Share

Sayang

Author: Mommy_Ar
last update publish date: 2026-06-07 10:35:42

"Ini... ini tadi pas pulang kerja aku sempat mampir beli makanan hangat, sama... sama ini ada sedikit buah-buahan, jeruk sama apel segar. Sengaja aku belikan buat Mas Arga, biar ada tenaga buat minum obat,"

Nayra meletakkan kembali kantong-kantong itu dengan posisi yang lebih rapi di dekat jajaran botol obat dan salep milik Arga.

Arga menatap kantong makanan dan buah-buahan itu bergantian, lalu kembali menatap Nayra.

Rasa hangat yang menjalar di dadanya kini semakin pekat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Jin dasim

    Nayra menggigit bibir bawahnya pelan, berpikir keras mencari celah untuk menolak halus. Namun, mengingat sore nanti ia memang tidak memiliki agenda lain setelah pulang kerja, akhirnya ia pasrah. "Sore aja gimana, Mas? Siang ini aku gak bisa keluar dari area mall karena cuma dapat waktu istirahat sebentar.""Baiklah, nanti sore sekalian aku jemput kamu di lobby mall."Melihat kalimat "aku jemput", jempol Nayra dengan kecepatan penuh langsung mengetik balasan instan untuk menolak. "Ehhh gak usah, Mas! Repot banget kalau harus jemput segala. Kita langsung ketemu di warung baksonya aja nanti sore."Namun, tampaknya Arga bukanlah tipe pria yang mudah digoyahkan keputusannya. Pesan terakhir dari pria itu masuk dengan sangat mutlak, menutup ruang negosiasi bagi Nayra. "Gapapa, tempat kerja kita dekat sekali, kompleks gedungnya bersebelahan. Jadi nanti sore sekalian aku jemput kamu pukul lima tepat. Jangan pulang duluan."Nayra melongo menatap layar

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Aku hanya bercanda

    "Cieee... yang pagi-pagi sudah dianterin sama ayank baru," goda Tari, sembari menaik-turunkan kedua alisnya dengan ekspresi super jahil.Tari sejak tadi memang sudah mengintip dari balik kaca besar butik saat sebuah motor matic besar berhenti tepat di lobby utara mall. Ia melihat dengan jelas bagaimana jalannya prosesi Nayra turun dari motor, mengembalikan helm dengan gerakan canggung, hingga pria tegap berjaket denim itu memberikan senyuman hangat sebelum berlalu pergi."Apaan sih, Tar! Jangan ngaco deh, orang cuma kebetulan bareng saja kok," sahut Nayra buru-buru membantah, mencoba fokus kembali pada tas di depannya. Namun, usahanya gagal total karena semburat warna merah muda yang pekat langsung terbit di kedua belah pipinya, mengkhianati kalimat penyangkalannya sendiri.Tari terkekeh renyah, menyandarkan tubuhnya pada pilar etalase sambil melipat tangan di dada. "Kebetulan apa? Kebetulan gak ada ojol lagi kah kayak waktu itu?’’‘’ Hari gini ma

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Ada rasa hangat

    "Mau mandi?" tanya Arga basa-basi, melirik handuk di bahu Nayra."I-iya, Mas..." Nayra mencicit pelan, merutuki dirinya sendiri dalam hati mengapa ia harus terus-menerus mendadak gagap setiap kali berhadapan langsung dalam jarak sedekat ini dengan Arga."Silakan, di dalam sudah kosong kok," ujar Arga ramah, melangkah sedikit ke samping untuk memberikan ruang yang cukup bagi Nayra agar bisa lewat tanpa harus bersentuhan fisik dengannya.Namun, alih-alih langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang uap hangatnya masih mengepul, rasa penasaran yang besar dalam dada Nayra mendadak mengambil alih kendali lidahnya. Ia mendongakkan kepala, menatap lurus ke arah Arga dengan dahi berkerut halus."Mas Arga... kok tumben mandi pagi banget?’’ tanya Nayra akhirnya penasaran.Arga terkekeh pelan, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat tulus di telinga Nayra. "Iya, Nay. Hari ini aku mau mulai masuk kerja lagi ke kantor," jawab Arga sambil merapikan

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Sayang

    "Ini... ini tadi pas pulang kerja aku sempat mampir beli makanan hangat, sama... sama ini ada sedikit buah-buahan, jeruk sama apel segar. Sengaja aku belikan buat Mas Arga, biar ada tenaga buat minum obat," Nayra meletakkan kembali kantong-kantong itu dengan posisi yang lebih rapi di dekat jajaran botol obat dan salep milik Arga.Arga menatap kantong makanan dan buah-buahan itu bergantian, lalu kembali menatap Nayra. Rasa hangat yang menjalar di dadanya kini semakin pekat. Di tengah kondisinya yang remuk redam dan dikhianati oleh masa lalu, perhatian tulus dari seorang gadis yang baru sebulan menjadi tetangga kamarnya terasa seperti oase di padang pasir."Terima kasih banyak sekali lagi, Nay. Kamu repot-repot sekali, padahal baru pulang kerja pasti capek," ucap Arga lembut, suaranya merendah penuh magnet."N-nggak repot kok, Mas. Kebetulan searah jalan pulang juga tadi," bohong Nayra, padahal ia harus berjalan memutar dua blok demi mendapatkan buah-buahan

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Ternyata, lucu juga

    suaranya melengking tinggi hingga membuat beberapa orang di luar pintu reflek melangkah mundur. "Kamu— kamu! Kamu sengaja melakukan ini semua cuma buat menghina aku, kan?!"Arga menghentikan kekehannya. Ia mengalihkan pandangannya dari wajah Nayra, kembali menatap Shila dengan tatapan mata yang dalam sekejap berubah menjadi sedingin es. Aura kelembutan yang baru saja tercipta langsung menguap tanpa bekas."Shila, kan aku sudah bilang dari awal semenjak kamu menginjakkan kaki di kamar ini. Kita berdua sudah selesai," kata Arga, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar begitu mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. "Aku sudah punya kehidupan sendiri yang tenang di sini, dan kamu pun punya kariermu sendiri di luar sana. Jadi, tolong hargai itu. Pergilah dari sini.""Brengseeeeeek!!" Shila menjerit frustrasi, tidak mampu lagi menahan rasa malu dan amarah yang bergejolak di ubun-ubunnya. Air matanya kembali menetes, merusak riasan matanya hingga hitam luntur di pipi. "Kamu jaha

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Pacar bayaran

    Shila melangkah maju, memangkas jarak yang tersisa di antara dirinya dan Nayra. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai keramik dengan bunyi klik yang tajam, seirama dengan sorot matanya yang menghujam lurus. Ia mengamati Nayra dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan, menilai setiap jengkal blazer hitam kerja dan celana formal yang melekat di tubuh gadis itu. Di mata seorang model papan atas seperti Shila, penampilan Nayra terlalu sederhana untuk bisa bersanding dengan Arga."Dibayar berapa kamu, sampai mau akting jadi pacarnya?" tanya Shila dengan nada suara yang menusuk, penuh dengan racun intimidasi. Ia yakin tebakannya benar. Tidak mungkin mantan suaminya bisa berpindah hati secepat ini pada gadis kosan biasa.Nayra sempat tertegun. Ia mengerjapkan matanya, agak bingung dengan tuduhan blak-blakan yang dilemparkan wanita anggun namun ketus di depannya ini. Untuk sesaat, ia mengalihkan pandangannya pada Arga yang masih terbaring lemah di ranjang, lalu kembal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status