Share

Bab 3 Apa Kamu Mandul?

Author: Miss Reins
last update Last Updated: 2026-02-01 22:21:15

“Turun, kita sudah sampai!” ucap mas Hendra begitu mobil berhenti di halaman rumah utama. Aku mengangguk patuh dan bergegas membuka pintu mobil.

“Tetaplah tenang, Hana. Jangan gugup dan membuat semua orang curiga,” batinku sembari menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.

Jemariku meremas tas kecil yang bertengger dipundakku, sambil masih menunggu mas Hendra yang memarkirkan mobilnya.

“Hendra, Hana, kalian sudah datang?” sapa ayah mertuaku yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan kami berdua di depan pintu utama.

“Selamat sore Ayah. Bagaimana kabar anda?” tanyaku sembari membungkuk sedikit.

“Sangat baik. Cepatlah masuk. Ibu dan kakak iparmu di dalam, sudah tidak sabar ingin bertemu kalian,” ucapnya seraya masuk terlebih dulu.

Aku masih terpaku di tempat. Andai saja aku bisa, aku ingin kabur dari sini sekarang. Aku ingin lari sejauh mungkin, meninggalkan semua rahasia yang membuat hatiku selalu berdebar kencang.

Sayangnya, di belakangku ada mas Hendra. Pria yang telah menjadi suamiku selama dua tahun, tapi jarang sekali memberikan sentuhan yang hangat, apalagi cinta yang sesungguhnya.

“Ayo masuk! Tunggu apalagi?” ajak mas Hendra sembari merangkul pinggangku dengan posesif. Tangan kirinya yang menekan kulitku, seperti rantai besi yang mengikatku erat.

Seperti biasa, ini adalah kode dari pria itu supaya aku dan dia berpura-pura sebagai pasangan harmonis yang bahagia. Semacam pertunjukan yang harus kita mainkan setiap kali ada keluarga yang melihat.

Sesampainya di dalam, aku tak bisa mengalihkan padanganku dari pria yang bersandar dekat jendela.

Pria yang kini memakai kemeja hitam dengan kedua kancingnya yang terbuka, menampakkan lekukan otot di dadanya yang kukenal dengan sangat baik.

Rambutnya, tersisir rapi seperti biasa. Wajahnya pun nampak tenang seolah semalam tidak pernah terjadi sesuatu di antara kami.

Dimana alkohol membuat kami melupakan semua batasan dan dia menghabiskan waktu berjam-jam memanjakanku dengan cara yang tak pernah dilakukan Hendra.

Meski dengan cara kasar.

“Angga, sapa mereka. Kalian sudah lama tidak bertemu kan?” ucap ayah mertua.

Mas Angga menatapku dingin. Matanya yang tajam setajam elang, seakan menelanjangiku.

“Tidak perlu. Sama sekali tidak penting!” sahut mas Angga, mengabaikan kami.

Aku tersenyum kikuk. Terlihat bodoh dihadapan semua orang saat ini. Memangnya siapa juga yang mau saling sapa dengannya. Menyebalkan sekali!

“Wajahmu terlihat pucat?” tanya mas Angga tiba-tiba. Entah sejak kapan ia ada di hadapanku.

Bukankah tadi pria ini nampak acuh? Lalu, kenapa sekarang sok peduli?

Tangannya tanpa sadar hampir menyentuh pipiku, namun ia segera menariknya kembali seolah menyadari batasan yang ada diantara kami.

“Dia hanya kelelahan, karena tidak terbiasa dengan pertemuan keluarga seperti ini,” sahut mas Hendra menatapku dengan tatapan yang dingin dan penuh peringatan.

Aku mengangguk tanpa berkata apa-apa.

“Kalau begitu duduklah,” ucap ayah mertua padaku.

Aku pun duduk. Sementara mas Angga bergegas mengambil posisi duduk tepat di seberangku.

Jarak yang cukup dekat untuk membuatku merasakan tatapan predatornya, tapi cukup jauh untuk mengingatkan kita akan kenyataan yang ada.

Kami mengobrol seperti biasa. Berbicara tentang pekerjaan, cuaca, dan hal-hal sepele. Sementara mas Angga hanya diam. Sesekali ia melirikku lalu saat aku menataonya, ia cepat-cepat mengalihkan pandangan.

“Hana, tolong datang ke dapur ya, bantu ibu siapkan makan malam,” ucap ibu mertuaku dengan nada yang tidak bisa kutolak.

“Iya, Bu.” Aku berdiri dan mengikuti langkahnya ke arah dapur, yang sudah dipenuhi dengan aroma makanan lezat dan menggoda.

Tapi rasanya tak ada satu pun yang bisa membuatku merasa lapar.

Sesampainya di dapur, ibu mertuaku langsung menghadapkan wajahnya padaku.

“Kau masih belum hamil juga?” tanyanya begitu saja, tanpa basa-basi.

“Apa maksud Ibu?” tanyaku bingung.

“Sudah dua tahun, Hana. Mau sampai kapan kami menunggu? Apa jangan-jangan kamu mandul?” ucapan ibu mertua membuatku terkejut hingga hampir tidak bisa bernapas.

Kenapa tiba-tiba ia bertanya tentang kehamilan? Padahal selama ini ia tidak mempermasalahkannya, bahkan jarang sekali menyentuh topik yang paling sensitif ini.

“Bu, sebenarnya aku dan mas Hendra—” ucapku mencoba menjelaskan, tapi segera dipotong olehnya.

“Kamu tahu tidak, kenapa ayahnya Hendra menyuruh kalian datang untuk makan malam? Apalagi sampai meminta Angga kembali dari Swiss?” tanyanya lagi dan akupun menjawab dengan gelengan kepala.

“Tidak tahu, Bu.”

“Cih! Kau sudah jadi menantu keluarga Herlambang dua tahun lamanya tapi masih tidak tahu apapun.”

“Ya karena memang tidak tahu, Bu,” kataku lagi.

Ibu mertua meletakkan nampan sedikit kasar si atas meja. Pasti dia kesal karena aku selalu menjawab ucapannya.

“Suamiku akan mengumumkan soal ahli warisnya dengan syarat, salah satu putranya memiliki keturunan lelaki. Kalau kamu tidak bisa memberikannya segera maka tinggalkan saja Hendra! Aku akan mencari penggantimu yang bisa memberikan keturunan yang kami butuhkan!” setelah mengatakan itu, ibu mertuaku membawa piring dan sendok menuju ruang makan.

Aku mengepalkan tangan erat-erat lalu bergegas menuju ke kamar mandi kecil di belakang dapur.

Butiran bening yang sejak tadi aku tahan menetes dengan derasnya, membasahi pipiku yang sudah aku olesi riasan tipis.

Kata mandul yang ibu mertua tuduhkan padaku membuat dadaku sakit. Seolah ada seseorang yang menusuknya berulang-ulang dengan pisau tajam.

Bagaimana bisa aku hamil jika mas Hendra saja tidak pernah menyentuhku? Selama dua tahun menikah, kami hanya berbagi kamar tidur tapi tidak pernah memiliki hubungan yang sebenarnya.

Terkadang ia akan datang ke kamar larut malam, tapi hanya untuk tidur dan pergi lagi pagi harinya tanpa berkata sepatah kata pun.

Aku pernah mencoba bertanya mengapa, tapi ia hanya mengatakan bahwa ia terlalu lelah dengan pekerjaan dan memintaku untuk tidak mengganggunya.

“Aku mengerti dan paham mengenai itu, tapi mau sampai kapan?” gumamku.

Aku menghapus air mataku menggunakan ujung gaunku, membersihkan riasanku yang mulai berantakan. Aku tidak mau saat keluar nanti mereka melihatku menangis.

Saat akan keluar dari kamar mandi, tanganku dicekal oleh seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.

Sebelum aku berteriak, tangannya yang besar membungkam bibirku.

“Mph!”

“Diamlah!” bisiknya.

Aroma familiar parfum ini sangat tak asing. Parfum yang pernah aku hirup di malam itu. Ketika ia memelukku dengan erat dan menghangatkan tubuhku yang dingin.

“M—mas Angga?”

“Hmm,” ucapnya tepat di samping telingaku, membuat bulu kudukku merinding.

Ia menyentuh leherku yang sensitif, lalu meluncur ke bawah dan berhenti di pundakku yang terekspos.

Rasa hangat dari sentuhannya membuat darahku berdesir ke seluruh tubuh.

Gairah semalam yang aku rasa hanya karena pengaruh alkohol kembali hadir menyerang, membuatku melupakan semua rasa sakit dan kesusahan yang sedang kudera.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 8 Kamu Masih Normal Kan?

    “Hendra, tunggu, Nak. Dengarkan penjelasan Ibu dulu!” seru ibu mertuaku dengan nafas terengah-engah. Mas Hendra tidak menyahut. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu dengan penuh emosi, ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Benda itu memantul di atas seprai, seolah menggambarkan betapa kacau pikirannya saat ini.“Penjelasan apalagi yang harus aku dengar, Bu?” teriaknya sembari berbalik dengan mata yang memerah dan napas memburu. “Sejak dulu, ayah memang tidak pernah menganggapku sebagai putranya. Dia buta! Dia tidak pernah menghargai keringat dan darah yang aku keluarkan untuk perusahaan! Yang ada di kepalanya hanya Angga, Angga, dan Angga! Aku muak dianggap sebagai figuran di rumahku sendiri!”Mas Hendra merasakan sakit di dalam dadanya, seolah ada benda tajam yang menusuknya setiap kali mengingat bagaimana ayahnya selalu memberikan senyuman hangat dan pujian pada mas Angga, sementara dirinya hanya mendapatkan tatapan dingin dan ucapan yang penuh kritikan.Ibu mertuaku melang

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 7 Keputusan Bulat

    “Kenapa kamu terlihat terkejut begitu, Hana? Apa kamu keberatan mendampingi Angga?” tanya ayah mertua. Wajahnya yang keriput menambah keseriusan pada setiap kata yang keluar dari bibirnya, sementara tangannya yang kusam mengusap permukaan meja makan. Aku menelan ludah dengan susah payah, rasanya seperti ada batu besar yang terjepit di tenggorokanku. Bibirku terasa kering walau aku baru saja menyegarkan diri dengan segelas jus jeruk. Bukannya aku keberatan mendampingi seseorang dalam mengelola perusahaan keluarga yang telah berdiri sejak lima puluh tahun yang lalu, andai saja jika pria yang akan aku dampingi bukan mas Angga, aku akan langsung setuju tanpa ragu.Sayangnya, aku sekarang bingung harus menjawab apa. Mataku melirik ke arah piring makan yang masih tersisa sebagian nasi putih dan lauk ayam bakar pedas yang biasanya kunikmati dengan senang hati, tapi hari ini rasanya semua makanan itu tidak menarik sama sekali. Aku ingin sekali menolak permintaan ayah mertuaku dengan tegas,

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 6 Jebakan Maut

    “Sudah selesai Mas?” tanyaku lirih. “Seperti yang kamu lihat.” beberapa saat kemudian mas Hendra kembali ke meja, dengan wajah lebih tegang dari sebelumnya. “Maafkan menunggu lama. Ada masalah di proyek Singapura. Kontraktor kita membatalkan kerja sama tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kita harus mencari pengganti dalam waktu tiga hari kalau tidak ingin terkena denda besar,” katanya sambil duduk perlahan, lalu mengambil segelas air putih dan meneguknya habis. “Uang dan jabatan itu bisa dicari, Hendra. Tapi warisan sesungguhnya adalah darah dagingmu sendiri. Apa gunanya kekayaan ini jika tidak ada suara tawa anak kecil di dalamnya? Aku butuh penerus, bukan sekadar angka di laporan keuanganmu,” ucap ayah mertuaku. Mas Hendra mengangguk. “Aku tahu, Ayah. Aku akan berusaha," jawab singkat. Lantas, pandangan ayah mertuaku kini beralih, menghunus tepat ke arah Mas Angga. “Dan kau, Angga. Sampai detik ini, tidak ada satu pun wanita yang kau bawa ke hadapanku. Apa kau berencana membiar

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 5 Pewaris Keluarga

    “Sudah waktunya aku membicarakan soal penerus keluarga. Karena semakin hari, aku semakin tua dan tidak bisa memikul jabatanku,” ucap Ayah mertuaku sembari menyapukan pandangan tajamnya, menatap kedua putranya secara bergantian.“Kamu benar suamiku. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” sahut ibu mertuaku dengan nada yang tegas.“Seperti yang kalian tahu, warisan utama keluarga akan diberikan pada putraku yang bisa memberiku cucu laki-laki.”Kalimat itu jatuh seperti sebuah vonis yang tidak bisa diubah, menggema di dalam kepalaku hingga aku merasa telingaku berdenging.Sendok ditanganku pun hampir terlepas. Ternyata benar ucapan ibu mertua yang menyelinap dalam bisikan saat aku sedang membersihkan piring tadi dan juga omongan singkat mas Angga bahwa ayah mertua sudah tidak sabar menunggu seorang cucu.Dadaku yang sudah bertahun-tahun kutempa untuk tetap tegar, kini terasa seperti dihunjam ribuan jarum tak kasat mata. Rasa sakit itu datang perlahan namun pasti, menusuk satu demi

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 4 Hampir Ketahuan

    ​“Mas...” lirihku, saat jemarinya mulai menjelajah dan meninggalkan jejak panas yang membakar permukaan kulitku. Ruangan sempit ini seolah kian menyusut, merampas oksigen dari paru-paruku hingga yang tersisa hanyalah udara pengap yang menyesakkan. Kepalaku berdenyut, bukan sekadar karena suhu yang merayap naik, melainkan akibat badai yang berkecamuk hebat di balik dadaku. Setiap sentuhannya yang lancang membuat napasku patah di pangkal tenggorokan. Panas itu menjalar tanpa permisi, membungkam kata-kata hingga aku hanya mampu terpaku. Ada rasa muak yang memanjat naik. Akal sehatku sebenarnya belum mati dan masih sanggup berteriak, bahkan memintaku untuk berontak dan melarikan diri dari jeratan ini. Namun, tubuhku justru berkhianat. Ia seolah memiliki memorinya sendiri, sebuah insting purba yang menolak patuh pada logika dan justru memilih untuk tenggelam lebih dalam. “Kenapa kamu ada di sini, Mas? Keluar sana!” usirku mendorong bahunya. “Siapa kamu berani mengusirku?" Ia memoj

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 3 Apa Kamu Mandul?

    “Turun, kita sudah sampai!” ucap mas Hendra begitu mobil berhenti di halaman rumah utama. Aku mengangguk patuh dan bergegas membuka pintu mobil. “Tetaplah tenang, Hana. Jangan gugup dan membuat semua orang curiga,” batinku sembari menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Jemariku meremas tas kecil yang bertengger dipundakku, sambil masih menunggu mas Hendra yang memarkirkan mobilnya. “Hendra, Hana, kalian sudah datang?” sapa ayah mertuaku yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan kami berdua di depan pintu utama. “Selamat sore Ayah. Bagaimana kabar anda?” tanyaku sembari membungkuk sedikit. “Sangat baik. Cepatlah masuk. Ibu dan kakak iparmu di dalam, sudah tidak sabar ingin bertemu kalian,” ucapnya seraya masuk terlebih dulu. Aku masih terpaku di tempat. Andai saja aku bisa, aku ingin kabur dari sini sekarang. Aku ingin lari sejauh mungkin, meninggalkan semua rahasia yang membuat hatiku selalu berdebar kencang. Sayangnya, di belakangku ada mas Hendra. Pr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status