LOGIN. Mereka terbangun pagi-pagi sekali. Sholat Shubuh pertama di rumah itu terasa penuh khidmat. Orion mendengarkan Maharani mengaji di ruang tidurnya.“Aku tidak tahu apa arti dari bacaan yang kau baca. Tetapi rasanya menenangkan dan damai di sini. Efeknya lebih dalam dari lagu atupun musik yang menyentuh. Ini terkesan lebih agung, lebih sakral…”Dia mengangguk.“Aku membaca surat ar Rahman, yang artinya Maha Penyayang. Surat yang memberitahukan kita begitu banyakny anikmat yang sudah Tuhan berikan kepada kita, hal-hal yang tidak kita sadari. Maka sudah sepatutnya kita wajib bersyukur kepadaNya.”Orion memeluk istirnya yang masih duduk di atas sajadah. Dia mengecup ubun-ubunnya. “Terimakasih sudah menjadi istriku. Kau menghadirkan warna yang berbeda. Hidupku terasa lebih hidup bersamamu, My Queen.”“Mas Batman langsung ke kantor pagi ini?”Orion mengangguk. “Aku berangkat bersama Lorenzo. Ada sekretarisku di kantor. Kau ikutlah bersamaku. Setidaknya kau bisa melihat bagaimana suamimu
. Senyumnya lebar menghias wajahnya sementara jemarinya berada di dalam genggaman tangan suaminya, Orion Petralis. Mereka tiba lewat tengah malam di Madrid.Orion tidak membawanya ke apartemennya melainkan ke kediamannya di Madrid. Bangunan megah di hadapan mereka diterngi oleh lampu-lampu sorot dan lampu tangan yang menakjubkan membuatnya menjadi semakin terlihat indah sekaligus klasik. Bangunan dengan arsitektur Eropa klasik dengan berbagai ragam hiasan ukiran rumit pada bagian pilar, membuat dirinya terhenyak. Rumah dengan halaman luas dan asri. Bagian depannya memiliki taman Eropa. Semua bunga tumbuh di dalam petak-petaknya. Setiap semak dipangkas rapi hingga daunnya terlihat padat menghijau.Sementara bangunannya sendiri, berdiri megah menjulang. Bangunan 3 lantai dengan jendela-jendela lebar itu terlihat begitu angkuh. Ciri khas personal Orion Petralis di dunia bisnis. “My Queen, kau menyukainya?” Mereka masih berdiri di tangga undakan teras. Dirinya bahkan sudah tiga kali m
. “KAU SEDANG APA DI DALAM SANA?” suara si Kunyuk terdengar masih mengantuk. Ratna terdiam.“HEY KUNYUK! KAU BELUM LUPA DENGAN KEJADIAN TADI? KAU MENANTANGKU? TERSERAH APA YANG KULAKUKAN DI KAMAR MANDI INI. INI AREA PRIVASI!” Wajah Ratna merah padam. Si Kunyuk di luar pintu terdiam.“Aku… Maaf, aku hanya ingin bilang, aku akan keluar sebentar. Rokokku habis.”“Sana pergi! Kau kira aku akan memberimu uang untuk beli rokok? Aku bukan ibumu!”“Ya..ya. Jangan kemana-mana. Tuan Arya Surya sudah beberapa kali menghubungiku!” suara si Kunyuk terdengar lantang.“Aku tahu!”“Ingat jangan kemana-mana!” Ratna menempelkan telinganya ke daun pintu. Dia mendengar pintu depan yang dibuka dan ditutup kembali. Samar-samar terdengar suara deru mobilnya meninggalkan bungalownya. Dia kem
. Lorenzo mendatangi Orion dengan langkah-langkah panjangnya. Mereka berada di coffee shop setelah berkeliling Santorini. Langit berubah temaram karena hari menjelang sore.“Mr. Petralis, Anda harus segera kembali ke Italia sekarang juga. Ada beberapa dokumen yang tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk ditandatangani dan dibicarakan langsung dengan Anda.”“Tidak bisa kirimkan saja kemari dokumennya?” Orion melepas kacamata hitamnya.Lorenzo menggeleng. Maharani menatap mereka berdua. “Ada hal yang mendesak?” dia tersenyum, menepuk punggung tangan suaminya, “Ayo, Mas Batman harus mulai kerja. Liburan sudah selesai.”“Aku masih ingin di sini…”Maharani menggeleng.“Tidak bisa, Sayang. Kau harus bekerja. Cari uang. Beri makan istrimu. Karena makannya banyak…”Orion tergelak.“Banyak apanya…”Dia menatap Lorenzo.“Jadi, kapan kita berangkat ke Italia?”“Malam nanti, Mrs. Petralis. Kita tunggu hingga semua dokumen perjalanan siap.”Dia tersenyum.“Aku tidak sabar mengunjungi aparteme
. Kak Abdi menggeser kursor mouse.“Pak Sigit mengabari, Ratna Ananta menghubunginya kemarin malam lewat telepon anak buahnya yang menjadi kaki tangan Ratna untuk menjadi mata-matanya di kantor polisi.”Semua menatap layar proyektor. Ratna melakukan video call. Wajahnya terekam dengan baik dan ada wajah Pak Sigit dalam bentuk gambar insert kecil pada rekaman video call itu. Wajah Ratna tidak terlihat baik-baik saja. Pucat. Rambut sasaknya terlihat aneh dan berantakan. Dia merapikan seadanya dengan sebelah tangannya yang sehat. Sisa-sisa makeup-nya yang menor masih terlihat meskipun dia sudah mencuci mukanya. Wajahnya benar-benar terlihat lelah dan 10 tahun lebih tua dari usianya.“Ma’afkan saya yang berantakan seperti ini. Saya ditangkap orang-orang Arya Surya. Dan perempuan jalang itu, yang menjadi simpanan Ananta sekarang bersamanya.”“Siapa?”“Ibunya selingkuhannya Aldi. Jessica.”Wajahnya terlihat dipenuhi amarah. “Keduanya menempel seperti perangko. Dia menghajar saya yang ter
. SANTORINI, YUNANIHari ini peresmian Grand Petralis Luxury Hotel sebagai bisnis baru di bawah Petralis Company. Seluruh Keluarga Petralis sudah berkumpul sejak semalam. Begitu juga dengan Keluarga Herlambang dan Kak Ishaak. Kepulangan mereka ditunda satu hari untuk peresmian ini sekaligus juga untuk melihat Maharani bertugas untuk pertama kalinya sebagai Pendamping Petralis Utama.Go Eun So juga menghadiri acara itu. Dia mendapat undangan khusus sebagai artisan dari lampu gantung yang menakjubkan, Aegea’s Waterfall. Lintang sangat bangga kepadanya. Dan Tante Laras tidak berhenti tersenyum lebar melihat kedekatan anak bungsunya dengan artisan berdarah Korea Selatan itu.Orion dan Maharani memakai busana malam senada yang sangat serasi. Sebuah mahakarya haute couture dari salah satu perancang di Athena. Kerabat jauh Petralis dari garis Angela Petralis.Orion secara khusus menginginkan gaun yang tertutup untuk istrinya. Dia tidak ingin semua mata pria menatap istrinya dengan berbagai
Dia menatap foto yang ia buat semalam. Foto bukti KDRT yang dilakukan oleh Mas Aldi. Matanya tidak terlalu bengkak pagi ini. Usahanya untuk mengompres dengan handuk kecil yang dibasahi, membuahkan hasil. Pagi ini jadwalnya adalah menemui dokter obgyn unt
Dia belum tertidur saat Mas Aldi pulang. Jam digital di nakas menunjukkan pukul 22.40. Dia menutup buku yang sedang dibacanya saat suaminya membuka pintu kamar. Mas Aldi tersenyum. Wajahnya terlihat lelah tetapi matanya penuh perasaan bahagia. “Kamu belu
“Kami bertiga mempunyai bisnis yang berbeda. Papamu, Bagaskara Herlambang, bergerak di bisnis logam dan baja. Aku, sebagai anak tertua, bergerak di bisnis kaca untuk bangunan dan kendaraan. Dan adikku, Prambudi Herlambang, bergerak di bisnis plastik untuk bangunan. Semuanya terhubung
Dia, Maharani Ruby Herlambang. Dia memang yatim piatu tanpa saudara kandung lagi. Tetapi ia adalah salah satu pewaris dari keluarga Herlambang. Papanya, Bagaskara Herlambang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara Herlambang. Semuanya sukses memimpin perusahaannya masin







