LOGIN“Kenapa kamu terlihat terkejut begitu, Hana? Apa kamu keberatan mendampingi Angga?” tanya ayah mertua. Wajahnya yang keriput menambah keseriusan pada setiap kata yang keluar dari bibirnya, sementara tangannya yang kusam mengusap permukaan meja makan.
Aku menelan ludah dengan susah payah, rasanya seperti ada batu besar yang terjepit di tenggorokanku. Bibirku terasa kering walau aku baru saja menyegarkan diri dengan segelas jus jeruk. Bukannya aku keberatan mendampingi seseorang dalam mengelola perusahaan keluarga yang telah berdiri sejak lima puluh tahun yang lalu, andai saja jika pria yang akan aku dampingi bukan mas Angga, aku akan langsung setuju tanpa ragu. Sayangnya, aku sekarang bingung harus menjawab apa. Mataku melirik ke arah piring makan yang masih tersisa sebagian nasi putih dan lauk ayam bakar pedas yang biasanya kunikmati dengan senang hati, tapi hari ini rasanya semua makanan itu tidak menarik sama sekali. Aku ingin sekali menolak permintaan ayah mertuaku dengan tegas, tapi apakah aku bisa? Setelah ayah tiada karena serangan jantung beberapa tahun yang lalu, semua keperluanku mulai dari biaya kuliah sampai kebutuhan sehari-hari, dibiayai olehnya. Tanpa bantuan dari keluarga mertuaku, aku tidak akan bisa menyelesaikan pendidikan sarjana. Lalu sekarang, sanggupkan aku menyakiti pria paruh baya yang sudah kuanggap seperti ayahku sendiri ini? Bagaimana aku bisa berkata tidak pada orang yang telah memberikan segalanya padaku? Aku menoleh ke arah mas Angga yang duduk di sisi lain meja. Dia nampak acuh tak acuh, bahkan malah sedang memainkan ponselnya dengan jari telunjuk yang meluncur cepat di layar sentuh, seolah pembicaraan ini sama sekali tidak penting bagi dirinya. Aku ingin memakinya dengan keras dan berkata agar dia menolak keputusan ayah mertuaku dengan tegas. Atau setidaknya dia bisa menolak dengan alasan tidak perlu ada orang yang mendampinginya. Tapi sepertinya, mas Angga santai-santai saja. Bahkan ada sedikit ekspresi tidak peduli yang terlihat dari sudut mulutnya yang terkunci rapat. “Em, begini Ayah, bukankah di perusahaan kita ada banyak karyawan berprestasi yang sudah berpengalaman bertahun-tahun. Bagaimana jika Ayah meminta salah satu dari mereka untuk membantu mas Angga? Aku yakin mereka lebih ahli dalam hal ini dibandingkan aku yang baru memasuki dunia kerja.” “Tidak bisa!” potong cepat ayah mertuaku dengan tegas dan tak bisa ditawar lagi. Seakan dia tahu apa yang ingin aku katakan bahkan sebelum aku menyampaikannya. “Selain kamu, tidak ada seorangpun yang mengerti soal perusahaan, bahkan Hendra sekalipun! Kamu yang paling paham dengan sistem kerja yang ayah bangun sendiri, kamu yang selalu ada di sisi ayah saat membicarakan rencana perusahaan. Angga membutuhkan orang yang bisa dipercaya, dan kamu adalah satu-satunya pilihan yang ayah punya, Hana!” Mas Angga yang sebelumnya sibuk dengan ponselnya kini mengangkat wajahnya, bibirnya membentuk senyum tipis, sangat tipis tapi aku bisa melihatnya dengan jelas karena jarak kami tidak terlalu jauh. Senyum itu adalah senyum paling menyebalkan yang pernah aku lihat terukir dari bibirnya, seolah dia merasa puas karena mendapatkan apa yang dia inginkan. “Awas kamu mas!” batinku dalam hati. Mataku menyipit, menatapnya dengan penuh kemarahan yang aku coba sembunyikan dari ayah mertua. Aku ingin mengucapkan kata-kata itu dengan keras, tapi aku tahu tidak pantas melakukannya di depan orang yang telah begitu baik padaku. “Mungkin dia keberatan karena khawatir Hendra akan cemburu,” sahut mas Angga tiba-tiba seraya menoleh ke arahku dengan ekspresi yang seolah-olah sedang membela diriku. Lalu, wajahnya kembali datar seperti biasanya, tak ada emosi yang terlihat jelas dari mata hitamnya yang dalam. “Cemburu? Apa kamu pikir Hendra itu masih remaja? Sudahlah, pokoknya keputusan ayah sudah bulat. Mau tidak mau, Hana harus menjadi sekertaris pribadi Angga! Sampai Angga mengerti soal perusahaan dengan benar, Hana harus terus ada bersamanya, titik!” putus mertuaku akhirnya sebelum ia meraih tongkat kayu dan berdiri dari tempat duduknya. Langkahnya yang sedikit goyah menunjukkan bahwa usianya yang sudah menginjak enam puluhan, mulai membuat tubuhnya tidak sekuat dulu. Seketika suasana meja makan menjadi hening. Hanya terdengar helaan nafas dariku yang cepat dan tidak teratur, serta tatapan dingin mas Angga yang sejak ayah mertuaku pergi telah tertuju padaku tanpa bergerak sedikitpun. “Puas kamu Mas? Aku yakin ini pasti salah satu rencana kamu supaya bisa dekat-dekat denganku kan?!” tuduhku tanpa alasan yang jelas. Pokoknya aku yakin mas Angga sudah meracuni pikiran ayah mertuaku dengan cerita-cerita bohong agar aku terpaksa bekerja bersamanya. Bagaimana mungkin ayah mertuaku bisa membuat keputusan seperti itu jika bukan karena ada yang membujuknya? Mas Angga beranjak dari kursinya, berjalan dengan langkah yang lambat namun pasti, sampai akhirnya ia berdiri tepat di depan ku dan membungkuk sedikit agar wajahnya sejajar dengan wajahku. Aku menahan nafas saat ia mendekat, aroma parfum pria yang ia gunakan menyebar di sekitar indera penciumanku. Ia mendekatkan bibirnya ke samping telingaku dan berbisik. “Jangan ge-er! Siapa juga yang mau dekat-dekat dengan kamu? Percaya diri sekali!” setelah mengatakan itu, mas Angga langsung mengangkat tubuhnya dan berbalik pergi tanpa melihatku lagi. Aku bersyukur akhirnya dia menjauh dariku, rasanya seperti beban berat yang sedikit terangkat dari bahuku meskipun masalah utama belum selesai. “Halah, pasti dia pura-pura! Tadi juga dia menyusulku dan berbuat senonoh di kamar mandi dapur!” umpatku kesal. Aku masih ingat betul, saat aku sedang menyiapkan peralatan makan di kamar mandi dapur, mas Angga tiba-tiba masuk dan menyentuhku dengan cara yang tidak pantas. “Dasar lelaki modus! Sudah pasti dia merencanakan semua ini dari awal supaya bisa menggangguku kapan saja!” kataku sambil membuang nafas panjang.“Hendra, tunggu, Nak. Dengarkan penjelasan Ibu dulu!” seru ibu mertuaku dengan nafas terengah-engah. Mas Hendra tidak menyahut. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu dengan penuh emosi, ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Benda itu memantul di atas seprai, seolah menggambarkan betapa kacau pikirannya saat ini.“Penjelasan apalagi yang harus aku dengar, Bu?” teriaknya sembari berbalik dengan mata yang memerah dan napas memburu. “Sejak dulu, ayah memang tidak pernah menganggapku sebagai putranya. Dia buta! Dia tidak pernah menghargai keringat dan darah yang aku keluarkan untuk perusahaan! Yang ada di kepalanya hanya Angga, Angga, dan Angga! Aku muak dianggap sebagai figuran di rumahku sendiri!”Mas Hendra merasakan sakit di dalam dadanya, seolah ada benda tajam yang menusuknya setiap kali mengingat bagaimana ayahnya selalu memberikan senyuman hangat dan pujian pada mas Angga, sementara dirinya hanya mendapatkan tatapan dingin dan ucapan yang penuh kritikan.Ibu mertuaku melang
“Kenapa kamu terlihat terkejut begitu, Hana? Apa kamu keberatan mendampingi Angga?” tanya ayah mertua. Wajahnya yang keriput menambah keseriusan pada setiap kata yang keluar dari bibirnya, sementara tangannya yang kusam mengusap permukaan meja makan. Aku menelan ludah dengan susah payah, rasanya seperti ada batu besar yang terjepit di tenggorokanku. Bibirku terasa kering walau aku baru saja menyegarkan diri dengan segelas jus jeruk. Bukannya aku keberatan mendampingi seseorang dalam mengelola perusahaan keluarga yang telah berdiri sejak lima puluh tahun yang lalu, andai saja jika pria yang akan aku dampingi bukan mas Angga, aku akan langsung setuju tanpa ragu.Sayangnya, aku sekarang bingung harus menjawab apa. Mataku melirik ke arah piring makan yang masih tersisa sebagian nasi putih dan lauk ayam bakar pedas yang biasanya kunikmati dengan senang hati, tapi hari ini rasanya semua makanan itu tidak menarik sama sekali. Aku ingin sekali menolak permintaan ayah mertuaku dengan tegas,
“Sudah selesai Mas?” tanyaku lirih. “Seperti yang kamu lihat.” beberapa saat kemudian mas Hendra kembali ke meja, dengan wajah lebih tegang dari sebelumnya. “Maafkan menunggu lama. Ada masalah di proyek Singapura. Kontraktor kita membatalkan kerja sama tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kita harus mencari pengganti dalam waktu tiga hari kalau tidak ingin terkena denda besar,” katanya sambil duduk perlahan, lalu mengambil segelas air putih dan meneguknya habis. “Uang dan jabatan itu bisa dicari, Hendra. Tapi warisan sesungguhnya adalah darah dagingmu sendiri. Apa gunanya kekayaan ini jika tidak ada suara tawa anak kecil di dalamnya? Aku butuh penerus, bukan sekadar angka di laporan keuanganmu,” ucap ayah mertuaku. Mas Hendra mengangguk. “Aku tahu, Ayah. Aku akan berusaha," jawab singkat. Lantas, pandangan ayah mertuaku kini beralih, menghunus tepat ke arah Mas Angga. “Dan kau, Angga. Sampai detik ini, tidak ada satu pun wanita yang kau bawa ke hadapanku. Apa kau berencana membiar
“Sudah waktunya aku membicarakan soal penerus keluarga. Karena semakin hari, aku semakin tua dan tidak bisa memikul jabatanku,” ucap Ayah mertuaku sembari menyapukan pandangan tajamnya, menatap kedua putranya secara bergantian.“Kamu benar suamiku. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” sahut ibu mertuaku dengan nada yang tegas.“Seperti yang kalian tahu, warisan utama keluarga akan diberikan pada putraku yang bisa memberiku cucu laki-laki.”Kalimat itu jatuh seperti sebuah vonis yang tidak bisa diubah, menggema di dalam kepalaku hingga aku merasa telingaku berdenging.Sendok ditanganku pun hampir terlepas. Ternyata benar ucapan ibu mertua yang menyelinap dalam bisikan saat aku sedang membersihkan piring tadi dan juga omongan singkat mas Angga bahwa ayah mertua sudah tidak sabar menunggu seorang cucu.Dadaku yang sudah bertahun-tahun kutempa untuk tetap tegar, kini terasa seperti dihunjam ribuan jarum tak kasat mata. Rasa sakit itu datang perlahan namun pasti, menusuk satu demi
“Mas...” lirihku, saat jemarinya mulai menjelajah dan meninggalkan jejak panas yang membakar permukaan kulitku. Ruangan sempit ini seolah kian menyusut, merampas oksigen dari paru-paruku hingga yang tersisa hanyalah udara pengap yang menyesakkan. Kepalaku berdenyut, bukan sekadar karena suhu yang merayap naik, melainkan akibat badai yang berkecamuk hebat di balik dadaku. Setiap sentuhannya yang lancang membuat napasku patah di pangkal tenggorokan. Panas itu menjalar tanpa permisi, membungkam kata-kata hingga aku hanya mampu terpaku. Ada rasa muak yang memanjat naik. Akal sehatku sebenarnya belum mati dan masih sanggup berteriak, bahkan memintaku untuk berontak dan melarikan diri dari jeratan ini. Namun, tubuhku justru berkhianat. Ia seolah memiliki memorinya sendiri, sebuah insting purba yang menolak patuh pada logika dan justru memilih untuk tenggelam lebih dalam. “Kenapa kamu ada di sini, Mas? Keluar sana!” usirku mendorong bahunya. “Siapa kamu berani mengusirku?" Ia memoj
“Turun, kita sudah sampai!” ucap mas Hendra begitu mobil berhenti di halaman rumah utama. Aku mengangguk patuh dan bergegas membuka pintu mobil. “Tetaplah tenang, Hana. Jangan gugup dan membuat semua orang curiga,” batinku sembari menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Jemariku meremas tas kecil yang bertengger dipundakku, sambil masih menunggu mas Hendra yang memarkirkan mobilnya. “Hendra, Hana, kalian sudah datang?” sapa ayah mertuaku yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan kami berdua di depan pintu utama. “Selamat sore Ayah. Bagaimana kabar anda?” tanyaku sembari membungkuk sedikit. “Sangat baik. Cepatlah masuk. Ibu dan kakak iparmu di dalam, sudah tidak sabar ingin bertemu kalian,” ucapnya seraya masuk terlebih dulu. Aku masih terpaku di tempat. Andai saja aku bisa, aku ingin kabur dari sini sekarang. Aku ingin lari sejauh mungkin, meninggalkan semua rahasia yang membuat hatiku selalu berdebar kencang. Sayangnya, di belakangku ada mas Hendra. Pr







