Share

Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi
Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi
Author: Bes

Bab 1

Author: Bes
Sang MC menghampiriku dan menunjuk ke pintu masuk aula.

Dengan bahasa isyarat, dia bertanya apakah aku masih ingin menunggu sebentar.

Aku juga mengangkat tangan, “Tidak perlu menunggu lagi. Batalkan saja sesi kita.”

Gerakannya terhenti sejenak ….

Di dalam aula, duduk belasan pasangan pengantin baru.

Tidak ada musik, tidak ada suara ucapan selamat. Semua orang menggunakan bahasa isyarat untuk mengungkapkan cinta mereka.

Hanya kursi di hadapanku yang kosong.

Seorang petugas membawakan papan tulis dan bertanya apakah aku perlu menghubungi keluargaku.

Aku menggeleng, lalu melepas hiasan bunga yang seharusnya dipasangkan Adam untukku dan meletakkannya di atas nampan.

Sebelum pergi, aku kembali melirik siaran langsung.

Farah berdiri di bawah sorotan lampu yang menyilaukan dan mengangkat mikrofon ke arah kamera.

Bibirnya bergerak, kemudian muncul subtitle di layar.

[Terima kasih kepada penerjemah khususku. Tanpanya, aku tidak akan menjadi diriku malam ini ….]

Kamera beralih ke Adam. Darah di telinganya sudah dibersihkan, tetapi wajahnya masih pucat.

Farah mengulurkan tangan dan menyentuh daun telinganya. Dia tidak menghindar, hanya menahan pergelangan tangan Farah sambil berkata lirih ….

Aku tidak mengenakan alat bantu dengar, jadi tidak bisa mendengarnya. Namun, aku mengenali gerak bibirnya.

Dia berkata, “Jangan sentuh. Kotor ….”

Ketika pertama kali aku mengusap sudut bibirnya yang terluka akibat gigitan saat penyakitnya kambuh, dia juga mengatakan hal yang sama.

Saat itu, dia menggenggam tanganku erat-erat dan tidak mau melepaskannya, tetapi ujung jarinya gemetar.

Kupikir itu adalah kepercayaan yang hanya diberikan kepadaku. Karena itulah, kemudian aku membuat seluruh rumah menjadi sunyi selama 5 tahun.

Selama 5 tahun itu, aku mengganti semua peralatan yang mengeluarkan bunyi notifikasi dan memasang peredam pada setiap pintu.

Ketika acara radio terakhirku berakhir, aku melepas headphone dan keluar dari ruang siaran.

Dia sudah berdiri di luar dan berkata, “Keramaian yang tidak bisa lagi kamu dengar nanti, akan kugantikan untukmu.”

Kini, kalimat terakhir yang ingin kudengar justru dia berikan kepada orang lain.

Ponselku menyala. Pengacara mengirimkan draf awal dan menanyakan bagaimana harta bersama kami akan dibagi.

Aku mengetik balasan.

[Ambil saja yang menjadi hakku. Untuk proses selanjutnya di Balleni, tolong segera diurus ….]

Saat aku keluar dari aula, pesan Adam pun masuk.

[Masih ada yang harus kuselesaikan. Kamu pulang dulu ke hotel, kubawakan puff karamel untukmu ….]

Tidak lama kemudian, dia menambahkan satu pesan lagi.

[Sesampainya di hotel, balas pesanku. Kamu sendirian di Balleni, aku khawatir.]

Aku menatap kalimat itu selama beberapa detik, lalu menghapus lokasi bersama kami.

Mobil yang membawaku kembali ke hotel melewati Sungai Saint.

Sang sopir menyalakan radio. Aku tidak bisa mendengar apa pun dengan jelas, dan hanya bisa melihat tangannya yang mengetuk-ngetuk setir mengikuti irama.

Dulu, itu adalah gerakan yang paling kukenal.

Aku kembali mengenakan alat bantu dengar. Suara listrik yang samar mengalir ke telingaku, seperti hujan yang tidak kunjung berhenti.

Pengacara menelepon, dan aku berusaha keras mendengarkan seluruh prosedurnya.

Ketika dia bertanya apakah aku sudah yakin, kugenggam erat cincin pernikahan itu.

“Yakin. Bagi saja sesuai perjanjian pranikah. Yang belum sempat dia pilih, biar aku yang memilihnya ….”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 8

    3 bulan kemudian, band Farah mengumumkan pembubaran mereka. Bukan karena Adam, dan juga bukan akibat skandal dramatis.Perbedaan pendapat yang telah lama menumpuk antara vokalis dan produser akhirnya meledak setelah tur di Balleni, dan beberapa anggota memilih untuk menempuh jalan masing-masing.Video pertunjukan yang menggunakan sumpah pernikahanku juga dihentikan peredarannya sesuai dengan pernyataan yang telah dibuat.Adam menanggung biaya pelanggaran kontrak dan secara terbuka menjelaskan di media berbahasa setempat mengenai sumber materi terjemahan tersebut.Dia tidak menyebut penyakitku, juga tidak memanfaatkan ketulianku untuk mencari pengampunan.Ketika guru rehabilitasi menyerahkan halaman berita itu kepadaku, aku hanya melihatnya sekali lalu mematikannya.Setelah itu, setiap bulan Adam mengirimiku sepucuk surat tulisan tangan.Dia tidak meminta kami kembali bersama, juga tidak lagi melaporkan kompensasi apa saja yang telah dilakukannya.Dia hanya menulis hal-hal singkat ….Di

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 7

    Farah berdiri di lorong. Dia tidak mengenakan riasan panggung, wajahnya tampak lelah.Adam berdiri untuk menghalanginya, tetapi dia malah meletakkan sebuah map dokumen di dekat pintu.“Aku datang bukan untuk merebut siapa pun.”Aku tidak bisa mendengar suaranya, hanya bisa memahami gerak bibirnya yang sengaja diperlambat.Adam bergeser dan menghalangi pandanganku. Aku memberi isyarat agar dia menyingkir.Farah menatapku dan mengucapkan setiap kata dengan perlahan.“Lagu itu bukan ditulis untukku. Tetapi dia bersedia membacakannya di panggungku. Aku benar-benar mengira masih bisa membawanya kembali ke masa lalu.”Dia tersenyum tipis.“Yang dia butuhkan bukan diriku. Dia hanya ingin membuktikan bahwa orang yang dulu meninggalkannya akhirnya bisa berbalik dan membutuhkannya.”Wajah Adam tampak buruk, memberi isyarat agar dia pergi. Namun, Farah justru mengalihkan pandangan kepadanya.“Kamu kembali bukan karena mencintaiku. Kamu menikmati saat aku bergantung padamu, tetapi juga tidak rela

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 6

    Setelah turun ke lantai bawah, Adam berdiri di lobi.Dia tidak menghalangi pintu ataupun berlari menghampiriku dan hanya menatapku dari jarak belasan meter.Beberapa hari tidak bertemu, rahangnya mulai ditumbuhi janggut tipis, dan luka di dekat telinganya akibat malam festival musik rock pun masih terlihat.Di tangannya tidak ada bunga ataupun hadiah, hanya alat bantu dengar yang sebelumnya dia kunci di dalam laci.Dia memanggil namaku. Aku mengenalinya dari gerak bibirnya, tetapi tidak berhenti.Adam mengejarku beberapa langkah, lalu memaksa dirinya untuk berhenti.Dia membuka ponsel dan mengetik dengan cepat.[Aku akan membawamu menjalani pemeriksaan baru. Aku sudah membuat janji dengan tim dokter THT dan untuk evaluasi implan koklea. Kita pastikan dulu penyebabnya, baru membahas pilihan penanganan ….]Aku menyerahkan papan tulis kepadanya.[Sudah menandatangani perjanjian perceraiannya?]Jarinya kaku di atas layar.[Sembuhkan penyakitmu dulu. Yang lain kita bicarakan nanti ….]Aku m

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 5

    Video itu hanya berdurasi sekitar 20 detik.Adam berdiri di luar pintu, seolah tidak memahami apa yang dikatakan agen properti. Dia menatap ke dalam ruangan sejenak, lalu mengangkat ponselnya dan terus-menerus meneleponku.Aku tidak memblokir nomornya.Karena itu, ketika kereta cepat melaju meninggalkan kota, layar ponselku berkali-kali menyala.Aku tidak bisa mendengar gemuruh roda yang beradu dengan rel, dan hanya bisa melihat pantulan wajahku sendiri di kaca yang berulang kali terputus oleh terowongan.Adam mengirim pesan suara.[Kenapa rumahnya dijual?][Kamu mau pergi ke mana?][Felly, angkat teleponnya.]Akhirnya aku membalas.[Aku tidak bisa mendengar.]Tulisan “sedang mengetik” di bagian atas kotak percakapan berhenti untuk waktu yang lama.Dia mengirim undangan video call. Setelah kutolak, dia mengubahnya menjadi pesan teks.[Alat bantu dengarmu ada padaku. Akan kuantar sekarang ….][Tidak perlu ….][Itu alat yang dibuat khusus untukmu. Kamu tidak bisa hidup tanpanya ….]Aku m

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 4

    Aku mendorong perjanjian yang sudah kutandatangani ke hadapan Adam. Dia berdiri di sisi meja, “Nyalakan.”Aku menggeleng dan mengeluarkan ponsel untuk mengetik.[Tanda tangan ….]Adam melirik perjanjian itu, tetapi tidak mengambilnya.Bibirnya bergerak, dan aku hanya bisa mengenalinya dengan susah payah, “Bahkan jika tidak bisa mendengar, kamu tetap Nyonya Dwayne.”Paruh kedua kalimatnya diucapkan sambil memalingkan wajah, jadi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.Aku kembali mengetik.[Aku tidak sedang mencari simpati. Semua biaya bersama selama di Balleni sudah kulunasi. Aset di dalam negeri akan diproses sesuai perjanjian pranikah. Setelah kamu menandatangani, pengacara akan mengurus proses selanjutnya ….]Adam mengambil perjanjian itu dan membuka halaman pembagian harta. Semakin dia membaca, wajahnya semakin muram.“Tidak menginginkan apa pun?”Aku mengenali kalimat itu dari gerak bibirnya dan mengangguk.Adam membungkuk, menopang kedua tangannya di atas meja, seolah memaksaku m

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 3

    Saat kotak notifikasi itu muncul, dengungan di telingaku menenggelamkan semua suara.Aku hanya bisa melihat bibir Adam yang terkatup rapat. Dia mengambil kartu kamarnya sendiri, lalu mendorong kartu yang lain ke hadapanku.“Beristirahatlah malam ini. Besok aku kembali dan kita bicarakan.”Saat membawa Farah pergi, dia juga mematikan pengeras suara. Kamar itu kembali sunyi.Namun, untuk pertama kalinya aku tahu, kesunyian selama 5 tahun ini bukan karena dia tidak mampu mewujudkannya. Hanya saja, aku tidak cukup berarti baginya untuk membuat pengecualian.Keesokan paginya, alat bantu dengarku mengeluarkan peringatan baterai lemah.Suaranya nyaring dan menusuk. Meski tertutup dengungan yang pekat, suara itu tetap membuat pelipisku terasa sakit.Di ruang tamu, Adam sedang menelepon Farah.“Semalam dia sampai kesakitan seperti itu, malam ini dia tidak mungkin pergi. Jangan biarkan tiketnya kosong, berikan saja pada pemain keyboard. Bukankah dia sudah lama ingin menonton konser musik getaran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status