Share

Ibu di Dapur

Author: Lana Smrti
last update publish date: 2026-10-15 09:22:51

Darmi paling suka dapur rumah ini.

Hanya itu yang membuatnya betah, kalau ia mau jujur. Dapurnya luas, jendelanya besar menghadap halaman belakang, dan lantainya keramik putih yang gampang dipel. Kompornya empat tungku. Di kontrakan lama, ia harus berebut tungku dengan Siska setiap pagi.

Pagi ini dapur itu sudah bersih sejak pukul enam. Nasi sudah ditanak. Bekal Kinan sudah dikemas. Arka sudah mandi, sudah sarapan, dan sekarang sedang bermain mobil-mobilan di ruang tengah dengan Siska yang duduk bersila di sampingnya.

Darmi mengelap meja makan untuk ketiga kalinya, bukan karena kotor, tapi karena tangannya butuh pekerjaan.

Ia masih memikirkan wajah Bu Maya saat sarapan tadi.

Majikannya itu turun dari tangga dengan blus krem dan rok hitam, rapi seperti biasa, tapi matanya sembab dan kulitnya pucat. Ia hanya minum kopi, tidak menyentuh roti panggangnya sama sekali. Waktu Pak Bima turun lima menit kemudian, siul-siul kecil dan bersemangat, Bu Maya malah buru-buru mengalihkan pandangan.

"Kamu tidur nyenyak, Mas?" tanya Bu Maya, pelan.

"Nyenyak banget," jawab Pak Bima sambil menyendok nasi goreng. "Kayak bayi. Kenapa?"

"Nggak apa-apa."

Hanya itu. Tapi Darmi, yang berdiri di dekat wastafel pura-pura mencuci gelas, menangkap sesuatu di antara dua kalimat singkat itu. Sesuatu yang berat dan tidak terucap.

Sudah dua tahun ia bekerja pada keluarga ini. Ia tahu kapan Bu Maya sedang kesal soal kerjaan, kapan sedang capek, dan kapan sedang menahan tangis. Pagi ini yang terakhir.

Bukan urusanku, kata Darmi dalam hati, seperti yang selalu ia katakan. Aku di sini buat kerja. Anakku di kampung butuh uang sekolah.

Pukul tujuh, keluarga itu berangkat. Bu Maya dengan mobilnya, Pak Bima dengan mobilnya sendiri, dan Kinan diantar sopir antar-jemput sekolah. Rumah kembali sunyi.

Dan sejak tiga minggu terakhir, sunyi di rumah ini terasa berbeda.

Darmi tidak bisa menjelaskannya. Rumah di kontrakan lama pun sepi kalau semua orang pergi, tapi itu sepi yang ringan. Sepi rumah ini terasa seperti ruangan yang menahan napas. Seperti ada sesuatu yang menunggu semua orang pergi, lalu pelan-pelan menghembuskan napasnya.

Darmi menggeleng. Jangan mikir yang aneh-aneh.

Ia mengambil keranjang cucian dan keluar ke halaman belakang untuk menjemur.


Pukul sepuluh lewat sedikit, Darmi kembali masuk lewat pintu dapur sambil membawa keranjang kosong.

Ia sudah setengah jalan menuju kamar mandi belakang ketika langkahnya melambat.

Ada suara.

Tok. Tok. Tok.

Bunyi pisau di atas talenan. Pelan, teratur, seperti seseorang yang sedang mengiris bawang dengan santai.

Darmi berhenti di ambang pintu dapur.

Ada orang di sana.

Seorang perempuan berdiri membelakanginya di depan meja dapur. Blus krem. Rok hitam. Rambut cokelat gelap sebahu.

Darmi terpaku.

Bu Maya?

Ia menoleh ke jam dinding. 10.07. Bu Maya tidak mungkin pulang. Pagi tadi beliau bilang ada rapat besar, dan dari dulu beliau tidak pernah pulang sebelum magrib kecuali anak sakit.

Tapi punggung itu jelas punggung Bu Maya. Bahu yang sama. Cara berdirinya yang sedikit miring ke kiri, seperti kebiasaan orang yang sering menenteng tas berat di sebelah bahu. Blus krem itu juga blus yang tadi pagi.

"Bu?" panggil Darmi pelan. "Kok pulang? Ada yang ketinggalan?"

Tidak ada jawaban.

Tok. Tok. Tok.

Darmi melangkah masuk. Keranjang cucian di tangannya terasa ringan sekali, seperti kehilangan bobot.

"Bu Maya? Mau saya bantu masak?"

Perempuan itu masih tidak menoleh. Kepalanya sedikit tertunduk, fokus pada pekerjaannya. Dari tenggorokannya terdengar sesuatu yang sangat pelan. Senandung. Nadanya lambat, melengkung-lengkung, seperti lagu pengantar tidur yang sudah lama dilupakan.

Darmi tidak mengenal lagunya.

Bu Maya tidak pernah bersenandung di dapur.

Bulu di lengan Darmi mulai meremang.

Ia berhenti dua langkah di belakang punggung itu. Dari jarak sedekat ini ia seharusnya bisa mencium bau parfum buah yang biasa dipakai majikannya. Tapi yang ia cium bukan itu.

Melati.

Wangi bunga melati, begitu pekat sampai terasa dingin di tenggorokan.

Pandangan Darmi turun ke talenan di depan perempuan itu.

Irisan bawang merah tersusun rapi, tipis-tipis, seperti hasil tangan yang sangat terlatih. Tapi pisau yang bergerak naik-turun di atasnya tidak menimbulkan bunyi apa-apa.

Bunyi tok itu datang dari tempat lain. Bukan dari talenan.

Datang dari belakangnya.

Darmi tidak berani menoleh.

Keringat dingin mengalir di punggungnya. Ia ingin berlari, tapi kakinya seperti tertanam di lantai. Mulutnya terbuka dan hampir tak ada suara yang keluar.

"Bu... Bu Maya...?"

Perempuan itu berhenti bersenandung.

Pisau itu berhenti bergerak.

Dalam sunyi yang tiba-tiba itu, Darmi mendengar sesuatu yang lain: blub... blub... blub... Air mendidih. Di kompor, di sebelah kiri, ada panci yang apinya menyala biru dan isinya bergolak. Uap putih mengepul pelan dari tutupnya.

Seingat Darmi, ia tidak menyalakan kompor itu. Tadi pagi dapur ini ia tinggalkan bersih dan dingin.

Perempuan itu mulai memutar kepalanya.

Pelan sekali. Sentimeter demi sentimeter. Rambut sebahunya bergeser di bahu, dan Darmi bisa melihat garis pipinya dari samping. Pipi yang terlalu pucat. Terlalu halus. Terlalu...

Drrrt. Drrrt. Drrrt.

Ponsel di saku daster Darmi bergetar keras.

Darmi tersentak seperti tersengat. Tangannya gemetar meraih saku, dan keranjang cucian jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring. Ia melirik layar.

Bu Maya.

Matanya melebar. Ia menekan tombol hijau tanpa berpikir.

"Ha... halo, Bu?"

"Mbak Darmi?" Suara Bu Maya terdengar dari seberang sambungan, agak berbisik, seperti sedang berada di ruangan tertutup. "Mbak, maaf mengganggu. Aku di ruang rapat. Tadi aku lupa bilang, tolong cek apakah Arka sudah minum vitaminnya. Aku..."

"Bu." Suara Darmi terdengar asing di telinganya sendiri. "Ibu di mana sekarang?"

"Aku di kantor, Mbak. Lagi rapat. Kenapa?"

Darmi menelan ludah.

"Ibu... nggak pulang?"

"Pulang? Nggak. Aku di kantor sejak jam delapan." Jeda sebentar. Suara Bu Maya berubah. "Mbak Darmi, kenapa suaranya begitu? Ada apa?"

Darmi tidak sanggup menjawab.

Karena saat ia menoleh ke depan dengan sisa keberaniannya, dapur itu kosong.

Tidak ada perempuan berblus krem. Tidak ada pisau. Tidak ada talenan.

Meja dapur bersih mengilap seperti saat ia mengelapnya tadi pagi. Hanya panci di atas kompor yang masih menyala, mendidih tanpa henti, dan di dalam uap yang naik pelan itu, Darmi mencium bau melati yang semakin kuat.

"Mbak Darmi?" Suara Bu Maya terdengar dari ponsel, kini cemas. "Mbak? Darmi? Halo?"

Darmi membuka mulut.

Dan saat itulah ia mendengarnya.

Dari belakang. Sangat dekat. Tepat di sisi telinga kirinya, begitu pelan hingga napas dingin itu menyentuh kulit lehernya.

Suara yang sama persis dengan suara di ponselnya.

"Mbak Darmi... tolong matikan kompornya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Kamar Tamu

    Sabtu pagi, Maya memutuskan untuk membuka pintu kamar tamu.Keputusan itu datang begitu saja, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan napas dan akhirnya menyerah. Tiga minggu mereka tinggal di rumah ini, dan Maya belum sekali pun melangkah ke dalam ruangan itu. Selalu ada alasan. Kardus pindahan yang belum dibongkar, anak-anak yang rewel, pekerjaan yang menumpuk.Dan setiap kali Maya lewat, pintunya selalu tertutup rapat.Pagi itu, rumah terasa tenang. Bima sedang mengantar Kinan ke acara latihan menggambar di sekolah. Siska membawa Arka bermain di taman kompleks. Mbak Darmi menjemur di belakang. Maya berdiri sendirian di lorong lantai satu dengan secangkir kopi yang sudah mulai dingin, menatap pintu kayu cokelat itu.Maya bilang pada dirinya sendiri bahwa ini hanya soal ruang. Rumah ini punya empat kamar tidur, dan satu di antaranya terbuang percuma. Ia bisa menjadikannya ruang kerja. Atau gudang yang rapi, supaya kardus-kardus di garasi tidak menumpuk lagi.Itu alasan yang

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Gambar di Jendela

    Kinan tahu orang dewasa mengira ia tidak mengerti.Mereka pikir anak umur delapan tahun hanya memikirkan PR, boneka, dan es krim. Mereka bicara pelan saat ia lewat, menutup pintu kamar saat bertengkar, dan memasang senyum terlalu lebar saat ia bertanya, "Bunda kenapa?""Nggak apa-apa, Sayang. Bunda cuma capek."Tapi Kinan punya telinga. Dan dinding rumah ini tipis.Ia sudah mendengar semuanya beberapa malam lalu. Bunda yang bertanya dengan suara bergetar. Ayah yang membentak, lalu minta maaf dengan suara yang hampir menangis. Dan Adik, yang berdiri di pintu dengan piyama dinosaurus, mengatakan sesuatu yang membuat seisi kamar seperti membeku.Kinan sedang duduk di meja belajarnya sekarang, menggenggam pensil warna, menatap selembar kertas gambar yang masih kosong.PR dari Bu Guru: Gambarlah rumahmu dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.Biasanya Kinan suka menggambar. Ia punya kotak pensil warna dua puluh empat warna, hadiah ulang tahun dari Ayah. Tapi hari ini tangannya terasa bera

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   HP yang Bersih

    Maya menyembunyikan ponselnya di dasar tas sebelum masuk rumah.Maya tidak mau melihat foto itu lagi. Tidak malam ini. Mungkin tidak sampai besok, atau lusa. Ia bilang pada dirinya sendiri bahwa itu hanya pantulan cahaya, atau bayangan lemari, atau efek kamera murahan Pak Anwar. Ia seorang manajer. Ia terbiasa memecahkan masalah dengan logika. Ia tidak akan membiarkan satu foto membuatnya kehilangan akal sehat.Dan malam ini, Maya punya masalah yang lebih nyata untuk diselesaikan.Bima menyambut Maya di ruang tengah.Ia berdiri dari sofa begitu mendengar pintu terbuka, dan wajahnya berubah seperti anak kecil yang menunggu hukuman. Kemejanya sudah berganti kaus rumah, rambutnya agak basah, dan di meja ada dua cangkir teh yang masih mengepul."Kamu pulang," katanya."Aku bilang akan pulang cepat.""Iya. Aku cuma..." Ia menggaruk tengkuknya. "Aku takut kamu nggak jadi."Maya ingin tetap kaku. Ia sudah melatih ekspresi itu sepanjang perjalanan, wajah datar, nada bicara dingin. Tapi meliha

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Teman Arka

    Siska tidak percaya hantu.Itu prinsip hidupnya sejak kecil. Neneknya di kampung dulu sering bercerita tentang pocong di pohon asam dan genderuwo di kebun pisang, tapi Siska hanya mengangguk sambil mengunyah kerupuk. Ia lebih percaya pada hal-hal yang bisa dihitung: gaji bulanan, tabungan untuk modal toko kue, dan jam tidur anak-anak yang ia asuh.Anak kecil punya imajinasi liar. Itu saja.Itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri sore ini, ketika ia berdiri diam di ujung koridor lantai atas, memandangi punggung kecil Arka yang duduk di anak tangga paling atas.Tadi ia hanya berniat mengambil handuk di lemari. Ia sudah meninggalkan Arka bermain mobil-mobilan di ruang keluarga selama kurang dari lima menit. Tapi saat kembali, ruang keluarga kosong, dan mainannya berserakan di lantai.Ia menemukan Arka di tangga.Anak itu duduk bersila membelakanginya, menghadap ke bawah, ke arah ruang tamu yang remang. Boneka kelinci lusuhnya terjepit di ketiak. Dan ia sedang berbicara."...nggak bol

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Harga yang Terlalu Murah

    Maya memarkir mobil di depan gerbang perumahan, mematikan mesin, dan tidak turun.Sudah lima menit ia duduk di sini. Jam di dashboard menunjukkan 17.42. Seharusnya ia sudah di rumah. Kemarin ia berjanji pada Bima, malam ini aku pulang cepat, kita bicara lagi. Tapi begitu mobilnya mendekati gerbang, tangannya seperti kehilangan tenaga.Ia menatap jalan yang membentang di depannya.Kompleks ini sebenarnya cantik. Pohon-pohon trembesi di kiri-kanan jalan, taman kecil di sudut blok, rumah-rumah bergaya minimalis dengan pagar rendah. Bima langsung jatuh cinta waktu pertama kali melihatnya. Maya juga.Dua bulan yang lalu.Ia menyandarkan kepala di jok dan memejamkan mata."Ini rumahnya, Bu Maya. Silakan, silakan."Pak Anwar, makelar yang ditunjukkan teman kantor Bima, berjalan di depan mereka sambil mengayun-ayunkan kunci. Orangnya sekitar lima puluhan, gemuk, berkeringat meski udara sore itu sejuk. Ia terus mengelap dahinya dengan saputangan kotak-kotak.Rumah itu berdiri di ujung jalan bu

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Lelah yang Aneh

    Bima terbangun dengan perasaan yang tidak masuk akal.Ia merasa bahagia.Padahal semalam ia membentak istrinya untuk pertama kali dalam sepuluh tahun. Padahal anak bungsunya baru saja mengucapkan kalimat yang membuat seluruh kamar membeku. Padahal Maya akhirnya tidur di kamar Arka sambil memeluk anak itu, meninggalkan Bima sendirian di ranjang besar yang dingin.Seharusnya ia terbangun dengan kepala berat dan dada sesak.Tapi tubuhnya terasa ringan. Hangat. Seperti baru dipeluk lama oleh seseorang yang sangat menyayanginya.Ia berbaring diam menatap langit-langit, mencoba memahami perasaan itu. Tidak ada mimpi yang bisa ia ingat. Hanya sisa-sisa sesuatu yang lembut, seperti telapak tangan di pipinya, suara bisikan di telinganya, dan satu kalimat yang tersangkut di ujung ingatan.Tidurlah, Mas. Aku di sini.Bima mengerjap.Itu bukan suara Maya.Ia buru-buru duduk. Sprei di sisi Maya rapi, tidak tersentuh. Jam di nakas menunjukkan 06.12. Dari lantai bawah terdengar bunyi sendok beradu d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status