LOGINDia dan Lintang mengamati para pekerja yang memasukkan barang-barang pribadi milik Aldi dari ruang kerjanya di The Esthetic. Rencananya barang-barang milik Aldi dari kantor akan disatukan dengan barang-barang pribadi milik Aldi yang ada di rumah untuk kemudian dikirimkan memakai jasa kurir ke rumah keluarga Ananta.
Orion Petralis tidak bersama mereka. Orion meminta izin memakai ruang meeting milik The Esthetic untuk melakukan zoom
. TRENTINO, ITALIA“Jess, kau terlihat cantik dengan sunglassesmu,” Arya Surya melirik Jessica di sampingnya.Jessica memang terlihat cantik dan klasik. Wajahnya wajah elegan berkelas. Rambutnya yang panjang digelung di puncak kepalanya. Gaun musim panas bermotif polkadot cokelat susu dengan dasar warna krem terlihat sangat klasik dikenakannya. Ditambah scarf yang ia ikat asal di lehernya untuk menyembunyikan jejak kiss mark Arya Surya yang sangat jelas dari tatapan orang-orang.“Aku suka mobilmu, Ko. BMW convertible ini memang paling cocok dipakai dengan atap terbuka di saat musim panas seperti ini. Selera Ko Arya memang gak kaleng-kaleng.”Arya Surya tersenyum kecil. Dia merasa tersanjung dengan pujian dari Jessica.“Kau tahu kenapa aku mewarnai mobilku dengan warna krom bunglon gold? Karena warna itu mengingatkanku dengan peluru. Sesuatu yang meluncur cepat saat dibidik. Panas terasa karena ada percikan apinya.”Jessica menoleh. Menatap dengan sungguh-sungguh.“Sepertinya Ko Arya
. “Orion My Dear?” Maharani mengulangi ucapan wanita itu, menoleh menatap Orion, “Siapa dia.”“Dia perempuan yang mengganggu video call kita. Yang sudah membuatmu marah kepadaku. Menolak menerima chat ataupun teleponku. Yang membuatku nekat menyeberangi samudera dan benua hanya untuk meyakinkanmu kalau aku benar-benar menyukaimu. Hanya kau yang aku mau. Hanya kau yang membuatku ingin mengikatkan hatiku dengan hatimu.” “Sophia?”Orion mengangguk sambil menatap istrinya. Dia mengira istrinya akan menatapnya dengan tatapan marah ataupun kecewa. Tetapi tidak. Maharani bahkan menyentuh pipinya dengan lembut sambil tersenyum.“My Dear Or…” Sophia tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Maharani menyentuh pipi Orion.Lorenzo melangkah keluar. Tubuh jangkungnya mengintimidasi perempuan itu yang sedang menatap Maharani dan Orion tak berkedip.“Biarkan kami lewat, Nona. Jangan halangi kami. Waktu kami sangat berharga untuk drama murahan yang biasa Anda sajikan di depan Mr. Petralis.”“Tapi a
. Mereka terbangun pagi-pagi sekali. Sholat Shubuh pertama di rumah itu terasa penuh khidmat. Orion mendengarkan Maharani mengaji di ruang tidurnya.“Aku tidak tahu apa arti dari bacaan yang kau baca. Tetapi rasanya menenangkan dan damai di sini. Efeknya lebih dalam dari lagu atupun musik yang menyentuh. Ini terkesan lebih agung, lebih sakral…”Dia mengangguk.“Aku membaca surat ar Rahman, yang artinya Maha Penyayang. Surat yang memberitahukan kita begitu banyakny anikmat yang sudah Tuhan berikan kepada kita, hal-hal yang tidak kita sadari. Maka sudah sepatutnya kita wajib bersyukur kepadaNya.”Orion memeluk istirnya yang masih duduk di atas sajadah. Dia mengecup ubun-ubunnya. “Terimakasih sudah menjadi istriku. Kau menghadirkan warna yang berbeda. Hidupku terasa lebih hidup bersamamu, My Queen.”“Mas Batman langsung ke kantor pagi ini?”Orion mengangguk. “Aku berangkat bersama Lorenzo. Ada sekretarisku di kantor. Kau ikutlah bersamaku. Setidaknya kau bisa melihat bagaimana suamimu
. Senyumnya lebar menghias wajahnya sementara jemarinya berada di dalam genggaman tangan suaminya, Orion Petralis. Mereka tiba lewat tengah malam di Madrid.Orion tidak membawanya ke apartemennya melainkan ke kediamannya di Madrid. Bangunan megah di hadapan mereka diterngi oleh lampu-lampu sorot dan lampu tangan yang menakjubkan membuatnya menjadi semakin terlihat indah sekaligus klasik. Bangunan dengan arsitektur Eropa klasik dengan berbagai ragam hiasan ukiran rumit pada bagian pilar, membuat dirinya terhenyak. Rumah dengan halaman luas dan asri. Bagian depannya memiliki taman Eropa. Semua bunga tumbuh di dalam petak-petaknya. Setiap semak dipangkas rapi hingga daunnya terlihat padat menghijau.Sementara bangunannya sendiri, berdiri megah menjulang. Bangunan 3 lantai dengan jendela-jendela lebar itu terlihat begitu angkuh. Ciri khas personal Orion Petralis di dunia bisnis. “My Queen, kau menyukainya?” Mereka masih berdiri di tangga undakan teras. Dirinya bahkan sudah tiga kali m
. “KAU SEDANG APA DI DALAM SANA?” suara si Kunyuk terdengar masih mengantuk. Ratna terdiam.“HEY KUNYUK! KAU BELUM LUPA DENGAN KEJADIAN TADI? KAU MENANTANGKU? TERSERAH APA YANG KULAKUKAN DI KAMAR MANDI INI. INI AREA PRIVASI!” Wajah Ratna merah padam. Si Kunyuk di luar pintu terdiam.“Aku… Maaf, aku hanya ingin bilang, aku akan keluar sebentar. Rokokku habis.”“Sana pergi! Kau kira aku akan memberimu uang untuk beli rokok? Aku bukan ibumu!”“Ya..ya. Jangan kemana-mana. Tuan Arya Surya sudah beberapa kali menghubungiku!” suara si Kunyuk terdengar lantang.“Aku tahu!”“Ingat jangan kemana-mana!” Ratna menempelkan telinganya ke daun pintu. Dia mendengar pintu depan yang dibuka dan ditutup kembali. Samar-samar terdengar suara deru mobilnya meninggalkan bungalownya. Dia kem
. Lorenzo mendatangi Orion dengan langkah-langkah panjangnya. Mereka berada di coffee shop setelah berkeliling Santorini. Langit berubah temaram karena hari menjelang sore.“Mr. Petralis, Anda harus segera kembali ke Italia sekarang juga. Ada beberapa dokumen yang tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk ditandatangani dan dibicarakan langsung dengan Anda.”“Tidak bisa kirimkan saja kemari dokumennya?” Orion melepas kacamata hitamnya.Lorenzo menggeleng. Maharani menatap mereka berdua. “Ada hal yang mendesak?” dia tersenyum, menepuk punggung tangan suaminya, “Ayo, Mas Batman harus mulai kerja. Liburan sudah selesai.”“Aku masih ingin di sini…”Maharani menggeleng.“Tidak bisa, Sayang. Kau harus bekerja. Cari uang. Beri makan istrimu. Karena makannya banyak…”Orion tergelak.“Banyak apanya…”Dia menatap Lorenzo.“Jadi, kapan kita berangkat ke Italia?”“Malam nanti, Mrs. Petralis. Kita tunggu hingga semua dokumen perjalanan siap.”Dia tersenyum.“Aku tidak sabar mengunjungi aparteme
Meeting berjalan lancar. Klien sangat menyukai desain-desain dari para desainer The Esthetic Jewelry. Mereka bahkan meminta tambahan perhiasan di luar pesanan mereka dengan bahan mutiara laut asli Indonesia.Rasa mual yang dirasakan olehnya saat di lift tadi mendadak
Kak Ishaak menghubunginya begitu ia sampai di kantor. Dia bergegas ke ruangannya. Mengabaikan Cherryl yang baru keluar dari ruangan Mas Aldi dengan rok pendek dan tabrak corak yang menyakitkan mata untuk dilihat. “Kak Ishaak…,” suaranya tercekat, “Ma’af. Ma’afka
Dia menatap foto yang ia buat semalam. Foto bukti KDRT yang dilakukan oleh Mas Aldi. Matanya tidak terlalu bengkak pagi ini. Usahanya untuk mengompres dengan handuk kecil yang dibasahi, membuahkan hasil. Pagi ini jadwalnya adalah menemui dokter obgyn unt
Di usia pernikahannya yang kedua, suaminya selingkuh. Perempuan masa lalu suaminya yang datang kembali sebagai desainer perhiasan untuk perusahaan yang dibangun olehnya tetapi dikelola oleh suaminya. Penunjukannya sebagai desainer perusahaan miliknya murni atas inisiatif suaminy







