Home / Romansa / Suami Perkasa / Cuma Pembantu

Share

Cuma Pembantu

last update publish date: 2025-10-23 23:15:29

Bel apartemennya berbunyi. Ting-tong!

Edgar mengerjap lelah, tapi segera tersenyum saat melihat siapa yang datang. “Lisa?”

Gadis di depan pintu tersenyum hangat, membawa sekotak kecil kue dalam tas kertas berwarna krem. Lisa adalah teman kuliah Edgar — gadis berwajah manis dengan poni tipis dan rambut sebahu yang dibiarkan tergerai lembut. Tubuhnya mungil, kulitnya bersih, dan gaya berpakaian kasualnya selalu tampak rapi tanpa berlebihan. Ia mengenakan blus putih sederhana dan celana jeans biru
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Perkasa   VCS

    --- Dinas luar kota ternyata jauh lebih melelahkan dari yang Mariana bayangkan. Seharian penuh meeting, presentasi, makan siang yang terasa seperti rapat tambahan, lalu lanjut lagi sampai malam. Begitu sampai hotel, yang ada bukan santai—malah badan rasanya rontok semua. Tapi yang paling terasa… sepi. Biasanya ada suara Lucy. Ada langkah kaki Edgar. Atau sekadar kehadiran mereka di rumah. Sekarang cuma kamar hotel yang terlalu rapi, terlalu sunyi. Mariana menjatuhkan diri ke kasur, masih dengan pakaian kerja. Menatap langit-langit sebentar… lalu tanpa sadar meraih ponselnya. Nama Edgar langsung muncul paling atas. Ia menekan video call. Tidak sampai tiga detik—diangkat. Layar menampilkan wajah Edgar yang sedikit lelah, tapi begitu melihat Mariana, ekspresinya langsung berubah. “Capek Sayang?” tanyanya. Mariana cuma mengangguk, bibirnya sedikit manyun. “Kamu juga keliatan capek.” “Iya, tapi masih mending daripada kamu. Mukanya udah kayak mau tumbang.” Mariana mendeng

  • Suami Perkasa   Over

    Mariana tidak pernah menyangka bahwa titik retaknya justru datang dari dirinya sendiri.Hari-hari setelah kejadian itu terasa seperti berjalan di lorong panjang tanpa ujung. Rumah yang biasanya ramai oleh tangisan Lucy kini terasa… hati-hati. Semua orang seperti menahan napas.Edgar sudah pulang dari rumah sakit dua hari kemudian. Lukanya tidak parah—hanya jahitan kecil di kepala dan pusing yang sesekali datang. Tapi suasana di antara mereka… jauh lebih rumit dari sekadar luka fisik.Mariana jadi lebih diam.Bukan karena marah lagi—justru sebaliknya.Ia terlalu banyak berpikir.---Suatu malam, saat Lucy akhirnya tertidur, Mariana duduk di tepi tempat tidur. Edgar ada di sebelahnya, sedang membaca sesuatu di ponselnya.Sudah hampir sepuluh menit mereka tidak bicara.Akhirnya—“Gar…”Edgar menoleh. “Hm?”Mariana menarik napas panjang. “Maaf.”Sederhana. Tapi berat.Edgar tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Mariana beberapa detik, lalu menghela napas kecil.“Harusnya aku yang nany

  • Suami Perkasa   Aku Salah Apa

    Tapi kemarahan Mariana tak hanya sampai disitu, Tangannya langsung meraih vas bunga di meja samping dan melemparkannya. BRAK. Vas itu menghantam kepala Edgar. Pria itu tersentak, tubuhnya oleng sambil memegang pelipisnya. Tangisan Lucy masih memenuhi ruangan saat semuanya mulai terasa kacau. Edgar yang tadi masih berdiri, tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Tubuhnya goyah, tangannya sempat mencari pegangan—tapi tidak menemukan apa-apa. “Gar—” suara Mariana nyaris keluar, refleks. Terlambat. Tubuh Edgar jatuh ke lantai dengan bunyi berat yang membuat Nadia kembali menjerit. “Ya Allah, Pak Edgar—!” Kepalanya terbentur sisi karpet, matanya tertutup, napasnya ada… tapi tidak sadar. Dunia Mariana yang tadi panas tiba-tiba seperti disiram dingin. Sunyi sekejap. Hanya tersisa tangisan Lucy yang makin histeris. “Bangun…” suaranya berubah. “Edgar… bangun.” Tidak ada respon. Tangannya gemetar saat berlutut di samping tubuh itu. —amarahnya retak. “Gar… jangan be

  • Suami Perkasa   Ciuman diruang Tamu

    Sore itu Mariana pulang lebih cepat dari biasanya. Tidak ada alasan jelas—hanya perasaan tidak enak yang sejak siang terus mengganggu. Ia mematikan mesin mobil dengan gerakan cepat, lalu turun tanpa benar-benar berpikir. Rumah itu tampak seperti biasa. Tenang. Rapi. Lampu teras menyala. Tapi begitu pintu dibuka, ada yang terasa tidak beres. Terlalu sunyi. Tidak ada suara Lucy. Tidak ada langkah kaki Nadia. Tidak ada televisi. “Edgar?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Mariana melangkah masuk perlahan. Tas masih di bahunya, sepatu belum dilepas. Ia berhenti sejenak saat mendengar suara dari arah ruang tengah. Tawa. Pelan. Cekikikan ringan, seperti dua orang yang sedang berbagi sesuatu yang hanya mereka pahami. Jantung Mariana berdetak lebih cepat. Ia berjalan mendekat. Begitu berbelok, pemandangan di depannya langsung menahan napasnya. Lucy ada di stroller. Terbangun. Tangannya bergerak kecil, matanya berkedip pelan, seperti mencari seseorang yang seharusnya ada di dekatnya.

  • Suami Perkasa   Yakin Nggak Dipikirin

    Keesokan harinya, Mariana akhirnya mengambil jeda. Bukan karena pekerjaannya selesai—justru sebaliknya. Tapi ada sesuatu di kepalanya yang terasa penuh, seperti perlu diberi ruang sebelum benar-benar meluap. Ia mengirim pesan singkat ke kantor, menunda beberapa meeting, lalu menerima ajakan Rani yang sejak pagi sudah cerewet di chat. Mall tidak terlalu ramai siang itu. Rani sudah duduk di kafe, es kopi di depannya hampir habis setengah. Begitu melihat Mariana datang, wajahnya langsung berubah hidup. “NAH INI DIA CEO SOK SIBUK,” serunya lebay, tangan diangkat tinggi. Mariana hanya menggeleng, menarik kursi di depannya. “Gue lagi butuh break.” katanya singkat. “Wah cocok banget sama gue,” Rani nyengir. “Gue ini paket lengkap. Lucu, cantik,gokil.” Mariana mendengus. “Yang terakhir itu yang paling dominan.” Pelayan datang, Mariana memesan minuman cepat, lalu bersandar. Untuk beberapa detik, ia hanya menikmati suasana. Tidak ada bunyi notifikasi, tidak ada suara orang memanggil n

  • Suami Perkasa   Cemburu

    Pagi di kantor Mariana tidak pernah benar-benar pelan.Telepon berdering. Email masuk tanpa jeda. Orang keluar-masuk ruangannya dengan wajah tegang seolah semua hal di dunia harus selesai hari itu juga.“Mariana, meeting jam dua dimajuin jadi setengah satu ya.”“Mariana—”“Iya, iya, kirim aja ke aku,” potongnya cepat, matanya bahkan tidak benar-benar terangkat dari layar laptop.Rina masuk, duduk tanpa diundang, seperti biasa.Tangannya mengambil salah satu kertas di meja, tapi matanya justru menatap Mariana dengan ekspresi yang terlalu santai untuk sesuatu yang akan ia katakan.“Gue tuh kepikiran sesuatu dari kemarin pas habis nenggok Lucy.”Mariana masih mengetik.“Biasanya kalau lu kepikiran, itu bukan hal penting.”“Enggak, ini penting.”Nada Rina tetap ringan.“Apa lu nggak… cemburu?”Jemari Mariana berhenti.Hanya satu detik.Lalu lanjut lagi, seolah tidak terjadi apa-apa.“Cemburu sama siapa?”“Ya itu,” Rina mengangkat bahu. “Suami lu di rumah terus sama babysitter.”Mariana me

  • Suami Perkasa   Romantis

    --- Malam makin larut. Ketiga teman Edgar akhirnya pamit, meski masih sibuk saling bisik waktu keluar lift. “Gar, sumpah ya, kalau lo nggak serius sama si Marni, kasih ke gue aja. Ini cewek langka!” kata Dimas sambil ketawa setengah kagum. Edgar cuma menghela napas. “Dia cuma pembantuku, Dim.”

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Suami Perkasa   Tanggung Jawab

    Gerimis kecil turun membasahi halaman depan rumah keluarga Argantara. Di ruang tamu yang luas dan megah itu, suasana hening nyaris mencekam. Pak Argantara duduk di kursi utama dengan wajah datar tapi matanya tajam, penuh perhitungan. Di depannya, berdiri seorang pria tampan berjas hitam, dengan ta

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Suami Perkasa   Disruduk

    Hari itu, hujan deras mengguyur kota sejak sore. Listrik sempat padam, apartemen gelap gulita. Edgar yang baru pulang kerja menggigil basah kuyup, sementara Marni di dalam sudah sibuk menjerit karena petir. “ED! Aku takut petir! Gede banget suaranya!” “Ya sabar! Aku juga lagi kehujanan di lua

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Suami Perkasa   Pertemuan Dengan Luna

    Di salah satu sudut pusat kota, sebuah kafe beraroma kopi hangat dan kayu bakar berdiri tenang — tempat yang tak mencolok, tapi cukup nyaman untuk menyembunyikan rahasia. Marni duduk di pojok dekat jendela, memutar sedotan di gelas latte yang hampir dingin. Pikirannya penuh dengan rasa was-was. Pe

    last updateLast Updated : 2026-04-02
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status