LOGIN“Nona, ma’afkan kami tidak bisa menjaga Nona dengan baik,” Anwar menunduk.Umar di sampingnya, dengan tangan dalam balutan gips, menganggukkan kepalanya.“Seharusnya, saat saya memberitahukan Nona tentang mobil-mobil besar di belakang kita, seharusnya kita bertukar posisi. Seharusnya, Nona berada di depan kami.”Dia mengeleng.“Nggak, Wan. Ada mobil pickup putih yang langsung memotong jalurku. Diikuti dengan mobil boks besar yang ikut memotong jalur. Kita berada di kawasan satu arah jalan. Tidak ada tempat putar balik di kawasan itu. Sengaja mereka memilih tempat eksekusi kematianku berada di kawasan satu arah agar lebih mudah pelaksanaannya dan ditutupi dari para saksi mata dengan menggunakan mobil-mobil boks besar yang menghalangi pandangan pengguna jalan dari jalur sebelah.”Dia melanjutkan lagi.“Berhenti menyalahkan diri kalian. Situasi kita saat itu terdesak. Tidak ada jalan keluar. Jalan di depanku dihadang oleh pickup putih dan mobil boks besar yang sengaja berjalan di jalur k
BAB 80 – PEMBALASAN Tapi temannya tidak tertawa. Mata temannya menatap lurus pada matanya. Telunjuknya terarah kepadanya.“Para pria dari Italia itu tidak akan memakaikanmu ‘Kutang Dari Neraka’ seperti yang dipakai oleh Wawan. Khusus untukmu ada perlakuan khusus. Spesial untuk algojo yang dikirim untuk Nona Maharani. Julukanmu ‘Hantu Bayangan’, kan?” dia berhenti sejenak untuk menikmati kilatan terkejut dari mata dan wajah Toni.“Kami sudah mengetahuinya. Catatan-catatan tentangmu baru saja masuk. Info-info hasil ‘prestasimu’ juga baru masuk. Ada salam dari keluarga yang anak perempuannya kau buat cacat seumur hidup agar permintaan Ananta dituruti oleh ayah anak itu. Alih nama lahan di Agam, Sumatera Barat.”Tengkuknya merinding. Dia ingat. Ingat semuanya. Keluarga sederhana dengan tanah luas di Kabupaten Agam. Pekerjaan kotornya untuk memuluskan kepemilikan lahan sawit untuk Arya Surya lewat Ananta. Anak perempuan umur 8 tahun yang ia culik dari sekolahnya. Ia buat panggilan video
Semua Keluarga Herlambang dan Kak Ishaak berkumpul di ruang rawat inap yang baru. Pihak rumah sakit memindahkannya ke ruang rawat inap di ruangan seberang yang kebetulan kosong. Tante Amara dan Embun sibuk memindahkan barang-barangnya. Dia dikelilingi oleh para wanita Herlambang. Sementara para Herlambang pria dan Orion tengah menonton rekaman CCTV rumah sakit yang mengikuti alur Toni. Lorenzo mendapatkannya setelah ia meminta kepada direktur rumah sakit. Berdua dengan Lintang mereka menuju ruang kendali CCTV. Sekarang, salinan itu sudah ada dalam bentuk flashdisk dan sedang diputar di layar TV. “That’s him,” Lorenzo menunjuk layar TV yang menampakkan seorang pria bertopi hitam dan berjaket hitam seperti sedang menunggu di kursi tunggu di dekat loket pendaftaran. “Penyamarannya hebat…,” Om Tara menggelengkan kepalanya.“Itu para istri dan Embun keluar dari lift. Dia menatap
Dia berjalan sambil melirik ke arah CCTV. Kemudian menatap pantulannya dirinya di pilar lobby yang dilapisi metal chrome. Penampilannya terlihat meyakinkan sebagai perawat rumah sakit elit. Terlihat profesional, berdedikasi dan cekatan. Dia tersenyum pada pantulannya pada pilar. Untuk tugas ini, selama dua jam terakhir, sementara Nyonya Ratna dan Tuan Ananta mempersiapkan keperluan tugas ini, dia menghabiskan waktu untuk menonton cuplikan film ataupun drama tentang rumah sakit hanya untuk melihat bagaimana perawat pria bertingkah laku di koridor ataupun di kamar pasien.Dirinya selalu totalitas dalam berperan. Itu sebabnya, kegagalannya 0%. Dia selalu berhasil menjalankan misi. Uang di rekeningnya semakin gendut. Dia mengakui kecerdasan otak Nyonya Ratna dalam merancang adegan, merencanakan detil. Tanpa Nyonya Ratna, Tuan Ananta bukanlah apa-apa. Karena memang dia tidak bisa apa-apa. Yang dia lihai hanya urusan bertukar peluh dan lendir dengan para daun muda.Dia tidak mau menbantu A
Lintang tampak terkejut.“Aku? Kok bisa? Aku tidak pernah membocorkan rencana keberangkatanku ke Milan dengan siapapun,” Lintang menatap semua orang.”“Kamu yakin, Lin?” tanya Tante Laras.“Yakin, Ma. Lintang nggak membicarakan rencanan keberangkatan Lintang ke siapa pun.”Orion menepuk lengan Lintang yang duduk di sebelahnya.“Tidak perlu memberitahukan ke siapapun tentang rencana keberangkatanmu pun orang-orang tertentu yang memang sudah mengincar Keluarga Herlambang untuk mencari celah kelengahan kalian, akan bisa dilakukan. Kau berangkat dengan pesawat komersil kan? Walaupun kau memilih menggunakan penerbangan first class tapi namamu tetap akan tercatat di daftar manifest maskapai yang bisa diakses oleh orang-orang tertentu saja. Ananta mampu melakukannya. Apalagi dia dibekingi oleh Arya Surya. Jelas, mereka mampu untuk mengintip nama Herlambang di maskapai manapun.”Wajah Lintang menegang.“Aku memesan tiket sehari sebelum rencana keberangkatanku.”“Binggo!” Orion menepuk peg
“Dia sudah ditemukan? Dimana?” Banyu berbisik di samping Lorenzo membuat Lorenzo berjengit.Lorenzo menatap Orion Petralis.“Dia boleh diberitahu, Tuan?” berbicara dalam Bahasa Italia.Orion menatap Embun lalu Banyu. Tatapan mata Embun sama dengan Banyu. Sama-sama berharap jawaban. Orion mengangguk.“Ya. Beritahu saja. Mereka berhak tahu.”Lorenzo menggeser tubuhnya menjauh dari bed pasien agar pasien yang tengah tertidur masih memgangi tangan bosnya itu. Banyu mengikuti. Embun juga. Orion duduk di kursi samping bed pasien. Tangan kanannya masih ditahan oleh Maharani. Dia mengambil papercup-nya dengan tangan kirinya. Menyesap perlahan. Menikmati sensasi panas dari air seduhan kopi yang membawa uap beraroma wangi kopi Gayo. Biji kopi yang ditanam di Bumi Rencong yang terletak di ujung utara Pulau Sumatera.Aroma kopi yang tajam. Rasa pahit yang enak. Dia menikmati itu semua sambil menghidu aroma kopinya dalam-dalam. Tanpa gula. Murni rasa dan aroma dari gilingan biji kopi yang disan
Perjalanan menuju makam di mobil Orion sunyi. Orion membiarkan dirinya hanyut dalam pikirannya sendiri. Memberinya waktu untuk merenung dan berpikir. Memberinya kesempatan untuk membenahi pikirannya tanpa membebani dengan aneka obrolan yang dipaksakan harus ada demi sopan sant
Rekaman CCTV dimulai saat Kak Ishaak menyerang Aldi. Audionya terdengar jelas. Mereka menonton bersama. Minus Mbak Anggita yang pulang duluan. . Semua yang diucapkan dirinya melalui hipnotis yang dilakukan oleh Dokter Sita benar adanya. Hal yang tidak pernah ia tahu
Meeting berjalan lancar. Klien sangat menyukai desain-desain dari para desainer The Esthetic Jewelry. Mereka bahkan meminta tambahan perhiasan di luar pesanan mereka dengan bahan mutiara laut asli Indonesia.Rasa mual yang dirasakan olehnya saat di lift tadi mendadak
Kak Ishaak menghubunginya begitu ia sampai di kantor. Dia bergegas ke ruangannya. Mengabaikan Cherryl yang baru keluar dari ruangan Mas Aldi dengan rok pendek dan tabrak corak yang menyakitkan mata untuk dilihat. “Kak Ishaak…,” suaranya tercekat, “Ma’af. Ma’afka