تسجيل الدخولMaya meninggalkan ruang rapat tanpa pamit.
Itu belum pernah ia lakukan seumur kariernya. Di tengah presentasi klien, ponselnya bergetar membawa nama Mbak Darmi, dan suara perempuan itu di seberang sana terdengar seperti orang yang baru saja ditarik dari dalam air. Lalu sambungan terputus. Saat Maya menelepon balik, tidak diangkat. Dua kali. Tiga kali.
Ia hanya sempat berbisik pada asistennya, "Tolong handle," lalu berlari ke parkiran.
Tiga puluh menit kemudian ia membuka pintu rumah dengan jantung berdentam.
Rumah sunyi. Dari ruang tengah terdengar suara kartun dan tawa kecil Arka. Siska duduk di sofa dengan tablet di pangkuannya, menoleh kaget.
"Lho, Ibu? Kok pulang?"
"Mbak Darmi mana?"
"Di dapur, Bu."
Maya berjalan cepat. Dapur mereka terang oleh cahaya siang. Mbak Darmi berdiri di depan wastafel, memunggunginya, mencuci piring yang sebenarnya sudah bersih. Tangannya bergetar. Maya bisa melihat bahunya naik-turun.
"Mbak."
Perempuan itu terlonjak sampai gelas di tangannya hampir terlepas.
"Ya Allah, Bu. Maaf, saya kaget." Ia memaksakan senyum. Wajahnya pucat, dan ada bulir keringat di pelipisnya padahal ruangan ini sejuk.
"Tadi kenapa teleponnya putus?"
"Oh. Itu..." Mata Mbak Darmi bergerak ke kiri, ke kanan, ke mana saja kecuali mata Maya. "Maaf, Bu. Saya tadi salah lihat. Kepala saya agak pusing, mungkin kurang tidur. Saya kira ada orang di dapur, ternyata bayangan di kaca."
"Orang?"
"Bayangan, Bu. Cuma bayangan."
Maya menatapnya lama. Ia bukan atasan yang suka mendesak, tapi ia juga bukan orang bodoh. Seseorang yang takut setengah mati tidak akan menyebut bayangan dengan suara seperti itu.
Pandangannya turun ke kompor.
Panci kecil di tungku kiri sudah dingin. Dasarnya hitam hangus, dan isinya kering kerontang, seperti air di dalamnya mendidih terlalu lama sampai habis.
"Mbak Darmi masak apa tadi?"
"Nggak... nggak masak apa-apa, Bu."
Maya tidak bertanya lagi.
Di dalam dadanya, rasa tidak enak yang sejak dini hari kemarin menempel di tulang rusuknya semakin menekan.
Bima pulang pukul delapan.
Ia membawa dua kotak martabak telur, kesukaan anak-anak, dan satu kantong kecil martabak manis cokelat keju yang ia sembunyikan di balik punggung sambil nyengir seperti remaja.
"Spesial untuk yang matanya sembab," katanya sambil mencium kening Maya.
Maya hampir luluh.
Itu yang paling menyiksa dari semua ini. Bima masih Bima. Lelaki yang selalu pulang membawa makanan favorit saat Maya sedang suntuk. Lelaki yang tahu Maya suka cokelat keju tanpa pernah diminta. Lelaki yang tiap pagi mengusap rambutnya sebelum berangkat, seolah memastikan ia masih nyata.
Bagaimana mungkin lelaki seperti ini memanggil perempuan lain dengan suara seperti itu?
Mereka makan malam seperti biasa. Kinan bercerita tentang temannya yang jatuh dari ayunan. Arka menempelkan krim cokelat di pipinya lalu tertawa-tawa. Bima menggendongnya, mengelap pipi anak itu dengan ibu jari, dan Maya memperhatikan semuanya dari seberang meja dengan perasaan yang sulit ia beri nama.
Setelah anak-anak tidur, ia menyusul Bima ke kamar. Suaminya sedang melepas dasi di depan cermin.
"Mas."
"Hmm?"
"Kita perlu ngobrol."
Tangan Bima berhenti. Lewat cermin, matanya bertemu mata Maya.
"Kedengarannya serius."
"Siapa Laras?"
Maya mengira Bima akan gugup. Menghindar. Atau paling tidak terkejut. Tapi yang ia lihat justru kebingungan murni, seperti anak yang ditanya soal pelajaran yang tidak pernah diajarkan.
"Laras?" Bima berbalik. "Siapa?"
"Itu yang aku tanyakan."
"Aku nggak kenal siapa-siapa yang namanya Laras, May."
"Semalam kamu mengigau. Menyebut namanya." Maya menjaga suaranya tetap datar. "Berkali-kali."
Bima tertawa kecil. Tapi tawanya tidak sampai ke mata. "Mungkin aku mimpi ketemu klien. Atau artis."
"Nadanya bukan nada orang yang menyebut klien."
Senyum Bima perlahan memudar.
"Maksudmu?"
Maya menarik napas. "Kamu menyebutnya seperti kamu... kangen sama dia, Mas. Seperti dulu kamu manggil aku."
Hening.
Jakun Bima bergerak naik turun. Ia mengalihkan pandangan ke lantai, dan untuk sepersekian detik, Maya melihat sesuatu melintas di wajahnya. Bukan kebingungan. Bukan juga marah.
Rasa bersalah.
Hanya sekejap. Lalu hilang, tertutup lagi dengan ekspresi polos yang terlalu cepat dipasang.
"Aku nggak ingat," kata Bima pelan. "Sumpah, May. Aku nggak ingat apa pun soal itu."
"Kamu juga bilang sesuatu waktu bangun." Suara Maya mulai bergetar. "Kamu menatapku, lalu bilang, kamu bukan dia."
Wajah Bima memucat.
Ia menarik napas panjang. Menyugar rambut dengan kedua tangan, lalu membuka kancing kemejanya satu per satu, gerakan yang terlalu lambat seperti sedang mengulur waktu.
"Aku capek, May. Kerjaan lagi gila-gilaan. Mungkin aku..."
Kemejanya melorot dari bahu.
Dan kalimat Maya mati di tenggorokan.
Di punggung Bima, membentang dari bahu kanan ke pinggang kiri, ada tiga garis merah panjang. Memanjang sejajar. Kulitnya terkelupas di beberapa bagian, menyisakan jalur-jalur merah segar yang sebagian masih basah.
Bekas cakaran.
"Mas."
"Apa?"
"Punggungmu."
Bima menoleh ke cermin, memutar tubuhnya, lalu terdiam.
Ia menatap bayangannya selama beberapa detik. Ekspresinya sulit dibaca Maya. Kaget, takut, dan sesuatu yang lain di bawahnya, sesuatu yang membuat perut Maya mual.
Seperti orang yang baru diingatkan akan rahasia yang ingin ia lupakan.
"Mungkin... nyamuk," katanya. "Atau digaruk pas tidur."
"Nyamuk tidak bikin tiga garis sejajar."
"May..."
"Itu bekas kuku, Mas." Maya melangkah mendekat dan menyentuh ujung salah satu garis dengan jari. Bima mendesis. "Kuku yang panjang. Dan dari arah depan, bukan dari arah punggungmu sendiri. Kamu tahu siapa yang bisa ngelakuin itu?"
"Kamu nuduh aku selingkuh?"
Pertanyaan itu keluar lebih tajam dari seharusnya. Maya melihat otot rahang Bima mengeras. Kemarahan lelaki itu muncul cepat, dan itu justru membuat Maya semakin curiga. Orang yang tidak bersalah biasanya tertawa atau bingung dulu, bukan langsung membangun tembok.
"Aku nggak nuduh," kata Maya, setenang yang ia bisa. "Aku cuma tanya. Aku istrimu, Mas. Aku berhak bertanya."
"Dan aku sudah jawab. Aku nggak tahu."
"Kamu nggak tahu kenapa punggungmu berdarah?"
"Aku NGGAK TAHU, MAYA!"
Teriakan itu menggema di kamar. Mereka berdua terdiam.
Bima menutup mulutnya dengan telapak tangan. Matanya melebar, seperti terkejut pada suaranya sendiri. Dalam sepuluh tahun pernikahan mereka, ia tidak pernah membentak Maya.
Tidak sekali pun.
"Maaf," bisiknya. Suaranya pecah. "Maaf, May. Aku..."
Maya ingin memeluknya. Ia ingin percaya pada suaminya. Setengah dirinya menjerit supaya ia mundur dan berhenti bertanya, supaya semuanya kembali seperti tiga minggu lalu, sebelum rumah ini, sebelum nama itu, sebelum wangi melati yang dingin itu.
Tapi setengah dirinya yang lain tahu: ada yang tidak beres. Dan Bima tahu lebih banyak dari yang ia akui.
Maya baru akan membuka mulut ketika pintu kamar berderit pelan.
Mereka berdua menoleh.
Arka berdiri di ambang pintu. Piyama dinosaurusnya kusut, rambutnya berantakan, satu tangannya memeluk boneka kelinci yang sudah lusuh. Matanya merah, setengah mengantuk, setengah ketakutan.
"Arka?" Maya langsung berlutut dan mengusap pipi anak itu. "Sayang, kok bangun? Mimpi buruk?"
Arka menggeleng pelan.
"Bunda berantem sama Ayah?"
"Nggak, Nak. Bunda sama Ayah cuma ngobrol."
Arka menatap Maya. Lalu menatap Bima. Lalu, anehnya, ia menoleh ke arah ujung lorong, ke arah tangga yang gelap, seolah ada sesuatu yang berdiri di sana, menunggu giliran untuk bicara.
"Bunda," katanya.
"Iya, Sayang?"
"Tante rambut panjang bilang..." Suaranya sangat polos, sangat pelan, seperti anak kecil yang menyampaikan pesan dari teman bermainnya. "Ayah nggak boleh tidur sama Bunda lagi."
Udara di kamar itu berubah.
Maya merasakan Bima membeku di belakangnya. Tidak bergerak. Tidak bernapas.
Dan jauh di dalam lorong, di lantai bawah, ia mendengar pintu kamar tamu menutup dengan bunyi pelan.
Klik.
Sabtu pagi, Maya memutuskan untuk membuka pintu kamar tamu.Keputusan itu datang begitu saja, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan napas dan akhirnya menyerah. Tiga minggu mereka tinggal di rumah ini, dan Maya belum sekali pun melangkah ke dalam ruangan itu. Selalu ada alasan. Kardus pindahan yang belum dibongkar, anak-anak yang rewel, pekerjaan yang menumpuk.Dan setiap kali Maya lewat, pintunya selalu tertutup rapat.Pagi itu, rumah terasa tenang. Bima sedang mengantar Kinan ke acara latihan menggambar di sekolah. Siska membawa Arka bermain di taman kompleks. Mbak Darmi menjemur di belakang. Maya berdiri sendirian di lorong lantai satu dengan secangkir kopi yang sudah mulai dingin, menatap pintu kayu cokelat itu.Maya bilang pada dirinya sendiri bahwa ini hanya soal ruang. Rumah ini punya empat kamar tidur, dan satu di antaranya terbuang percuma. Ia bisa menjadikannya ruang kerja. Atau gudang yang rapi, supaya kardus-kardus di garasi tidak menumpuk lagi.Itu alasan yang
Kinan tahu orang dewasa mengira ia tidak mengerti.Mereka pikir anak umur delapan tahun hanya memikirkan PR, boneka, dan es krim. Mereka bicara pelan saat ia lewat, menutup pintu kamar saat bertengkar, dan memasang senyum terlalu lebar saat ia bertanya, "Bunda kenapa?""Nggak apa-apa, Sayang. Bunda cuma capek."Tapi Kinan punya telinga. Dan dinding rumah ini tipis.Ia sudah mendengar semuanya beberapa malam lalu. Bunda yang bertanya dengan suara bergetar. Ayah yang membentak, lalu minta maaf dengan suara yang hampir menangis. Dan Adik, yang berdiri di pintu dengan piyama dinosaurus, mengatakan sesuatu yang membuat seisi kamar seperti membeku.Kinan sedang duduk di meja belajarnya sekarang, menggenggam pensil warna, menatap selembar kertas gambar yang masih kosong.PR dari Bu Guru: Gambarlah rumahmu dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.Biasanya Kinan suka menggambar. Ia punya kotak pensil warna dua puluh empat warna, hadiah ulang tahun dari Ayah. Tapi hari ini tangannya terasa bera
Maya menyembunyikan ponselnya di dasar tas sebelum masuk rumah.Maya tidak mau melihat foto itu lagi. Tidak malam ini. Mungkin tidak sampai besok, atau lusa. Ia bilang pada dirinya sendiri bahwa itu hanya pantulan cahaya, atau bayangan lemari, atau efek kamera murahan Pak Anwar. Ia seorang manajer. Ia terbiasa memecahkan masalah dengan logika. Ia tidak akan membiarkan satu foto membuatnya kehilangan akal sehat.Dan malam ini, Maya punya masalah yang lebih nyata untuk diselesaikan.Bima menyambut Maya di ruang tengah.Ia berdiri dari sofa begitu mendengar pintu terbuka, dan wajahnya berubah seperti anak kecil yang menunggu hukuman. Kemejanya sudah berganti kaus rumah, rambutnya agak basah, dan di meja ada dua cangkir teh yang masih mengepul."Kamu pulang," katanya."Aku bilang akan pulang cepat.""Iya. Aku cuma..." Ia menggaruk tengkuknya. "Aku takut kamu nggak jadi."Maya ingin tetap kaku. Ia sudah melatih ekspresi itu sepanjang perjalanan, wajah datar, nada bicara dingin. Tapi meliha
Siska tidak percaya hantu.Itu prinsip hidupnya sejak kecil. Neneknya di kampung dulu sering bercerita tentang pocong di pohon asam dan genderuwo di kebun pisang, tapi Siska hanya mengangguk sambil mengunyah kerupuk. Ia lebih percaya pada hal-hal yang bisa dihitung: gaji bulanan, tabungan untuk modal toko kue, dan jam tidur anak-anak yang ia asuh.Anak kecil punya imajinasi liar. Itu saja.Itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri sore ini, ketika ia berdiri diam di ujung koridor lantai atas, memandangi punggung kecil Arka yang duduk di anak tangga paling atas.Tadi ia hanya berniat mengambil handuk di lemari. Ia sudah meninggalkan Arka bermain mobil-mobilan di ruang keluarga selama kurang dari lima menit. Tapi saat kembali, ruang keluarga kosong, dan mainannya berserakan di lantai.Ia menemukan Arka di tangga.Anak itu duduk bersila membelakanginya, menghadap ke bawah, ke arah ruang tamu yang remang. Boneka kelinci lusuhnya terjepit di ketiak. Dan ia sedang berbicara."...nggak bol
Maya memarkir mobil di depan gerbang perumahan, mematikan mesin, dan tidak turun.Sudah lima menit ia duduk di sini. Jam di dashboard menunjukkan 17.42. Seharusnya ia sudah di rumah. Kemarin ia berjanji pada Bima, malam ini aku pulang cepat, kita bicara lagi. Tapi begitu mobilnya mendekati gerbang, tangannya seperti kehilangan tenaga.Ia menatap jalan yang membentang di depannya.Kompleks ini sebenarnya cantik. Pohon-pohon trembesi di kiri-kanan jalan, taman kecil di sudut blok, rumah-rumah bergaya minimalis dengan pagar rendah. Bima langsung jatuh cinta waktu pertama kali melihatnya. Maya juga.Dua bulan yang lalu.Ia menyandarkan kepala di jok dan memejamkan mata."Ini rumahnya, Bu Maya. Silakan, silakan."Pak Anwar, makelar yang ditunjukkan teman kantor Bima, berjalan di depan mereka sambil mengayun-ayunkan kunci. Orangnya sekitar lima puluhan, gemuk, berkeringat meski udara sore itu sejuk. Ia terus mengelap dahinya dengan saputangan kotak-kotak.Rumah itu berdiri di ujung jalan bu
Bima terbangun dengan perasaan yang tidak masuk akal.Ia merasa bahagia.Padahal semalam ia membentak istrinya untuk pertama kali dalam sepuluh tahun. Padahal anak bungsunya baru saja mengucapkan kalimat yang membuat seluruh kamar membeku. Padahal Maya akhirnya tidur di kamar Arka sambil memeluk anak itu, meninggalkan Bima sendirian di ranjang besar yang dingin.Seharusnya ia terbangun dengan kepala berat dan dada sesak.Tapi tubuhnya terasa ringan. Hangat. Seperti baru dipeluk lama oleh seseorang yang sangat menyayanginya.Ia berbaring diam menatap langit-langit, mencoba memahami perasaan itu. Tidak ada mimpi yang bisa ia ingat. Hanya sisa-sisa sesuatu yang lembut, seperti telapak tangan di pipinya, suara bisikan di telinganya, dan satu kalimat yang tersangkut di ujung ingatan.Tidurlah, Mas. Aku di sini.Bima mengerjap.Itu bukan suara Maya.Ia buru-buru duduk. Sprei di sisi Maya rapi, tidak tersentuh. Jam di nakas menunjukkan 06.12. Dari lantai bawah terdengar bunyi sendok beradu d







