Share

Bab 4 Hampir Ketahuan

Author: Miss Reins
last update Last Updated: 2026-02-02 05:35:19

​“Mas...” lirihku, saat jemarinya mulai menjelajah dan meninggalkan jejak panas yang membakar permukaan kulitku.

Ruangan sempit ini seolah kian menyusut, merampas oksigen dari paru-paruku hingga yang tersisa hanyalah udara pengap yang menyesakkan.

Kepalaku berdenyut, bukan sekadar karena suhu yang merayap naik, melainkan akibat badai yang berkecamuk hebat di balik dadaku.

Setiap sentuhannya yang lancang membuat napasku patah di pangkal tenggorokan. Panas itu menjalar tanpa permisi, membungkam kata-kata hingga aku hanya mampu terpaku.

Ada rasa muak yang memanjat naik. Akal sehatku sebenarnya belum mati dan masih sanggup berteriak, bahkan memintaku untuk berontak dan melarikan diri dari jeratan ini.

Namun, tubuhku justru berkhianat. Ia seolah memiliki memorinya sendiri, sebuah insting purba yang menolak patuh pada logika dan justru memilih untuk tenggelam lebih dalam.

“Kenapa kamu ada di sini, Mas? Keluar sana!” usirku mendorong bahunya.

“Siapa kamu berani mengusirku?" Ia memojokkanku ke dinding dengan posisi membelakanginya.

Bahuku terkunci di dalam kungkungannya. Hingga kain itu tak lagi berada di tempat semula.

Aku bisa merasakan perubahan kecil yang membuat dadaku mengencang tanpa perlu ia mengatakan apa pun.

“Kamu benar-benar sudah gila Mas!”

“Ya, anggap saja begitu,” ucapnya tanpa rasa bersalah.

“Berapa kali lagi aku harus mengatakan! Aku ini adik iparmu!"

“Ipar? Sejak kapan aku menganggap mu sebagai adik ipar?”

Aku mendengus kesal. Apa mas Angga sudah hilang ingatan atau kepalanya baru saja terbentur? Jelas-jelas tadi dia melihat aku bersama dengan mas Hendra.

Batasan diantara kami pun, kini tiada berjarak. Tubuhku terperangkap dalam rengkuhannya, hingga membuat pikiranku kosong seketika.

“Mas, aku mohon, jangan begini!” teriakku tertahan sambil berusaha mendorongnya. Aku takut suaraku menembus dinding dan terdengar sampai ke ruang makan.

“Ayahku menginginkan seorang cucu dan aku akan memberikannya,” ucapnya dengan penuh keyakinan.

“Ya tinggal berikan saja sana. Apa hubungannya denganku sih!” ketusku.

Ia malah menyeringai ngeri. Aku bisa melihatnya dari pantulan cermin. Sebuah senyum yang membuatku merinding.

“Tentu akan segera aku berikan tapi dari rahimmu,” ucapnya tanpa beban sama sekali.

Mataku terbuka lebar, lalu segalanya seolah runtuh perlahan. Ada irama yang menyusup diam-diam, mengguncang kesadaranku hingga suaraku luruh tanpa persetujuan.

Aku mengutuk diriku sendiri atas reaksi itu.

Memang, sudah lama aku berharap akan kehadiran seorang anak. Namun, dalam mimpiku, anak itu haruslah berasal dari benih mas Hendra, bukan dari kakak iparku yang pemaksa ini.

“Mas, berhenti. Jangan ulangi kesalahan yang sama seperti semalam,” ucapku dengan memohon.

“Kali ini aku melakukannya karena aku ingin!” Alih-alih menjauh, ia justru merengkuh jarak itu, memaksakan kedekatan yang membuat tubuhku tersentak dan kesadaranku goyah dalam satu tarikan napas.

Semuanya terjadi begitu saja. Rasanya memang masih menyakitkan, meski ini bukan yang pertama kali aku melakukannya dengan mas Angga.

“Ugh...” suara lenguhan lepas dari bibirku saat tubuhku menegang. Perih yang menusuk itu berbelok arah, menjalar menjadi getaran asing yang justru membuatku menyerah.

“Diam atau mereka semua bisa mendengarmu,” ucapnya sembari mencengkram pinggangku dengan kuat dan mempercepat temponya.

“Mas stop!”

“Sayangnya, aku tidak bisa berhenti sekarang. Kalau dari awal aku tahu kamu senikmat ini, aku tidak akan memberikanmu pada Hendra,” bisiknya nyaris berupa geraman di telingaku.

Bersamaan dengan itu, jemarinya membenam dalam di pinggangku, memaksa tubuhku mengikuti ritme gerakannya yang kian memburu tanpa ampun.

Kata-katanya tadi sempat mengingatkanku pada masa lalu, saat aku pernah dijodohkan dengannya dan dia malah menolakku mentah-mentah.

Lalu sekarang, ia mengambil apa yang bukan haknya dengan cara yang paling menjijikan.

Hingga akhirnya, erangan tertahan dari bibir kami masing-masing menandai akhir dari pergulatan dosa ini.

Sesuatu yang hangat mengalir di dalam diriku, sebuah benih pengkhianatan yang mungkin akan menjadi bom waktu di masa depan.

“Hana! Dimana kamu? Ayah dan ibu sudah menunggu!” teriak mas Hendra, membuatku terkejut dan langsung sadar.

Dengan tangan gemetar, aku merapikan rambut dan pakaianku yang kusut.

Sementara itu, mas Hendra yang cemas karena tak kunjung mendapat jawaban, mulai mendekat ke arah pintu.

“Sekarang kita harus bagaimana Mas?” tanyaku pada mas Angga dengan wajah pucat.

Mas Angga justru menunjukkan sisi iblisnya. Ia hanya mengangkat bahu dengan sikap acuh tak acuh.

“Mas, kenapa malah diam!” geramku tertahan.

“Kalau kita ketahuan, mungkin dia akan langsung menceraikan mu,” ucapnya dengan enteng.

“Hah? Cerai?”

“Ya, cerai.”

Aku menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa dia menganggap pernikahan dan kesetiaan sebagai sebuah permainan? Aku merasa seperti barang yang bisa dioper sesuka hati.

“Kamu memang menyebalkan Mas!” Aku memukul dadanya berulang kali, menyalurkan segala rasa benci dan frustrasi ku.

Mas Angga dengan cepat menahan tanganku dan kembali membungkam bibirku, memastikan aku tidak bisa bersuara sedikitpun.

“Hana, kamu di dalam kan? Apa kamu benar-benar sakit?” tanya mas Hendra sembari mengetuk pintu kamar mandi, membuatku merasa semakin bersalah.

Aku mendongak, menatap mas Angga. Ia hanya mengangguk perlahan, seolah memintaku untuk menjawab suamiku.

“I—iya mas Hendra. Tunggu sebentar ya, aku masih belum selesai,” ucapku, memberikan alasan paling konyol yang pernah aku buat.

Apakah mas Hendra akan percaya? Ataukah dia memang sebenarnya sudah tahu dan sedang menguji kejujuranku?

Hening sejenak, hingga tak lama, aku pun mendengar jawaban darinya.

“Oh baiklah. Aku ke sana dulu. Sekalian mencari mas Angga karena dia juga tiba-tiba menghilang,” ucap mas Hendra lalu bergegas pergi.

Begitu suara langkah kaki itu menghilang, mas Angga kembali merengkuh pinggangku dari belakang dan mengecup pundakku yang terbuka berulang kali.

“Wah ternyata wanita sepertimu ini pandai sekali berbohong. Atau karena kamu ingin berlama-lama berada di sini bersamaku, adik ipar?” ejeknya dengan nada meremehkan.

“Apa-apaan sih kamu!” Aku mendorongnya dengan seluruh sisa tenagaku dan langsung buru-buru keluar sebelum ada seseorang yang melihat kami berdua.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 8 Kamu Masih Normal Kan?

    “Hendra, tunggu, Nak. Dengarkan penjelasan Ibu dulu!” seru ibu mertuaku dengan nafas terengah-engah. Mas Hendra tidak menyahut. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu dengan penuh emosi, ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Benda itu memantul di atas seprai, seolah menggambarkan betapa kacau pikirannya saat ini.“Penjelasan apalagi yang harus aku dengar, Bu?” teriaknya sembari berbalik dengan mata yang memerah dan napas memburu. “Sejak dulu, ayah memang tidak pernah menganggapku sebagai putranya. Dia buta! Dia tidak pernah menghargai keringat dan darah yang aku keluarkan untuk perusahaan! Yang ada di kepalanya hanya Angga, Angga, dan Angga! Aku muak dianggap sebagai figuran di rumahku sendiri!”Mas Hendra merasakan sakit di dalam dadanya, seolah ada benda tajam yang menusuknya setiap kali mengingat bagaimana ayahnya selalu memberikan senyuman hangat dan pujian pada mas Angga, sementara dirinya hanya mendapatkan tatapan dingin dan ucapan yang penuh kritikan.Ibu mertuaku melang

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 7 Keputusan Bulat

    “Kenapa kamu terlihat terkejut begitu, Hana? Apa kamu keberatan mendampingi Angga?” tanya ayah mertua. Wajahnya yang keriput menambah keseriusan pada setiap kata yang keluar dari bibirnya, sementara tangannya yang kusam mengusap permukaan meja makan. Aku menelan ludah dengan susah payah, rasanya seperti ada batu besar yang terjepit di tenggorokanku. Bibirku terasa kering walau aku baru saja menyegarkan diri dengan segelas jus jeruk. Bukannya aku keberatan mendampingi seseorang dalam mengelola perusahaan keluarga yang telah berdiri sejak lima puluh tahun yang lalu, andai saja jika pria yang akan aku dampingi bukan mas Angga, aku akan langsung setuju tanpa ragu.Sayangnya, aku sekarang bingung harus menjawab apa. Mataku melirik ke arah piring makan yang masih tersisa sebagian nasi putih dan lauk ayam bakar pedas yang biasanya kunikmati dengan senang hati, tapi hari ini rasanya semua makanan itu tidak menarik sama sekali. Aku ingin sekali menolak permintaan ayah mertuaku dengan tegas,

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 6 Jebakan Maut

    “Sudah selesai Mas?” tanyaku lirih. “Seperti yang kamu lihat.” beberapa saat kemudian mas Hendra kembali ke meja, dengan wajah lebih tegang dari sebelumnya. “Maafkan menunggu lama. Ada masalah di proyek Singapura. Kontraktor kita membatalkan kerja sama tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kita harus mencari pengganti dalam waktu tiga hari kalau tidak ingin terkena denda besar,” katanya sambil duduk perlahan, lalu mengambil segelas air putih dan meneguknya habis. “Uang dan jabatan itu bisa dicari, Hendra. Tapi warisan sesungguhnya adalah darah dagingmu sendiri. Apa gunanya kekayaan ini jika tidak ada suara tawa anak kecil di dalamnya? Aku butuh penerus, bukan sekadar angka di laporan keuanganmu,” ucap ayah mertuaku. Mas Hendra mengangguk. “Aku tahu, Ayah. Aku akan berusaha," jawab singkat. Lantas, pandangan ayah mertuaku kini beralih, menghunus tepat ke arah Mas Angga. “Dan kau, Angga. Sampai detik ini, tidak ada satu pun wanita yang kau bawa ke hadapanku. Apa kau berencana membiar

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 5 Pewaris Keluarga

    “Sudah waktunya aku membicarakan soal penerus keluarga. Karena semakin hari, aku semakin tua dan tidak bisa memikul jabatanku,” ucap Ayah mertuaku sembari menyapukan pandangan tajamnya, menatap kedua putranya secara bergantian.“Kamu benar suamiku. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” sahut ibu mertuaku dengan nada yang tegas.“Seperti yang kalian tahu, warisan utama keluarga akan diberikan pada putraku yang bisa memberiku cucu laki-laki.”Kalimat itu jatuh seperti sebuah vonis yang tidak bisa diubah, menggema di dalam kepalaku hingga aku merasa telingaku berdenging.Sendok ditanganku pun hampir terlepas. Ternyata benar ucapan ibu mertua yang menyelinap dalam bisikan saat aku sedang membersihkan piring tadi dan juga omongan singkat mas Angga bahwa ayah mertua sudah tidak sabar menunggu seorang cucu.Dadaku yang sudah bertahun-tahun kutempa untuk tetap tegar, kini terasa seperti dihunjam ribuan jarum tak kasat mata. Rasa sakit itu datang perlahan namun pasti, menusuk satu demi

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 4 Hampir Ketahuan

    ​“Mas...” lirihku, saat jemarinya mulai menjelajah dan meninggalkan jejak panas yang membakar permukaan kulitku. Ruangan sempit ini seolah kian menyusut, merampas oksigen dari paru-paruku hingga yang tersisa hanyalah udara pengap yang menyesakkan. Kepalaku berdenyut, bukan sekadar karena suhu yang merayap naik, melainkan akibat badai yang berkecamuk hebat di balik dadaku. Setiap sentuhannya yang lancang membuat napasku patah di pangkal tenggorokan. Panas itu menjalar tanpa permisi, membungkam kata-kata hingga aku hanya mampu terpaku. Ada rasa muak yang memanjat naik. Akal sehatku sebenarnya belum mati dan masih sanggup berteriak, bahkan memintaku untuk berontak dan melarikan diri dari jeratan ini. Namun, tubuhku justru berkhianat. Ia seolah memiliki memorinya sendiri, sebuah insting purba yang menolak patuh pada logika dan justru memilih untuk tenggelam lebih dalam. “Kenapa kamu ada di sini, Mas? Keluar sana!” usirku mendorong bahunya. “Siapa kamu berani mengusirku?" Ia memoj

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 3 Apa Kamu Mandul?

    “Turun, kita sudah sampai!” ucap mas Hendra begitu mobil berhenti di halaman rumah utama. Aku mengangguk patuh dan bergegas membuka pintu mobil. “Tetaplah tenang, Hana. Jangan gugup dan membuat semua orang curiga,” batinku sembari menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Jemariku meremas tas kecil yang bertengger dipundakku, sambil masih menunggu mas Hendra yang memarkirkan mobilnya. “Hendra, Hana, kalian sudah datang?” sapa ayah mertuaku yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan kami berdua di depan pintu utama. “Selamat sore Ayah. Bagaimana kabar anda?” tanyaku sembari membungkuk sedikit. “Sangat baik. Cepatlah masuk. Ibu dan kakak iparmu di dalam, sudah tidak sabar ingin bertemu kalian,” ucapnya seraya masuk terlebih dulu. Aku masih terpaku di tempat. Andai saja aku bisa, aku ingin kabur dari sini sekarang. Aku ingin lari sejauh mungkin, meninggalkan semua rahasia yang membuat hatiku selalu berdebar kencang. Sayangnya, di belakangku ada mas Hendra. Pr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status