Mag-log inKanina masih berdiri di bawah kanopi, memperhatikan Bentley hitam itu menghilang di balik tirai hujan.Baru ketika mobil tersebut benar-benar lenyap dari pandangan, dia menarik langkah, berniat masuk kembali ke dalam toko.Namun, belum sempat mencapai pintu yang setengah terbuka, seseorang tiba-tiba menarik lengannya dari belakang.Tarikan itu cukup kuat. Kanina tersentak. Tubuhnya refleks berbalik, dan detik berikutnya dia langsung berhadapan dengan Harsya.Pria itu berdiri tegak, hampir basah kuyup oleh hujan. Wajahnya muram dan tatapannya menghunus seperti bilah pisau yang tajam.Kanina membelalakkan mata. Sejenak dia tertegun, sebelum akhirnya melangkah mundur sambil berusaha menarik lengannya.“Lepas!” katanya tegas.Suaranya cukup keras di antara rinai hujan yang kian deras. Namun, Harsya seperti tidak mendengarnya sama sekali. Cengkeraman di lengannya justru terasa semakin kuat.“Siapa laki-laki itu?” Satu pertanyaan terlontar dengan suara rendah yang terasa lebih dingi
Pagi itu, langit tampak muram. Awan kelabu menggantung rendah di atas kota, menutupi cahaya matahari dan membawa hawa dingin yang menusuk kulit.Sejak dini hari, hujan turun perlahan tanpa henti—rintik-rintik kecil memercik lembut di permukaan kaca jendela toko bunga yang masih tertutup rapat.Butiran air saling menyatu lalu meluncur turun perlahan, meninggalkan jejak-jejak bening yang tampak samar di balik pantulan lampu jalan yang belum padam sepenuhnya.Suasana pagi terasa sunyi dan lembap. Sesekali suara kendaraan melintas memecah keheningan, meninggalkan cipratan air di aspal yang basah.Sebuah taksi biru akhirnya berhenti pelan di depan toko. Pintu penumpang terbuka, Kanina turun lebih dulu sambil membuka payung hitam di tangannya. Rintik hujan segera mengenai ujung lengan bajunya sebelum dia sedikit memiringkan payung itu ke samping, melindungi Artanti yang menyusul turun di sampingnya.“Hujan...” Artanti bergumam pelan. Kanina tersenyum sambil menggenggam jemari sang
“Ibu jangan ke sana, ya?” Ralia berkata dengan lirih, nyaris seperti memohon. Sartika menatapnya dengan campuran antara rasa kasihan dan tidak puas. Namun, setelah beberapa saat terdiam, dia akhirnya mengembuskan napas panjang dan duduk kembali di sofa.Kemarahannya memang belum reda sama sekali, rasa kesal masih membara di hatinya, wajahnya bahkan masih muram, tetapi sekarang pikirannya mulai dipenuhi pertimbangan lain.Ralia perlahan ikut duduk di samping Sartika. Dengan penuh kelembutan, dia berkata, “Ibu nggak perlu khawatir. Aku sudah baik-baik saja.”Sartika melihat penampilannya yang masih berantakan dan semakin merasa tidak puas di dalam hati. “Tapi, Ibu masih nggak bisa terima kamu diperlakukan seperti ini.”Ralia mengulas senyuman lembut, tapi matanya yang merah dan berkaca-kaca justru membuat senyuman itu tampak menyedihkan.“Nggak apa-apa, Bu,” ucapnya. “Aku justru nggak bisa tenang kalau Ibu pergi ke sana. Pria itu sepertinya bukan orang biasa. Aku takut dia akan m
Ralia pulang ke rumah membawa sisa kemarahan yang belum juga reda. Sepanjang perjalanan, bayangan tentang kejadian di toko bunga itu terus berputar di kepalanya tanpa henti. Semakin diingat, semakin dadanya terasa sesak oleh kemarahan dan kebencian. Dia mengemudikan mobilnya lebih cepat. Jemarinya menggenggam setir dengan erat sampai buku-buku jarinya memutih. Ketika tiba di rumah yang dia tempati bersama Harsya, Ralia melihat mobil Sartika sudah terparkir di halaman. Itu bukan hal baru lagi, ibu mertuanya itu memang sering sekali mampir, hampir setiap hari. Ralia sebenarnya bosan, tetapi harus tetap berpura-pura menyambut dengan hangat demi menjaga citranya sebagai menantu yang baik, lembut dan penuh kasih sayang. Saat mobilnya berhenti tepat di samping mobil Sartika, Ralia tidak langsung turun. Dia secara naluriah melirik kaca spion, melihat pantulan dirinya yang kacau. Riasan wajahnya yang awalnya rapi dan halus sudah agak memudar. Rambut panjangnya sedikit berantakan.
Suara gesekan sapu dengan lantai terdengar pelan, berulang-ulang memecah kesunyian toko bunga yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.Ralia menggenggam gagang sapu erat hingga ruas jemarinya memutih. Wajahnya muram, bibirnya terkatup kaku, sementara sorot matanya dipenuhi emosi yang dipaksa ditekan.Setiap gerakan tangannya tampak kaku dan penuh keterpaksaan. Pecahan pot bunga di lantai dikumpulkannya perlahan, tanah yang berhamburan dibersihkan sedikit demi sedikit.Di dekat rak bunga, Althan masih berdiri dengan tenang. Tubuh tingginya bersandar di sisi rak kayu. Tidak ada ekspresi berarti di wajah pria itu. Namun tatapannya jelas sedang mengawasi.Di sisi lain, Kanina membawa Artanti duduk di kursi dekat meja kerja. Emosinya tampak sudah reda, digantikan ekspresi kebingungan, seolah tidak mengerti apa sedang terjadi.“Ibu di sini saja, ya?” ucap Kanina sambil mengusap tangan ibunya dengan lembut.Artanti tidak menjawab, hanya menatapnya dengan tatapan polos. Kanina memberinya se
Kalimat Althan terdengar ringan. Hampir seperti ucapan yang wajar. Tidak keras, tidak pula diwarnai emosi. Namun justru karena itu, sindiran di dalamnya terasa begitu jelas.Ralia langsung membeku, seolah seseorang baru saja menampar wajahnya di depan banyak orang—pelan, namun telak hingga meninggalkan rasa panas yang menjalar sampai ke dada.Untuk sesaat, dia lupa mempertahankan ekspresi rapuh yang sejak tadi dia bangun dengan susah payah. Matanya membelalak tipis, sementara bibirnya menegang tanpa sadar.“Masih mau berpura-pura?” Artanti berseru jengkel. Tangannya mengangkat botol semprot lagi, seakan sudah siap menghujani Ralia dengan semburan air jika masih bersandiwara.Kanina menahan tangan ibunya dengan lembut, namun senyum tipis tampak jelas di bibirnya. Ralia melihat itu sebagai ejekan dan kemarahan di dalam hatinya semakin bergejolak.Dia akhirnya menarik napas pelan, lalu perlahan bangkit berdiri dari lantai yang kotor, mengabaikan gaunnya yang sudah ternoda tanah di b







