LOGIN“Sudah waktunya aku membicarakan soal penerus keluarga. Karena semakin hari, aku semakin tua dan tidak bisa memikul jabatanku,” ucap Ayah mertuaku sembari menyapukan pandangan tajamnya, menatap kedua putranya secara bergantian.
“Kamu benar suamiku. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” sahut ibu mertuaku dengan nada yang tegas. “Seperti yang kalian tahu, warisan utama keluarga akan diberikan pada putraku yang bisa memberiku cucu laki-laki.” Kalimat itu jatuh seperti sebuah vonis yang tidak bisa diubah, menggema di dalam kepalaku hingga aku merasa telingaku berdenging. Sendok ditanganku pun hampir terlepas. Ternyata benar ucapan ibu mertua yang menyelinap dalam bisikan saat aku sedang membersihkan piring tadi dan juga omongan singkat mas Angga bahwa ayah mertua sudah tidak sabar menunggu seorang cucu. Dadaku yang sudah bertahun-tahun kutempa untuk tetap tegar, kini terasa seperti dihunjam ribuan jarum tak kasat mata. Rasa sakit itu datang perlahan namun pasti, menusuk satu demi satu tiap kali topik tentang pewaris meluncur dengan ringannya dari bibir mereka yang kusebut sebagai keluarga. Mas hendra menoleh padaku dengan tatapan dingin, seperti es yang mencair perlahan tapi tetap menusuk. Seolah semua kegagalan untuk memberikan cucu laki-laki adalah kesalahan tunggalku. Padahal selama dua tahun pernikahan ini, dia bahkan tidak pernah mau berbagi waktu lebih dari sepuluh menit sehari denganku. Aku ingat betapa aku pernah menghias kamar tidur dengan lilin dan bunga mawar merah pada ulang tahun pernikahan kita yang pertama, hanya untuk melihatnya pulang larut malam dengan jasnya kusut dan aroma alkohol yang menyengat, lalu langsung masuk kamar mandi tanpa berkata sepatah kata pun. “Hana, aku tahu pernikahanmu dengan Hendra berbeda dari kebanyakan pernikahan. Aku juga paham kalau mungkin kalian belum siap.” Ayah mertuaku mulai berbicara lagi. Aku menggenggam erat jemari sendiri di bawah meja, sampai pucat dan terasa mati rasa. “Aku hanya berharap seiring berjalannya waktu kalian bisa saling mencintai dan membangun keluarga utuh.” Kata mencintai yang keluar dari bibirnya terasa seperti lelucon Karena kenyataannya, aku diam-diam memang jatuh cinta pada mas Hendra sejak hari pertama kita bertemu. Bahkan ketika aku tahu bahwa pernikahan ini adalah keputusan dari kedua keluarga untuk menyatukan bisnis, aku masih mengharapkan sedikit kehangatan darinya. Sampai sekarang, dia sama sekali tidak pernah melihatku sebagai seorang wanita yang mencintainya, hanya sebagai istri yang harus memenuhi kewajiban keluarga. “Hendra, kalian sudah menikah cukup lama. Apa rencana kalian ke depan? Dua tahun apakah belum cukup untuk saling mengenal satu sama lain?” tanya ayah mertuaku lagi. Sebelum mas Hendra sempat menjawab, ponselnya yang ada di atas meja bergetar “Permisi, aku harus mengangkat ini. Penting,” ucapnya seraya berdiri dari duduknya. Ayah mertuaku mengerutkan kening, hingga garis-garis di dahinya semakin jelas. “Di saat penting seperti ini?” tanyanya dengan nada kesal yang tak bisa disembunyikan. “Maaf ayah. Ini urusan pekerjaan,” jawab mas Hendra sambil melangkah menjauh. “Dasar tidak sopan! Padahal aku sudah bilang sebelumnya bahwa malam ini lebih penting dari apapun!” Ayah mertuaku memukul meja dengan tangan yang gemetar. “Sudahlah suamiku. Kita semua tahu seperti apa Hendra.” Ibu mertuaku segera membela putranya. “Hendra berbeda dengan Angga, yang sejak dulu foya-foya tidak jelas arahnya. Tiga tahun lebih dia keluar dari kuliah bisnis, tapi sampai sekarang tidak pernah membantu ayahnya di kantor.” ia melirik Angga yang duduk di seberang meja dengan tatapan yang sedikit merendahkan. Mas Angga hanya diam tanpa menunjukan tanda-tanda marah ataupun terpancing emosi. Ia sepertinya malas sekali menangapi hinaan istri kedua ayahnya itu. Sejak kematian ibu kandungnya, ia menjadi sosok yang lebih pendiam dan jarang berbicara. “Hana, aku tidak ingin menekanmu. Tapi usia juga tidak bisa ditunggu. Tubuhku sudah tidak sekuat dulu lagi. Aku ingin cepat-cepat melihat cucuku bermain di halaman rumah ini sebelum aku tidak bisa lagi berdiri lagi untuk selamanya.” Aku menelan ludah dengan susah payah, tenggorokanku terasa kering dan sakit. “Aku mengerti, Ayah,” jawabku. “Kalau ada masalah, bicarakan saja. Keluarga ini tidak ingin melihat pernikahan kalian hanya bertahan di atas kertas.” Lanjutnya dan kalimat itu membuatku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Seandainya saja ayah mertua tahu betapa hampa rumah tanggaku selama ini, dia tidak akan berkata begini. “Soal warisan itu mungkin belum perlu diputuskan sekarang.” Mas Angga angkat bicara. “Kenapa? Apakah kamu punya sesuatu yang ingin katakan?” “Tekanan seperti ini justru bisa merusak mental. Apalagi jika menyangkut soal pernikahan dan anak-anak.” Aku terpaku, kelopak mataku melebar saat menatap wajahnya dari samping. Memproses nada bicaranya yang tak biasa, seolah-olah mas Angga sedang memasang badan untukku. “Aku tidak ingin anak hanya lahir karena tuntutan keluarga atau untuk mendapatkan warisan. Bukan karena cinta dan keinginan bersama dari kedua orang tuanya,” ucapnya lagi. “Cinta bisa tumbuh seiring waktu. Seperti aku dan ayahmu, kami juga tidak saling cinta pada awalnya. Tapi sekarang kami bahagia dan memiliki keluarga yang utuh,” sahut ibu mertuaku tak suka mendengar kalimat itu. “Memang bisa! Tapi tidak selalu. Dan memaksa cinta hanya akan membuat semua orang terluka,” ucap mas Angga yang sontak membuat ibu mertuaku diam tanpa kata. Ayah mertuaku manggut-manggut sembari mengusap dagunya dengan jari telunjuk, seperti sedang mempertimbangkan setiap kata yang keluar dari mulut putra sulungnya.“Hendra, tunggu, Nak. Dengarkan penjelasan Ibu dulu!” seru ibu mertuaku dengan nafas terengah-engah. Mas Hendra tidak menyahut. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu dengan penuh emosi, ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Benda itu memantul di atas seprai, seolah menggambarkan betapa kacau pikirannya saat ini.“Penjelasan apalagi yang harus aku dengar, Bu?” teriaknya sembari berbalik dengan mata yang memerah dan napas memburu. “Sejak dulu, ayah memang tidak pernah menganggapku sebagai putranya. Dia buta! Dia tidak pernah menghargai keringat dan darah yang aku keluarkan untuk perusahaan! Yang ada di kepalanya hanya Angga, Angga, dan Angga! Aku muak dianggap sebagai figuran di rumahku sendiri!”Mas Hendra merasakan sakit di dalam dadanya, seolah ada benda tajam yang menusuknya setiap kali mengingat bagaimana ayahnya selalu memberikan senyuman hangat dan pujian pada mas Angga, sementara dirinya hanya mendapatkan tatapan dingin dan ucapan yang penuh kritikan.Ibu mertuaku melang
“Kenapa kamu terlihat terkejut begitu, Hana? Apa kamu keberatan mendampingi Angga?” tanya ayah mertua. Wajahnya yang keriput menambah keseriusan pada setiap kata yang keluar dari bibirnya, sementara tangannya yang kusam mengusap permukaan meja makan. Aku menelan ludah dengan susah payah, rasanya seperti ada batu besar yang terjepit di tenggorokanku. Bibirku terasa kering walau aku baru saja menyegarkan diri dengan segelas jus jeruk. Bukannya aku keberatan mendampingi seseorang dalam mengelola perusahaan keluarga yang telah berdiri sejak lima puluh tahun yang lalu, andai saja jika pria yang akan aku dampingi bukan mas Angga, aku akan langsung setuju tanpa ragu.Sayangnya, aku sekarang bingung harus menjawab apa. Mataku melirik ke arah piring makan yang masih tersisa sebagian nasi putih dan lauk ayam bakar pedas yang biasanya kunikmati dengan senang hati, tapi hari ini rasanya semua makanan itu tidak menarik sama sekali. Aku ingin sekali menolak permintaan ayah mertuaku dengan tegas,
“Sudah selesai Mas?” tanyaku lirih. “Seperti yang kamu lihat.” beberapa saat kemudian mas Hendra kembali ke meja, dengan wajah lebih tegang dari sebelumnya. “Maafkan menunggu lama. Ada masalah di proyek Singapura. Kontraktor kita membatalkan kerja sama tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kita harus mencari pengganti dalam waktu tiga hari kalau tidak ingin terkena denda besar,” katanya sambil duduk perlahan, lalu mengambil segelas air putih dan meneguknya habis. “Uang dan jabatan itu bisa dicari, Hendra. Tapi warisan sesungguhnya adalah darah dagingmu sendiri. Apa gunanya kekayaan ini jika tidak ada suara tawa anak kecil di dalamnya? Aku butuh penerus, bukan sekadar angka di laporan keuanganmu,” ucap ayah mertuaku. Mas Hendra mengangguk. “Aku tahu, Ayah. Aku akan berusaha," jawab singkat. Lantas, pandangan ayah mertuaku kini beralih, menghunus tepat ke arah Mas Angga. “Dan kau, Angga. Sampai detik ini, tidak ada satu pun wanita yang kau bawa ke hadapanku. Apa kau berencana membiar
“Sudah waktunya aku membicarakan soal penerus keluarga. Karena semakin hari, aku semakin tua dan tidak bisa memikul jabatanku,” ucap Ayah mertuaku sembari menyapukan pandangan tajamnya, menatap kedua putranya secara bergantian.“Kamu benar suamiku. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” sahut ibu mertuaku dengan nada yang tegas.“Seperti yang kalian tahu, warisan utama keluarga akan diberikan pada putraku yang bisa memberiku cucu laki-laki.”Kalimat itu jatuh seperti sebuah vonis yang tidak bisa diubah, menggema di dalam kepalaku hingga aku merasa telingaku berdenging.Sendok ditanganku pun hampir terlepas. Ternyata benar ucapan ibu mertua yang menyelinap dalam bisikan saat aku sedang membersihkan piring tadi dan juga omongan singkat mas Angga bahwa ayah mertua sudah tidak sabar menunggu seorang cucu.Dadaku yang sudah bertahun-tahun kutempa untuk tetap tegar, kini terasa seperti dihunjam ribuan jarum tak kasat mata. Rasa sakit itu datang perlahan namun pasti, menusuk satu demi
“Mas...” lirihku, saat jemarinya mulai menjelajah dan meninggalkan jejak panas yang membakar permukaan kulitku. Ruangan sempit ini seolah kian menyusut, merampas oksigen dari paru-paruku hingga yang tersisa hanyalah udara pengap yang menyesakkan. Kepalaku berdenyut, bukan sekadar karena suhu yang merayap naik, melainkan akibat badai yang berkecamuk hebat di balik dadaku. Setiap sentuhannya yang lancang membuat napasku patah di pangkal tenggorokan. Panas itu menjalar tanpa permisi, membungkam kata-kata hingga aku hanya mampu terpaku. Ada rasa muak yang memanjat naik. Akal sehatku sebenarnya belum mati dan masih sanggup berteriak, bahkan memintaku untuk berontak dan melarikan diri dari jeratan ini. Namun, tubuhku justru berkhianat. Ia seolah memiliki memorinya sendiri, sebuah insting purba yang menolak patuh pada logika dan justru memilih untuk tenggelam lebih dalam. “Kenapa kamu ada di sini, Mas? Keluar sana!” usirku mendorong bahunya. “Siapa kamu berani mengusirku?" Ia memoj
“Turun, kita sudah sampai!” ucap mas Hendra begitu mobil berhenti di halaman rumah utama. Aku mengangguk patuh dan bergegas membuka pintu mobil. “Tetaplah tenang, Hana. Jangan gugup dan membuat semua orang curiga,” batinku sembari menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Jemariku meremas tas kecil yang bertengger dipundakku, sambil masih menunggu mas Hendra yang memarkirkan mobilnya. “Hendra, Hana, kalian sudah datang?” sapa ayah mertuaku yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan kami berdua di depan pintu utama. “Selamat sore Ayah. Bagaimana kabar anda?” tanyaku sembari membungkuk sedikit. “Sangat baik. Cepatlah masuk. Ibu dan kakak iparmu di dalam, sudah tidak sabar ingin bertemu kalian,” ucapnya seraya masuk terlebih dulu. Aku masih terpaku di tempat. Andai saja aku bisa, aku ingin kabur dari sini sekarang. Aku ingin lari sejauh mungkin, meninggalkan semua rahasia yang membuat hatiku selalu berdebar kencang. Sayangnya, di belakangku ada mas Hendra. Pr







