Home / Romansa / Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu! / Bab 2 Istri Yang Tak Pernah Dianggap

Share

Bab 2 Istri Yang Tak Pernah Dianggap

Author: Miss Reins
last update Last Updated: 2026-02-01 22:14:46

Aku bergegas pulang ke rumah setelah memesan taksi online. Sambil merapikan riasan yang sudah mulai luntur, aku menyalakan ponselku yang sudah kubiarkan mati sepanjang malam.

Layar ponsel langsung terisi notifikasi yang membuatku menelan ludah dengan susah payah.

“Astaga, sepuluh panggilan tak terjawab dari mas Hendra?” gumamku panik sambil menekan dada yang mulai terasa sesak.

Bagaimana bisa aku lupa kalau semalam aku mematikan ponselku?

Ya, aku memang sengaja mematikannya karena tak ingin ada satupun orang yang mengganggu malam indah kami.

Aku telah mengharapkan momen itu sejak lama, bahkan bersedia menginap di hotel yang Hendra pernah sebutkan sebagai tempat yang spesial baginya.

Tapi kenyataanya semua hancur berantakan. Apalagi setelah aku baru membaca pesan dari mas Hendra yang masuk beberapa jam lalu, yang mengatakan kalau dia ada rapat dadakan di luar kota dan tidak bisa datang seperti yang dijanjikan.

“Kenapa kamu nggak mengabari aku dari awal sih mas? Kalau kamu mengabari aku, aku tidak perlu menginap di hotel.” aku menundukkan wajahku dan menutupnya dengan kedua tangan, mencoba menghilangkan bayangan yang terus menghantuiku.

Ingatan semalam dimana pria asing berada di atas tubuhku membuatku merasa bersalah pada mas Hendra.

“Aku kotor,” gumamku lirih, menyalahkan diriku sendiri atas semua yang telah terjadi.

Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur.

Sesampainya di halaman rumah yang sudah kami tempati selama dua tahun ini, aku terkejut mendapati mobil mewah suamiku sudah terparkir rapi di garasi.

Hatiku semakin gelisah tak menentu, karena aku pikir suamiku masih berada di luar kota.

Dengan langkah tergesa aku pun bergegas masuk melalui pintu belakang.

“Eh, Nyonya Hana sudah pulang? Tumben? Bukannya sedang menginap di hotel, ya?” sapa Maya yang sedang membereskan ruang tamu.

“Sudah May. Mas Hendra tidak jadi datang katanya lembur,” ucapku dengan berbohong.

“Oalah. Pantas saja tuan juga sudah dirumah. Saya kira kalian pergi bersama.”

“Tuan dimana sekarang?” tanyaku sembari celingukan.

“Tuan sedang menikmati makan malamnya. Katanya ingin dibuatkan sup ayam hangat. Apa Nyonya juga mau makan?” tawar Maya dengan senyum hangatnya. Maya sudah terbiasa melihatku pulang terlambat karena pekerjaan kantor.

“Nggak usah May, makasih.” aku melewati Maya sembari menuju ruang makan dimana suara dentingan sendok dan piring bisa aku dengar jelas.

Jujur saja aku benar-benar gugup dan takut. Semoga saja mas Hendra tak menyadari aroma parfum pria lain yang menempel di tubuhku dan melihat tanda merah di leherku, yang aku bungkus dengan syal tipis.

“Eh Mas, kamu sudah pulang?” sapaku sembari menghampiri mas Hendra dan menyalaminya dengan terburu-buru.

“Bukankah kamu bilang kamu ada pertemuan di luar kota?” tanyaku lagi, mencoba menjaga suaraku agar tetap tenang walau dalam hati sudah gugup tak karuan.

Seperti biasa, mas Hendra hanya menatapku sekilas lalu kembali fokus pada makanan yang ada di depannya.

Matanya yang dingin seperti kaca tidak memberikan sedikitpun emosi, ia lagi-lagi menganggapku seperti tak ada di sana.

“Kemana saja kamu? Aku menghubungimu berulang kali. Ternyata ponselmu malah tidak aktif! Apa kamu sengaja ingin membuatku marah?” serunya membuat aku terkejut.

“Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud—”

“Duduk!” potong mas Hendra tanpa melihat ke arahku.

Aku bergegas duduk di kursi yang berada di hadapannya sebelum kemarahannya semakin bertambah.

“Kamu menungguku?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Iya, Mas,” jawabku.

Mas Hendra terlihat sedang menghela nafas panjang, lalu menyandarkan punggungnya.

“Sejak awal kamu tahu, bukan, kalau pernikahan kita itu hanyalah pernikahan bisnis? Ayahmu dan ayahku menggabungkan perusahaan agar bisa lebih kuat dan kita hanyalah alat untuk itu. Jadi, jangan terlalu berharap lebih padaku!”

“Tapi Mas...” aku mencoba menahan air mataku agar tidak tumpah saat itu juga.

Bagaimana tidak, dadaku seperti diremas erat-erat, untuk kesekian kalinya mendengar ucapan yang menusuk hati ini dari bibir orang yang aku cintai dengan tulus.

“Kalau bukan karena ayah, aku tidak akan memilih kamu untuk jadi istriku Hana,” ucapnya sembari masih terus menikmati makanannya seolah-olah sedang berbicara tentang hal yang sepele.

“Kamu tidak pernah paham apa yang aku mau, tidak bisa mengurus rumah dengan baik, bahkan tidak bisa diandalkan saat aku butuh!” Mas Hendra melirikku sekilas.

Lagi-lagi, rasa sesak menghampiriku seolah-olah udara di dalam ruangan tiba-tiba menghilang.

Aku ingin menjelaskan semua yang terjadi hari ini , tentang kesalahpahaman di kamar hotel, tentang bagaimana aku menghabiskan malam dengan pria lain.

Tapi bibirku terkunci seperti terikat rantai. Aku tak bisa mengatakan apa-apa.

“Mas, sebenarnya aku—”

“Cukup! Aku tidak mau mendengar apapun!” mas Hendra beranjak dari duduknya dan dengan cepat menyambar ponselnya yang berada di atas meja.

“Istirahatlah. Besok ini kita akan berkunjung ke rumah utama,” ucapnya membelakangiku.

“Ke rumah ayah, Mas?” tanyaku dengan suara yang hampir tak terdengar.

“Ya. Angga sudah kembali dari luar negeri setelah tiga tahun tinggal di Swiss dan ayah ingin seluruh seluruh keluarga berkumpul,” jawabnya masih tak menatapku sama sekali, matanya fokus pada layar ponselnya yang sedang menyala.

Aku terdiam membisu sembari mundur satu langkah. Kaki ku hampir tidak bisa menopang berat tubuhku.

Siapa sangka jika takdir akan mempertemukan aku dengan mas Angga secepat ini. Pria yang baru aku temui setelah sekian lama, sekaligus pria yang telah mengambil sesuatu paling berharga dalam diriku.

“Kenapa kamu terkejut begitu? Atau kamu tidak senang bertemu keluargaku?” tanyanya dengan mata menyipit tajam, akhirnya mengalihkan perhatiannya dari ponsel ke arahku.

“Bolehkah aku tidak ikut pergi Mas? Aku lelah sekali karena pekerjaan kantor yang menumpuk,” ucapku dengan sengaja mencari alasan agar kami tidak pergi ke rumah mertuaku.

Mas Hendra mendekat hingga tiada jarak di antara kami. Tanpa diduga, tangannya mencengkeram daguku dengan sedikit kuat. Kuku jari-jari nya menusuk ke dalam kulitku, membuatku meringis kesakitan.

“Jangan membuatku malu karena tidak bisa mendidik istri pembangkang seperti kamu, Hana!” ancamnya kemudian mendorongku begitu saja dan berlalu pergi meninggalkanku sendirian di ruang makan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 8 Kamu Masih Normal Kan?

    “Hendra, tunggu, Nak. Dengarkan penjelasan Ibu dulu!” seru ibu mertuaku dengan nafas terengah-engah. Mas Hendra tidak menyahut. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu dengan penuh emosi, ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Benda itu memantul di atas seprai, seolah menggambarkan betapa kacau pikirannya saat ini.“Penjelasan apalagi yang harus aku dengar, Bu?” teriaknya sembari berbalik dengan mata yang memerah dan napas memburu. “Sejak dulu, ayah memang tidak pernah menganggapku sebagai putranya. Dia buta! Dia tidak pernah menghargai keringat dan darah yang aku keluarkan untuk perusahaan! Yang ada di kepalanya hanya Angga, Angga, dan Angga! Aku muak dianggap sebagai figuran di rumahku sendiri!”Mas Hendra merasakan sakit di dalam dadanya, seolah ada benda tajam yang menusuknya setiap kali mengingat bagaimana ayahnya selalu memberikan senyuman hangat dan pujian pada mas Angga, sementara dirinya hanya mendapatkan tatapan dingin dan ucapan yang penuh kritikan.Ibu mertuaku melang

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 7 Keputusan Bulat

    “Kenapa kamu terlihat terkejut begitu, Hana? Apa kamu keberatan mendampingi Angga?” tanya ayah mertua. Wajahnya yang keriput menambah keseriusan pada setiap kata yang keluar dari bibirnya, sementara tangannya yang kusam mengusap permukaan meja makan. Aku menelan ludah dengan susah payah, rasanya seperti ada batu besar yang terjepit di tenggorokanku. Bibirku terasa kering walau aku baru saja menyegarkan diri dengan segelas jus jeruk. Bukannya aku keberatan mendampingi seseorang dalam mengelola perusahaan keluarga yang telah berdiri sejak lima puluh tahun yang lalu, andai saja jika pria yang akan aku dampingi bukan mas Angga, aku akan langsung setuju tanpa ragu.Sayangnya, aku sekarang bingung harus menjawab apa. Mataku melirik ke arah piring makan yang masih tersisa sebagian nasi putih dan lauk ayam bakar pedas yang biasanya kunikmati dengan senang hati, tapi hari ini rasanya semua makanan itu tidak menarik sama sekali. Aku ingin sekali menolak permintaan ayah mertuaku dengan tegas,

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 6 Jebakan Maut

    “Sudah selesai Mas?” tanyaku lirih. “Seperti yang kamu lihat.” beberapa saat kemudian mas Hendra kembali ke meja, dengan wajah lebih tegang dari sebelumnya. “Maafkan menunggu lama. Ada masalah di proyek Singapura. Kontraktor kita membatalkan kerja sama tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kita harus mencari pengganti dalam waktu tiga hari kalau tidak ingin terkena denda besar,” katanya sambil duduk perlahan, lalu mengambil segelas air putih dan meneguknya habis. “Uang dan jabatan itu bisa dicari, Hendra. Tapi warisan sesungguhnya adalah darah dagingmu sendiri. Apa gunanya kekayaan ini jika tidak ada suara tawa anak kecil di dalamnya? Aku butuh penerus, bukan sekadar angka di laporan keuanganmu,” ucap ayah mertuaku. Mas Hendra mengangguk. “Aku tahu, Ayah. Aku akan berusaha," jawab singkat. Lantas, pandangan ayah mertuaku kini beralih, menghunus tepat ke arah Mas Angga. “Dan kau, Angga. Sampai detik ini, tidak ada satu pun wanita yang kau bawa ke hadapanku. Apa kau berencana membiar

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 5 Pewaris Keluarga

    “Sudah waktunya aku membicarakan soal penerus keluarga. Karena semakin hari, aku semakin tua dan tidak bisa memikul jabatanku,” ucap Ayah mertuaku sembari menyapukan pandangan tajamnya, menatap kedua putranya secara bergantian.“Kamu benar suamiku. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” sahut ibu mertuaku dengan nada yang tegas.“Seperti yang kalian tahu, warisan utama keluarga akan diberikan pada putraku yang bisa memberiku cucu laki-laki.”Kalimat itu jatuh seperti sebuah vonis yang tidak bisa diubah, menggema di dalam kepalaku hingga aku merasa telingaku berdenging.Sendok ditanganku pun hampir terlepas. Ternyata benar ucapan ibu mertua yang menyelinap dalam bisikan saat aku sedang membersihkan piring tadi dan juga omongan singkat mas Angga bahwa ayah mertua sudah tidak sabar menunggu seorang cucu.Dadaku yang sudah bertahun-tahun kutempa untuk tetap tegar, kini terasa seperti dihunjam ribuan jarum tak kasat mata. Rasa sakit itu datang perlahan namun pasti, menusuk satu demi

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 4 Hampir Ketahuan

    ​“Mas...” lirihku, saat jemarinya mulai menjelajah dan meninggalkan jejak panas yang membakar permukaan kulitku. Ruangan sempit ini seolah kian menyusut, merampas oksigen dari paru-paruku hingga yang tersisa hanyalah udara pengap yang menyesakkan. Kepalaku berdenyut, bukan sekadar karena suhu yang merayap naik, melainkan akibat badai yang berkecamuk hebat di balik dadaku. Setiap sentuhannya yang lancang membuat napasku patah di pangkal tenggorokan. Panas itu menjalar tanpa permisi, membungkam kata-kata hingga aku hanya mampu terpaku. Ada rasa muak yang memanjat naik. Akal sehatku sebenarnya belum mati dan masih sanggup berteriak, bahkan memintaku untuk berontak dan melarikan diri dari jeratan ini. Namun, tubuhku justru berkhianat. Ia seolah memiliki memorinya sendiri, sebuah insting purba yang menolak patuh pada logika dan justru memilih untuk tenggelam lebih dalam. “Kenapa kamu ada di sini, Mas? Keluar sana!” usirku mendorong bahunya. “Siapa kamu berani mengusirku?" Ia memoj

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 3 Apa Kamu Mandul?

    “Turun, kita sudah sampai!” ucap mas Hendra begitu mobil berhenti di halaman rumah utama. Aku mengangguk patuh dan bergegas membuka pintu mobil. “Tetaplah tenang, Hana. Jangan gugup dan membuat semua orang curiga,” batinku sembari menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Jemariku meremas tas kecil yang bertengger dipundakku, sambil masih menunggu mas Hendra yang memarkirkan mobilnya. “Hendra, Hana, kalian sudah datang?” sapa ayah mertuaku yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan kami berdua di depan pintu utama. “Selamat sore Ayah. Bagaimana kabar anda?” tanyaku sembari membungkuk sedikit. “Sangat baik. Cepatlah masuk. Ibu dan kakak iparmu di dalam, sudah tidak sabar ingin bertemu kalian,” ucapnya seraya masuk terlebih dulu. Aku masih terpaku di tempat. Andai saja aku bisa, aku ingin kabur dari sini sekarang. Aku ingin lari sejauh mungkin, meninggalkan semua rahasia yang membuat hatiku selalu berdebar kencang. Sayangnya, di belakangku ada mas Hendra. Pr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status