Share

Bab 6 Jebakan Maut

Author: Miss Reins
last update Last Updated: 2026-02-02 07:03:04

“Sudah selesai Mas?” tanyaku lirih.

“Seperti yang kamu lihat.” beberapa saat kemudian mas Hendra kembali ke meja, dengan wajah lebih tegang dari sebelumnya.

“Maafkan menunggu lama. Ada masalah di proyek Singapura. Kontraktor kita membatalkan kerja sama tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kita harus mencari pengganti dalam waktu tiga hari kalau tidak ingin terkena denda besar,” katanya sambil duduk perlahan, lalu mengambil segelas air putih dan meneguknya habis.

“Uang dan jabatan itu bisa dicari, Hendra. Tapi warisan sesungguhnya adalah darah dagingmu sendiri. Apa gunanya kekayaan ini jika tidak ada suara tawa anak kecil di dalamnya? Aku butuh penerus, bukan sekadar angka di laporan keuanganmu,” ucap ayah mertuaku.

Mas Hendra mengangguk. “Aku tahu, Ayah. Aku akan berusaha," jawab singkat.

Lantas, pandangan ayah mertuaku kini beralih, menghunus tepat ke arah Mas Angga.

“Dan kau, Angga. Sampai detik ini, tidak ada satu pun wanita yang kau bawa ke hadapanku. Apa kau berencana membiarkan warisan keluarga ini menguap begitu saja?” Beliau menyesap kopinya sejenak sebelum melanjutkan.

“Tidak juga,” jawabnya singkat.

“Jika kau tidak sanggup mencari sendiri, biar aku yang turun tangan. Aku akan mencarikan wanita dari silsilah terhormat, seseorang yang pantas mendampingimu dan segera memberiku cucu. Bagaimana?”

Pria itu tak bergeming sama sekali. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menyesap air putihnya dengan tenang seolah pertanyaan ayahnya itu hanyalah angin lalu.

“Simpan saja daftar wanita itu untuk orang lain. Aku tidak tertarik pada wanita yang dipilihkan berdasarkan kontrak bisnis. Aku sudah menemukan apa yang kucari. Dia sudah ada di dekatku. Bahkan mungkin lebih dekat dari yang kalian bayangkan,” ucapnya tenang sembari melirik ke arahku.

Tatapan mas Angga tak bergeser seinci pun dariku saat ia mengucapkan kalimat ambigu itu. Sepasang matanya yang tajam seolah sedang melucuti pertahananku di depan semua orang, membuat tenggorokanku mendadak kering.

Aku terpaksa menelan ludah dengan susah payah, berusaha keras mengalihkan pandangan ke arah piring di depanku.

“Dasar gila! Apa yang dia lakukan sih! Kenapa dia terus menatapku seolah aku ini mangsanya?" makiku dalam hati. Jantungku berdentum tidak keruan, takut jika satu saja orang di meja ini menyadari ada percikan aneh yang sedang ia lemparkan padaku.

“Aku percaya padamu. Segera bawa wanita itu kemari. Aku ingin melihat wanita mana yang sudah berhasil memenangkan hatimu,” ucap ayah mertuaku dengan suara berat dan penuh wibawa, memecah ketegangan yang sempat menggantung diantara kami.

“Tentu. Secepatnya,” jawab mas Angga.

Sudut bibirnya terangkat tipis, sebuah seringai samar yang membuatku merinding seketika.

Pembicaraan yang semula hanya tentang keturunan, tiba-tiba berubah arah saat ayah mertuaku meletakkan serbetnya di atas meja.

“Oh ya, mulai besok, Angga akan mulai turun ke kantor untuk belajar memimpin perusahaan,” ucapnya.

Tring!

Bunyi denting sendok yang menghantam piring terdengar begitu nyaring. Aku bisa melihat ibu mertua dan mas Hendra saling melempar tatapan tajam.

Ada kilat ketidaksukaan yang begitu kental menyeruak di antara mereka berdua.

“Kenapa harus Angga, Mas? Bukankah selama ini Hendra yang sudah ikut andil di sana?” sahut ibu mertua dengan menahan dongkol.

Ayah mertuaku hanya mendengus pelan, seolah protes itu hanyalah angin lalu.

“Hendra sedang mengurus proyek di Singapura, dia sudah punya porsinya sendiri. Lagipula, aku menyuruh Angga pulang bukan hanya untuk menagih cucu. Bagaimanapun juga, Angga adalah calon pemegang saham terbesar di perusahaan ini. Jangan lupa, mendiang ibunya—”

“Aku sudah selesai!” mas Hendra memotong kalimat ayahnya dengan kasar. Ia bangkit berdiri dengan wajah merah padam.

Rahangnya mengeras karena harga dirinya baru saja diinjak-injak di depan kakak laki-laki yang selama ini ia anggap saingan.

Tanpa sepatah kata pamit pun, ia melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan langkah lebar yang sarat akan amarah.

“Kamu egois, Mas! Selalu saja begitu! Lihatlah perjuangan Hendra sekali saja!” ibu mertuaku tak tinggal diam. Ia menatap suaminya dengan penuh kebencian sebelum akhirnya bergegas menyusul putra kesayangannya.

Ruang makan itu kini hanya menyisakan kami bertiga. Namun, Ayah Mertuaku tampak tidak terganggu sedikit pun.

Beliau menyesap sisa kopinya dengan santai, seolah badai yang baru saja lewat hanyalah tontonan remeh.

“Jangan terlalu dipikirkan. Mereka hanya butuh waktu untuk menelan kenyataan,” ucap beliau dingin. Ia kemudian menoleh ke arahku.

“Hana, besok dampingi Angga mengurus semuanya. Mulai sekarang, kamu akan menjadi sekretaris pribadinya,” titahnya.

Apa aku tidak salah dengar? Menjadi sekertaris pribadinya? Duniaku serasa berhenti berputar. Aku tersedak udara yang kuhirup sendiri.

“Dia butuh belajar lagi. Meskipun sudah lulus kuliah bisnis di luar negeri, bukan berarti aku langsung percaya pada kemampuannya begitu saja. Kamu yang paling tahu seluk-beluk perusahaan kita, jadi pastikan dia tidak membuat kesalahan,” putus beliau tanpa mau dibantah.

“Aku dan dia ayah?” pekikku tak percaya sembari menunjuk mas Angga.

Aku berharap pria itu akan menolak ide gila ini.

Sayangnya, yang kutemukan justru tatapan penuh ketenangan di wajahnya. Sama seperti sikap acuhnya tadi saat kami melakukannya di kamar mandi.

Menjadi sekretaris pribadinya berarti aku akan terjebak bersamanya di ruang tertutup selama berjam-jam setiap hari.

Itu bukan pekerjaan, itu adalah jebakan maut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 8 Kamu Masih Normal Kan?

    “Hendra, tunggu, Nak. Dengarkan penjelasan Ibu dulu!” seru ibu mertuaku dengan nafas terengah-engah. Mas Hendra tidak menyahut. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu dengan penuh emosi, ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Benda itu memantul di atas seprai, seolah menggambarkan betapa kacau pikirannya saat ini.“Penjelasan apalagi yang harus aku dengar, Bu?” teriaknya sembari berbalik dengan mata yang memerah dan napas memburu. “Sejak dulu, ayah memang tidak pernah menganggapku sebagai putranya. Dia buta! Dia tidak pernah menghargai keringat dan darah yang aku keluarkan untuk perusahaan! Yang ada di kepalanya hanya Angga, Angga, dan Angga! Aku muak dianggap sebagai figuran di rumahku sendiri!”Mas Hendra merasakan sakit di dalam dadanya, seolah ada benda tajam yang menusuknya setiap kali mengingat bagaimana ayahnya selalu memberikan senyuman hangat dan pujian pada mas Angga, sementara dirinya hanya mendapatkan tatapan dingin dan ucapan yang penuh kritikan.Ibu mertuaku melang

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 7 Keputusan Bulat

    “Kenapa kamu terlihat terkejut begitu, Hana? Apa kamu keberatan mendampingi Angga?” tanya ayah mertua. Wajahnya yang keriput menambah keseriusan pada setiap kata yang keluar dari bibirnya, sementara tangannya yang kusam mengusap permukaan meja makan. Aku menelan ludah dengan susah payah, rasanya seperti ada batu besar yang terjepit di tenggorokanku. Bibirku terasa kering walau aku baru saja menyegarkan diri dengan segelas jus jeruk. Bukannya aku keberatan mendampingi seseorang dalam mengelola perusahaan keluarga yang telah berdiri sejak lima puluh tahun yang lalu, andai saja jika pria yang akan aku dampingi bukan mas Angga, aku akan langsung setuju tanpa ragu.Sayangnya, aku sekarang bingung harus menjawab apa. Mataku melirik ke arah piring makan yang masih tersisa sebagian nasi putih dan lauk ayam bakar pedas yang biasanya kunikmati dengan senang hati, tapi hari ini rasanya semua makanan itu tidak menarik sama sekali. Aku ingin sekali menolak permintaan ayah mertuaku dengan tegas,

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 6 Jebakan Maut

    “Sudah selesai Mas?” tanyaku lirih. “Seperti yang kamu lihat.” beberapa saat kemudian mas Hendra kembali ke meja, dengan wajah lebih tegang dari sebelumnya. “Maafkan menunggu lama. Ada masalah di proyek Singapura. Kontraktor kita membatalkan kerja sama tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kita harus mencari pengganti dalam waktu tiga hari kalau tidak ingin terkena denda besar,” katanya sambil duduk perlahan, lalu mengambil segelas air putih dan meneguknya habis. “Uang dan jabatan itu bisa dicari, Hendra. Tapi warisan sesungguhnya adalah darah dagingmu sendiri. Apa gunanya kekayaan ini jika tidak ada suara tawa anak kecil di dalamnya? Aku butuh penerus, bukan sekadar angka di laporan keuanganmu,” ucap ayah mertuaku. Mas Hendra mengangguk. “Aku tahu, Ayah. Aku akan berusaha," jawab singkat. Lantas, pandangan ayah mertuaku kini beralih, menghunus tepat ke arah Mas Angga. “Dan kau, Angga. Sampai detik ini, tidak ada satu pun wanita yang kau bawa ke hadapanku. Apa kau berencana membiar

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 5 Pewaris Keluarga

    “Sudah waktunya aku membicarakan soal penerus keluarga. Karena semakin hari, aku semakin tua dan tidak bisa memikul jabatanku,” ucap Ayah mertuaku sembari menyapukan pandangan tajamnya, menatap kedua putranya secara bergantian.“Kamu benar suamiku. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” sahut ibu mertuaku dengan nada yang tegas.“Seperti yang kalian tahu, warisan utama keluarga akan diberikan pada putraku yang bisa memberiku cucu laki-laki.”Kalimat itu jatuh seperti sebuah vonis yang tidak bisa diubah, menggema di dalam kepalaku hingga aku merasa telingaku berdenging.Sendok ditanganku pun hampir terlepas. Ternyata benar ucapan ibu mertua yang menyelinap dalam bisikan saat aku sedang membersihkan piring tadi dan juga omongan singkat mas Angga bahwa ayah mertua sudah tidak sabar menunggu seorang cucu.Dadaku yang sudah bertahun-tahun kutempa untuk tetap tegar, kini terasa seperti dihunjam ribuan jarum tak kasat mata. Rasa sakit itu datang perlahan namun pasti, menusuk satu demi

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 4 Hampir Ketahuan

    ​“Mas...” lirihku, saat jemarinya mulai menjelajah dan meninggalkan jejak panas yang membakar permukaan kulitku. Ruangan sempit ini seolah kian menyusut, merampas oksigen dari paru-paruku hingga yang tersisa hanyalah udara pengap yang menyesakkan. Kepalaku berdenyut, bukan sekadar karena suhu yang merayap naik, melainkan akibat badai yang berkecamuk hebat di balik dadaku. Setiap sentuhannya yang lancang membuat napasku patah di pangkal tenggorokan. Panas itu menjalar tanpa permisi, membungkam kata-kata hingga aku hanya mampu terpaku. Ada rasa muak yang memanjat naik. Akal sehatku sebenarnya belum mati dan masih sanggup berteriak, bahkan memintaku untuk berontak dan melarikan diri dari jeratan ini. Namun, tubuhku justru berkhianat. Ia seolah memiliki memorinya sendiri, sebuah insting purba yang menolak patuh pada logika dan justru memilih untuk tenggelam lebih dalam. “Kenapa kamu ada di sini, Mas? Keluar sana!” usirku mendorong bahunya. “Siapa kamu berani mengusirku?" Ia memoj

  • Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!    Bab 3 Apa Kamu Mandul?

    “Turun, kita sudah sampai!” ucap mas Hendra begitu mobil berhenti di halaman rumah utama. Aku mengangguk patuh dan bergegas membuka pintu mobil. “Tetaplah tenang, Hana. Jangan gugup dan membuat semua orang curiga,” batinku sembari menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Jemariku meremas tas kecil yang bertengger dipundakku, sambil masih menunggu mas Hendra yang memarkirkan mobilnya. “Hendra, Hana, kalian sudah datang?” sapa ayah mertuaku yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan kami berdua di depan pintu utama. “Selamat sore Ayah. Bagaimana kabar anda?” tanyaku sembari membungkuk sedikit. “Sangat baik. Cepatlah masuk. Ibu dan kakak iparmu di dalam, sudah tidak sabar ingin bertemu kalian,” ucapnya seraya masuk terlebih dulu. Aku masih terpaku di tempat. Andai saja aku bisa, aku ingin kabur dari sini sekarang. Aku ingin lari sejauh mungkin, meninggalkan semua rahasia yang membuat hatiku selalu berdebar kencang. Sayangnya, di belakangku ada mas Hendra. Pr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status