ログインSelesai dengan urusan dokumen yang menguras tenaga, ruang keluarga kembali lengang. Pengacara tersebut pamit undur diri membawa salinan berkas yang telah sah, sementara Doni kembali mengurung diri di kamar tamu.
"Aku ke dapur sebentar ya, Ma. Ada wadah bekal makanan yang mau aku cuci sendiri," pamit Amara beranjak pelan dari sofa empuknya.
"Hati-hati langkahnya, Sayang. Jangan biasakan jalan terburu-buru walau hatimu lagi senang," pesan Bu Ratih tersenyum tipis tanpa mengalihkan
Merasakan getaran konstan dari ponsel tersebut yang berisiko membangunkan pasiennya, raut wajah Adrian seketika berubah menjadi sangat siaga. Laki-laki maskulin ini mengambil benda elektronik itu dari atas meja kayu mahoni dengan gerakan ekstra hati-hati.Digesernya layar bercahaya tersebut untuk memeriksa identitas sang pengirim pesan misterius yang berani mengganggu jam istirahat kekasihnya.Terdapat sebuah ancaman pemerasan eksplisit dari Siska yang secara terang-terangan menuntut uang tutup mulut bernilai ratusan juta rupiah. Selingkuhan Doni itu rupanya berniat memeras keluarga ini menggunakan rahasia perselingkuhan mereka sebagai senjata utama penarik simpati."Perempuan murahan ini bener-bener cari mati karena udah berani ngusik ketenangan kekasih gue lagi," umpat Adrian menekan kuat pinggiran ponsel tersebut."Dia pikir dia bisa meras harta dari wanita konglomerat pakai ancaman picisan begini tanpa dapat balasan berdarah dariku? Perempuan rendahan ini sepertinya sangat meremeh
Menjelang pukul empat sore, suasana di dalam kamar rawat inap VVIP itu kembali menjadi sangat sepi. Rombongan karyawan kantor yang sebelumnya memeriahkan ruangan akhirnya benar-benar pamit untuk kembali bekerja di perusahaan.Menyisakan keheningan, sepasang kekasih gelap tersebut akhirnya bisa menikmati waktu berduaan di balik dinding kedap suara ini.Diambilnya sebotol losion aromaterapi beraroma lavender dari dalam tas medis milik sang dokter kandungan. Laki-laki berbadan tegap itu berjalan santai menghampiri ujung ranjang tempat perempuannya berbaring lemas."Siniin telapak kaki kamu biar aku pijit pelan-pelan sampai bengkaknya hilang semua, Sayangku," tawar Adrian menyingkap lembut selimut rumah sakit tersebut."Dari tadi betisku memang rasanya pegal banget menahan beban badan waktu duduk ngobrol sama anak-anak kantor, Mas. Tangan kamu itu selalu kerasa pas banget buat nekan titik saraf yang lagi tegang. Tolong pijatannya agak dikerasin sedikit di bagian tumitnya biar peredaran da
Sepeninggal Bu Ratih dari ruangan Amara, pria karismatik ini kembali memusatkan seluruh fokusnya pada sosok ibu hamil di atas ranjang.Sebelum Adrian menyuapi Amara, perempuan ayu itu sempat mengerucutkan bibirnya menatap nampan makanan rumah sakit. Makanan hambar berupa bubur saring tanpa rasa itu sama sekali tidak mengunggah selera makannya siang ini."Saya rasanya udah muak banget disuruh makan bubur lembek yang rasanya tawar begini setiap hari," keluh Amara menggeser nampan plastiknya menjauh.Keluhan manja tersebut sontak memancing tawa tertahan dari para karyawan yang berdiri mengelilingi ranjang. Mereka sangat jarang melihat sisi kekanak-kanakan dari atasan mereka yang terkenal sangat tegas dan disiplin di kantor.Adrian melangkah pelan mendekati sisi ranjang untuk mengambil alih piring kecil berisi potongan apel dari tangan Bambang. Tanpa memedulikan tatapan penasaran dari beberapa staf di sana, dia mulai menyuapkan buah segar tersebut langsung ke mulut Amara."Kamu harus teta
Semua orang di ruangan tersebut berkumpul mengelilingi ranjang dengan wajah penuh antusiasme."Bunga mawar ini hasil patungan dari anak-anak divisi keuangan, Bu," lapor Bambang tersenyum sangat lebar memamerkan giginya."Kami semua udah tahu kelakuan buruk Pak Doni yang berani nilep uang proyek demi selingkuh sama sekretarisnya sendiri. Semua barang pribadi milik bapak itu juga udah kami kemas ke dalam kardus dan dibuang ke tempat sampah basemen. Ibu jangan pernah sedih lagi karena seluruh karyawan seratus persen dukung Ibu buat mimpin perusahaan ini sendirian.""Anak-anak satpam bahkan siap ngusir laki-laki itu kalau dia berani nampakin wajahnya lagi di lobi," tambah Cindy mengepalkan tangannya di udara. "Kami ngga akan biarin aset perusahaan jatuh ke tangan suami benalu kayak dia."Mendengar pernyataan kesetiaan dari para bawahannya, senyum tulus akhirnya merekah di bibir pucat sang direktur wanita.Amara menyandarkan punggungnya ke bantalan kasur dengan perasaan yang jauh lebih rin
Membuka kelopak matanya secara perlahan, aroma khas cairan antiseptik rumah sakit langsung menyapa indra penciuman Amara pagi itu. Pandangan perempuan hamil ini spontan menangkap sosok Adrian yang tertidur pulas dengan posisi duduk menyamping di kursi penjenguk.Akibat kelelahan yang luar biasa setelah berjaga semalaman penuh, wajah pria dominan tersebut tampak sangat damai menyembunyikan beban pikirannya.Digerakkan oleh rasa haru yang meluap, jemari pucat Amara terulur pelan untuk memberikan usapan lembut di rambut tebal Adrian. Dibelai selembut itu, sang dokter spesialis kandungan langsung terbangun dari alam mimpinya. Laki-laki ini segera menegakkan posisi duduknya untuk menatap lekat wajah pasien kesayangannya."Syukurlah kamu udah sadar, Sayangku," ucap Adrian mengusap wajahnya kasar meluapkan kelegaan. "Jantung aku rasanya beneran mau berhenti pas ngelihat kamu jatuh pingsan di lantai kantor kemarin sore.""Untung aja aku datang tepat waktu buat bawa kamu ke sini sebelum asam l
Akibat hantaman telapak tangan bertenaga penuh tersebut, tubuh Doni limbung menghantam deretan kursi tunggu berbahan besi hingga menimbulkan suara benturan keras. Merasakan rasa kebas yang menyengat saraf wajahnya, laki-laki pecundang ini mendapati sudut bibir kanannya sukses robek meneteskan cairan merah segar untuk kedua kalinya hari ini."Kamu pikir saya tidak tahu semua rencana kotor dan manipulasi murahalamu untuk menghancurkan putriku di kantor tadi, Doni?! Beraninya kamu berkomplot sama dokter korup ini buat memfitnah ayah dari cucu saya secara terang-terangan di depan umum! Jangan pernah bermimpi bisa menghirup udara bebas, karena saya akan mengerahkan seluruh pengacara terbaik buat memastikan kamu membusuk di sel penjara!"Nyonya besar keluarga konglomerat ini lantas memberikan isyarat tegas kepada komandan polisi yang berdiri siaga di belakangnya.Mendapat instruksi penangkapan resmi dari keluarga donatur utama rumah sakit, dua orang petugas berseragam langsung meringkus per
"Kamu pasti lemes banget buat pakai baju dengan benar, ya?" tebak Bu Ratih sambil tersenyum tipis meremehkan. "Makanya kancing baju kamu sampai mencong begini pas dipakai habis periksa tadi."Mendapat jalan keluar yang tak terduga, Amara buru-buru menganggukkan kepalanya dengan tempo cepat
Sebagai bentuk keputusasaan, Adrian menghela napas sangat panjang melalui hidungnya. Dia sadar posisinya sangat lemah di hadapan kekuatan uang milik mertua Doni tersebut. Pria itu harus membangun batasan emosional yang ketat agar tidak semakin hancur di kemudian hari."Kurang berapa lagi?
Seketika, Adrian mengepalkan telapak tangan kiri di atas meja kerja. Kuku-kukunya menekan kulit sampai meninggalkan bekas kemerahan yang sempat memutus aliran darah. Suhu tubuhnya kembali naik perlahan saat mengingat jumlah uang hasil kerjanya yang harus dikorbankan demi masalah ini.&ldqu
Di klinikmya, Adrian berdiri di bawah shower. Dia memutar keran ke arah biru. Air yang semula hangat berubah menjadi dingin menusuk tulang. Adrian memejamkan mata dan mendongakkan wajahnya. Dia membiarkan air dingin itu menampar kulit wajah dan tubuhnya.Sejak bangun tidur tadi pagi, tubuhnya teras







