang kian berpacu. Kami tiba di depan pintu ganda yang megah, yang terbuka perlahan menyingkap kamar tidur utama yang luas dengan pencahayaan temaram yang dramatis.Shaka menurunkanku di sisi tempat tidur berukuran king-size yang dilapisi seprai sutra hitam. Ia tidak langsung menyentuhku. Ia berdiri di sana, menanggalkan kemeja dan jam tangannya dengan gerakan perlahan
Setelah ketegangan yang menyesakkan di butik, aku akhirnya menyerah. Dengan sisa tenaga yang ada, kukenakan gaun merah marun itu. Kain sutranya terasa dingin dan licin, memeluk lekuk tubuhku dengan sempurna seolah-olah ia memang diciptakan hanya untukku. Shaka menatapku sesaat tanpa kata—sebuah tatapan tajam yang sanggup membuat bulu kudukku berdiri—sebelum ia menyelesaikan pembayaran dan membimbingku kembali ke mobil.Namun, kami tidak menuju pesta atau acara formal mana pun. Mobil terus melaju menjauhi kebisingan pusat kota, menembus kawasan perbukitan yang sunyi dan rimbun oleh pepohonan besar.Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Saat gerbang itu terbuka secara otomatis, sebuah hunian modern-kontemporer dengan dominasi kaca dan batu alam berdiri megah di balik keremangan malam."Turun," ucap Shaka singkat.Aku melangkah keluar, bunyi tumit sepatuku beradu dengan lantai marmer teras yang mengkilap. Pintu utama terbuka bahkan sebelum Shaka menye
Keheningan di dalam toko bunga itu terasa mencekik saat Maya berdiri membeku. Shaka tidak segera melepaskanku, ia justru memutar tubuhnya perlahan, masih dengan satu tangan yang posesif melingkar di pinggangku. Ia menatap Maya dengan tatapan dingin yang seolah mampu menghentikan detak jantung siapa pun yang melihatnya."Keluar," perintah Shaka singkat. Suaranya tidak keras, namun mengandung otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah.Maya tergagap, wajahnya memucat hebat. "Ma-maaf, Mbak Sekar. Saya... saya permisi." Ia meletakkan bungkusan makanan itu di atas kursi terdekat dan praktis berlari keluar. Denting lonceng pintu yang ditinggalkannya terdengar seperti lonceng kematian bagi reputasiku, namun aku tidak lagi peduli pada apa pun.Udara di dalam toko kini terasa lebih berat, dipenuhi aroma mawar yang tajam dan ketegangan yang kian memuncak meski Maya telah menghilang. Shaka tidak beranjak. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada satu celah pun
Sentuhan sepatu Shaka di kakiku terasa seperti api yang merambat di bawah permukaan air. Aku berusaha keras agar tanganku tidak gemetar saat meletakkan cangkir teh kembali ke tatakannya. Di hadapanku, Nadira sedang sibuk bercerita tentang rencana bulan madu kedua mereka, sama sekali tidak menyadari bahwa suaminya sedang melakukan tindakan provokatif di bawah meja makan keluarga."Mahesa itu bibit unggul, Sekar," Papa melanjutkan, suaranya terdengar penuh otoritas di tengah denting sendok dan garpu. "Papa rasa kalau keluarga Dinata tahu kalian pernah menghabiskan malam bersama, mereka akan langsung meresmikan hubungan kalian."Ujung sepatu Shaka bergerak pelan, menekan batas kesabaranku dengan isyarat yang hanya kupahami seorang diri."Papa, aku rasa...""Apa?! Kak Sekar sudah tidur dengan Mahesa?" Nadira berseru, suaranya meninggi antara terkejut dan tidak percaya."Wajar saja bagi orang dewasa di zaman sekarang, Dira. Lagipula, Mahesa itu pemuda yang sangat bertanggung jawab. Dia sud
Aku menyeret koper perak itu menyusuri koridor lantai dua. Beratnya seolah mewakili beban rahasia yang kupikul, namun langkahku tetap kupaksa tenang, nyaris tak bersuara di atas karpet tebal. Aku menghela napas panjang di depan pintu kamar Nadira, menatap koper di tanganku sejenak sebelum mengetuk pintu kayu mahoni yang berat.Tok. Tok. Tok."Masuk," suara Shaka terdengar dari dalam.Aku membuka pintu perlahan. Aroma pengharum ruangan yang terlalu manis memenuhi ruangan. Shaka berdiri membelakangiku di dekat jendela besar. Ia mengenakan bathrobe putih longgar yang memperlihatkan tengkuk kokohnya."Aku menaruh kopernya di sini, Mas," bisikku sembari meletakkan koper itu di dekat sofa.Mendengar derit roda koper, ia berbalik. Matanya yang tadi sedingin es kini menggelap, memancarkan rasa lapar yang selama ini ia tekan rapat di depan istrinya."Berani sekali kamu pergi dengan Mahesa saat aku nggak ada, Sekar," desisnya tepat di depan wajahku. Napasnya beraroma mint, berbaur dengan aura
Setelah selesai makan, Mahesa tidak langsung mengajakku pulang. Ia menarik tanganku, menuntunku melewati riuh rendah kerumunan menuju deretan stan permainan pasar malam.Ia berhenti di depan stan Lempar Gelang. Hadiah utamanya adalah sebuah boneka beruang besar yang warnanya sudah agak kusam oleh debu jalanan. Namun, Mahesa menatapnya seolah boneka itu adalah trofi paling bergengsi di dunia."Aku akan memenangkan beruang itu untukmu," katanya penuh tekad."Esa, jangan konyol. Kamu bisa beli seribu boneka yang jauh lebih mewah di mal," bisikku, mencoba menarik lengannya agar kami segera pergi."Ssst," potongnya jenaka sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada penjual. "Lihat dan pelajari, Sekar."Namun, realita ternyata tidak semanis film romantis. Mahesa, dengan segala kecerdasannya di dunia bisnis, ternyata sangat payah dalam urusan membidik botol kaca dengan gelang plastik. Sepuluh lemparan pertama meleset jauh. Lima lemparan berikutnya memantul liar ke segala arah.Aku tertawa







